Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Pria Yang Harus Dihindari



Freya dibawa ke dalam sebuah ruangan untuk diinterogasi, dua orang detektif sudah menunggunya dan juga beberapa foto bukti keterlibatan Freya dalam mencuri sebuah artefak yang berada di museum di Texas. Kejadian itu sudah terjadi beberapa bulan yang lalu dan memang Freya melakukan hal itu.


Freya duduk di kursi dengan kedua tangan yang terborgol. Dia masih terlihat begitu santai karena jika dia panik maka dia akan semakin dicurigai oleh pihak berwajib dan dia benar-benar akan dijadikan tersangka oleh sebab itu, sebisa mungkin dia harus bersikap seolah-oleh bukan dia pelakunya.


"Freya Walner, kau adalah seorang arkeolog tapi kenapa kau melakukan pencurian artefak berharga di sebuah museum?" tanya seorang detektif wanita yang sedang melihat data milik Freya.


"Aku memang arkeolog, aku selalu berada di padang gurun," jawab Freya.


"Benarkah? Lalu bagaimana dengan foto-foto ini? Bagaimana kau bisa menjelaskannya?" beberapa foto didorong mendekat agar Freya bisa melihatnya.


"Foto bisa di rekayasa, bagaimana bisa kalian menuduh aku mencuri hanya berdasarkan dari foto-foto itu saja?" Freya balik bertanya.


"Tentu saja kami tidak menuduh hanya dari foto saja, pada bulan kelima tanggal dua puluh kau dikabarkan melakukan perjalanan, ke mana kau pergi?"


"Pada tanggal dan bulan itu aku melakukan penelitian di laboratorium dan setelah itu aku diundang untuk menjadi pembicara," jawab Freya.


"Tapi kau dinyatakan tidak datang. Apa kau bisa menjelaskannya?"


"Aku tidak datang karena aku tertahan di jalanan yang padat dan pada saat itu aku tidak berada di Texas. Bagaimana aku bisa mencuri di sana?" semua sudah dia perhitungkan, dia berpura-pura pergi melakukan penelitian dan menjadi pembicara tapi sesungguhnya dia terbang ke Texas menggunakan identitas palsu.


"Semua foto ini diambil di museum dan ciri-cirinya sangat mirip denganmu bahkan beberapa hari belakangan dikabarkan seorang pencuri baru saja beraksi di museum Bishop dan ciri-ciri yang dimiliki juga seperti ciri-ciri dirimu. Kami yakin kau lah pelaku yang telah mengambil dua benda berharga dari kedua museum itu."


"Banyak orang yang memiliki ciri-ciri seperti aku jadi jangan menuduh aku hanya karena ciri-ciri saja. Apa ada sidik jariku di dua tempat kejadian? Jika kau menemukan sidik jariku di dua lokasi yang berbeda itu maka aku tidak akan membantah!"


Kedua detektif itu menatap Freya dengan tajam, mereka kembali menginterogasi Freya apalagi sebuah pencurian baru saja terjadi di rumah seorang kolektor barang antik semalam dan mereka juga mencurigai jika Freya'lah yang telah melakukan pencurian itu.


Freya diinterogasi selama dua jam, kedua detektif itu berhenti bertanya saat seorang pengacara dibawa masuk ke dalam oleh seorang petugas. Kedua detektif itu berbicara dengan kedua pengacara yang ditugaskan untuk membantu Freya agar bisa pergi dari sana. Freya sangat heran karena itu bukan pengacara yang dia kenal. Sepertinya Cristina mengambil pengacara lain, yeah... dia yakin seperti itu.


"Baiklah, kami minta maaf karena sudah salah membawa orang," ucap salah satu detektif yang sudah selesai berbicara dengan sang pengacara.


"Bagaimana? Sudah aku katakan bukan aku!" Freya berpura-pura kesal.


"Kami benar-benar minta maaf untuk hal itu," borgol yang membelenggu kedua tangan Freya pun dibuka dan dia dipersilakan untuk pergi.


Freya sangat lega, entah apa yang dikatakan oleh pengacara itu tapi yang pasti dia bisa terbebas dari tempat itu dan dia pun diantar keluar di mana Cristina sudah menunggu dan begitu melihat Freya, Cristina berlari ke arahnya dan memeluknya.


"Nona!" Cristina sampai berteriak akibat senang.


"Terima kasih kau datang di waktu yang tepat, Cristina."


"Aku sangat mencemaskan dirimu, Nona."


"Tidak perlu khawatir tapi kenapa kau memanggil pengacara yang berbeda?" tanya Freya.


"Bukan aku, tapi Tuan Norman yang melakukannya," jawab Cristina sambil menunjuk ke arah Norman yang menunggu di mobil.


Freya melihat ke arah jari Cristina menunjuk,  Norman melambai dari dalam mobil. Freya diam saja tapi mendadak dia merasa Norman sedikit terlihat keren dengan kaca mata hitam yang dia kenakan saat itu. Tidak benar, sepertinya matanya sakit akibat cahaya yang begitu terang di dalam ruangan.


"Saat aku ingin memanggil pengacara dia mencegah aku dan berkata, dia yang akan membantu Nona," ucap Cristina.


"Baiklah, sekarang aku semakin ingin tahu siapa sebenarnya pria itu dan aku rasa dia bukanlah orang sembarangan!"


"Aku merasa dia keren!" ucap Cristina.


"Aku serius Nona. Apa Nona tidak merasa demikian?"


"Tidak, aku menganggapnya sebagai pria yang harus aku hindari. Ayo pergi!" ajak Freya.


Mereka melangkah menuju mobil di mana Norman sudah menunggu. Dia memang ingin menjebloskan Freya ke dalam penjara tapi entah kenapa dia jadi tidak tega apalagi Cristina menangis tiada henti sambil mencari pengacara yang bisa membantunya. Oleh sebab itulah, dia memutuskan untuk membantu Freya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Norman.


"Baik-Baik saja, terima kasih sudah membantu aku," ucap Freya.


"Bukan hal besar tapi ingat, kau berhutang budi padaku dan aku akan menagihnya suatu saat nanti."


"Aku pasti akan membalas budi baikmu jika aku tidak berada di dalam penjara nantinya."


"Kau tidak akan berada di sana. Bagaimana jika kita berpesta malam ini untuk merayakan banyak hal?"


"Barbeque!" teriak Cristina.


"Baiklah, aku yang traktir. Anggap sebagai ungkapan terima kasihku karena kau sudah membantu aku," ucap Freya.


"Senang mendengarnya, sekarang ke mana kita akan pergi?" tanya Norman.


"Pusat perbelanjaan." jawab Freya.


"Baiklah tapi ngomong-ngomong, kenapa kau ditahan, Freya? Apa aksimu di Hawaii sudah ketahuan?"


"Yeah, tapi sesungguhnya aksi lainnya. Aku sudah melakukan banyak pencurian, wajar jika para polisi mulai mencurigai aku," Freya menghela napas, sepertinya mulai sekarang dia harus bergerak dengan sehati-hati mungkin agar tidak dicurigai lagi.


Norman melirik ke arah Freya, melihatnya sejenak. Sekarang perasaan iba tumbuh semakin besar di dalam hati dan dia tahu tidak seharusnya dia memiliki perasaan iba pada orang yang sudah membuatnya menjadi buronan apalagi bisa saja setelah Freya, para polisi itu mendatangi dirinya dan jangan sampai pula, para polisi itu datang ke istana untuk mencarinya dengan tuduhan jika dia adalah seorang pencuri. Jika sampai hal itu terjadi, ayah dan ibunya akan kecewa begitu juga dengan para rakyatnya.


"Kenapa kau tidak berhenti saja, Nona?" tanya Cristina.


"Berhenti bagaimana?" Freya balik bertanya.


"Berhenti mencuri, bagaimana jika suatu saat Nona benar-benar masuk ke dalam penjara? Jangan sampai hal itu terjadi sehingga Nona tidak bisa menemukan keberadaan ayah Nona," jawab Cristina.


"Tidak bisa, aku tidak terima hasil penemuan ayahku dinikmati oleh orang lain. Ayahku memang berniat menyerahkan penemuan itu satu persatu ke museum oleh sebab itu aku harus mendapatkan semua artefak itu kembali. Mungkin dengan demikian, aku pun bisa menemukan sesuatu yang bisa memberikan aku petunjuk sehingga aku bisa memecahkan teka teki yang ditinggalkan oleh ayahku."


"Teka-Teki, teka teki apa?" tanya Norman.


"Bukan apa-apa!" jawab Freya dengan cepat karena dia merasa Norman tidak perlu tahu apalagi dia merasa Norman pria yang memiliki kekuasaan dan dia harus menghindarinya.


Norman meliriknya dengan tatapan curiga, teka teki? Sungguh membuat penasaran dan Freya adalah wanita pertama yang telah membuatnya seperti itu. Sepertinya dia akan terlibat semakin jauh dengan wanita itu dan memang apa yang dia duga sangatlah benar apalagi saat ini sketsa wajah mereka berdua sudah berada di tangan pimpinan tertinggi Dark Dragon yang adalah ayah dari pria yang mereka bunuh malam itu di pasar gelap.


#Norman



#Freya