
Sebuah meja yang dipenuhi oleh minuman berada di taman belakang rumah Freya. Meski tidak terlalu besar tapi tempat itu cukup bagi mereka untuk bersenang-senang karena malam ini mereka ingin merayakan keberhasilan mereka dalam beberapa hal.
Tidak saja merayakan keberhasilan mereka dalam mencuri tapi malam ini Freya juga ingin mengadakan penyambutan untuk Norman yang mendadak menjadi partnernya meskipun mereka berdua masih orang asing yang hanya saling mengenal nama saja. Siapa pun pria itu, dia tidak peduli yang penting menguntungkan.
Malam ini langit pun begitu cerah, cuaca sangat mendukung. Alat pemanggang yang dibeli secara mendadak sudah berada di tempatnya begitu beberapa alat yang dibutuhkan. Cristiana sedang menusuk daging dan sayuran yang hendak di bakar, sedangkan Freya menyalakan bara. Norman bertugas mengangkat beberapa kursi, benar-benar pekerjaan orang biasa karena biasanya dia tidak perlu repot seperti itu sebab para pengawalnya yang akan mengerjakannya tapi sekarang, dia memang sedang menyamar sebagai rakyat biasa.
"Biar aku," ucap Norman yang sudah selesai dengan kursinya dan pria itu sudah berdiri di sisi Freya.
"Tidak perlu, sudah hampir selesai!" ucap Freya.
"Ini pekerjaan pria, jangan sampai tanganmu terbakar!"
"Thanks, padahal tidak perlu khawatir karena aku terbiasa dengan hal seperti ini."
"Yeah, tapi kau tetap seorang wanita jadi biarkan aku melakukannya."
"Apa kau memiliki keluarga, Norman?" tanya Freya. Dia bertanya demikian untuk basa basi saja tanpa bermaksud mengorek kehidupan pribadi Norman. Lagi pula mereka bisa berbincang sambil melakukan apa yang sedang mereka lakukan saat ini agar tidak membosankan.
"Tentu saja, semua memiliki keluarga. Bagaimana denganmu, Freya? Apa kau anak tunggal?"
"Begitulah, jika aku memiliki saudara maka aku sudah melakukan pencurian dengan saudaraku itu!"
"Kau benar!" ucap Norman.
"Nona, ini dagingnya tapi maaf aku tidak bisa ikut," ucap Cristina yang membawakan daging juga sayur yang sudah dia tusuk.
"Kenapa?" tanya Freya.
"Aku merasa sedikit tidak enak badan Nona, jadi aku ingin beristirahat sebentar," jawab Cristina beralasan padahal dia tidak mau mengganggu kebersamaan Freya dengan Norman. Entah kenapa dia sangat berharap mereka berdua semakin dekat dan memiliki hubungan spesial karena dia merasa mereka berdua sangatlah cocok.
Apakah dia harus menjadi cupid untuk menyatukan Norman dan Freya? Sepertinya dia harus melakukannya agar sang nona memiliki pasangan karena sedari dulu dia tidak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun akibat kecintaannya pada sejarah sehingga waktunya hanya dia habiskan di tempat penelitian dan sekarang, dia harus menjadi penjahat untuk menemukan ayahnya dan mengambil kembali benda-benda milik ayahnya yang tercuri.
"Baiklah, jika begitu pergilah beristirahat. Aku akan membawakan untukmu jika sudah matang," ucap Freya.
"Tidak perlu, Nona. Aku ingin tidur jadi tidak perlu membawakannya untukku," tolak Cristina.
"Kau yakin?"
"Tentu saja, nikmati waktu kalian berdua," Cristina melangkah pergi. Semoga tidak turun hujan, semoga cuaca dan indahnya langit mendukung kebersamaan mereka berdua dan dia juga berharap setelah malam ini mereka berdua semakin dekat.
"Mungkin pelayanmu tidak enak badan karena mengkhawatirkan keadaanmu!" ucap Norman.
"Sepertinya hanya kita berdua saja yang akan bersenang-senang!" ucap Freya.
"Keberatan?" Norman memandanginya.
Norman membantunya melakukan hal itu dan setelah semua sudah matang, mereka membawanya ke meja di mana banyak minuman terdapat di atasnya. Walau hanya berdua, sepertinya cukup menyenangkan.
"Hanya kita berdua, apa kau yakin akan menghabiskan semua ini?" tanya Norman.
"Tentu saja, Norman. Malam ini, kita rayakan beberapa hal dan anggap ini sebagai ungkapan terima kasihku padamu atas bantuan yang kau berikan dan malam ini aku juga ingin menyambut dirimu sebagai partnerku."
"Baiklah, bagaimana jika kita membuat sebuah permainan, Freya? Aku ingin menantang arkeolog seperti dirimu untuk bermain teka teki," ajak Norman.
"Apa yang akan kau pertaruhkan dalam permainan ini?"
"Mudah saja, yang kalah harus minum segelas. Aku rasa kau tidak akan keberatan!"
"Tentu saja, sebagai permulaan!" Freya mengangkat gelas yang sudah terisi, Norman pun melakukannya dan setelah itu gelas pun di adukan hingga berbunyi. Minuman di teguk sampai habis, mereka mulai bermain sambil menikmati makanan yang ada.
Cristina mengintip dari balik jendela, baru kali ini dia melihat Freya begitu senang dan bisa tertawa lepas. Jujur saja dia sangat ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan tapi jika dia muncul secara tiba-tiba, maka dia bisa mengganggu waktu kebersamaan mereka berdua.
"Tunggu, kau bilang dia menaiki boneka bebegig?" tanya Freya di sela tawanya.
"Yeah, seharusnya aku menggantungnya waktu itu," tentunya dia sedang membicarakan sahabat adiknya yang konyol.
Freya meneguk minumannya lalu tertawa, sepertinya dia sudah mabuk tapi dia masih tidak juga berhenti untuk minum. Norman pun tidak mencegah karena mereka memang berniat untuk bersenang-senang. Meski dia sudah banyak minum tapi Norman belum juga terlihat mabuk bahkan Freya sudah tumbang terlebih dahulu akibat meneguk begitu banyak minuman dan dia sudah terlihat tidak sadarkan diri lagi.
"Kau benar-benar tidak kuat minum, Freya!" satu botol minuman di teguk sampai habis dan setelah itu Norman beranjak karena dia akan menggendong Freya masuk ke dalam.
Cristina masih mengintip, dia tidak mencegah sama sekali saat Norman membawa Freya masuk ke dalam kamar. Dia yakin sebentar lagi pasti akan terjadi sesuatu karena dia tahu, Freya akan berubah saat sedang mabuk dan benar saja, Norman terkejut saat Freya menciumnya secara tiba-tiba ketika dia hendak membaringkan Freya ke atas ranjang.
"Freya?" Norman hendak menyingkirkan tangan Freya yang sedang melingkar di lehernya namun Freya justru semakin memeluknya dengan erat bahkan Freya tak henti mencium wajahnya.
"Freya!" Norman sampai berteriak.
"Dad," mendadak Freya menangis. Semua itu terjadi akibat mabuk.
Norman sudah berhasil melepaskan kedua tangan Freya yang melingkar di lehernya. Freya masih menangis, dia benar-benar sudah mabuk berat.
"Yang aku miliki hanya Daddy saja jadi jangan tinggalkan aku," air mata Freya mengalir semakin deras sehingga membuat perasaan iba di hati Norman semakin tumbuh.
"Bodoh, kau tidak sendirian sekarang!" Norman berbaring di sisi Freya dan memeluknya. Air mata Freya pun dihapus dengan perlahan, "Aku akan menemani dirimu sampai kita menemukan keberadaan ayahmu. Yakinlah dia masih hidup dan kita akan menemukannya!" sekarang dia benar-benar terjerat semakin jauh dengan pencuri itu. Tidak saja harus menjadi buronan bersama dengan Freya tapi kini dia justru semakin tertantang dengan misi mencari ayah Freya.
Norman tak henti mengusap punggung Freya, tangisan Freya lambat laun tidak terdengar karena dia sudah tertidur. Tidak saja mengusap punggung Freya, tangannya pun tak henti mengusap wajah Freya dan menghapus air matanya yang tersisa. Aneh, dia merasa sedikit aneh. Karena tidak mau memikirkan apa pun lagi, Norman memilih tidur sambil memeluk Freya.
Diluar sana, Cristina mencuri dengar tapi tidak ada suara. Sepertinya berhasil, semoga saja hubungan mereka benar-benar semakin dekat setelah malam ini. Cristina pergi sambil melompat lompat girang, rencananya berhasil. Tinggal menyiapkan sebuah penutup telinga agar dia tidak mendengar teriakan Freya besok pagi dan dia pun akan berpura-pura tidak tahu namun malam itu, tidak ada yang tahu jika seorang pria tua dengan tubuh dipenuhi dengan tato, sudah menyebarkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Freya dan Norman.
Dia ingin menangkap hidup-hidup orang yang sudah membunuh putranya dan sesungguhnya, pria tua itu tahu siapa pelaku yang menculik ayah Freya bahkan dia juga menginginkan batu berharga yang disembunyikan oleh ayah Freya.