
Braakkk!!! Suara itu terdengar dari kamar yang ditempati oleh Freya dan Norman dan suara itu mengejutkan seorang petugas hotel yang kebetulan lewat di depan kamar mereka. Suara itu kembali terdengar sehingga petugas hotel sangat penasaran.
Telinga pun ditempelkan di daun pintu, untuk mendengar apa yang terjadi di dalam sana tapi lagi-lagi terdengar suara benda yang membentur sesuatu. Petugas hotel itu menggeleng dan berjalan pergi karena dia mengira tamu yang ada di dalam kamar sedang bercinta dengan beringas. Petugas itu beranggapan demikian karena dia sudah sering mendengar percintaan tamu yang heboh tapi sesungguhnya, Freya dan Norman sedang adu tenaga.
Freya yang tidak terima Norman mengganggu kesenangannya padahal dia sudah memiliki wanita lain bernama Vanila melakukan perlawanan saat Norma ingin membuktikan kehebatan lima sentinya. Sebagai seorang pria tentu dia tidak terima dianggap tidak bisa memuaskan wanita apalagi perkataan Freya yang mengatakan miliknya kecil dan hanya lima senti oleh sebab itu akan dia buktikan.
Suara yang didengar oleh petugas hotel tadi adalah suara kursi yang jatuh akibat ditabrak oleh Freya tanpa sengaja. Dia dan Norman sudah seperti anak keci di dalam kamar, Norman tentu saja tidak terima karena Freya menolak padahal wanita itulah yang cari gara-gara terlebih dahulu.
"Jangan lari, Freya. Bukankah kau menantang aku dan berkata punyaku kecil? Jadi biarkan si kecil ini membuatmu berteriak!" ucap Norman yang sedang berusaha menangkap Freya.
"Tidak mau, kenapa kau tidak mencari pacarmu saja!" teriak Freya.
"Pacar, aku tidak punya pacar," Norman sedikit bingung dengan apa yang Freya ucapkan. Apa sikap yang ditunjukkan oleh Freya akibat dia sedang salah paham?
"Tidak perlu berbohong, pergilah puaskan kekasihmu dengan benda lima sentimu itu!"
"Tidak ada yang puas dengan benda lima senti yang aku miliki selain kau!" ucap Norman kesal.
"Tidak perlu menipu, kau tidak mungkin perjaka!" teriak Freya sambil melemparkan bantal ke arah Norman.
"Aku memang bukan perjaka tapi aku sudah lama tidak pernah bercinta dan kau'lah yang menikmatinya akhir-akhir ini!"
"Omong kosong, jangan menipu!" ucap Freya tidak percaya.
"Jadi, apa kau bersikap seperti ini karena kau cemburu dengan seseorang?" tebak Norman.
"Untuk apa aku cemburu, apa aku sudah gila?!" teriak Freya menyangkal.
"Lalu? Tidak mungkin kau marah padaku hanya karena roti Melon dan kopi, bukan?"
"Tentu saja tidak!" jawab Freya sambil bersedekap dada dan membuang wajahnya.
Norman menggeleng dan memijit pelipis, benar-benar wanita yang sangat angkuh. Dia tahu Freya memiliki gengsi yang tinggi dan dia rasa perdebatan mereka tidak akan pernah usai karena Freya tidak mungkin mengatakan apa yang membuatnya bersikap seperti itu.
"Baiklah, baik. Kau menang, aku tidak mengerti apa yang membuatmu marah jadi aku menyerah!" ucap Norman seraya mengangkat kedua tangannya.
Freya melirik sedikit, dia masih bersikap angkuh. Norman merapikan kursi yang terjatuh di atas lantai dan duduk di sana. Dia tidak mengatakan apa pun dan tidak melakukan apa pun sehingga membuat Freya merasa pria itu tidak akan menunjukkan kekuatan belalai lima sentinya lagi.
Freya melirik ke arahnya sebelum memutuskan untuk melewati Norman karena dia mau pergi ke kamar mandi untuk mandi. Freya tampak ragu, jujur saja tatapan mata Norman bagaikan singa di padang rumput yang sedang mengintai mangsanya.
"Kenapa melihat aku seperti itu?" tanya Freya sinis namun Norman hanya melihat tanpa menjawab pertanyaan Freya.
"Kenapa tidak mau menjawab?" tanya Freya lagi tapi lagi-lagi Norman tidak menjawab.
"Cih, dasar pria aneh!" cibir Freya tapi entah kenapa dia takut melewati Norman oleh sebab itu, Freya merangkak di atas ranjang dan tentunya itu adalah pilihan salah yang Freya lakukan karena Norman berlari ke arahnya dan melompat ke arahnya serta men*ndih tubuhnya.
"Tertangkap kau, Freya!" terdengar nada puas dari ucapan Norman.
"Kau sudah tahu? Aku harus menunjukkan kehebatan lima sentiku ini sampai kau puas dan percayalah, aku jamin kau tidak akan bisa jalan besok pagi!"
"Jangan bercanda, besok aku harus kembali dan aku tidak mau merangkak keluar dar hotel sampai ke bandara!" teriak Freya.
"Wah, aku sangat ingin melihatnya jadi saatnya lima senti ini beraksi!" Norman membalikkan tubuh Freya dan menerkamnya.
Freya berusaha memberontak, dia tidak bisa berteriak lagi karena Norman membungkam bibirnya dan menciumnya dengan penuh gairah. Satu tangan Freya mendorong bahu Norman sedangkan tangan lain mencoba memukul bahu Norman di sisi yang lain namun ciuman dan gerakan tangan Norman yang lebih cepat membuat kedua tangan Freya tidak memiliki tenaga lagi.
Norman sangat puas, pakaian bawah milik Freya sudah terlepas tanpa Freya sadari. Freya yang tadinya tidak mau benar-benar sudah tidak bisa melawan karena sentuhan jari juga lidah Norman yang bermain di atas tubuhnya.
"Bagaimana, Freya? Apa kau masih tidak mau? Apa harus aku hentikan?" tanya Norman.
"Ja-Jangan!" jawab Freya di balik napas beratnya.
"Oh, bukankah tadi kau tidak mau?" Norman benar-benar sengaja mempermainkan Freya.
"Stop bicara!" teriak Freya kesal.
"Baiklah, aku akan berhenti!" Norman menarik tangannya yang sedang sibuk. Freya mengumpat, rasa nikmat yang dia rasakan jadi terhenti. Norman pura-pura hendak beranjak dari atas ranjang namun Freya menarik tangan Norman.
"Sialan, jangan tinggalkan aku seperti ini!" umpat Freya.
"Kenapa kau marah? Bukankah kau berkata punyaku kecil dan hanya lima senti saja? Lalu untuk apa kita lanjutkan!" Norman semakin sengaja.
"Norman!" Freya semakin kesal.
"Jadi, apa kau masih menginginkan lima senti ini?"
"Kau benar-benar pria pendendam!" Freya membuang wajah, kesal.
Norman tersenyum dan mendekatinya, ciuman lembut mendarat di pipi Freya sehingga membuat Freya tersenyum tipis. Dia kira Norman akan melanjutkan tapi nyatanya, Norman belum selesai menggodanya.
"Sekarang jika kau menginginkannya, kau harus menjadikan lima senti ini menjadi cacing besar seperti yang kau inginkan, Freya," ucap Norman.
"Apa maksudmu?" tanya Freya tidak mengerti.
Norman tidak menjawab namun dia sudah berdiri di sisi ranjang dan membuka semua pakaiannya. Setelah sudah tanpa sehelai benang pun, Norman berbaring telentang sedangkan Freya melihatnya dengan tatapan heran.
"Sekarang, kau harus membesarkan si lima senti agar menjadi cacing raksasa!"
Freya menelan ludah, dia tahu maksudnya. Rasanya sangat kesal karena Norman mempermainkan dirinya tapi ya sudah, sesungguhnya dia juga menginginkan si lima senti itu menjadi cacing yang ganas. Seperti yang Norman mau, Freya melakukannya. Kedua mata Norman terpejam, menikmati apa yang Freya lakukan. Tangannya bahkan sedang mengusap kepala Freya dengan perlahan, mereka benar-benar partner yang sempurna bahkan mereka saling memberikan kenikmatan karena Freya sudah berada di atas tubuh Norman dengan posisi yang terbalik. {Silahkan use your imagination. 😜😜}
Keributan yang mereka buat akibat gengsi yang cukup tinggi kini menjadi keributan di atas ranjang. Norman tidak melepaskan Freya, akan dia tunjukkan kekuatan yang dia miliki dan dia akan memberikan kepuasan pada Freya sehingga wanita itu tidak meragukan kehebatannya di atas ranjang sehingga mencari pria lain untuk mencari kepuasan.
Mereka berdua jadi seperti itu akibat sama-sama salah paham dan akibat sama-sama cemburu namun mereka berdua tidak mungkin mengakuinya. Ranjang bergoyang akibat ulah Norman dan Freya pun puas dengan si cacing yang tadinya kecil berubah menjadi cacing yang sangat ganas. Yang pasti, malam itu Freya akan mendapat ganjaran dari apa yang dia ucapkan dan Norman akan melakukan apa yang dia katakan.