Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Kejadian Yang Tak Terduga



Kali ini Norman mengambil semua barang-barang miliknya karena Freya sudah sepakat untuk menampung dirinya sampai mereka menemukan keberadaan ayahnya. Karena aksi mereka malam itu membuat Freya berpikir jika dia memang membutuhkan seorang partner. Apa yang dikatakan oleh Cristina sangatlah benar oleh sebab itu dia harus cerdik memanfaatkan situasi.


Yang ingin terlibat adalah Norman, tanpa paksaan sama sekali. Dia pun tidak meminta, pria itu yang mau melakukannya dengan suka rela. Dia mendapat partner dadakanĀ !akibat kejadian malam itu meski sesungguhnya dia tidak suka tapi lambat laun dia akan terbiasa dan dia pun harus bersyukur mendapatkan partner yang cukup hebat apalagi gratis tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun.


Sebelum tidur, Freya menyalakan komputer yang ada di dalam kamar. Kini bukan mencari keberadaan artefak milik ayahnya lagi tapi dia sedang mencari tahu siapa Norman sebenarnya. Nama Norman Elouis menjadi nama yang dia cari, Freya meninggalkan komputernya yang menyala untuk tidur. Saat dia bangun nanti, pencarian pasti sudah dia dapatkan. Jujur saja dia penasaran, siapa Norman sebenarnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi saat Freya sudah bangun dari tidurnya. Yang dia lihat pertama kali tentunya komputernya. Nama Norman begitu banyak, Freya mencarinya dengan teliti setiap nama Norman yang dia temukan tapi Norman yang ada di rumahnya saat ini tidak ada di dalam data yang dia temukan.


Aneh, dia semakin yakin jika pria yang ada di luar sana bukanlah orang sembarangan karena datanya tidak dia temukan sama sekali. Karena tidak menemukan apa pun, oleh sebab itu dia memutuskan keluar dari kamar tentunya setelah mencuci wajahnya.


"Selamat pagi, Nona," sapa Cristina yang sedang membawakan segelas minuman untuknya.


"Pagi, bagaimana dengan keadaan pria itu?" Freya melihat ke arah kamar Norman yang masih tertutup.


"Sepertinya kau mengkhawatirkannya, Nona."


"Dia terluka karena aku, jangan sampai dia mati di rumahku!"


"Jika begitu, kenapa Nona tidak masuk ke dalam kamarnya saja untuk melihat? Jangan sampai dia sekarat," goda Cristina.


"Apakah harus?" minuman hangat di seruput, tatapan mata Freya masih tidak lepas dari kamar yang ditempati Norman.


"Tentu saja, dari pada Nona penasaran."


"Baiklah, kau benar!" Freya memberikan gelas kosong pada Cristina dan setelah itu Freya melangkah menuju kamar yang ditempati oleh Norman.


"Norman," Freya memanggil sambil mengetuk pintu. Tidak ada jawaban, Freya berpaling ke arah Cristina yang memberinya sebuah isyarat untuk masuk. Freya menghela napas, sebaiknya dia masuk karena dia khawatir telah terjadi sesuatu pada Norman.


"Norman," Freya kembali memanggil setelah dia berada di dalam. Norman masih tidur, tepatnya pura-pura tidur. Freya melangkah mendekatinya, apa pria itu pingsan? Atau sedang sekarat gara-gara satu tembakan yang dia dapatkan.


"Norman, apa kau baik-baik saja?" tanya Freya. Norman masih saja tidak menjawab, Freya duduk di sisi ranjang. Tatapan matanya tidak lepas dari pria yang sedang tidur sehingga akhirnya, Freya memutuskan untuk menyentuh dahi pria itu.


Tangan Freya sudah berada di dahi, pada saat itu juga Norman meraih tangannya dan menariknya. Freya terkejut, tubuhnya jatuh menimpa Norman dan pria itu pun tiba-tiba memeluknya.


"Kurang ajar, lepaskan!" teriak Freya sambil mendorong lengan Norman.


"Kau yang mengganggu tidurku, Freya. Jadi jangan salahkan aku karena aku khawatir kau ingin mencelakai aku!" ucap Norman beralasan.


"Sembarangan, aku bukan pengecut yang akan menyerang seseorang saat sedang tidur!"


"Jadi?" Norman mengangkat sedikit tubuhnya dan bertumpu dengan satu lengan, "Kenapa kau masuk ke dalam kamarku. Tidak mungkin kau mengkhawatirkan aku, bukan?"


"Aku memang mengkhawatirkan dirimu, jangan sampai kau mati di dalam rumahku!" ucap Freya.


"Sedikit kejam tapi aku baik-baik saja!"


"Setelah ini, apa yang mau kau lakukan?" tanya Norman. Freya sudah dilepaskan sehingga dia bisa duduk di atas ranjang.


"Duduk diam sambil mencari informasi selanjutnya. Jika terlalu sering maka akan ketahuan jadi sebaiknya tidak melakukan apa pun terlebih dahulu!"


"Apa kau tidak mau mencari petunjuk keberadaan ayahmu?" tanya Norman.


"Untuk itu," Freya menghela napas, "Aku sedang berusaha," ucapnya lagi. Dia belum bisa memecahkan teka teki yang ayahnya berikan, sebab itu dia belum bisa menemukan keberadaan ayahnya. Jika batu permata yang ayahnya maksud sudah dia temukan, dia yakin kelompok yang menculik ayahnya pasti akan mendatangi dirinya.


"Apa tidak ada petunjuk sama sekali, Freya?"


"Tidak!" jawab Freya seraya beranjak, dan sebelum melangkah pergi Freya kembali berkata, "Segera mandi karena lukamu harus diobati setelah ini!"


Norman tidak memalingkan tatapan matanya sampai Freya keluar dari kamar. Semalam adalah pengalaman yang sangat menyenangkan, dia merasa ingin mengulangi malam menyenangkan itu lagi tapi seperti yang Freya katakan, mereka tidak boleh terlalu sering bergerak karena bisa menimbulkan kecurigaan polisi.


Freya mengambil artefak milik ayahnya yang dia curi semalam dan membawanya ke dalam sebuah ruang rahasia di mana dia menyimpan semua artefak milik ayahnya yang sudah dia ambil kembali. Meski Norman belum mengembalikan artefak yang dia ambil, dia yakin pria itu pasti akan mengembalikannya cepat atau lambat.


"Dad, aku akan mengumpulkan semua artefak milikmu dan aku pasti akan menemukan keberadaan dirimu. Tunggulah aku, bertahanlah sampai aku datang," ucap Freya. Semoga saja ayahnya masih hidup, dan semoga dia dia tidak terlambat. Masih banyak yang harus dia dapatkan karena artefak milik ayahnya yang tercuri masih begitu banyak yang masih belum dia temukan.


Artefak milik ayahnya di simpan dengan baik, Freya menutup pintu yang ada di belakang lemari kamarnya. Saatnya memecahkan teka teki yang ditinggalkan oleh ayahnya tapi pada saat itu, terdengar suara teriakan Cristina memanggil dirinya.


"Nona, ada yang mencarimu!"


Freya sangat heran, ada yang mencari? Dia pun keluar dari kamar dan terkejut mendapati dua orang polisi berada di depan pintu rumahnya.


"Ada apa?" tanya Freya.


"Freya Walner, anda di duga terlibat dengan sebuah pencurian oleh sebab itu kami harus menahan anda!" seorang polisi mengeluarkan surat penangkapan.


"Apa?" Freya terkejut. Apa aksinya semalam sudah ketahuan? Ataukah aksi lain yang sudah ketahuan?


"Sekarang ikutlah kami untuk diinterogasi," ucap petugas itu sambil mengeluarkan sebuah borgol.


"Tidak, Nona tidak melakukan apa pun!" teriak Cristina seraya menghadangi para petugas itu agar tidak membawa Freya.


"Tolong jangan menghalangi, kami hanya ingin membawanya untuk di interogasi!"


"Tidak apa-apa, aku tidak akan melawan," Freya mengulurkan kedua tangannya agar polisi bisa membawanya. Kejadian tidak terduga tapi dia harus tenang dalam menghadapinya.


"Nona," Cristina tampak tidak rela.


"Siapkan pengacara, tidak perlu takut," bisik Freya.


Cristina mengangguk, mau tidak mau dia harus membiarkan Freya dibawa pergi. Itu memang risiko yang harus dia tanggung akibat profesinya. Freya sudah dibawa pergi tanpa melawan, sedangkan Norman tidak keluar dan mendengar dari dalam kamarnya. Dia melakukan hal itu agar tidak memperkeruh suasana. Inilah yang dia inginkan, menjebloskan Freya ke dalam penjara dan sekarang wanita itu sudah dibawa tanpa perlu dia turun tangan. Dia pun sudah mendapatkan pengalaman yang cukup menyenangkan tapi apakah dia sudah puas? Apakah dia harus diam saja ataukah dia harus membantu Freya?