Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Pagi Yang Heboh



Malam yang bergairah bagi Norman dan Freya karena tidak saja satu kali Norman dan Freya melakukannya tapi beberapa kali sampai mereka berdua kelelahan. Freya menikmatinya, menikmati malam bergairahnya dengan pria asing yang dia tidak tahu asal usulnya. Memang dia tidak mau tahu karena dia sudah memiliki rencana setelah menemukan ayahnya.


Tangan Norman berada di dada Freya, dia sudah banyak merabanya dan pagi itu pun tangannya berada di atas dada Freya yang ingin dia besarkan. Suara ponsel yang berbunyi membangunkan Freya. Pinggangnya terasa nyeri, itu akibat perbuatan Norman yang menyerangnya lagi dan lagi.


"Ck, tangan menyebalkan!" Freya menyingkirkan tangan Norman dari dadanya sehingga membuat Norman terbangun.


"Aku rugi banyak gara-gara kau!" gerutu Freya sambil mengusap pinggangnya yang sakit.


"Tidak mungkin kau rugi," Norman memeluk Freya dari belakang dan mencium lehernya, "Kau juga menikmatinya bahkan kau meminta lagi dan lagi," kini kedua tangannya sudah berada di dada Freya.


"Singkirkan tanganmu, mesum!" Freya berusaha melepaskan tangan Norman.


"Ini terapi pagi agar cepat besar!"


"Menyebalkan, aku tidak butuh terapi!" Freya berusaha memukul tangan Norman karena pria itu tidak mau melepaskannya.


"Oh, aku ingin lebih!" Norman menarik Freya hingga berbaring. Freya berteriak, dia jadi kesal. Mereka berdua justru bergulat di atas ranjang. Norman sengaja membuat Freya kesal, benar-benar wanita yang sulit ditundukan padahal mereka berdua sudah tidur bersama. Biasanya wanita akan malu-malu setelah melakukan seex untuk pertama kali tapi Freya justru tidak memperlihatkan sikap manis sama sekali.


"Minggir, Norman. Ada yang menghubungi aku!" pinta Freya karena saat itu Norman sedang menin*dihnya dan mencium tubuhnya tanpa henti.


"Nanti!" hanya itu yang Norman katakan sehingga membuat Freya semakin kesal.


Ponsel yang berbunyi sedari tadi sudah akan berhenti, Freya berusaha mendorong tapi dia tetap kalah tenaga. Freya yang sudah sangat kesal pada akhirnya melakukan perlawanan terakhir yaitu dengan cara menggigit bahu Norman dengan keras. Norman berteriak, Freya masih menggigitnya tanpa mau melepaskan karena dia merasa pria itu pantas mendapatkannya. Norman hanya bisa pasrah sampai Freya selesai menggigitnya.


Freya tampak puas, dagu diangkat dan dia terlihat angkuh karena dia sudah berhasil membalas Norman. lain kali akan dia lakukan lagi.


"Sakit, apa kau gila?" teriak Norman.


"Itu balasan untukmu!" Freya sudah melompat turun dari atas ranjang dan meraih ponsel yang ada di atas meja. Norman menggerutu dan melihat gigi yang ada di bahu. Bagus, akan dia balas nanti.


Sambil menghubungi Cristiana, Freya mengambil kemeja milik Norman dan menggunakannya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.


"Ada apa, Cristina?" tanya Freya.


"Ada surat untukmu, Nona," jawab Cristina yang memang sedari tadi menghubunginya.


"Surat? Apa dari Gilbert?" tanya Freya karena hanya pria itu saja yang mengiriminya surat. Norman melihat ke arah Freya begitu mendengar nama Gilbert disebut. Siapa? Rasanya jadi tidak senang oleh sebab itu Norman melangkah mendekati Freya dan memeluknya dari belakang. Freya jadi kesal, apalagi Norman mencium lehernya tanpa henti.


"Seperti yang kau tahu, pria bernama Gilbert mengirimkan surat untukmu," ucap Cristina.


"Bacakan!" pinta Freya sambil mendorong wajah Norman untuk menjauh.


"Tunggu sebentar!" Cristina membuka surat dengan cepat namun dia terkejut saat mendengar desa*han Freya yang terdengar secara tiba-tiba karena Norman menghisap leher.


"Pria mesum, kurang ajar!" teriakan Freya terdengar di susul dengan tawa Norman. Cristina jadi penasaran dibuatnya, apa yang sedang mereka berdua lakukan? Freya mengejar Norman yang sudah berlari ke kamar mandi dan melemparkan bantal yang dia raih. Norman terkekeh, pagi yang heboh tapi menyenangkan.


"Awas kau, akan aku potong belalai gajahmu nanti!" teriak Freya. Dia lupa jika sedang berbicara dengan Cristina.


"Nona, apakah kalian berdua?" Cristina mulai membayangkan hal yang menyenangkan.


"Jangan salah paham, cepat bacakan!" pinta Freya.


"Gilbert mengajak Nona bertemu di Madrid bulan depan."


"Madrid, Spanyol?" Freya mengernyitkan dahi, untuk apa Gilbert mengajaknya bertemu di sana? Tidak mungkin Gilbert mengajaknya menonton pertandingan bola. Di sana juga tidak ada situs penggalian jadi untuk apa?


"Baiklah, aku akan memikirkan hal ini nanti. Jika ada surat darinya, langsung fotokan saja dan kirimkan untukku."


"Baik, Nona," jawab Cristina.


Freya berdiri di depan jendela, berpikir. Apa sebenarnya yang ingin dibicarakan oleh Gilbert dan benda apa yang hendak dia perlihatkan. Entah kenapa dia jadi penasaran. Mungkin saja benda yang ditunjukkan ada hubungannya dengan benda yang dia cari dan mungkin saja hanya penemuan yang didapatkan oleh Gilbert.


Ponsel diletakkan ke atas ranjang, Freya masuk ke dalam kamar mandi di saat Norman sedang mandi. Norman berpaling, melihat Freya yang sedang mencuci wajahnya. Air di rambut di usap sebelum Norman mendekati Freya yang masih mencuci wajah di wastafel. Freya terkejut saat air membasahinya karena Norman dalam keadaan basah.


"Lepaskan, apa tidak bisa mengeringkan tubuhmu terlebih dahulu?"


"Siapa Gilbert?" tanya Norman.


"Arkeolog, aku dan Gilbert pernah melakukan penggalian bersama dulu!"


"Lalu, kenapa dia mencarimu?"


"Kenapa kau jadi banyak bertanya?" Freya berbalik dan menatap Norman dengan tatapan heran.


"Apa tidak boleh, aku harus tahu siapa Gilbert dan untuk apa dia mencarimu!"


"Jangan membuat lelucon, kita tidak memiliki hubungan jadi kau tidak perlu tahu!" Freya mendorong Norman dan melangkah pergi.


"Freya!" Norman meraih pinggang Freya dan mengangkatnya. Freya memekik, dia terkejut apalagi Norman sudah mendudukkan dirinya di atas meja wastafel.


"Apa sih maumu?" tanya Freya sinis.


"Aku ingin tahu siapa Gilbert. Kita adalah rekan jadi aku harus tahu karena bisa saja pria itu ada hubungannya dengan ayahmu yang hilang dan mungkin saja dia bisa memberikan petunjuk akan keberadaan benda yang ayahmu temukan!"


"Jangan membual, dia tidak mengenal ayahku dan tidak tahu apa pun!" Freya mendorong bahu Norman namun mendadak dia merasa apa yang dikatakan oleh Norman ada benarnya juga. Gilbert selalu mengirimkan surat untuknya dan dia tidak pernah mau membacanya dan tunggu, Freya kini berpikir dengan keras.


Ayahnya adalah seorang arkeolog selama puluhan tahun, dia tidak pernah mempublikasikan penemuannya sebelum ayahnya selesai melakukan penelitian dan batu yang baru dia temukan, bagaimana bisa diketahui oleh beberapa kelompok yang menginginkannya?


"Kenapa diam?" tanya Norman.


"Stss.. aku sedang berpikir, Norman. Ayahku, aku tahu dia tidak akan langsung mempublikasikan penemuannya pada siapa pun apalagi batu berharga yang baru dia temukan tapi penemuan itu justru bocor dan beberapa kelompok justru mengincarnya. Aku rasa ada yang aneh."


"Apa ayahmu mendapatkan batu itu seorang diri atau ada yang lainnya?" tanya Norman.


"Aku tidak tahu karena waktu itu aku berada di Kairo."


"Jika begitu, kemungkinan besar ayahmu menemukan benda itu bersama dengan arkeolog lain tapi sang rekan berkhianat dan mengatakan benda itu pada beberapa orang yang menginginkannya. Mungkin arkeolog itu mendapat uang atau ada tujuan yang lain. Itu bisa saja terjadi, bukan?"


"Kau benar tapi siapa arkeolog yang bersama dengan ayahku saat menemukan batu itu?"


"Itu tidak penting," Norman mengusap wajah Freya yang dingin akibat air, "Yang paling penting adalah mencari keberadaan batu itu dan memecahkan teka teki yang ayahmu tinggalkan. Kita harus lebih cepat dibandingkan yang lain. Jika batu itu sudah berada di tanganmu maka dengan sendirinya penjahat yang menangkap ayahmu akan datang pada kita!"


"Lagi-Lagi kau benar, sekarang aku mau mandi lalu pergi ke London Bridge dan One eye. Setelah itu aku ingin ke museum, mungkin ada petunjuk yang bisa aku temukan di museum nantinya!"


"Ayo mandi denganku!"


"Apa?" Freya tidak sempat menolak karena Norman sudah mencium bibirnya dan melepaskan kancing kemeja yang dikenakan oleh Freya satu persatu . Setelah melepaskan kemeja yang dikenakan oleh Freya, Norman menggendong Freya menuju shower. Mandi sebentar, setelah itu pergi seperti yang Freya katakan namun sebuah kejutan tak terduga akan dialami oleh Norman.