Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Duel Freya Vs Chen



Dengan alat yang diberikan oleh rekannya, Chen dapat melihat keberadaan Freya dengan mudah. Freya berada di satu titik, tidak pergi ke mana pun. Bagus, sepertinya Freya sudah menyerah dan mungkin saja dia kelelahan akibat berlari. Chen harap ketiga rekannya segera menyusul membantu tapi mereka sedang berusaha melarikan diri dari kejaran Norman.


Polisi sudah memenuhi jalan akibat kekacauan yang diperbuat oleh mereka. Beberapa polisi bahkan mengejar mobil yang dibawa oleh Norman. Situasi semakin tidak menguntungkan sehingga dia tidak bisa langsung pergi membatu Freya karena dia harus menghindari kejaran para polisi itu. Dia pun tidak boleh membuat para polisi itu tahu akan keberadaan Freya.


Kedua musuh yang dia kejar sudah melarikan diri karena mereka pun dikejar oleh polisi namun mereka berdua cukup berbahaya karena kedua musuh itu bisa ke tempat Freya. Dua mobil polisi terus mengejarnya, Norman mengumpat, semua gara-gara musuh yang tidak memiliki perhitungan.


Freya sudah menunggu kedatangan Chen, dia tidak akan lari lagi. Sebuah besi panjang dia temukan di bangunan tua itu. Di sana mereka bisa berduel dengan tenang apalagi tempatnya cukup luas. Luka yang ada di punggung akan dia balas.


Chen masih berlari menuju lokasi keberadaan Freya. Seperti yang dia ucapkan, dia tidak akan bersikap lembut lagi karena dia akan memotong salah satu kaki Freya sehingga wanita itu tidak bisa lari. Freya yang sudah menunggu bersiap, saat melihat kedatangan Chen. Dia yakin wanita itu pasti anak buah dari Black Scorpion yang diutus untuk menangkapnya. Sepertinya aksinya sewaktu di London sudah ketahuan.


Lari Chen terhenti, dia mengambil napas sejenak dan mengumpulkan tenaga. Freya yang menunggu sambil bersandar di dinding pun maju dua langkah sambil menarik sebuah besi panjang yang ada di tangan.


"Aku kira kau tidak akan datang," cibir Freya.


"Hari ini aku akan mendapatkanmu, Freya Walner. satu kakimu adalah milikku!" Chen menarik dua pedang yang ada di bahu, dia pun melangkah maju.


"Kau meremehkan aku hanya karena aku kalah darimu di tempat sempit itu. Perkelahian yang tidak seimbang tapi sekarang?" Freya memundurkan satu kaki, besi yang ada di tanganmu di angkat di depan wajahnya.


"Aku tidak akan kalah untuk kedua kali jadi majulah dan perlihatkan kungfu yang kau miliki padaku!" ucapnya seraya menekuk kaki sedikit untuk memasang kuda-kuda.


"Interesting!" Chen pun memasang kuda-kuda lalu mengangkat kedua pedangnya.


"Ini baru seimbang!" ucap Freya.


Seringai menghiasi wajah, mereka berdua saling pandang. Kaki mereka pun melangkah dengan perlahan membuat sebuah lingkaran. Freya mengangkat besinya semakin tinggi begitu juga yang Chen lakukan. Kedua pedangnya sudah terangkat tinggi dan dalam satu kali tarikan napas, mereka berdua berlari sambil berteriak. Besi yang ada di tangan Freya diayunkan, kedua pedang yang ada di tangan Chen juga terayun secara bersamaan.


Traangggg!! suara besi yang membentur benda tajam terdengar lalu disusul dengan gesekan pedang ke atas besi sehingga menimbulkan sedikit percikan api. Freya dan Chen menarik senjata mereka lalu mengayunkannya lagi. Lagi-Lagi suara besi saling beradu terdengar, Chen mengayunkan kedua pedangnya dengan cepat sehingga membuat langkah Freya terdorong ke belakang.


Suara senjata yang saling beradu tak henti terdengar, meskipun Freya terpukul mundur tapi dia menangkis setiap sabetan pedang Chen yang begitu cepat. Chen benar-benar tidak memberi kesempatan pada Freya untuk melawan. Freya semakin mundur ke arah tembok, sambil menangkis Freya melihat ke belakang. Sepertinya dia harus mencari kesempatan untuk menyerang balik.


"Kaki dan tanganmu adalah milikku!" teriak Chen yang tak henti menyabetkan pedangnya tanpa henti.


"Kau tidak akan mendapatkannya!" Freya berhenti menangkis, lalu memutar langkahnya. Freya berlari ke arah dinding, Chen mengejar karena dia mengira Freya hendak melarikan diri.


Freya mempercepat larinya, Chen pun mengejar karena dia tidak akan membiarkan Freya lari tapi dia tidak menyangka, Freya justru berlari ke atas tembok lalu bersalto ke belakang. Chen mendongak melihatnya, Freya tidak menyia-nyiakan kesempatan karena besi yang ada di tangan pun dipukulkan ke arah Chen sehingga menghantam punggung wanita itu.


Chen berteriak, akibat pukulan itu tubuhnya terdorong ke depan bahkan dia jatuh ke depan.


"Kurang ajar!" Chen segera beranjak, pedang yang terlepas diambil dan wanita itu melangkah dengan cepat mendekati Freya.


"Aku akan membunuhmu!" teriak Chen lantang.


"Majulah!" besi kembali diangkat tinggi.


Chen berlari ke arahnya lalu mengayunkan kedua pedangnya, suara benturan pedang dan besi kembali terdengar. Kini Freya tidak hanya menangkis, dia pun menyerang Chen dengan memukulkan tongkat besinya. benda itu menghantam tubuh Chen berkali-kali tapi bukan berarti Freya luput dari serangan sabetan pedang milik Chen. Bagian perut sudah terluka, bagian lengan pun tak luput.


Meski mendapatkan luka di beberapa bagian tapi itu adalah pertarungan yang cukup sengit untuk mereka berdua. Freya dan Chen bahkan masih memiliki stamina yang cukup untuk mengadukan pedang melawan besi. Freya sudah tidak mau menahan pedang Chen oleh sebab itu dia terus menyerang Chen dengan memukulkan besinya secepat mungkin. Kini giliran Chen yang terdorong akibat permainan besinya, Chen menangkis menggunakan kedua pedang tapi lambat laun dia mulai kewalahan.


Tubuh Chen pun sudah terdorong ke belakang, kedua lengan sudah terasa sakit tapi Freya masih saja terus memukulkan tongkat besinya. Freya berteriak, lalu tongkat diayunkan dengan sekuat tenaga. Chen pun menangkis tapi akibat kuatnya benturan tongkat, sebilah pedangnya terlepas dari tangan dan terpental jatuh. Setelah membenturkan tongkatnya, Freya segera melakukan gerakan lain yaitu menendang kaki Chen sehingga wanita itu terjatuh.


Chen berteriak marah, pedang yang ada di tangan disabetkan ke arah kaki Freya, dia harap pedang itu memenggal kaki Freya namun sebelum hal itu terjadi, Freya sudah memukulkan tongkatnya kembali ke atas tubuh Chen. Wanita itu berteriak, menahan rasa sakit. Tidak saja satu kali, Freya menghantamkan tongkatnya secara bertubi-tubi ke atas tubuh Chen sehingga wanita itu meringkuk dan tidak bisa melawan lagi.


"Aku akan membunuhmu, aku akan membunuhmu!" teriak Chen marah


"Kita lihat siapa yang akan mati terlebih dahulu!" ucap Freya yang kembali memukul Chen dengan tongkatnya. Entah sudah berapa kali yang pasti darah segar dimuntahkan oleh Chen, kedua kaki Chen bahkan sudah tidak bisa digerakkan karena sudah remuk akibat pukulan yang Freya berikan. Freya berhenti setelah dia merasa puas tapi pada saat itu juga, dia diserang dengan beberapa tembakan.


Freya mengumpat, dia berlari untuk mencari tempat bersembunyi. Dua orang pria berdiri tidak jauh, mereka memegangi dua senjata api yang mereka gunakan untuk menghujani Freya dengan timah panas. Freya terus berlari, lalu melompat ke balik sebuah dinding. Sial, ternyata masih ada rekannya.


"Apa kau baik-baik saja, Chen?" tanya rekannya menggunakan bahasa Hong Kong. Kedua rekannya tampak waspada, mereka pun mendekati Chen yang sudah tidak berdaya.


"Bunuh dia, segera bunuh!" perintah Chen sambil menunjuk ke arah di mana Freya sedang bersembunyi.


Kedua rekannya mengangguk, mereka melangkah mendekati Freya sambil mengangkat senjata api mereka. Freya mencoba mengintip namun dia mendapat sambutan timah panas. Freya buru-buru menarik kepalanya, sungguh sial. Seetelah menumbangkan yang satu kini dia harus menumbangkan yang lain. Dia harap Norman datang membantu karena dia tidak mungkin selamat melarikan diri dari timah panas tapi tanpa dia ketahui, pria itu sudah berada di luar dengan seluruh senjata api yang dia miliki. Saatnya si raja itu kembali bersenang-senang.