
Keinginan Cristina untuk pulang ke Amerika membuat se istana terkejut. Ibu Norman dan ayahnya yang sudah sangat senang karena Norman sudah mendapatkan calon istri tentu saja tidak terika karena kini, calon istri Norman hendak pergi dari istana akibat tidak tahan dengan banyaknya aturan yang harus dia pelajari.
Tentu saja itu hal wajar, semua orang mungkin mengira kehidupan di istana sangat menyenangkan tapi sesungguhnya tidak apalagi untuk orang awan seperti Cristina yang tidak terlahir dari keluarga bangsawan serta tidak mengetahui tata krama istana. Butuh waktu belasan tahun bagi seorang calon ratu untuk mempersiapkan diri untuk menjadi calon ratu yang sempurna lalu bagaimana dengan Cristina yang adalah orang biasa?
Norman pun memakluminya, sekarang dia tahu kenapa adiknya melarikan diri dari istana dan menjadi rakyat biasa. Dia pun sudah merasakannya, menjadi rakyat biasa sangat menyenangkan. Dia merasakan kebebasan, dia merasa lebih hidup karena selama ini dia harus hidup di bawah banyak aturan yang tidak boleh dia langgar tapi itulah takdir yang dia miliki, dia dilahirkan oleh raja dan ratu dan secara otomatis dialah yang harus menggantikan mereka.
"Apa maksudnya ini, Norman? Kenapa dia mau pergi begitu saja?" tanya ibunya.
"Biarkan saja dia pergi, Mom," jawab Norman dengan santai.
"Apa? Kenapa bisa demikian?" tanya ibunya lagi.
"Aku membawanya kembali memang untuk menjadikannya sebagai ratu tapi dia tidak sanggup mengikuti peraturan istana jadi aku tidak akan mencegah. Sebelum ada rakyat yang tahu, lebih baik dia pergi. Lagi pula aku tidak ingin memaksa sehingga membuat kalian lebih kecewa lagi."
"Maafkan aku, aku mengira kehidupan di dalam istana sangat menyenangkan oleh sebab itu aku bersedia mengikuti Norman apalagi aku akan dijadikan ratu. Aku mengira menjadi ratu akan sangat menyenangkan tapi aku tidak menduga jika aku harus menjalani banyak pelatihan yang sangat berat dan melelahkan. Aku pun tidak tahu harus mengikuti banyak aturan jika menjadi seorang ratu. Orang awan seperti aku ini benar-benar tidak pantas dan tidak layak," ucap Cristina.
"Jadi kau mengikuti Norman hanya untuk coba-coba?" tanya ayah Norman.
"Tidak, bukan begitu."
"Dad, jika dia memang tidak sanggup sebaiknya tidak memaksa. Menjadi seorang ratu tidaklah mudah," ucap Vanila yang sedari tadi mendengarkan.
"Seharusnya kau tidak sembarangan membawa wanita pulang, Norman!" teriak ayahnya marah.
Norman memandangi Cristina yang ketakutan, apa Freya juga akan berakhir seperti Cristina nantinya? Sifat Freya yang selalu seenaknya dan selalu menentang, tidak akan ada satu aturan istana pun yang akan diikuti oleh Freya nantinya apalagi dia adalah orang yang mencintai kebebasan.
Sekarang dia merasa jika Freya tidak akan betah seperti Cristina apalagi dia harus menjalani begitu banyak aturan serta belajar banyak hal karena seperti Cristina, Freya juga orang awan yang harus mulai belajar dari 0 jika dia bersedia menjadi ratunya. Sepertinya dia sudah menebak, apa jawaban yang akan Freya berikan jika dia meminta Freya untuk menjadi istrinya.
"Biarkan saja dia pergi, aku akan mencari ratu yang lebih baik!" ucap Norman.
"Jika begitu kita harus mengadakan pesta untuk menentukan calon ratumu dan kali ini kau harus menemukan seorang calon dari kalangan bangsawan, bukan dari rakyat biasa yang tidak sanggup mempelajari tata krama serta banyaknya peraturan yang harus di patuhi sebagai ratu yang akan mendampingi dirimu sebagai raja dari istana ini!" ucap ayahnya seraya melirik ke arah istana.
"Bisakah kalian memberi aku waktu?" pinta Norman.
"Tidak, Norman. Waktumu untuk bermain sudah habis. Semua orang sudah menunggu kau memberikan mereka seorang ratu jadi jangan menunda apalagi kau sudah harus memberikan seorang pewaris. Carilah baik-baik calon istrimu dari seorang putri bangsawan itu dan ingat satu hal, orang biasa tidak cocok menjadi pendampingmu jadi belajarlah dari kesalahan!" ucap ayahnya.
Norman tidak menjawab, yang ayahnya katakan sangatlah benar. Dia pun tahu jika dia memikul tanggung jawab besar sebagai seorang raja baru dan dia tidak boleh mengecewakan para rakyat juga keluarganya.
"Mom, Dad, Berilah Norman sedikit waktu lagi," ucap Vanila. Dia bisa melihat jika kakaknya seperti ingin menunggu wanita bernama Freya.
"Waktunya untuk bermain sudah habis, Sayang. Dia adalah seorang raja, dia tidak boleh plin plan dalam mengambil keputusan. Bagaimana dia bisa memimpin sebuah kerajaan jika dia begitu lama mengambil keputusan untuk dirinya sendiri? Kita tahu jika kakakmu pasti bisa mengambil tindakan yang terbaik untuk dirinya sendiri!" ucap ibu mereka.
Vanila tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang diucapkan oleh ibunya sangatlah benar. Norman adalah seorang raja jadi dia harus segera mengambil keputusan tepat untuk dirinya sendiri. Norman melihat ke arah Cristina sambil memikirkan keputusan yang harus dia ambil.
Kedua orangtua mereka sudah pergi, mereka percaya jika Noman bisa mengambil keputusan yang tepat. Vanila menghampiri kakaknya dan mengusap bahunya, dia yakin pasti berat tapi kakaknya harus ingat dengan posisinya.
"Apa yang harus kau lakukan, Kak? Kau tidak memiliki banyak waktu. Apa yang dikatakan oleh Daddy dan Mommy sangat benar, sudah waktunya kau serius."
"Aku tahu," Ucap Norman.
"Antarkan dia kembali ke Amerika!" Norman memerintahkan dua anak buahnya yang ada di sana.
"Aku akan memberikan kabar untukmu jika Nona kembali," ucap Cristina.
"Tidak perlu, Cristina. Aku memang mengkhawatirkan dirinya tapi sepertinya kami tidak berjodoh. Aku hanya bisa berharap dia baik-baik saja. Jika dia kembali katakan saja padanya, jika dia ada waktu temui aku sebagai teman. Istana ini terbuka untuknya," ucap Norman.
"Terima kasih, Tuan. Aku sangat berterima kasih atas bantuan yang Tuan berikan dan aku pun mewakili Nona Freya untuk berterima kasih padamu," ucap Cristina.
"Tidak, akulah yang harus berterima kasih padanya."
Tatapan Norman kosong saat Cristina pamit pergi, Vanila kembali mengusap bahu kakaknya sehingga Norman berpaling dan tersenyum tipis.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Vanila.
"Yeah, sepertinya kami tidak ditakdirkan untuk berjodoh sejak awal. Walau singkat tapi kenangan yang kami ciptakan bersama tidak akan pernah aku lupakan. Aku pun yakin dia tidak akan mau menjadi ratuku karena Freya orang yang suka kebebasan. Aku hanya berharap kami bisa bertemu lagi suatu saat nanti sebagai sahabat," ucap Norman.
"Baiklah jika itu maumu tapi putuskan dengan baik sebelum kau menyesal dengan keputusan yang telah kau ambil!" setelah berkata demikian, Vanila melangkah pergi meninggalkan Norman.
Norman berada di ruangan itu sesaat dan setelah itu dia melangkah pergi, Dia sudah mengambil keputusan karena dia tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang raja. Dia pun tidak bisa menunggu terlalu lama karena dia sudah berjanji akan mencari seorang permaisuri setelah liburannya selesai dan sekarang saatnya memenuhi janji yang dia ucapkan sendiri.
Liburan yang menyenangkan dan memberikan pengalaman yang tidak pernah dia lupakan, mungkin pengalaman yang telah dia lewati dengan Freya akan dia ceritakan pada anak cucunya nanti dan dia pun akan selalu ingat jika ada seorang wanita bernama Freya yang pernah hadir dalam hidupnya dan yang pernah memberikan kesenangan dan artinya hidup serta yang mengajari dirinya melakukan banyak hal.