
Karena Freya menghubunginya, Gabriel datang untuk mencari Freya ke New York. Tadinya dia ingin bertemu dengan Freya di Madrid tapi tidak jadi karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Freya. Mungkin saja Freya sudah mau melakukan penggalian lagi, ini kabar baik karena dia bisa mengajak Freya melakukan penggalian di tempat baru. Lagi pula mereka sudah tidak bertemu selama beberapa tahun dan mereka tidak bertemu setelah Freya berhenti melakukan penggalian.
Gabriel bergegas datang ke New York tanpa membuang waktu. Dia bahkan sudah tiba dan akan menghubungi Freya setelah dia turun dari pesawat yang sebentar lagi akan mendarat.
Freya dan Norman sudah pindah ke rumah sementara yang bisa mereka tinggali. Semua artefak yang sudah Freya kumpulkan ditinggalkan di dalam ruangan rahasia. Meski rumah itu sudah diacak-acak oleh musuh, dia yakin musuh tidak akan datang lagi. Lagi pula ruang rahasia yang ada cukup aman, ruangan itu tidak bisa dibuka dengan mudah oleh siapa pun. Selain itu, rumah juga terkunci dengan rapat. Cctv kembali dipasang agar Freya dapat memantau. Sensor juga dipasang, sensor itu akan berbunyi jika ada yang menerobos masuk ke dalam rumahnya dan semua itu bisa Freya pantau dari ponselnya.
Lagi pula tidak ada tempat lagi dan mereka tidak mungkin membawa barang-barang itu satu persatu karena itu akan membuang waktu. Rumah yang mereka sewa tidak besar, cukup untuk mereka berdua saja. Freya sedang melihat kamar yang akan dia dan Norman tempati nanti, rumah itu memang memiliki satu kamar saja dan tentunya memiliki harga sewa yang murah. Dia harus berhemat karena tabungan yang semakin menipis.
Freya sedang berdiri di depan jendela kamar, menghirup udara segar yang berhembus dari jendela yang terbuka. Norman sudah mengembalikan ponselnya dan dia rasa, dia sudah bisa menghubungi Gabriel. Lagi pula Norman sedang membuat makanan, dia bisa memanfaatkan hal ini untuk berbicara dengan Gabriel tanpa adanya gangguan.
Ponsel yang ada di dalam tas diambil, Freya melihat ke arah pintu. Mendadak dia takut Norman masuk ke dalam dan merebut ponselnya. Dia sudah seperti takut ketahuan oleh kekasihnya padahal mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Freya melangkah mengedap mendekati pintu, dia ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh Norman tapi dia justru dikejutkan oleh ponselnya yang berbunyi secara mendadak.
Freya mengumpat, sial. Dia buru-buru melangkah pergi menjauh untuk menjawab agar tidak ketahuan oleh Norman.
"Hallo," Freya berbicara sepelan mungkin agar tidak didengar oleh siapa pun.
"Freya, aku Gabriel!"
"Gabriel, untuk apa kau mencari aku?" tanya Freya pelan.
"Aku ingin bertemu denganmu, Freya. Sekarang aku sudah berada di New York. Apa kita bisa bertemu sekarang?" tanya Gabriel.
"Tentu saja, Gabriel. Di mana kita bisa bertemu?" tanya Freya.
"Hei, aku tidak tahu akan kota ini. Carilah tempat yang bagus, kita bertemu di sana."
"Baiklah, aku akan mengirimkan lokasinya nanti padamu."
"Aku tunggu, Freya!" ucap Gabriel.
Freya bergegas mencari tempat untuk mereka bertemu setelah selesai berbicara dengan Gabriel. Freya mencari dengan serius dan duduk di sisi ranjang. Sebuah cafe mungkin akan menjadi tempat nyaman untuk berbincang. Dia bahkan tidak mempedulikan Norman yang masuk ke dalam kamar dan melangkah menghampirinya.
"Makanan sudah jadi, ayo makan," ajak Norman.
"Kau saja yang makan sendiri, aku sedang tidak lapar!" tolak Freya sambil menggeser duduknya untuk menjauhi Norman.
"Ck, bukankah kau yang meminta aku menyiapkan makanan!" Norman juga menggeser duduk untuk mendekat.
"Tidak jadi, makanan buatanmu pasti tidak enak!" tolak Freya.
"Kau belum mencobanya, bagaimana kau bisa tahu tidak enak?" Norman jadi curiga karena Freya sibuk dengan ponselnya. Freya bahkan tidak melihatnya dan kembali menggeser duduknya.
"Tidak perlu aku coba, aku tahu rasanya tidak enak!" jawab Freya asal. Dia ingin bertemu dengan Gabriel jadi mereka akan makan bersama
"Jika begitu kenapa kau meminta aku membuatnya?" Norman jadi kesal. Dia sudah bersusah payah apalagi ini kali pertama dia membuat makanan tapi Freya justru tidak mau menyentuh makanan yang sudah dia buat dengan susah payah.
"Tadi aku lapar, sekarang sudah tidak!" jawab Freya.
Norman menarik napas, Freya semakin mengesalkan saja. Dia tahu Freya memang suka seenaknya, tapi kesabarannya bisa habis jika terus diuji seperti itu. Entah kenapa dia jadi curiga dengan apa yang dilakukan oleh Freya.
"Berikan padaku!" Norman merebut ponsel yang ada di tangan Freya secara tiba-tiba. Freya terkejut, dia pun terlihat tidak senang.
"Sudah aku katakan, jangan percaya dengan orang asing. Apa kau tidak mendengarkan perkataanku?" Norman semakin kesal dengan Freya yang tidak mau mendengarkan perkataannya.
"Aku tidak mempercayai siapa pun. Dia sahabatku dan aku hanya ingin bertemu dengannya saja. Apa salah?"
"Salah! Sebaiknya kau tidak menemui sembarangan orang di saat situasi sedang seperti ini!" jawab Norman.
"Aku hanya ingin bertemu dengan sahabatku saja. Aku pun tidak mungkin mengatakan pada Gabriel dengan apa yang terjadi!"
"Tidak, kau tidak boleh pergi menemuinya!" Norman beranjak, ponsel Freya disimpan ke dalam saku.
"Kembalikan ponselku, Norman!" Freya pun beranjak dan melangkah mendekatinya untuk mengambil ponselnya kembali.
"Tidak, aku tidak akan mengijinkan kau bertemu dengan siapa pun!"
"Jangan konyol, kau bukan kekasihku! Aku hanya ingin bertemu dengan sahabatku saja, kenapa kau harus mencegah? Kau bahkan boleh ikut jika kau mau!" ucap Freya kesal.
Norman diam, mereka berdua saling pandang. Freya menatap pria itu dengan tatapan tajam, dia juga terlihat kesal karena Norman bertingkah seperti pria yang sedang cemburu pada kekasihnya padahal mereka tidak memiliki hubungan spesial dan mereka hanya partner saja. Apa Norman melupakannya?
"Kembalikan ponselku, Norman. Aku butuh untuk mencari informasi akan keberadaan mumi kedelapan yang harus aku temukan!" pinta Freya.
"Kau tidak perlu mempedulikan hal itu, aku sudah mengutus orang untuk mencari keberadaannya!" ucap Norman.
"Jika begitu, kembalikan ponselku. Aku sudah berjanji akan menemui Gabriel!" pinta Freya.
"Tidak, aku tidak mengijinkan kau pergi!" tolak Norman.
"Oh ayolah, kau bisa ikut jika kau mau!" Freya benar-benar kesal. Entah apa mau Norman, dia benar-benar tidak tahu.
Norman belum mengiyakan, dia justru menatap Freya dengan tajam. Freya sudah meminta sambil mengulurkan tangan. Sungguh, Norman seperti sedang cemburu saja.
"Cepat berikan!" pinta Freya.
"Aku kembalikan setelah kau makan!" Norman meraih tangannya dan menariknya keluar dari kamar.
"Ck, menyebalkan!" gerutu Freya kesal.
"Mau atau tidak?" tanya Norman.
"Oke, fine. Awas jika makanan yang kau buat tidak enak, aku tidak mau makan!"
"Kau boleh membuangnya jika tidak enak!"
"Tidak ada kata buang, kau yang harus menghabiskan semuanya tanpa sisa!" ucap Freya.
"Oke, kita lihat saja nanti!" Norman sudah menariknya menuju dapur. Dia sudah bersusah payah membuatnya maka Freya harus menikmatinya.
"Pasti tidak enak!" ucap Freya mencibir.
Norman tidak peduli, yang penting Freya makan terlebih dahulu. Dia pun tidak akan membiarkan Freya berduaan dengan pria lain oleh sebab itu, dia mengijinkan Freya pergi karena dia pun boleh pergi. Lagi pula dia ingin melihat siapa Gabriel karena bisa saja saja pria itu mencurigakan dan yang paling penting adalah, dia harus tahu untuk apa Freya menemui pria bernama Gilbert itu.