
Malam yang menegangkan sudah berlalu. Mereka kembali ke hotel dengan hasil curian yang mereka dapatkan. Freya sungguh puas, keberadaan Norman menjadi partnernya sungguh membantu dirinya dalam menjalankan misi meski mobil yang mereka sewa rusak parah dan sudah pasti mereka harus menggantinya.
Norman pergi mandi terlebih dahulu, sedangkan Freya melihat artefak yang dia ambil untuk mencari tahu itu benda asli atau tidak. Jangan sampai dia justru mendapatkan benda palsu karena bisa saja ketiga pria itu menipu dan agar kedok mereka tidak ketahuan, ketiga pria itu mengejar meski dia yakin jika ketiga pria itu ada hubungannya dengan organisasi yang telah menculik ayahnya namun segala kemungkinan bisa saja terjadi oleh sebab itu Freya sedang meneliti artefak yang baru dia dapatkan menggunakan sebuah alat khusus.
Tidak butuh lama baginya, dia sudah mengetahui jika benda itu asli. Kini dia hanya perlu mencari tahu dari tanda yang dia lihat di dada pria terakhir. Pasti pria itu dari organisasi berbahaya yang ada di hong Kong, dia benar-benar harus mencari tahu agar dia tahu siapa musuh yang harus dia hadapi.
"Freya, pergilah mandi!" ucap Norman yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk melilit di pinggang.
"Nanti!" Freya sudah mengeluarkan laptopnya karena dia ingin memeriksa dari organisasi mana pria itu datang.
Norman melangkah mendekati Freya, laptop yang ada di atas meja pun diambil sehingga membuat Freya berpaling dan menatapnya dengan tatapan heran.
"Kembalikan!" pinta Freya yang sudah beranjak dan hendak merebut laptop yang diambil oleh Norman.
"Tidak, kau lihat malam sudah begitu larut. Sebaiknya segera mandi dan beristirahat!"
"Aku hanya sebentar saja jadi kembalikan!" pinta Freya.
"Tidak!" laptop diangkat setinggi mungkin sehingga Freya tidak bisa mengambilnya.
"Kembalikan Norman, aku hanya ingin mencari tahu tanda yang ada di dada pria itu jadi berikan!" pinta Freya sambil melompat untuk mendapatkan laptop miliknya.
"Sudah aku katakan, tidak!" Norman meraih pinggang Freya dan menarik tubuhnya hingga mendekat.
"Kita sudah mendapatkan benda yang kau mau, apa kau tidak merasa lelah? Malam juga sudah semakin larut jadi sebaiknya kita beristirahat. Besok kau bisa mencari tahu akan tanda itu jadi sebaiknya pergi mandi dan beristirahat."
"Ck, baiklah." Freya mendorong tubuh Norman, "Bicara ya bicara tapi jangan memeluk seperti ini!" ucapnya dengan ekspresi tidak senang.
"Bagus!" Norman tersenyum dan melangkah mundur namun sayangnya handuk yang dia kenakan mendadak lepas dan jatuh ke bawah. Freya terkejut, kedua matanya melotot dan tertuju pada sesuatu yang seperti belalai anak gajah.
"Me-Mesum!" teriak Freya yang secara refleks mendorong Norman sehingga membuat Norman hampir saja terjatuh.
"Hei, kenapa kau mendorong aku?" Norman tampak tidak senang.
"Mesum, lain kali pakai bajunya sebelum bicara!" teriak Freya yang sudah menutup kedua mata dan berlari menuju kamar mandi.
"Ck, handuknya yang salah!" Norman mengambil handuk yang jatuh lalu mengambil pakaian untuk dikenakan.
Freya mengumpat, waktu itu dia harus melihat belalai milik penjaga dan sekarang dia harus melihat milik Norman. Semoga saja belalai yang dia lihat tidak menjadi racun di dalam otaknya. Freya mandi dengan cepat karena dia sudah mau beristirahat, dia tidak mau melihat Norman yang sudah duduk di atas ranjang dan menunggunya. Yeah, mereka memang harus satu ranjang karena mereka hanya menyewa satu kamar saja.
"Kemarilah!" Norman menepuk ranjang yang ada di sisinya.
"Tidak mau, tidur yang jauh!" Freya melemparkan sebuah bantal sebagai pembatas, "Jangan lewati batas itu jika tidak kau akan kehilangan belalai gajahmu besok pagi!" ancam Freya.
"Berani mengancam aku?" Norman meraih tangan Freya dan menariknya.
"Jangan menarik aku!" teriak Freya yang tidak terima ditarik seperti itu.
"Jangan berisik!" Norman membaringkan Freya dengan paksa dan memeluknya.
"Aku sudah terbiasa tidur sambil memeluk sesuatu jadi aku ingin memelukmu malam ini."
"Enak saja, apa aku bantal yang bisa kau peluk?" Freya masih berusaha mendorong Norman.
"Aku sudah membantumu, apa tidak mau berterima kasih?" Norman tidak juga melepaskan pelukannya meski Freya berusaha mendorongnya.
"Ck, aku akan berterima kasih dengan cara yang lain dan tidak seperti ini!"
"Tapi aku ingin kau seperti ini, jadi jangan menolak!"
"Baiklah tapi malam ini saja, tidak untuk malam yang lainnya!" Freya pun menyetujui karena dia malas berdebat.
"Berarti aku boleh melakukan apa pun padamu malam ini?" goda Norman.
"Sembarangan, tidur jika tidak aku akan tidur di sofa!" ancam Freya.
"Yakin tidak mau melakukan apa pun?"
"Memangnya kau mau melakukan apa?" Freya menatapnya dengan tatapan curiga, jangan katakan Norman menginginkan imbalan yang lainnya seperti menginginkan tubuhnya karena dia tidak akan sudi.
"Mencium bibirmu, mungkin?" jawab Norman. Satu tangannya sudah berada di dagu Freya untuk mengangkat dagunya sedikit tinggi.
"Sembarangan. Sesama rekan tidak boleh saling mencium bibir!" Freya berusaha mendorong namun Norman semakin memeluknya erat.
"Sekarang kita melakukannya!" dan tanpa ragu Norman mencium bibir Freya tanpa menunggu persetujuan dari Freya.
Freya terkejut, itu ciuman pertamanya. Freya memukul bahu Norman namun dia tetap kalah tenaga karena pria itu sudah memeluknya dengan kedua tangan bahkan Norman sudah berpindah dan berada di atas tubuh Freya. Tadinya dia hanya ingin menggoda Freya saja tapi kini dia justru tidak bisa berhenti apalagi Freya adalah wanita yang cukup mengagumkan.
Freya yang tadinya melawan mulai menikmati ciuman yang Norman berikan. Mereka berdua saling membalas ciuman bahkan ciuman mereka semakin serius dan panas. Freya tidak berpikir apa pun, cukup nikmati saja apalagi ciuman adalah hal wajar yang dilakukan oleh pria dan wanita.
Ciuman mereka terlepas, mereka berdua saling pandang dengan napas yang memburu. Freya tidak menduga, dia akan melakukan ciuman pertama yang cukup bergairah sehingga membuatnya tidak mau berhenti akibat terbuai dengan ciuman liar yang Norman berikan.
"Apa mau dilanjutkan?" tanya Norman yang sangat ingin melakukan hal lain selain ciuman.
"Tidak, jangan kira aku tidak menolak ciuman darimu lalu aku tidak menolak yang lainnya!" tolak Freya.
"Lalu? Apa yang akan kita lakukan? Berciuman lagi atau?" Norman menggoda Freya dengan memainkan jarinya di wajah Freya.
"Jangan bayak bertanya, menyingkir dari atas tubuhku!" Freya berusaha memberontak untuk membebaskan diri dari himpitan tubuh Norman yang kekar.
"Baiklah, baik!" Norman menyingkir dari atas tubuh Freya lalu berbaring di sisinya. Mereka berdua berbaring berhadapan dan saling pandang, tidak ada yang berbicara bahkan tidak ada satu pun dari mereka yang ingin memejamkan mata untuk tidur.
Norman memainkan jarinya di wajah Freya tanpa henti. Aneh, Freya benar-benar bisa membuatnya jadi seperti itu dan memberikan petualangan yang tidak akan terlupakan tapi dia rasa bukan itu saja yang membuatnya ingin melakukan aksi gila bersama dengan Freya.
Tanpa mereka sadari, tubuh mereka berdua saling merapat. Tangan Norman yang tadinya berada di wajah Freya kini sudah berpindah ke tengkuk dan menarik wajah Freya untuk mendekat. Freya masih menatap Norman tanpa berkata apa-apa namun lambat laun, kedua mata Freya sudah terpejam dan bibir mereka berdua sudah saling beradu karena mereka kembali melakukan ciuman untuk kedua kalinya.
Kali ini Freya tidak menolak tapi sejak awal dia memang tidak menolak. Entah apa hubungan di antara mereka berdua, dia tidak mau memikirkannya yang pasti mereka adalah partner dan mereka akan berpisah saat dia sudah menemukan ayahnya dan setelah Norman puas dengan petualangan yang dia dapatkan.