
Norman belum kembali saat Freya sudah terbangun padahal waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Freya memesan makan siang dari hotel karena dia malas keluar. Setelah makan dia ingin memeriksa apa yang dia temukan di mumi. Dia akan menelitinya dengan teliti dan melihat tanda yang dia lihat di dahi replika mumi raja Tutankhamun.
Freya menunggu makanan sambil berdiri di depan jendela, entah ke mana Norman pergi seharusnya dia tidak peduli tapi entah kenapa dia jadi memikirkan keberadaan pria itu. Barang-Barang milik Norman memang masih ada, dia jadi bimbang apakah dia harus menghubungi Norman atau tidak untuk mencari tahu keberadaannya. Ponsel sudah berada di tangan, Freya menimang nimang benda itu, dia seperti ragu dan memang itulah yang terjadi.
Freya berpikir sejenak dan pada akhirnya dia memutuskan untuk tidak mencari. Lagi pula bukan urusannya. Pria itu mau pergi ke mana bukan urusannya. Lagi pula jangan sampai Norman salah paham dan besar kepala karena mengira dia peduli. Ponsel diletakkan, Freya melangkah menuju pintu karena pesanan makanannya sudah datang.
Mendadak dia merasa sepi padahal dia sudah terbiasa. Makanan bahkan dinikmati dengan tidak begitu berselera, sial. Dia lupa jika hari ini dia harus membeli pil kontrasepsi. Jangan sampai dia hamil karena lalai. Norman juga tidak membelinya, jangan katakan pria itu sengaja dan lupa.
Setelah makan, Freya mengambil perangkat laptop yang dia bawa. Benda itu dinyalakan dan diletakkan ke atas ranjang. Sekarang dia sibuk memeriksa foto yang dia dapatkan. Fokus, dia harus melakukan hal itu tapi sayangnya tidak bisa.
"Sial!" Freya berbaring telentang di atas ranjang. Tatapan matanya menatap langit ruangan, napas pun dihembuskan dengan berat. Ada apa dengannya hari ini?
Sudahlah, dari pada berpusing ria lebih baik dia memeriksa petunjuk yang dia dapatkan dengan bersungguh-sungguh. Freya meneliti semua gambar yang dia dapatkan, tidak ada yang aneh kecuali bagian dahi. Gambar sampai diperbesar, sebuah angka romawi tampak di dahi tapi angka itu sudah terlihat samar sehingga sulit dia kenali.
Freya begitu serius namun suara ponsel yang berbunyi justru mengganggu konsentrasinya. Freya segera menyambar ponsel dan menjawab tanpa melihat lagi siapa yang menghubunginya.
"Hallo," Freya terdengar tidak sabar.
"Ada apa denganmu? Kenapa terdengar tidak sabar seperti itu?" tanya Norman heran.
"Norman?"
"Ya, aku. Siapa lagi!" ucap Norman.
"Oh, ada apa?" tanya Freya pura-pura tidak peduli padahal senyuman menghiasi wajahnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Norman.
"Tidak ada, aku sedang memeriksa gambar yang aku ambil di museum," jawab Freya.
"Apa kau menemukan sesuatu?"
"Tidak ada yang berarti tapi sebuah angka Romawi aku temukan di dahi replika muminya," Freya melihat angka romawi yang tampak samar.
"Apa itu bisa dijadikan petunjuk?" tanya Norman.
"Entahlah, aku harus memikirkan hal ini baik-baik."
"Kita pikirkan bersama nanti. Tapi apa kau tidak mau tahu aku berada di mana?" tanya Norman sengaja karena Freya tidak bertanya dia berada di mana sampai saat ini dan hal itu membuatnya tidak senang.
"Buat apa aku tahu, terserah kau mau pergi ke mana jika bisa tidak perlu kembali lagi!" ucap Freya sinis namun perkataannya tidak sesuai dengan yang ada di dalam hati.
"Kau sungguh kejam, Freya!" ucap Norman dengan perasaan kecewa. Padahal dia berharap Freya mencari dirinya tapi Freya justru tidak peduli. Tapi apa yang sebenarnya dia harapkan? Dia menganggap Freya sebagai partner saja sudah pasti Freya juga menganggap dirinya sebagai partner tapi kenapa dia harus merasa kecewa dengan hal itu?
"Aku memang seperti ini, kau pun sudah tahu. Lebih baik tidak usah kembali. Lagi pula kau pergi secara diam-diam jadi tidak perlu cari aku lagi!"
"Jadi kau marah karena aku meninggalkan dirimu begitu saja tanpa memberitahu dirimu?" tanya Norman.
"Siapa juga yang marah, jangan terlalu percaya diri. Sudah sana, jangan hubungi aku lagi karena aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" apa yang dia katakan benar-benar tidak sesuai dengan isi hati padahal dia senang Norman menghubungi.
"Oh, baiklah. Padahal aku ingin mengajakmu makan udang dan tiram siang ini tapi karena kau tidak mau bertemu dengan aku lagi jadi ya sudah, dengan begini uangku aman," ucap Norman.
"Tidak dengar ya sudah. Bye.. Freya, aku akan mengambil barang-barangku nanti setelah aku selesai menikmati udang dan tiram."
"Enak saja, katakan di mana?!" pinta Freya.
"Bukankah kau tidak ingin bertemu denganku? Jadi untuk apa lagi kau tahu di mana?"
"Berisik, setelah ini kita tidak perlu saling bertemu tapi setelah aku makan udang dan tiram."
"Tidak mau, aku tidak mau kau manfaatkan!" tolak Norman.
"Aku tunggu di restoran kemarin. Awas jika kau tidak datang. Aku akan membakar barang-barangmu dan tidak hanya itu saja, aku akan mencari keberadaanmu dan menendang bokongmu sampai puas lalu memotong belalaimu!" ancam Freya.
"Wow... Wow, kau akan melakukan hal itu demi udang dan tiram?"
"Tentu saja, jadi awas saja jika kau tidak datang!" Freya sudah mengakhiri pembicaraan mereka. Demi udang dan tiram? Sesungguhnya tidak karena dia masih mampu membeli makanan itu. Laptop dimatikan, Freya melompat turun dari atas ranjang dan berganti pakaian. Awas saja jika Norman tidak datang, dia akan mencarinya dan menendang bokongnya sampai puas.
Norman tampak tersenyum setelah berbicara dengan Freya, dia bahkan tidak menyadari jika adiknya sedang memperhatikan sedari tadi. Vanila semakin yakin sang kakak memiliki hubungan spesial dengan wanita yang bernama Freya karena dia tidak pernah melihat kakaknya seperti itu.
"Apa dia kakakmu?" tanya Abraham pada istrinya yang saat itu sedang berdiri di sisi istrinya. Karena kakak iparnya datang berkunjung jadi dia pulang lebih cepat.
"Apa kau pernah melihatnya seperti itu sebelumnya?" tanya Vanila.
"Tidak selama aku mengenalnya!" jawab Abraham.
"Kak Norman benar-benar aneh, aku yakin dia sedang jatuh cinta tapi tidak menyadari. Kau tahu, lain di mulut lain di hati!"
"Seperti dirimu dulu, bukan? Kalian kakak adik sama saja!"
"Enak saja, jangan samakan aku dengan kak Norman!" Vanila melangkah pergi menghampiri kakaknya yang saat itu sedang berdiri di taman.
"Hm, sepertinya aku ketinggalan sesuatu!" ucap Vanila.
Norman berpaling, senyuman masih saja menghiasi wajahnya. Vanila benar-benar heran tapi dia yakin yang membuat kakaknya bertingkah seperti itu adalah wanita yang bernama Freya. Meski dia tidak mendengar apa yang kakaknya bicarakan dan hanya memperhatikan di depan jendela tapi dia bisa menebak jika kakaknya jadi seperti itu pasti gara-gara seorang wanita.
"Aku mau pergi!" ucap Norman.
"Loh, bukankah kita mau makan siang bersama?" tanya Vanila.
"Lain kali saja, sekarang aku mau makan siang di luar!"
"Apa bersama dengan wanita yang bernama Freya itu?"
"Bukan, jangan asal menebak. Aku ingin bertemu dengan teman lama. Teman saat aku kuliah," dusta Norman.
"Tidak perlu menipu, aku tidak akan bisa kakak tipu."
"Ya sudah, aku pergi dulu!" Norman menepuk wajah adiknya sebelum melangkah pergi. Vanila mengikuti, dia tidak mencegah. Meski kakaknya sedang berbohong tapi itu bagus untuknya walau makan siang mereka jadi batal. Norman berpamitan dengan keponakannya yang manis sebelum pergi, dia pun berpamitan pada adik iparnya.
Padahal dia hanya menggoda Freya saja soal udang dan tiram tapi Freya justru menganggapnya serius sehingga mau tidak mau dia harus membatalkan niatnya untuk makan dengan keluarga adiknya tapi sesungguhnya dia juga senang.