
Api gairah yang membakar tidak juga padam sampai mereka berada di kamar hotel. Baju sudah berantakan di atas lantai, Norman dan Freya pun sedang sibuk di atas ranjang. Pakaian yang melekat di tubuh Freya hanya tersisa pakaian dalamnya saja, sedangkan yang tersisa dari Norman hanya celana panjang karena jas dan kemejanya sudah berakhir di atas lantai bersama dengan gaun Freya.
Tidak ada yang menghentikan apa yang sedang mereka lakukan, mereka berdua pun dalam keadaan sadar dan tidak mabuk. Padahal tadinya mereka hanya saling menyindir dengan persaingan yang tidak mau kalah serta saling membalas tapi mereka justru berakhir seperti itu.
Norman tidak melepaskan bibir Freya, satu tangannya sibuk melepaskan pakaian bagian atas milik Freya dan melemparnya secara sembarangan. Tidak akan ada yang mengganggu mereka dan tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Sekalipun Freya meminta, Norman tidak akan berhenti.
Bagian atas Freya sudah polos, bibir Norman sudah berpindah dari bibir ke wajah lalu bibirnya berada di leher Freya. Satu tangan pun sudah sibuk menyentuh tubuh Freya dan akibat sentuhan yang dia berikan membuat Freya mende*sah dan tentunya Norman semakin bersemangat. Beberapa tanda dibuat di tubuh Freya, mereka berdua semakin dibakar api gairah bahkan dalam sekejap mata saja mereka berdua sudah tanpa sehelai benang pun.
Freya pun tidak mencegah, dia tahu apa yang sedang mereka lakukan hanya cinta satu malam saja. Dia pun tahu hubungan mereka hanyalah rekan tapi dia tidak akan mencegah karena dia tidak keberatan. Lagi pula seex sebelum menikah adalah hal wajar yang dilakukan oleh banyak orang. Dia pun sudah tidak muda dan dia tidak mau dianggap sebagai perawan tua.
"Apa kau yakin, Freya?" tanya Norman. Walau dia sudah begitu bernaf*su tapi dia harus tahu apakah Freya yakin dengan apa yang sedang mereka lakukan karena dia tidak mau Freya menyesal setelah mereka selesai.
"Jangan banyak bertanya jika tidak aku akan berubah pikiran jadi lakukan tapi ingat, gunakan pengaman karena aku tidak mau hamil!" jawab Freya yang sudah tidak mungkin bisa menghentikan apa yang sedang mereka lakukan apalagi dia bukan anak kecil dan sejak awal dia tahu jika apa yang mereka lakukan tidaklah main-main.
"Jika begitu, aku tidak akan sungkan!" Norman beranjak sebentar untuk mengambil sesuatu. Tentunya yang dia ambil adalah pengaman yang memang sudah disediakan oleh pihak hotel. Benda itu pun digunakan, Freya tidak mau melihat. Dia benar-benar menunggu sampai Norman kembali mendekatinya.
"Mungkin akan sedikit sakit," ucap Norman.
"Aku tahu, hanya sakit sedikit tidak akan membuat aku mati!"
"Jika begitu," Norman menunduk lalu mencium bibir Freya. Norman melakukannya dengan perlahan, dia tahu itu pertama kali untuk Freya oleh sebab itu dia bersikap selembut mungkin. Freya sedikit memekik, baiklah. Rasanya tidak sesakit saat timah panas bersarang di lengan meski terasa perih di bagian itu.
"Apa kau baik-baik saja? Apa mau dilanjutkan?"
"Tentu saja aku baik-baik saja. Lanjutkan!" pinta Freya.
"Baiklah, aku tidak akan ragu dan sungkan!" bibir Freya kembali dicium, kedua tangannya pun di genggam. Norman melakukan apa yang harus dia lakukan, menggoyang ranjang dengan kekuatan yang dia miliki. Mereka berdua bahkan sudah berkeringat, meski sempat merasa sakit namun Freya menikmati percintaan panas mereka. Ternyata seperti itu rasanya dan setelah ini, dia tidak akan dianggap sebagai perawan tua lagi.
Percintaan panas mereka berlangsung cukup lama, mereka berdua bahkan berantakan seperti ranjang yang berantakan akibat permainan panas mereka. Freya tidak menyesal sama sekali, dia begitu menikmati seex pertamanya dengan Norman meski mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Segala kekuatan yang Norman miliki sudah dikeluarkan dan pada akhirnya, pria itu tumbang di sisi Freya setelah mereka selesai.
Freya mengatur napasnya yang memburu, kedua mata terpejam karena dia ingin beristirahat sebentar. Norman sudah pergi ke kamar mandi, meninggalkan Freya seorang diri tapi tidak lama karena dia kembali dan berbaring di sisi Freya. Norman tidak berkata apa-apa tapi tangannya tak henti mengusap pinggang Freya, sepertinya dia sedikit kelewatan, Freya bahkan enggan menggerakkan kakinya karena dia masih merasakan perih. Bagaimanapun belalai anak gajah mendadak berubah menjadi belalai gajah perkasa.
"Are you oke?" Kini Norman mulai bertanya karena Freya meringis saat menggerakkan satu kakinya.
"Yeah, tapi bantu aku ke kamar mandi!" pinta Freya.
"Dengan senang hati!" Norman beranjak lalu menggendong Freya dan membawanya menuju kamar mandi. Freya membersihkan diri sedangkan Norman mengisi air bathtub dengan air hangat karena dia ingin berendam bersama Freya.
"Baiklah, Freya. Kau sudah melakukannya dan kau berhasil melewatinya," gumam Freya.
"Apa yang kau gumamkan?" Norman menghampirinya untuk melihat apakah Freya sudah selesai atau tidak tapi yang dia dapatkan justru tatapan tajam dan tatapan tidak senang dari Freya.
"Aku hanya ingin melihat wajah pria yang telah merenggut keperawananku agar aku tidak lupa di kemudian hari."
"Kau tidak menyesal telah melakukannya denganku, bukan?"
"Tentu saja tidak, aku hanya ingin mengingat wajahmu saja karena bisa saja aku lupa setelah kita berpisah nanti!"
"Baiklah, aku sudah mengisi air. Ayo kita berendam sebentar!"
Freya mengangguk, dia hendak berdiri namun Norman sudah menggendongnya dan membawanya menuju bathtub. Freya tidak membantah, air bathtub yang hangat membuatnya merasa nyaman setelah dia dan Norman selesai berkeringat di atas ranjang.
Norman pun bergabung dengan Freya dan duduk di belakangnya. Sekarang mereka menjadi partner yang mesra. Freya bersandar dengan nyaman di dada Norman. Dia pun menikmati sentuhan tangan Norman di lengannya. Pria itu bahkan membasahi bahu Freya dengan air lalu menciumnya sesekali.
"Apa masih sakit?" tanya Norman.
"Apa yang ingin kau lakukan jika aku katakan masih sakit?"
"Aku tidak bisa melakukan apa pun karena tidak bisa aku pijat tapi jika kau mau, aku bisa melakukannya!"
"Tidak perlu tapi hei, kau bilang ingin tidur dengan wanita cantik yang memiliki kastil itu tapi kenapa kau berakhir dengan pencuri ini di atas ranjang?"
"Kau sendiri bagaimana? Bukankah kau ingin tidur di mansion milik pria yang baru kau kenal itu tapi kenapa kau justru berakhir dengan pria miskin dan banyak hutang ini?" Norman balik bertanya.
"Menyebalkan, sepertinya kau menaruh sesuatu di dalam minumanku sehingga aku mabuk!"
"Kau juga melakukannya, sepertinya aku harus meraba baik-baik mulai sekarang!"
"Apa maksud perkataanmu?" Freya mendongak dan menatap Norman dengan tatapan tajamnya.
"Aku harus rajin meraba agar kedua benda ini?" kedua tangan Norman berada di kedua dada Freya, "Bisa cepat membesar lalu ini," Kini tangannya berada di bokong Freya, "Harus rajin aku raba agar cepat besar pula agar suatu saat nanti, jika kita sudah berpisah dan bertemu kembali tanpa sengaja, aku akan ingat jika aku adalah pria pertama yang telah mengambil keperawananmu dan akulah yang telah membesarkan kedua dada dan bokongmu ini!" ucapnya.
"Sembarangan, apa kau kira kedua dadaku ini bisa membesar dengan begitu cepat?"
"Mungkin saja bisa terjadi, bukan? Siapa tahu kedua tanganku ini memiliki kemampuan!"
"Jangan membual!" ucap Freya.
"Kita lihat saja nanti!" dagu Freya diangkat lalu sebuah ciuman mendarat di bibir Freya.
Freya kembali bersandar di dada Norman. Mereka berdua menikmati malam mereka yang mendadak menjadi bergairah dan setelah ini, sepertinya mereka akan semakin dekat meski mereka tidak memiliki perasaan satu sama lain. Bagi Freya, dia hanya ingin menikmati kebersamaan dengan seorang pria dan bagi Norman, dia ingin menikmati masa liburannya yang menantang dan kini jadi bergairah.