
Norman tampak mondar mandir di depan pintu kamar. Bukannya dia tidak mau masuk, dia tidak bisa masuk karena pintu kamar di kunci oleh Freya. Norman sudah memanggil beberapa kali tapi tidak ada jawaban sama sekali dari Freya. Norman jadi khawatir akan keadaannya Freya, dia akan mendobrak pintu kamar jika Freya tidak mau membukakan pintu itu.
"Freya!" Norman memanggil sambil menggebrak daun pintu.
Freya yang ada di dalam kamar mandi jadi kesal dibuatnya, dia sengaja mengunci pintu agar Norman tidak bisa masuk seenaknya lagi apalagi dia mau mandi dan mengganti pakaian. Norman tidak boleh lagi melihat tubuhnya apalagi menyentuhnya karena mereka berdua sudah selesai bermain.
"Freya, jika tidak membuka pintu ini maka aku akan mendobraknya hingga terbuka!" teriak Norman.
"Berisik, aku sedang mandi! Apa kau tidak bisa menunggu sebentar?" teriak Freya kesal setelah keluar dari kamar mandi.
"Kenapa kau mengunci pintunya?" tanya Norman, sungguh sikap Freya semakin aneh saja.
"Suka-Suka aku, jadi jangan berteriak tidak jelas di luar sana!"
"Baiklah, baik. Aku hanya mengkhawatirkan dirimu saja. Apa kau baik-baik saja?" Norman bersandar di daun pintu, menunggu Freya membukakan pintu untuknya. Freya tidak menjawab, dia sedang sibuk mengenakan bajunya. Sial, perutnya benar-benar terasa tidak nyaman. Sepertinya dia harus membeli obat penahan nyeri saat menemui Gabriel nanti.
Setelah lama menunggu, daun pintu terbuka. Norman terkejut dan hampir terjatuh karena Freya membuka pintu secara tiba-tiba. Norman tersenyum, sedangkan Freya menatapnya dengan tatapan tidak senang. Kenapa dia jadi benci dengan pria itu? Aneh, apa ini akibat emosi yang dia rasakan?
"Apa kau baik-baik saja?" Norman hendak menyentuh wajahnya namun Freya segera menepis tangan Norman karena dia tidak mau disentuh oleh pria itu lagi.
"Jangan pegang-pegang, aku benci denganmu!" ucap Freya seraya melangkah pergi.
"Ada apa lagi? Bukankah kau berkata aku tidak melakukan kesalahan?"
"Memang tidak, tapi aku benci jadi jangan sok akrab dan jangan mengikuti aku!"
Langkah Norman terhenti, sungguh dia tidak mengerti. Padahal dia mengira Freya sudah tidak akan marah lagi tapi sikapnya semakin menyebalkan saja. Apa semua wanita akan bersikap menyebalkan seperti Freya saat sedang datang bulan?
Norman masuk ke dalam kamar, yang dia ambil adalah ponsel. Dia ingin menghubungi adiknya untuk mencari tahu. Mungkin saja adiknya bisa memberinya solusi untuk menghadapi sikap menyebalkan yang sedang Freya tunjukkan saat ini.
"Ada apa, Kak?" tanya Vanila, akhirnya kakaknya ingat dengannya juga.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, jadi jawab saja tanpa menertawakan aku dan banyak bertanya!"
"Wow, kenapa terdengar tidak menyenangkan?" tanya adiknya.
"Ayolah, aku hanya ingin tahu saja. Apa semua wanita akan bersikap menyebalkan saat masa periodnya datang?"
"Tentu saja, ada apa kau bertanya demikian?" Vanila benar-benar curiga.
"Apa kau akan membenci suamimu dan tidak mau disentuh olehnya saat kau sedang menstruasi?"
"Tidak!" Vanila semakin heran.
"Apa kau yakin?" aneh, jika tidak lalu kenapa Freya bersikap tidak menyenangkan seperti itu.
"Tentu saja, ada apa kau bertanya demikian?" tanya Vanila dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin tahu saja!"
"Kak, katakan padaku ada apa? Jangan anggap remeh jadi katakan ada apa."
"Tidak ada, aku hanya ingin tahu saja!" jawab Norman.
"Ck, kau benar-benar tidak peka sejak dulu. Apa kekasihmu mengalami apa yang sedang kau tanyakan padaku saat ini?"
"Ya, dia sedang menstruasi. Aku hanya ingin tahu saja apa kau bisa memberi aku saran untuk menghadapi emosinya yang sedang tidak stabil itu."
"Apa kau yakin dia sedang menstruasi?"
"Apa maksud pertanyaanmu itu?" tanya Norman tidak mengerti.
"Apa kau tidak curiga? Jangan-Jangan kekasihmu sedang hamil?"
"Sebab itu periksalah dengan baik. Kau selalu seperti itu sejak dulu!"
"Baiklah, terima kasih!" Norman mengakhiri percakapannya dengan sang adik lalu melangkah keluar dengan ponsel di tangan.
Freya berada di dapur, dia sedang membuat teh dan membakar roti untuk sarapan saat Norman mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Freya terkejut, rasa tidak sukanya kembali dia tunjukkan apalagi Norman memeluknya secara tiba-tiba.
"Sudah aku katakan jangan menyentuh aku karena aku benci denganmu!" Freya menyingkirkan tangan Norman yang melingkar di tubuhnya.
"Kenapa kau membenci aku, Freya? Sebelumnya kau tidak bersikap seperti ini padaku!"
"Aku sedang tidak mood, Norman, Jangan membuat aku semakin kesal dan singkirkan bibir mesummu dariku!" Freya mendorong wajah Norman yang berada di bahunya dan bibirnya tak henti menciumi lehernya.
"Katakan, kau tidak sedang menstruasi, bukan?" Norman mengusap perut Freya, dia sangat berharap apa yang dikatakan oleh adiknya adalah benar.
"Apa maksud perkataanmu? Untuk apa kau bertanya demikian?" Freya menyingkirkan tangan Norman dan mendorong pria itu menjauh.
"Sekarang jawab pertanyaanku, apa selama ini kau mengkonsumsi pil kontrasepsi? Aku jarang menggunakan pengaman jadi bisa saja saat ini kau sedang hamil!"
"Ha.. jangan konyol dan mengatakan lelucon. Aku sedang menstruasi, apa kau kira aku bodoh selama ini? Jangan katakan kau menginginkan bukti agar kau yakin dan percaya!" ucap Freya sinis tapi sesungguhnya dia sedang memikirkan perkataan Norman.
"Jika begitu buktikan, aku ingin melihatnya!" pinta Norman karena dia tidak percaya dengan apa yang Freya katakan.
"Kau benar-benar gila, minggir dari hadapanku. Aku ingin membuat sarapan!" Freya kembali menyeduh teh yang tertunda.
"Oke, aku tunggu dan setelah itu buktikan padaku apakah kau sedang menstruasi atau tidak!" Norman bersedekap dada, menunggu Freya selesai karena dia ingin melihat apakah Freya benar-benar sedang menstruasi atau tidak.
"Tunggulah sampai kau mati!" Freya membawa teh dan roti bakarnya menuju meja makan. Sepertinya Norman sudah gila tapi biarkan saja, dia ingin lihat sejauh mana Norman akan menunggunya.
Mereka berdua diam, Freya pun cuek saja tanpa mempedulikan Norman. Teh hangat yang tidak terlalu manis cukup membuat moodnya kembali membaik, aroma Jasmine dari teh itu pun cukup menenangkan dirinya. Rasanya sudah lama tidak menikmati pagi seperti itu, sepertinya semenjak dia bertemu dengan Norman harinya jadi berubah tapi sekarang, dia sangat ingin hari tenangnya kembali lagi tanpa ada yang mengganggu.
Norman yang masih berdiri pada akhirnya menghampiri Freya dan duduk di sisinya. Freya membuang wajahnya, dia tidak suka melihat wajah Norman. Mendadak dia merasa mual melihat wajah pria itu dan rasa benci memenuhi hati.
"Kenapa tidak mau melihat aku?" tanya Norman, dia benci dengan sikap yang ditunjukkan oleh Freya.
"Aku tidak mau berdebat, Norman. Tolong tinggalkan aku sampai moodku membaik. Emosiku sedang tidak stabil."
"Aku tunggu sampai kau membuktikan padaku! Setelah aku melihatnya, aku tidak akan mengganggu."
"Norman!" Freya sangat kesal dan menatapnya tajam.
Mereka berdua saling pandang dalam diam, Freya menatap pria itu dengan kebencian yang memenuhi hati. Entah apa yang terjadi, dia tidak tahu. Aksi tatap mereka cukup lama namun suara ponsel yang berbunyi mengalihkan pandangan Freya.
Norman melihat ponsel yang ada di tangan, Kendrick menghubunginya di waktu yang tepat karena dia tidak tahu sampai sejauh mereka akan saling tatap.
"Ada apa?" tanya Norman.
"Kami sudah menemukan mumi yang kau cari, Sir," ucap Kendrick dan perkataannya dapat di dengar oleh Freya sehingga Freya kembali melihat ke arah Norman.
"Di mana?" tanya Norman, dia pun menatap Freya dengan tajam.
"Natural History Museum, Italia," jawab Kendrick dan begitu mendengarnya, Freya meneguk tehnya sampai habis lalu beranjak dari tempat duduk.
"Bagus, aku akan menghubungimu lagi!" Norman juga beranjak dan mengikuti Freya.
"Freya, tunggu!" cegah Norman.
"Aku tidak bisa menunggu!" Freya mengambil ponsel karena dia akan mengatur perjalanan ke Italia.
"Hei, aku yang urus. Kita berangkat nanti malam!" ucap Norman.
Freya mengangguk, keberadaan mumi yang dia cari membuat mereka melupakan apa yang sedang mereka debatkan sebelumnya. Freya sangat berharap, batu yang ayahnya temukan benar-benar disembunyikan di mumi itu karena dia sudah sangat ingin mengakhiri semuanya dan hidup dengan tenang.