Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Tempat Persembunyian Yang Sudah Diketahui



Freya tinggal di sebuah rumah terpencil yang ada di sisi hutan. Freya menyembunyikan identitas dirinya sehingga tidak ada yang tahu. Penduduk di kota kecil itu sangat baik padanya. Berkat bantuan dari para penduduk Freya dapat menikmati kehidupan tenangnya. Meski hidupnya tidak berkelimpahan namun dia sangat menikmati hidup tenangnya.


Kehidupan seperti itulah yang dia inginkan, tenang tapi bukan berarti dia tidak waspada. Freya selalu waspada karena dia takut ada petugas yang menemukan dirinya. Hal itu tidak boleh terjadi karena dia harus menjaga harta berharga yang dia dapatkan tanpa terduga.


Freya tidak lagi memikirkan artefak milik ayahnya yang dia tinggalkan. Dia pun tidak mau mencari yang belum dia temukan karena semua itu tidaklah penting lagi. Siang itu, Freya memancing di sungai untuk mencari makan malam. Tentunya Freya membawa bayi kecilnya yang lucu. Keadaan yang membuatnya harus berjuang keras untuk kehidupannya.


Dia sudah tidak menggunakan pakaian bagus lagi. Entah kapan terakhir kali dia mengenakan pakaian bagus, dia sendiri sudah lupa. Rambutnya bahkan sedikit berantakkan karena yang dia pikirkan bukan kecantikan lagi melainkan menjaga bayinya agar mereka tidak tertangkap.


"Sepertinya menu makan malam kita sudah cukup, Sayang," ucap Freya sambil melihat dua ekor ikan yang sudah dia dapatkan.


Hidup sederhana seperti itu tidaklah buruk, memang pertama kali sedikit sulit tapi kini dia sudah terbiasa. Freya menghela napas, tatapan mata tertuju pada langit biru.


"Apa kabarmu, Dad? Maaf aku tidak bisa menguburkan jasadmu tapi aku yakin Cristina pasti melakukannya untukmu," ucapnya.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, kehidupanku cukup baik. Aku akan mengatakan pada Nich jika dia memiliki seorang kakek yang hebat," Freya berpaling, melihat ke arah putranya yang sedang bermain sendiri dan menggali tanah, "Sepertinya dia akan menjadi arkeolog selanjutnya. Meskipun aku tinggal di tempat terpencil ini, meskipun aku tidak mampu memberikan pendidikan untuknya tapi aku akan mengajari dirinya agar dia pun bisa mengerti dengan seni dan sejarah!" ucapnya lagi.


Freya kembali melihat ke atas langit dan tersenyum namun senyumannya mendadak sirna. Freya menunduk, dengan banyak pikiran. Entah kenapa sebuah perasaan bersalah muncul di hati, apa yang dia lakukan saat ini adalah yang terbaik untuk putranya?


"Mo.. mmy... Mo...mmy!" putranya yang dia beri nama Nicholas memanggil dirinya.


"Ada apa, Sayang?" Freya berpaling namun dia terkejut karena Nicholas hendak memakan tanah.


"Jangan makan itu!" teriaknya. Freya berlari ke arah Nicholas lalu meraih tangan kecilnya agar tanah yang dia genggam tidak termakan.


"Jangan makan, ini kotor!" Freya membersihkan tangan putranya, sedangkan tawa kecil putranya terdengar.


"Ayo pulang, sepertinya putra Mommy sudah lapar!" Freya beranjak sambil menggendong putranya, dua ikan itu sudah cukup untuknya makan. Sambil menggendong putranya, Freya juga membawa kail serta hasil pancingannya dan kembali ke rumah kecil namun cukup nyaman untuknya.


Dia belum menaruh curiga jika ada beberapa orang yang sedang mengintai dirinya dari kejauhan. Orang-Orang itu memang sengaja untuk tidak terlalu dekat mengingat kewaspadaan yang Freya miliki. Freya yang selalu waspada, melihat sekitarnya sebelum masuk ke dalam rumah, dia tidak boleh lengah karena polisi yang mencarinya bisa saja sedang mengintai saat itu.


Melihat kewaspadaan yang dia miliki, tentu saja membuat orang-orang yang mengintai dirinya langsung bersembunyi. Benar-Benar cerdik, pantas saja keberadaannya sulit dicari dan sulit ditangkap.


Freya masih mengawasi, dia merasa ada yang aneh. Keadaan membaut felling-nya semakin tajam. Dia merasa ada yang mengawasi dirinya. Freya masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru, sebuah kain diambil lalu kain itu digunakan oleh Freya untuk mengikat putranya di depan.


Dua senjata api yang selalu dia sembunyikan pun diambil, sudah sekian lama dia tidak menduga persembunyiannya sudah diketahui. Apa pun yang terjadi, dia harus bisa melindungi putranya. Selain dua pistol yang sudah dia sembunyikan di pinggang, Freya juga mengambil sepucuk senjata api yang juga dia sembunyikan.


"Mo...mmy," Nicholas yang sudah berada di gendongan memanggil sambil menyentuh wajah ibunya.


"Sttss.. tidak perlu takut!" Freya menggenggam tangan kecil putranya dan menciumnya.


"Pakai ini, jika keadaan mendesak maka Mommy akan mengantarmu kepada ayahmu. Dengan cincin ini, dia pasti akan percaya jika kau adalah putranya!" cincin yang sudah diikat dengan sebuah tali pun Freya kenakan pada leher putranya.


"Mommy harap kita bisa lari!" Freya memeluk putranya dengan erat, dia harap dia bisa lolos kali ini.


Freya bergegas berdiri di belakang jendela dan mengintip keluar, seperti yang dia duga, ada yang mengawasi. Beberapa orang mulai terlihat melangkah mengendap mendekati rumahnya dengan senjata api di tangan. Freya menelan ludah, dia berlari ke arah lain dan kembali mengintip keluar. Ternyata rumahnya sudah dikepung oleh pasukan khusus yang memang hendak menangkap dirinya.


"Celaka!" Freya melihat sekitar, dia tidak akan bisa melawan karena sudah terkepung. Sepertinya tidak ada jalan, beberapa dinamit yang tidak pernah ingin dia gunakan pun diambil, Freya masuk ke dalam lubang perapian untuk bersembunyi. Beruntungnya dia membeli beberapa senjata api dari beberapa penjahat yang ada di kota itu menggunakan uangnya yang tersisa karena dia tahu, dia membutuhkannya.


Tempat gelap membuat Nicholas menangis namun Freya menghentikannya dengan memberikan asi. Dia harus bisa bertahan, dia sudah melewati yang lebih sulit yaitu melarikan diri saat mengandung putranya oleh sebab itu, dia harus menjadi super mother untuk putranya.


Suasana hening, pasukan yang ada di depan sudah mengepung rumahnya yang kecil. Tentu mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan karena buronan dapat ditemukan setelah sekian lama mencari. Freya yang masih dianggap buronan karena Kendrick sedang berusaha membersihkan namanya yang tentunya tidak akan mudah.


Pasukan dengan senjata api itu sudah siap dengan segala kemungkinan, dua orang sudah melangkah menuju pintu. Mereka akan menerjang pintu dan masuk ke dalam. Target tidak akan bisa pergi ke mana pun karena rumah yang begitu kecil. Freya mencoba menahan napas, satu tangan menepuk putranya agar dia tidak menangis. Nicholas yang sudah diberi asi tentu saja tidak menangis apalagi tepukan pelan yang diberikan oleh ibunya membuatnya mengantuk.


Dengan isyarat tangan, pemimpin pasukan itu memerintahkan anak buahnya untuk membuka pintu dan dalam hitungan ketiga, pintu rumah itu di tendang hingga terbuka dengan lebarnya.


"Tangkap buronan itu!" perintah sang pemimpin.


Pasukan itu menyergap masuk, siap menembak siapa saja yang ada di dalam. Freya membuka kedua matanya yang terpejam, sekarang saatnya. Korek api dinyalakan, dinamit pun dibakar dan ketika keberadaannya sedang dicari, Freya melemparkan dinamit yang sudah menyala. Pasukan itu terkejut, namun dua dinamit lain yang sudah terbakar kembali terlempar ke arah mereka.


"Sial, ini jebakan!" teriak sang pemimpin. Pasukan itu hendak melarikan diri namun dinamit yang pertama kali dilemparkan mulai meledak disusul dengan dua dinamit lainnya. Ledakan dahsyat itu membuat rumah Freya hancur berkeping-keping, para pasukan yang belum sempat lari dan berada di dalam ikut terkena ledakan sedangkan yang ada di luar terhempas akibat dahsyatnya ledakan.


Nicholas terkejut karena suara ledakan, tangisannya pun terdengar. Freya sudah merangkak keluar dari lubang perapian yang terbuat dari batu sehingga ledakan tidak bisa merobohkannya. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan dan harus lari.


"Itu dia!" teriak pasukan yang masih selamat.


Freya menghujani mereka dengan senjata apinya sambil melangkah mundur. Kobaran api yang membakar rumah membuat para pasukan itu sulit membidik dirinya. Sedikit tembok rumah yang masih berdiri kokok menguntungkan dirinya karena dia bisa bersembunyi. Tangisan putranya kembali di hentikan dengan asi, sebuah dinamit kembali diambil karena benda itu bisa menyelamatkan dirinya.


"Cepat kejar!" perintah sang pemimpin kelompok yang mengalami luka ringan akibat ledakan.


Freya melihat putranya yang kembali tidur, perasaan bersalah karena putranya harus terlibat dalam keadaan berbahaya itu memenuhi hati tapi dia akan tetap menjadi ibu yang hebat untuk putranya. Napas ditarik sejenak, tali dinamit pun kembali di bakar lalu benda itu lemparkan ke arah pasukan yang akan menyergap dirinya.


Setelah melakukan itu, Freya berlari pergi. Ledakan kembali terjadi, kini rumahnya benar-benar rata dengan tanah. Freya tidak berpaling, yang dia inginkan hanya lari dari tempat itu namun tanpa Freya sadari, seorang penembak jitu sudah berada di posisi.


Seorang bayi yang dibawa oleh buronan membuatnya ragu untuk menembak namun tugasnya untuk melumpuhkan buronan harus tetap dilakukan. Senjata api sudah membidik Freya yang terus berlari, target pun sudah terkunci dan tanpa membuang waktu, peluru dari senjata apinya melesat ke arah Freya yang masih saja berlari dan peluru itu berhasil menambus bahu kanannya.


Freya berteriak, dia hampir terjatuh. Celaka, sungguh celaka. Satu saja harapannya, semoga dia bisa menemukan seseorang untuk membawa putranya pada Norman. Meski dia mati, dia tidak peduli. Freya terus berlari, sambil memegangi lukanya yang terus mengeluarkan darah. Dia tidak peduli dengan apa pun dan semoga ini bukan akhir dari segalanya namun seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pohon besar dan menariknya secara tiba-tiba, membuatnya terkejut dan menghilangkan harapannya.