Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Jangan Bersikap Baik



Freya benar-benar tidak bisa berjalan akibat perbuatan Norman. Kedua kakinya seperti agar-agar dan tidak bertenaga oleh sebab itu Freya mengeluh begitu bangun dari tidur. Pria gila yang sedang memijat kedua kakinya saat ini benar-benar ganas dan beringas dan tidak melepaskan dirinya sepanjang malam. Rasanya ingin cepat pulang agar mereka tidak tidur bersama lagi sehingga dia bisa kembali tidur dengan nyenyak tanpa diganggu oleh tangan nakal Norman dan cacingnya yang berotot.


Seharusnya mereka menyewa dua kamar tapi demi menghemat biaya dia justru menggali lubang kubur sendiri dan harus berakhir dengan pria beringas yang tak memberi kesempatan untuknya lari semalaman. Bagaikan sudah tidak pernah melakukan **, Norman melakukannya lagi dan lagi setelah mereka beristirahat sebentar oleh sebab itu, kedua kaki Freya bagaikan agar-agar.


Freya mengumpat dan memaki, tentunya sumpah serapah dia tujukan untuk Norman. Norman hanya diam saja sambil memijat kaki Freya, sepertinya dia sudah keterlaluan karena Freya benar-benar tidak bisa berjalan akibat ulahnya.


"Pijat yang benar!" perintah Freya.


"Kau belum jadi ratu tapi sudah bertingkah seperti ratu!" ucap Norman.


"Aku tidak peduli, semua gara-gara kau jadi kau harus tanggung jawab. Lagi pula aku tidak akan menjadi ratu. Jika aku masih tidak bisa berjalan setelah ini maka kau harus menggendong aku sampai ke bandara!" Freya melakukan seperti yang dia lakukan, bersedekap dada dan membuang wajahnya ke samping.


"Baiklah, baik. Aku akan tanggung jawab!" entah kenapa dia bisa tahan dengan sikap Freya yang angkuh dan suka memerintah. Untuk hubungan sesaat mungkin tidak masalah tapi untuk hubungan jangka panjang, dia rasa Freya bukan wanita yang cocok untuk menjadi pendamping hidup apalagi Freya memiliki sikap yang sangat arogan dan angkuh. Tidak mungkin dia menikahi seorang wanita yang angkuh, para rakyat pasti tidak bisa menerima ratu yang memiliki temperamen tinggi dan angkuh seperti Freya. Sepertinya dia memang harus memilih seorang calon pendamping dari kalangan wanita terhormat karena mereka memiliki tata krama dibandingkan dari kalangan biasa seperti Freya.


"Kenapa memandangi aku seperti itu?" tanya Freya tidak senang.


"Tidak, aku hanya heran dengan sifatmu yang angkuh itu. Apa sifatmu memang seperti itu sejak lama?" tanya Norman.


"Aku memang seperti ini? Apa kau tidak senang?" Freya memandangi dengan sinis. Sesungguhnya sifatnya tidak seperti itu tapi biarkan saja Norman menganggapnya seperti itu.


"Bukan begitu, apa kau tidak bisa bersikap lebih lembut layaknya wanita yang lain? Pantas saja kau tidak memiliki kekasih!" Norman berkata demikian untuk menggoda Freya, lagi pula mereka sudah terbiasa berbicara sesuka hati jadi dia pikir Freya tidak akan marah namun Freya jadi tersinggung akibat perkataannya.


"Apa maksud perkataanmu?" Freya menarik kakinya.


"Maksudku?" Norman tidak melanjutkan perkataannya karena dia merasa dia sudah salah bicara setelah melihat ekspresi wajah Freya, "Baiklah, maaf. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu," Norman kembali mendekati Freya dan memegangi kakinya.


"Singkirkan tanganmu dariku!" teriak Freya marah.


Freya bergeser, dia bahkan berusaha untuk turun dari atas ranjang tapi karena kedua kakinya yang tidak memiliki tenaga membuat Freya jatuh ke sisi ranjang. Freya mengumpat, Norman ingin membantunya tapi lagi-lagi Freya berteriak mencegah.


"Aku tidak bermaksud menyinggung, Freya. Maafkan aku," ucap Norman.


"Freya, aku tidak bermaksud menyinggung!" Norman meraih tangan Freya namun Freya menepisnya dan menatapnya tajam. Dia semakin sengaja menunjukkan sikap kasarnya agar Norman semakin tidak senang dengan sifatnya.


"Apa masih belum puas? Jika belum aku akan membuka kedua kakiku sekarang agar kau puas lalu kau bisa pergi dan tinggalkan aku. Kau tidak akan terlibat denganku lagi dan aku berjanji akan membersihkan namamu jika ada polisi yang mencarimu!"


"Kenapa kau berbicara seperti seorang pela*cur?" Norman tidak mempedulikan penolakan Freya dan memeluknya.


"Baiklah, aku yang salah. Aku minta maaf karena sudah mengucapkan perkataan yang telah menyinggung perasaanmu. Aku benar-benar tidak bermaksud, Freya. Jadi maafkan aku."


Freya diam, dia malas berdebat. Lagi pula tidaklah penting karena mereka bukan pasangan kekasih jadi tidak seharusnya dia marah. Mendadak dia jadi merasa bersikap kekanak-kanakkan. Lagi pula yang dikatakan oleh Norman tidak salah, wanita memang harus memiliki sikap lemah lembut jadi amarah yang dia tunjukkan justru membuatnya terlihat konyol.


"Lepaskan, kau memang benar. Aku terlalu emosional."


"Tidak marah lagi?" tanya Norman.


Freya hanya menggeleng, dia harap Norman melepaskan pelukannya tapi pria itu justru mencium pipinya dengan lembut. Entah Norman sadar atau tidak, perlakuan yang dia tunjukkan bisa membuatnya salah paham dan dia harap Norman tidak lupa dengan hubungan mereka yang hanyalah partner dan dia pun berharap, tidak ada perasaan spesial yang tumbuh di antara mereka berdua agar saat berpisah, mereka berdua bisa berpisah tanpa menyisakan sebuah perasaan yang tidak seharusnya ada.


"Aku minta maaf, sekarang aku akan memijat kedua kakimu lagi," ucap Norman.


"Tidak perlu, aku sudah baik-baik saja!" Freya mendorong Norman, dia tidak boleh menerima perhatian pria itu agar tidak terbuai. Jangan sampai perasaan cinta tumbuh di hatinya terlebih dahulu sehingga dia tidak rela berpisah nantinya.


"Freya!" Norman meraih tangan Freya untuk mencegahnya agar tidak pergi.


"Jangan bersikap baik, Norman. Jangan membuat aku salah paham dengan sikap yang kau tunjukkan. Kita hanya partnet, dalam segala hal. Aku tidak keberatan menjadi partnermu di atas ranjang tapi jangan menimbulkan perasaan cinta sehingga kita sulit berpisah nantinya jadi jangan membuat aku salah paham dengan sikap yang kau tunjukkan," setelah berkata demikian, Freya berpaling dan menatap ke arah Norman dengan ekspresi datar, "Mari, kita berperilaku selayaknya partner yang saling membutuhkan tapi seperti yang aku katakan, jika kau mau pergi sekarang juga dan tidak mau menjadi partnerku lagi maka kau bisa pergi karena aku tidak akan mencegah dan aku memang tidak berhak untuk melakukan hal itu!" Freya menarik tangannya hingga terlepas.


Norman diam, tidak menjawab. Freya seperti tidak peduli dengannya dan menganggapnya sebagai partner saja. Freya melangkah pergi, menuju kamar mandi sambil berusaha menggerakkan kedua kakinya yang sakit karena dia harus segera mandi. Sebentar lagi dia harus pulang, pria itu mau ikut atau tidak dia tidak peduli.


Norman keluar dari kamar, dengan banyak pikiran. Sejak awal dia yang mau melibatkan diri dengan permasalahan Freya agar dia mendapatkan petualangan menyenangkan selama masa liburannya. Dia memang mendapatkan apa yang dia mau, dia pun bersedia terlibat dan bersedia menjadi partner Freya dengan senang hati. Sejak awal hubungan mereka memang seperti itu tapi kenapa sekarang dia merasa tidak senang dengan apa yang Freya ucapkan?


Aneh, dia merasa ada yang salah tapi seperti yang Freya ucapkan, mereka tidak boleh memiliki perasaan spesial agar mereka bisa berpisah dengan mudah. Apa yang Freya katakan memang sangatlah benar, masa liburannya pun sebentar lagi akan habis jadi sebaiknya dia menikmati masa liburan yang tersisa sedikit tanpa menimbulkan perasaan spesial karena dia akan pergi setelah dia sudah selesai meski dia belum menepati janji, dia akan tetap kembali ke Istana dan melupakan Freya lalu mengikuti saran kedua orangtuanya untuk memilih calon istri dari para bangsawan karena wanita yang memiliki tata krama yang pantas menjadi ratunya tapi sampai sekarang, tidak ada satu pun dari mereka yang ingat untuk membeli pil kontrasepsi.