
Setumpuk buku yang harus dipelajari berada di atas meja, Freya terlihat frustasi. Norman berdiri di depan jendela sambil menggendong Nicholas, dia berada di sana agar Freya tidak melompat keluar jendela karena Freya selalu melakukan hal itu setiap kali dia tidak sanggup lagi dengan banyaknya peraturan istana yang harus dia pelajari.
Cristina sudah mengatakan padanya, sangat berat tinggal di istana. Dia juga mengatakan pada Freya banyak yang harus dia pelajari. Caranya yang berjalan secara serampangan harus menjadi anggun, cara makan yang seenaknya harus di rubah dan semua tingkah lakunya yang asal-asalan tidak boleh diperlihatkan karena dia harus bersikap anggun setiap saat.
Tantangan besar bagi seorang Freya yang suka bertindak sesuka hati. Setiap hari yang dia lakukan hanya belajar dan belajar karena banyak yang harus dia pelajari. Lima kali sudah dia melompat keluar dari jendela karena sudah tidak tahan namun ujung-ujungnya tersesat di istana sehingga membuatnya kebingungan untuk mencari jalan kembali tapi tidak ada kata jera untuk melompat keluar dari jendela lagi dan lagi.
Freya melotot ke arah Norman yang sedang mengawasi dirinya agar tidak lari. Entah sampai kapan dia harus mempelajari semua itu tapi yang pasti dia sudah sangat tidak tahan. Dia tahu semua itu akan terjadi saat dia memutuskan untuk mengikuti Norman kembali dan menikah dengannya karena dia tahu apa yang akan terjadi dengannya tapi semua yang harus dia pelajari benar-benar berat. Ternyata yang dikatakan oleh Cristina sangat benar, hidup si istana sangatlah berat.
"Aku haus!" ucap Freya.
Norman mengambil sesuatu dan memencetnya dan tidak lama kemudian, pintu terbuka dan beberapa pelayan masuk ke dalam membawa minuman yang Freya ingin.
"What?" mulut Freya mengangga, dia kembali melihat ke arah Norman dengan tatapan kesal.
"Ada yang lain?" tanya Norman.
"Aku ingin makan!" ucap Freya.
"Oke!" Norman melangkah mendekatinya, Freya merasa dia memiliki kesempatan untuk kabur lagi tapi nyatanya Norman meraih tangannya dan menariknya pergi, "Kita makan bersama!" ucap Norman.
"Oh, ayolah. Aku lelah dengan semua ini. Beri aku waktu istirahat sebentar saja, aku sungguh tidak tahan dengan semua pelajaran yang harus aku pelajari!"
"Baiklah, baik. Tapi jalan yang benar!" perintah Norman.
"Oh, No!" Freya tampak enggan, dia bisa berjalan dengan anggun di depan orang-orang tapi dia tidak perlu berjalan dengan anggun di hadapan Norman juga, bukan?"
"Tidak kau lakukan maka kau tidak akan mendapatkan apa pun!" ancam Norman.
"Sebal!" Freya menghentikan kedua kakinya ke atas lantai.
"Mulai!" ucap Norman.
"Oke, fine!" Freya menarik napas dengan kedua mata terpejam. Dia model, dia adalah model. Freya berucap dalam hati dan sekarang dia adalah model yang berada di atas panggung.
"Cepat, jangan terlalu banyak gaya!" ucap Norman.
"Berisik, kau raja cerewet!" Freya melotot ke arahnya.
"Mau mulai atau tidak, aku hampir tertidur bersama Nicholas!"
"Astaga, aku ingin mencubit mulutmu!" ucap Freya kesal.
"Ck, aku benar-benar akan tidur hanya menunggumu berjalan saja!"
Freya kembali melotot ke arah Norman, entah apa yang mau membuatnya mau menikah dengan pria menyebalkan itu. Satu kaki sudah melangkah sesuai dengan yang dia pelajari. Rasanya mau mati berjalan dengan gaya anggun seperti itu karena dia benar-benar tidak terbiasa.
"Luruskan punggungnya!" ucap Norman. Putra mereka yang sedang tidur pun diberikan pada pengasuhnya agar Nicholas dibaringkan di atas ranjang.
Freya kembali melangkah dengan perlahan, dia sudah menguasainya tapi jujur saja dia lebih suka berjalan seperti biasanya.
"Astaga, bisakah aku berjalan seperti biasanya?"
"No, sambil jalan sambil belajar!" ucap Norman.
"Sebal!" Freya kembali menghentakkan kedua kaki lalu kembali melangkah dengan anggun. Kehidupan yang mendadak berubah dan peraturan yang sangat banyak benar-benar tidak cocok dengan dirinya yang lebih menyukai kebebasan serta suka bersikap seenaknya namun demi putranya dia akan mempelajari semuanya.
"Bagus, lanjutkan!" ucap Norman.
"Tidak mau!" Freya berlari ke arah jendela karena dia mau melarikan diri, pinggangnya pegal karena harus melenggang melenggok setiap kali jalan.
"Freya, jangan lari!" Norman berlari mengejar untuk mengejar istrinya agar Freya tidak melompat keluar.
"Aku mau pergi ke Mesir untuk menjadi arkeolog!" teriak Freya, dia sudah mau melompat keluar namun para pelayan yang sudah terbiasa melihat hal itu sudah berlari dan menangkapnya.
"Berhenti, jangan lompat!" teriak Norman.
"Apa?" Freya terkejut, buru-buru melihat ke bawah di mana sudah ada sungai yang dipenuhi oleh buaya.
"Are you kidding?" pekiknya.
"No, buaya itu sengaja di pelihara di sana agar kau tidak melompat untuk melarikan diri lagi!" ucap Norman.
"Kau gila!" pekik Freya lagi.
"Karena mencoba lari maka hari ini ada dua guru baru yang akan mengajarimu tata cara untuk bertemu dengan tamu!"
"Apa?" Freya kembali memekik.
"Stss, jangan berteriak. kau juga akan diajari hal ini, tidak boleh berteriak di dalam istana!"
"Oh, aku mau pingsan saja. Aku mau pingsan!" Freya memegangi dahinya. Semoga dia tidak jadi gila karena banyaknya yang harus dia pelajari.
"Jangan terlalu berlebihan, bukankah kau bilang mau makan? Sekarang ayo makan sekalian belajar!" Norman sudah melangkah mendekat dan meraih tangannya.
"Oh, God. Seharusnya aku bersembunyi saja di dalam lubang dan tinggal dengan para mumi!"
"Sudah, jangan banyak mengeluh!" Norman sudah menariknya keluar dari ruangan.
"Bisakah beri aku kebebasan satu hari saja?" pinta Freya.
"Jangan mengacau!" ucap Norman.
"Tidak, aku ingin mengajak Nicholas bermain."
"Hanya Nicholas saja? Bagaimana denganku?" tanya Norman.
"Kau, tidak penting!"
"Apa kau bilang?" Norman berbalik, sedangkan Freya tersenyum dan melangkah mundur.
"Jadi? Aku tidak penting bagimu?"
"Tidak!" jawab Freya sambil mengeluarkan lidahnya.
"Kau? Aku rasa kau harus diberi pelajaran!" ucap Norman yang sudah melangkah mendekati Freya.
"Belajar lagi, tidak mau!" Freya memutar langkah dan berlari pergi.
"Tunggu, Freya!" Norman pun berlari mengejar Freya. Mereka berdua berlari di lorong dan melupakan banyak hal. Freya masih saja berlari namun naas, mendadak ayah Norman muncul di ujung lorong. Freya terkejut begitu juga dengan Norman dan ayahnya. Tanpa bisa menghindar lagi, Freya menabrak ayah mertuanya sampai terjatuh.
Ayah Norman berteriak marah, sedangkan Norman buru-buru membantu istrinya. Celaka, sudah pasti ayahnya akan marah.
"Norman, Freya, apa kau kira istana ini taman bermain!"
"Sorry, Dad. Nicholas menangis, aku tinggal sebentar!" Freya sudah melarikan dirinya.
"Apa? Hei, jangan lari!" cegah Norman namun Freya sudah mengambil langkah seribu.
"Freya, jangan lari!" teriak Norman dan ayahnya. Untuk pertama kali, ada ratu yang harus belajar banyak hal setelah menjadi ratu namun tidak ada yang keberatan apalagi rakyat juga menerima Freya karena mereka menganggap Freya menyenangkan. Rakyat menganggap demikian karena Freya berteriak jika dia sudah menjadi ratu saat dirinya sudah dilantik menjadi ratu. Tentu saja itu pelantikan yang tidak akan pernah dilupakan karena Noman harus menutup mulut Freya dan memintanya untuk tidak bertindak konyol.
Norman yang tertinggal harus mendapatkan ceramah dari ayahnya. Norman hanya bisa diam menggantikan istrinya yang sudah lari. Dia bahkan tidak berani mengatakan apa pun dan hanya bisa mengangguk saja. Bagus, setelah ini pelajaran untuk Freya akan semakin bertambah banyak.
Setelah mendapat ceramah dari ayahnya, Norman kembali ke dalam kamar untuk memberikan ceramah pada istrinya namun semua itu tidak jadi karena Freya sudah mencium bibirnya sebelum Norman mengucapkan sepatah kata pun. Norman yang ingin marah pun tidak jadi melakukannya. Sudahlah, seiring berjalannya waktu Freya pasti akan terbiasa dan akan menjadi ratu yang sempurna untuknya dan untuk kerajaan itu.
End
Cukup ya, Guys. Takutnya jadi lebay nantinya.. wkwkwkwk..