Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Sikap Yang Berubah



Sikap Freya benar-benar berubah, dia tidak lagi ingin dekat-dekat dengan Norman. Setelah kembali dari bertemu dengan Gabriel, Freya mengurung diri di dalam kamar untuk melakukan sesuatu. Norman tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi dengan Freya. Wanita itu bahkan berbicara dengannya seperlunya saja.


Norman masuk ke dalam kamar, yang dia lihat adalah Freya karena dia ingin tahu apa yang Freya lakukan. Freya tidak mempedulikan dirinya, dia sibuk dengan apa yang sedang dia lakukan. Biasanya dia akan berpaling walau sebentar tapi kali ini Freya tidak peduli sama sekali dengan dirinya. Sikap anehnya memang sudah dia tunjukkan saat berada di restoran. Apa dia sudah membuat sebuah kesalahan? Sungguh dia sangat ingin tahu dan karena sikap Freya yang berubah, Norman mengira Freya marah karena dia telah mengganggu pertemuannya dengan Gabriel. Jangan katakan sesungguhnya Freya menyukai Gabriel sehingga dia marah akibat rasa curiga dan karena dia telah mengganggu waktu mereka berdua.


"Apa kau mau segelas minuman hangat, Freya?" tanya Norman basa basi.


"Tidak, terima kasih!" tolak Freya tanpa melihat ke arahnya.


"Kau yakin? Bagaimana dengan camilan?"


"Tidak juga, aku tidak mau makan apa pun!" Freya kembali menolak.


"Ada apa denganmu, Freya?" tanya Norman. Sungguh dia tidak suka dengan sikap Freya yang berubah seperti itu.


"Ada apa? Tidak ada apa-apa denganku!" jawab Freya.


"Tidak ada apa-apa bagaimana? Kau bersikap aneh sedari tadi. Apa aku telah membuat kesalahan yang fatal atau kau marah padaku karena aku sudah mengganggu pertemuanmu dengan Gabriel?" tanya Norman lagi.


"Tidak, aku bersikap biasa saja dan aku tidak marah padamu. Apanya yang aneh?"


"Tidak perlu berpura-pura. Sikapmu sungguh tidak menyenangkan!"


"Apa maksud perkataanmu?" Freya berbalik dan menatapnya dengan ekspresi heran.


"Katakan padaku, apa kau sedang marah padaku?" Norman kembali menanyakan hal yang sama dan melangkah mendekati Freya, dia benar-benar tidak suka dengan sikap Freya yang tidak seperti biasanya.


"Aku tidak marah, jangan berlebihan!" Freya beranjak dan melangkah pergi. Dia sedang malas berdebat dengan Norman karena dia tidak mau terlalu dekat dengan pria itu lagi.


"Jangan berbohong, apa aku sudah membuat sebuah kasalahan fatal sehingga kau bersikap seperti ini? Jika memang ada katakan agar aku bisa memperbaikinya!" Norman benar-benar tidak mengerti dengan sikap Freya. Dia tahu Freya memiliki sikap yang tidak menyenangkan dan semaunya sendiri tapi sikap yang dia tunjukan hari ini benar-benar membuatnya bingung.


"Kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Jangan memulai, Norman. Aku tidak mau berdebat!" ucap Freya.


"Jika begitu," Norman melangkah mendekatinya dan memeluknya dari belakang," Apa ada yang kau inginkan? Katakan padaku jika ada dan katakan padaku jika kau menginginkan sesuatu. Aku akan memberikannya padamu!" ucapnya lagi seraya mencium pipi Freya dan membenamkan wajahnya ke leher Freya.


"Terima kasih, Norman. Aku hanya lelah dan ingin beristirahat. Perutku terasa tidak nyaman," Freya menunduk, dia berusaha menahan diri bahkan air mata ditahan dengan susah payah. Dia tidak mau mereka terlalu dekat lagi, dia harus menjaga jarak karena dia tahu akhir dari kisah mereka berdua. Dia tahu mereka tidak akan bisa bersama dan hanya ada perpisahan saja nantinya oleh sebab itu, sebisa mungkin dia akan menjaga jarak agar perpisahan mereka tidak terlalu menyakitkan nantinya. Apa pun yang terjadi, tidak boleh ada air mata saat mereka berpisah.


"Apa kau sedang datang bulan?" kedua tangan Norman sudah berada di perut Freya dan mengusapnya perlahan.


"Yeah, oleh sebab itu biarkan aku istirahat dan jangan berdebat denganku hari ini karena aku tidak ingin bertengkar denganmu!" pinta Freya.


"Baiklah, aku akan membuatkan minuman hangat untukmu dan kau berbaringlah!" Norman kembali mencium pipinya. Freya masih menunduk, air mata benar-benar hampir tumpah karena perlakuan yang diberikan oleh Norman. Jika pria itu adalah kekasihnya, sudah pasti dia akan bahagia tapi mereka berdua? Sejak awal mereka memang partner tapi kini, entah apa hubungan yang terjalin di antara mereka oleh sebab itu dia harus berhenti sebelum mereka terlalu jauh sehingga salah satu dari mereka tidak bisa menghentikannya lagi.


"Aku buatkan minuman sebentar, kau berbaringlah terlebih dahulu!"


Freya melangkah menuju ranjang dengan perasaan campur aduk. Dia berbaring dengan tatapan menerawang namun air mata jatuh secara tiba-tiba karena dia merasa jika dia tidak akan sanggup menghadapi perpisahan mereka nantinya meski dia tahu disetiap pertemuan pasti ada perpisahan tapi mereka berdua, sudah terlibat terlalu jauh dan dia harus menghentikannya sebelum terlambat.


Suara pintu yang dibukan terdengar, Freya menghapus air matanya dengan terburu-buru. Norman sudah kembali dengan segelas air hangat. Freya pura-pura tidur, jangan sampai Norman melihat air matanya karena dia tidak mau Norman tahu lalu pria itu akan memberikan banyak pertanyaan padanya nanti. Mendadak dia jadi cengeng semenjak Cristina menghilang, ternyata dia tidak sekuat yang dia bayangkan selama ini.


"Freya," Norman memanggil seraya naik ke atas ranjang. Freya masih pura-pura tidur sedangkan tangan Norman mengusap tubuhnya dengan perlahan. Norman tidak curiga sama sekali karena dia mengira Freya seperti itu karena emosi yang sedang tidak stabil.


"Apa kau tidur?" kini Norman berbaring di sisinya, ciuman lembut pun mendarat di pipi Freya.


"Jangan seperti ini, Norman," ucap Freya.


"Kenapa? Apa kau tidak suka?" tanya Norman sambil memainkan tangannya di lengan Freya tanpa henti.


"Aku bukannya tidak suka, tapi?" Freya menghentikan perkataannya sejenak karena dia ragu. Mungkin dia saja yang merasa seperti itu sedangkan Norman tidak karena pada dasarnya laki-laki jarang menggunakan perasaan.


"Tapi apa, katakan!" pinta Norman.


"Aku hanya ingin tahu, Norman. Apa aku bagimu?" tanya Freya.


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Jawab saja, bagimu aku ini apamu?"


"Partner, apa lagi!" jawab Norman dan yang dia katakan tidak salah karena mereka memang partner saat ini.


"Terima kasih atas jawabannya!" Freya tersenyum namun di balik senyuman itu tersimpan kepedihan.


"Kenapa bertanya seperti itu? Apa kau ingin menjadi kekasihku?"


"Kau berkata membuatkan aku minuman hangat. Berikan padaku, aku merasa  perutku semakin tidak nyaman!" ucap Freya tanpa mau menjawab pertanyaan Norman karena sudah dipastikan, kisah mereka akan menjadi kisah menyedihkan yang tidak diharapkan tapi memang semua kisah cinta tidak selalu berakhir bahagia.


"Bangunlah!" Norman beringsut ke sisi ranjang dan mengambil gelas minuman yang dia letakkan di atas meja lalu memberikannya pada Freya.


"Minumlah selagi hangat," ucapnya.


"Terima kasih," Freya mengambil gelas yang diberikan sambil menunjukkan senyumannya.


"Setelah ini beristirahatlah, aku akan memijitkan pinggangmu!"


Freya mengangguk, sudahlah. Jalani saja, jika mereka memang tidak ditakdirkan bersama maka mereka akan berpisah tapi jika mereka ditakdirkan bersama, maka mereka pasti bertemu lagi apa pun caranya karena tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi dengan mereka berdua.