Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Gengsi Yang Begitu Tinggi



Terjawabnya teka teki membuat misi Freya dalam mencari keberadaan ayahnya mulai menemukan titik terang meski dia tidak tahu di mana replika mumi raja Tutankhamun berada karena replika itu tersebar di seluruh dunia. Inilah yang menjadi problem terbesar untuk Freya karena dia tidak bisa mendatangi museum itu satu persatu untuk memeriksa nomor yang ada di replika mumi.


Freya sedang sibuk dengan perangkat laptopnya, dia sedang memeriksa museum yang ada di London. Mungkin saja replika mumi raja Mesir itu ada di museum lain selain museum British jadi dia harus memeriksanya dengan baik sebelum dia pergi meninggalkan kota itu.


Entah sudah berapa lama Freya mencari tahu tapi informasi keberadaan replika mumi itu tidaklah mudah dia dapatkan karena tidak ada informasi akan hal itu. Freya bahkan sudah menguap beberapa kali karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Norman yang baru saja keluar dari kamar mandi menggeleng melihat Freya yang masih belum selesai. Norman naik ke atas ranjang dan menghampiri Freya. Freya berpaling sejenak lalu dia kembali sibuk dengan perangkat laptopnya.


"Hei, apa kau tidak lelah?" tanya Norman sambil memainkan tangannya di atas paha Freya.


"Sebentar lagi, Norman. Aku belum menemukan petunjuk apa pun!" ucap Freya.


"Tapi sudah malam, Freya. Kau pun sudah lelah meski kau menyangkal lebih baik kau segera beristirahat!"


"Jangan ganggu aku, pergilah tidur terlebih dahulu!"


"Freya!" Norman menutup laptop yang ada di atas pangkuan Freya secara tiba-tiba. Freya terkejut apalagi Norman menyingkirkan laptop milik Freya dan meletakkannya ke atas meja yang ada di sisinya.


"Norman, sudah aku katakan jangan mengganggu aku!" teriak Freya kesal.


"Aku hanya ingin kau bersitirahat, jangan memaksakan dirimu!"


"Sebentar lagi aku sudah selesai jadi jangan ganggu!" Freya merangkak melewati pangkuan Norman untuk mendapatkan laptopnya kembali.


"Tidak!" Norman menarik pinggang Freya lalu menariknya hingga berbaring. Freya berteriak, dia berusaha memberontak dan memukul Norman karena mengganggu dirinya tapi pria itu tidak peduli bahkan tubuh Freya sudah dijepit dan dipeluk dengan erat.


"Lepaskan aku, Norman!" pinta Freya. Dia berusaha memberontak namun tenaga Norman tidak bisa dia kalahkan.


"Freya, kau bisa melakukannya besok jadi segeralah beristirahat!" Norman menenangkan Freya dengan mengusap kepalanya dengan perlahan serta mencium dahinya.


"Aku sudah mendapatkan petunjuknya, Norman. Jadi aku harus menemukan keberadaan mumi ke sembilan yang entah berada di mana!"


"Aku tahu kau pasti sudah tidak sabar menemukan batu itu sebelum orang-orang yang menginginkannya mengetahui keberadaan batu itu tapi percayalah, aku yakin jika mereka tahu petunjuknya seperti dirimu, mereka juga tidak akan menemukannya dengan mudah apalagi replika mumi itu tersebar di seluruh dunia."


"Tapi aku tidak mau membuang waktu!" ucap Freya.


"Aku tahu tapi apa yang bisa kau temukan? Malam sudah begitu larut, jangan sampai kau sakit lalu kau tidak bisa melakukan apa pun. Besok kau bisa mencari tahu di mana saja replika itu tersebar dan setelah tahu katakan padaku."


"Untuk apa aku mengatakannya padamu? Memangnya apa yang bisa kau lakukan?"


"Percayalah padaku, Freya. Aku akan membantumu menemukan keberadaan mumi ke sembilan yang kau cari jadi katakan padaku."


"Jangan membual!" Freya memukul bahunya Norman, namun dia sudah tidak memberontak lagi.


"Apa kau tidak percaya padaku?" tangan Norman tak henti mengusap punggung Freya. Meski Freya tidak tahu siapa dirinya tapi dia ingin Freya mempercayai dirinya dan menyerahkan hal itu padanya namun jawaban yang diberikan oleh Freya justru membuatnya tersenyum tipis.


"Tentu saja aku tidak percaya. Kau sedang menghindari renternir yang mengejarmu tiada henti lalu bagaimana kau bisa membantu aku?"


"Aku benar-benar akan membantu, jadi percayalah!"


"Tidak, aku tidak percaya. Mencari keberadaan mumi ke sembilan memerlukan banyak uang lalu bagaimana kau menemukannya? Kau sendiri tidak punya uang, hutangmu pun banyak jadi jangan sok hebat. Jika kau seseorang yang memiliki kekuasaan, maka aku tidak akan ragu!"


"Baiklah, aku akan menganggap jika kau mengijinkan aku dan mempercayai aku dalam masalah ini," ucap Norman.


"Terserah kau saja!" ucap Freya. Dia malas berdebat, lagi pula dia tahu Norman tidak mungkin bisa membantunya bahkan dia sendiri yakin jika dia tidak akan sanggup jika harus mengunjungi museum yang ada di seluruh dunia untuk mencari mumi ke sembilan.


"Jika begitu, segeralah beristirahat. Jika kau tidak mau dan masih saja sibuk maka aku akan menarikmu dan menerkammu sampai kau kelelahan dan mau beristirahat!"


"Cerewet, aku sudah berbaring di sini jadi tidak perlu mengancam!" ucap Freya kesal.


"Bagus, sekarang beristirahatlah dan ingat satu hal., kita sudah menjadi rekan dalam segala hal jadi kau sudah tidak sendirian lagi. Aku ada untuk membantu dirimu dan kau tidak boleh menolak karena kau yang telah melibatkan aku!"


"Aku tahu, aku tahu apa yang kau maksud tapi aku pun tahu kemampuan yang kau miliki jadi aku tidak mungkin  meminta dirimu melakukan hal yang mustahil."


"Baiklah, tidak perlu dibahas lagi yang pasti aku akan membantu dirimu!"


"Terima kasih," Freya memeluk Norman dengan erat dan memejamkan mata. Tidak buruk, misi dalam mencari keberadaan ayahnya ada yang membantu saat malam pun ada yang menemani tidur. Ada yang memeluk dan menghangatkan tubuhnya. Setidaknya dia sudah tidak sendirian meski dia tahu mereka tidak akan selamanya seperti itu. Dia harus mensyukuri pertemuan tanpa sengaja mereka yang telah melibatkan Norman tapi karena pertemuan itu dia jadi memiliki rekan sehingga tidak sendirian.


Entah kenapa dia jadi ingin tahu ke mana Norman pergi tadi pagi. Mungkin bukan urusannya, tapi dia sangat ingin tahu. Sepertinya tidak masalah dia menanyakan hal itu. Dari pada penasaran sehingga membuat tidak bisa tidur lebih baik dia langsung bertanya dan dia harap Norman tidak salah mengartikan keingintahuannya.


"Katakan, apa yang ingin kau tahu?" Norman kembali mencium dahi Freya. Tangannya yang sudah berhenti sedari tadi kembali membelai rambut Freya dan berpindah ke bahu Freya lalu bergerak di sana


"Ta-Tadi pagi," Freya jadi gugup.


"Hm?" Norman justru mencium wajah Freya tanpa henti. Jantung Freya berdebar, dia benar-benar bisa menyalahartikan sikap lembut yang ditunjukan oleh pria itu.


"Ada apa dengan tadi pagi?" tanya Norman karena Freya tidak melanjutkan perkataannya.


"Ta-Tadi pagi kau pergi ke mana?" kini dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Tadi pagi?" Norman pura-pura tidak mengerti.


"Ya, kau pergi ke mana? Kenapa meninggalkan aku sendirian dan kenapa tidak membangunkan aku?"


"Wah, bukankah kau tidak peduli denganku, Freya? Aku masih ingat jika kau tidak mau bertemu denganku tapi kenapa kau justru ingin tahu aku pergi ke mana?"


"Cerewet, jika tidak mau menjawab ya sudah!" Freya berbalik karena kesal. Sebuah bantal diambil lalu diletakkan di belakang agar Norman bisa mendekatinya. Norman tersenyum, bantal disingkirkan lalu Freya di peluk dari belakang. Freya tersenyum tipis, namun dia kembali memasang wajah cemberut.


"Jangan dekat-dekat aku, tidur di tempat lain sana!" Freya sok mengusir.


"Kau benar-benar memiliki gengsi yang cukup tinggi, Freya!"


"Tentu saja, apa kau keberatan?" Freya masih dengan egonya.


"Tentu tidak, aku lebih suka dengan wanita yang tidak munafik seperti dirimu!"


"A-Apa artinya?" Freya mendadak gugup.


"Kenapa kau jadi gugup seperti itu? Jangan salah mengartikan apa yang aku ucapkan dan jangan katakan kau jadi berdebar karena ucapanku!"


"Siapa yang jadi berdebar? Singkirkan tanganmu!" Freya memukul lengan Norman yang melingkar di tubuhnya.


"Baiklah, kau tidak berdebar!" sungguh wanita yang memiliki gengsi begitu tinggi.


"Ya sudah, aku mau tidur saja. Malas bicara terlalu lama denganmu!" Freya sudah memejamkan mata walau sesungguhnya dia sangat ingin tahu ke mana Noman pergi.


Tangan Norman sibuk mengusap lengan Freya, bibirnya pun sibuk mencium belakang lehernya. Kedua mata Freya sudah terpejam, Freya menikmati ciuman yang Norman berikan dan usapan tangannya.


"Aku tidak pergi ke mana-mana, aku hanya mencari angin segar!" ucap Norman.


"Aku sudah tidak peduli!" ucap Freya pura-pura.


"Ya sudah jika begitu!" Norman melepaskan pelukannya dan berbalik. Sebuah bantal pun diambil untuk di peluk. Freya berpaling dan menggerutu karena Norman tidak memeluknya lagi. Rasanya ingin menarik tangan Norman agar memeluknya tapi tidak dia lakukan karena gengsi.


Freya mengumpat dalam hati dan tak bisa tidur. Dia justru berbalik dan menendang Norman agar menjauh darinya tapi dia melakukan hal itu agar Norman tahu apa yang dia mau.


"Jangan menendang aku!" ucap Norman.


"Sana pergi yang jauh!" Freya masih juga menendang.


"Jika begitu aku akan tidur di sofa!" Norman mengambil sebuah bantal dan hendak turun dari atas ranjang namun Freya justru melompat ke arahnya.


"Kau dilarang pergi ke mana pun!" ucap Freya.


"Ck, benar-benar apa yang kau lakukan tidak sama dengan apa yang kau ucapkan. Kenapa tidak berterus terang jika ingin aku peluk!" Norman kembali berbaring lalu menarik Freya agar berbaring bersama.


"Aku tidak!"


"Sssttt!" Norman sudah membungkam mulut cerewet Freya dengan ciuman.


"Masih mau protes?"


"Sebal!" kali ini Freya yang mencium bibir Norman.


Setelah sedikit adu gengsi pada akhirnya mereka tidur bersama seperti malam-malam sebelumnya dan Freya pun tersenyu di dalam pelukan Norman dan dia terlihat puas karena apa yang dia inginkan bisa dia dapatkan.