
Kedatangan mereka disambut oleh Victor dan Antoni dengan baik, Freya didorong maju ke depan sedangkan Gabriel disambut dengan pelukan serat tepukan hangat di punggung oleh Victor. Pria itu benar-benar memberikan keuntungan bagi mereka tapi dia sudah menyiapkan kejutan untuk Gabriel.
"Akhirnya kau membawanya datang, Gabriel," ucap Victor.
"Sesuai dengan janjiku, Victor. Sekarang aku ingin meminta satu hal padamu," ucap Gabriel.
"Katakan, apa yang kau inginkan?" tanya Victor seraya melangkah menjauh setelah memberikan pelukan selamat datangnya.
"Lepaskan mereka setelah kau mendapatkan batu itu!" ucap Gabriel.
"Itu mudah diatur, Gabriel. Aku pasti melepaskan mereka semua nantinya."
"Mana ayahku dan Cristina?" teriak Freya.
"Mereka akan tetap hidup jika barang yang kau berikan adalah asli!" jawab Victor.
"Aku sudah datang dan membawanya jadi lepaskan ayahku dan Cristina!" pinta Freya. Firasat buruk, dia merasa Victor bukan orang yang bisa diajak negosiasi. Dia harus meminta ayahnya dan Cristina dilepaskan terlebih dahulu sebelum mereka mengetahui jika batu yang dia bawa adalah batu palsu dan dia harap, Norman tidak datang terlambat untuk menolong mereka dan bisa langsung bertindak setelah dia memberi sinyal.
"Bawa mereka keluar!" perintah Victor pada anak buahnya dan sesuai dengan perintah, Nathan Walner dan Cristina dibawa keluar.
"Daddy!" Freya berteriak memanggil ayahnya, dia hendak berlari menghampiri ayahnya namun sebuah senjata api menempel di dahinya tanpa dia inginkan.
"Freya," ayahnya pun memanggil putrinya yang terlihat baik-baik saja disertai dengan teriakan Cristina.
"Well... Well. Pertemuan yang sangat mengharukan!" cibir Victor.
"Lepaskan mereka!" teriak Freya.
"Berikan batu itu terlebih dahulu maka mereka akan aku lepaskan!" ucap Victor.
"Jangan, Freya. Jangan berikan padanya karena kita semua pasti akan mati!" teriak ayahnya.
"Diam kau, tua bangka!" teriak salah seorang anak buah Victor seraya memukul kepala ayah Freya.
"Hentikan, jangan memukulnya!" teriak Freya. Dia tahu, apa yang dikatakan oleh ayahnya sangat benar. Mereka pasti akan dibunuh meski para penjahat itu sudah mendapatkan batunya tapi dia akan berusaha bernegosiasi pada mereka agar ayahnya dan Cristina dilepaskan dari tempat itu.
"Sekarang berikan batu itu jika tidak, mereka akan memukul ayahmu sampai kepalanya pecah!" ancam Victor.
"Tidak, lepaskan mereka terlebih dahulu barulah kau mendapatkan batunya!" jawab Freya.
"Tidak ada tawar menawar dan kau tidak memiliki hak sama sekali!" ucap Victor.
"Jika kau tidak melepaskan mereka maka aku tidak akan memberikan batu itu!"
"Gabriel, apa maksudnya ini? Apa dia tidak membawa batunya?" Victor melihat ke arah Gabriel yang sedari tadi sibuk melihat-lihat apa yang ada di dalam ruangan itu.
"Biarkan saja mereka pergi. Yang kau inginkan hanya batu itu saja, bukan? Bebaskan saja mereka!" ucap Gabriel. Meski dia berkhianat tapi dia tidak berniat melenyapkan nyawa siapa pun. Lagi pula dia sudah berkata akan membantu Freya untuk bernegosiasi agar ayahnya dilepaskan maka dia akan membantu Freya sampai tuntas.
"Oh, jadi kau ingin aku melepaskan mereka?" pertanyaan Victor seperti mengejek.
"Tentu saja, tidak ada gunanya menahan mereka terlalu lama apalagi kau akan mendapatkan batunya sebentar lagi!"
"Dia ingin kita membebaskan sandera, bagaimana menurut kalian berdua?" tanya Victor pada kedua rekannya tentunya dia terdengar seperti mengejek Gabriel.
Victor menatap ke arah Gabriel, lalu tawanya terdengar di susul dengan tawa kedua rekannya. Mereka tertawa terbahak-bahak untuk menertawakan Gabriel. Freya hanya diam, mencari cara untuk membebaskan ayahnya dan Cristina terlebih dahulu karena dia tidak ingin mereka terluka. Seperti yang sudah dia duga, ketiga penjahat itu bukanlah orang yang bisa diajak bernegosiasi dan bodohnya Gabriel yang bekerja sama dengan mereka tanpa tahu konsekuensi jika bersekutu dengan penjahat. Dia yakin Gabriel tidak akan mendapatkan apa pun bahkan dia tidak akan bernasib baik setelah ini tapi dia masih berharap, Gabriel dapat membantunya bernegosiasi agar ayahnya dan Cristina di lepaskan.
"Kenapa kalian tertawa? Cukup lepaskan saja mereka bertiga!" ucap Gabriel. Dia harap Victor tidak mempersulit apalagi batu itu sudah berada di depan mata. Dia sungguh sudah salah mengambil langkah tanpa dia sadari karena penjahat seperti Victor, tidaklah boleh dipercaya sama sekali.
"Baiklah, baik. Yang kau katakan sangatlah benar. Kita tidak butuh mereka lagi jadi lepaskan mereka!" perintah Victor.
"Lepaskan juga putriku!" pinta Nathan Walner.
"Putrimu akan tetap berada di sini sampai dia memberikan batu itu dan sampai kami tahu batu itu asli atau tidak!" jawab Antoni.
"Jika begitu aku tidak akan pergi ke mana pun!" ucap ayah Freya.
"Dad!" Freya menggeleng, dia harap ayahnya mengerti dengan situasi sehingga ayahnya mau pergi dengan Cristina selagi ada kesempatan.
"Tidak mau pergi, tidak masalah untuk kami!" ucap Victor dan setelah itu dia justru tertawa dengan kedua rekannya yang lain.
"Jangan dengarkan ayahku, sekarang lepaskan mereka!" pinta Freya.
"Nona." Cristina memandanginya sambil menangis.
"Tolong jaga ayahku baik-baik!" pinta Freya karena dia tidak yakin bisa keluar dari tempat itu hidup-hidup.
Cristina mengangguk, ikatan di tangan dan di kakinya dilepaskan begitu juga dengan ikatan yang mengikat ayah Freya. keadaan Nathan yang lemah dan dipenuhi luka tidak memungkinkan dirinya untuk berjalan sendiri. Cristina segera merangkul ayah Freya untuk membantunya agar bisa berdiri.
"Aku tidak mau meninggalkan Freya," ucap Nathan Walner.
"Tuan, sebaiknya kita patuh. Nona pasti sudah memiliki rencana jadi kita tidak boleh membuat Nona dalam masalah," bisik Cristina.
"Semua gara-gara kau, semua gara-gara kau Gabriel!" teriak Nathan, kedua matannya sudah menatap ke arah Gabriel dengan tajam. Dia tidak menduga jika pria itu akan berkhianat hanya karena dia tidak mau menjual batu itu.
"Jangan salahkan aku, Tuan Walner. Seandainya kau mau menjual benda itu dan membagi hasilnya denganku, maka aku tidak akan melakukan hal ini padamu!" ucap Gabriel.
"Hanya demi uang, Gabriel. Percayalah padaku, kau tidak akan lolos!" ucap Nathan lagi.
"Cristina, segera bawa Daddy pergi!" perintah Freya karena dia tahu Victor dan ketiga rekannya tidak akan memberikan waktu begitu lama pada mereka. Cristina mengangguk, dia berusaha menahan berat tubuh ayah Freya sambil membawanya keluar dengan susah payah. Freya sangat berharap Cristina segera membawa ayahnya keluar dari tempat itu karena dia sudah tidak sabar memberikan sinyal untuk Norman agar pria itu segera bergerak. Norman yang sedari tadi sudah bersiap pun sudah tidak sabar menunggu sinyal darinya agar dia bisa menyerang musuh. Freya ingin ayahnya dan Cristina aman terlebih dahulu oleh sebab itulah dia belum memberikan sinyal sama sekali.
"Sekarang, mana batunya!" pinta Victor.
"Sebelum kau mendapatkan batu itu, beritahu aku terlebih dahulu, aku dapat berapa persen?" tanya Gabriel.
"Wah... Wah, kau bertanya demikian apa kau tidak percaya padaku, Gabriel?" tanya Victor.
"Bukan begitu, aku hanya ingin tahu saja," jawab Gabriel.
"Baiklah, baik!" Victor melangkah mendekati anak buahnya, dia pun terlihat seperti sedang menghitung seolah-olah dia sedang menghitung berapa persen yang akan didapatkan oleh Gabriel.
"Aku akan memberikan jumlah yang fantastis untukmu tapi sebelum itu?" Victor menarik senjata api yang ada di pinggang anak buahnya dan berbalik. Freya terkejut melihat hal itu lalu dia berteriak dengan keras.
"Gabriel, awas!" teriaknya namun terlambat karena Victor sudah menembakkan senjata apinya berkali-kali kedua arah yang berbeda. Kedua mata Freya melotot, dia berteriak seraya berlari namun semua itu sudah terlambat karena apa yang tidak dia harapkan justru terjadi tanpa dia inginkan.