
Cristina sudah kembali dari membeli bahan makanan, Freya dan Norman sedang mendiskusikan sesuatu di luar. Norman meminta Freya menunjukkan artefak milik ayahnya yang belum ditemukan karena dia sudah memutuskan untuk membantu Freya.
Norman juga ingin tahu, selain mencari ayahnya, apakah Freya juga mencari yang lainnya? Dia rasa Freya sedang mencari sesuatu yang lebih berharga dari pada artefak milik ayahnya. Dia menyimpulkan demikian setelah mendengar teka teki yang Freya katakan tadi.
Saat itu Freya sedang menunjukkan artefak-artefak milik ayahnya yang belum dia temukan pada Norman. Dia pun sedang mencari keberadaan artefak itu. Semakin cepat dia mengumpulkannya, semakin cepat pula dia menemukan orang yang telah menculik ayahnya.
"Selain artefak itu, apa yang kau cari lagi, Freya?" tanya Norman.
"Ayahku, apa lagi!" jawab Freya yang sedang sibuk dengan komputernya.
"Aku tahu kau sedang mencari ayahmu dan artefak yang tercuri tapi aku rasa ada hal lain, sesuatu yang lebih berharga dari pada artefak itu jadi katakan padaku apa yang sedang kau cari!"
"Tidak ada yang lain selain itu!" dusta Freya.
"Jangan menipu aku, Freya. Aku tahu dan ini!" Norman mengambil buku sejarah yang ada di atas meja, "Aku mendengar kau membicarakan sesuatu sebelum mengambil buku ini jadi katakan, apa sebenarnya yang kau cari?"
Freya belum menjawab, dia masih sibuk dengan komputernya karena apa yang sedang dia cari sudah hampir dia temukan. Dia harus fokus sebentar untuk menyelesaikannya jika tidak informasi akan keberadaan artefak milik ayahnya tidak akan dia dapatkan.
"Kenapa kau tidak menjawab? Apa kau tidak mau memberitahu aku?"
"Ssst... aku sedang fokus, bisakah ajak aku bicara nanti!" jawab Freya.
Norman diam, kini dia melihat ke layar komputer untuk melihat apa yang sedang Freya lakukan. Entah bagaimana Freya melakukannya tapi dia mulai mendapatkan keberadaan artefak berikutnya yang bisa mereka curi. Jari Freya tak henti bermain, sedikit lagi, tinggal sedikit lagi dia akan mendapatkannya dan beberapa saat kemudian, keberadaan artefak milik ayahnya akhirnya dia dapatkan juga.
"Dapat!" ucap Freya, dia terlihat sangat senang.
"Pelelangan!" ucap Norman.
"Oh, sh**it!" ini yang tidak dia suka, pelelangan karena dia harus mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkannya.
"Pelelangannya akan diadakan di London, Freya. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Norman.
"Apa lagi? Tentu saja pergi mencurinya sebelum artefak itu di lelang karena aku tidak memiliki banyak uang untuk mengikuti lelang!" jawab Freya.
"Aku memiliki cara yang lebih bagus, mau tahu?"
"Apa yang kau rencanakan?" Freya berpaling, melihat ke arah Norman.
"Beritahu aku apa lagi yang kau cari maka aku akan membantumu mendapatkan artefak itu!"
"Baiklah," Freya menghela napas, dia kembali melakukan sesuatu di laptop. Tentu dia akan menunjukkan rekaman terakhir ayahnya pada Norman karena dia malas menjelaskan. Dengan rekaman itu, Norman akan mengerti.
Norman mengira Freya hendak menunjukkan benda yang dia cari tapi ternyata yang dia tunjukkan adalah sebuah rekaman yang belum diputar namun seorang pria tua sedang duduk untuk melakukan rekaman. Dia menebak itu pasti ayah Freya apalagi pria tua itu terlihat seperti seorang arkeolog.
"Ini ayahku," ucap Freya. Perasaan rindu pada ayahnya memenuhi hati, Freya bahkan tidak sanggup menahan air matanya.
"Saat aku sedang melakukan penelitian di Kairo, dia menghubungi aku dan meminta aku untuk tidak mencarinya karena dia sedang diincar. Aku tidak tahu jika itu terakhir kali aku berbicara dengannya dan begitu aku kembali, aku tidak menemukan dirinya di mana pun!" Freya menutupi wajahnya dan menangis.
"Apa kau menemukan mayatnya?" tanya Norman.
Freya menggeleng, kini tatapan matanya menatap ke layar laptop karena Freya sedang memandangi wajah ayahnya. Norman menggeser duduknya untuk mendekat lalu Freya di peluk dari samping. Ternyata itu alasan yang Freya miliki sehingga membuatnya menjadi seorang pencuri. Siapa pun yang berada di posisi Freya, pasti akan berusaha mengambil barang-barang milik ayahnya yang telah dicuri.
"Kau tidak menemukannya jadi tidak perlu khawatir," ucap Norman.
"Ini hanya perasaan takutku saja," tangan Freya sudah berada di lengan Norman.
"Ayahmu pasti masih hidup, percayalah. Jika ayahmu diculik sudah pasti ada benda berharga yang diinginkan dan aku yakin ayahmu tidak akan terbunuh sebelum benda berharga itu didapatkan!"
"Kau memang benar, Norman," Freya menghapus air matanya, kini rekaman Video akan dia putar agar Norman tahu kenapa ayahnya menghilang dan apa yang sedang dicari oleh orang yang menculik ayahnya.
"Lihatlah baik-baik!" ucapnya.
Norman melepaskan pelukannya dan menggeser kursinya sedikit, kini dia mulai berfokus pada rekaman di mana ayah Freya sedang berbicara. Sebuah batu berharga yang disebutkan oleh ayah Freya membuatnya penasaran, teka teki yang ditinggalkan oleh ayah Freya pun membuatnya penasaran. Jujur, dia tidak banyak tahu mengenai sejarah raja Mesir meski dia pernah mempelajarinya dulu.
"Jadi, kau sedang mencari batu yang ayahmu maksud?" tanya Norman.
"Benar, teka teki yang dibuat oleh ayahku masih belum bisa aku pecahkan oleh sebab itu aku tidak bisa menemukan keberadaan batu itu. Aku sudah mencari petunjuk di beberapa museum yang memiliki replika raja Tutankhamun tapi di sana aku tidak mendapatkan petunjuk apa pun namun aku belum pergi ke museum lain. kau tahu berapa banyak museum yang ada di dunia, bukan? Aku bisa bangkrut jika aku mendatangi semua museum itu!"
"Bagaimana jika kita mengunjungi beberapa museum yang ada di London setelah kita mendapatkan artefak milik ayahmu? Mungkin kau bisa mendapatkan petunjuk."
"Boleh juga, tapi kau tahu jika kita butuh modal yang banyak untuk pergi ke sana dan aku rasa, kita butuh sedikit pemasukan!"
"Untuk itu bagaimana jika?" Norman melihat keluar jendela di mana mobil milik anak buah Dark Dragon yang dia bawa pulang. Freya juga melihat keluar, lalu mereka berdua saling pandang dengan senyuman licik menghiasi wajahnya.
"Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan, Freya?" tanya Norman.
"Tentu, ide yang sangat bagus," ucap Freya.
"Tapi mobil itu tak memiliki surat," ucap Norman.
"Tidak masalah, aku tahu siapa yang akan membeli mobil itu," Freya sudah beranjak dan menepuk bahu Norman, "Barang bagus tidak boleh di sia-siakan, kita bisa menggunakan uangnya untuk pergi ke London. Lagi pula kita memang harus menghilangkan barang bukti. Jangan sampai ada yang curiga terutama anak buah Dark Dragon," setelah berkata demikian, Freya melangkah pergi.
Norman tersenyum, wanita yang cukup pintar dan licik dan sepertinya mereka memiliki sedikit kecocokan. Meski dia banyak uang tapi dia harus tetap berpura-pura menjadi rakyat biasa yang tidak bisa menggunakan uang dengan sembarangan.
"Ayo pergi!" ajak Freya yang sudah mengambil kunci mobil.
"Kau mau pergi ke mana, Nona? Makanan sudah hampir siap," ucap Cristina.
"Kami akan kembali setelah menguangkan barang bukti!" jawab Freya.
Cristina mengernyitkan dahi, tanda dia tidak mengerti. Norman mengambil ponsel dan dompetnya dan setelah itu dia mengikuti Freya untuk menjual mobil milik anak buah Dark Dragon yang dia bawa pulang. Ternyata tidak rugi mereka diserang karena mereka mendapatkan keuntungan dari mobil itu dan uangnya bisa mereka gunakan untuk bersenang-senang di London nanti.