
Suara tembakan yang ada di dalam bangunan tua itu membuat Norman bergegas karena dia yakin Freya sedang berada di dalam situasi yang tidak menguntungkan. Pasti kedua pria yang dikejar oleh polisi sudah berhasil lolos dan berada di dalam bangunan itu.
Sepertinya Freya berhasil mengalahkan yang wanita oleh sebab itu, kini dia harus terpojok oleh senjata api karena Freya tidak membawa senjata api apa pun. Norman mengambil semua senjata api yang ada di mobil, dia harus membawa semuanya meski hanya dua orang saja yang harus dia lumpuhkan walau dia tidak tahu yang wanita sudah mati atau tidak.
Norman berlari memasuki bangunan kosong itu namun larinya terhenti saat sudah dekat dengan suara tembakan. Norman kini mengendap untuk mencari keberadaan musuh. Dia mengintai dari balik dinding lalu berpindah ke dinding yang lain sambil memantau keadaan.
Tidak ada yang menyadari keberadaannya, Freya masih bersembunyi di balik dinding karena kedua musuh berusaha membunuhnya. Kedua musuh itu bahkan sepakat berpencar untuk mengepung dan menangkapnya. Yang satu ke sisi kanan, sedangkan yang lain ke sisi kiri. Mereka akan melihat target jika Freya melarikan diri. Lumpuhkan kedua kakinya maka dia tidak akan bisa lari.
Suara langkah kaki musuh yang melangkah mendekat membuat Freya menelan ludah. Sial, sepertinya dia akan tertangkap kali ini. Kedua musuh semakin mendekat, begitu juga Norman yang semakin dekat dengan keberadaan mereka. Norman mengintip dari balik dinding yang tidak jauh dari mereka, dia dapat melihat kedua musuh sedang bergerak ke sebuah dinding, mereka seperti ingin menyergap dan dia yakin Freya berada di sana.
Norman pun dapat melihat Chen yang sedang duduk di atas lantai sambil memegangi kedua kakinya yang sakit akibat pukulan Freya, dua pedang dan sebuah besi berada di atas lantai. Sepertinya sudah terjadi pertarungan sengit antara Freya dengan si wanita itu.
Freya mencoba bergeser tapi suara langkah kaki justru terdengar dari sisi kanan dan sisi kiri, sepertinya dia dikepung. Tidak ada pilihan lain selain lari dari tempat itu, dari pada tertangkap lebih baik mati. Freya segera lari selagi ada kesempatan, suara langkah kakinya tentu di dengar oleh kedua musuh yang sedang mengepung dirinya.
"Dia lari, segera kejar!" teriak salah seorang dari musuh yang hendak menangkapnya.
Mereka mengejar sambil menembaki Freya namun yang mereka bidik adalah kaki. Freya terus berlari menghindari setiap tembakan yang mengarah ke arahnya namun sebuah siulan mengalihkan perhatiannya. Freya melihat ke arah datangnya suara, Norman melambai dan memberinya isyarat dan mengangkat sepucuk senjata api.
Freya mengangguk, dia berlari ke arah Norman. kedua musuh itu masih saja terus mengejar, Freya semakin mempercepat larinya ke arah Norman. Dia ingin mengecoh musuh namun setelah dekat dia pun berbelok ke arah lain. Kedua musuh yang berlari hampir tergelincir jatuh karena Freya berbelok secara tiba-tiba.
"Sial!" mereka kewalahan hanya karena mengejar seorang wanita. Mereka kembali mengejar Freya yang sudah bersembunyi tapi langkah mereka harus terhenti karena tiba-tiba saja Norman keluar dari persembunyian dengan dua senjata api di tangan.
"Mencari sesuatu?" tanya Norman namun sebelum kedua pria itu menembakkan senjata api mereka, Norman sudah menghujani kedua musuh dengan timah panas dari kedua senjata apinya. Norman tertawa keras saat melakukan hal itu, dia benar-benar raja yang brutal. Kapan lagi dia bisa melakukan hal itu karena setelah dia kembali ke istana, dia adalah raja yang harus memberikan contoh baik bagi rakyatnya
Freya memegangi dada di persembunyian, dia juga mengintip dan menggeleng melihat aksi gila Norman menggunakan dua senjata apinya. Padahal musuh sudah tidak bernyawa tapi dia terus menembak sampai peluru senjata api habis, sampai dia puas karena benda itu mungkin tidak akan dia sentuh lagi setelah dia kembali ke istana.
Suara tembakan sudah terhenti, suara tawa Norman juga sudah terhenti. Freya keluar dari persembunyian, siapa yang menduga jika pria yang tanpa sengaja terlibat itu justru memiliki sifat brutal di luar perkiraan?
"Apa sudah puas?" tanya Freya yang sudah berdiri tidak jauh dari Norman sambil bersedekap dada.
"Apa aku terlalu berlebihan?" Norman menurunkan senjata apinya lalu melangkah mendekati Freya.
"Kau begitu brutal, kau lihat mereka berdua?" Freya melihat ke arah musuh yang sudah tak berbentuk akibat timah panas yang menghujani mereka.
"Aku terlalu bersemangat, coba lihat keadaanmu, kenapa dipenuhi oleh luka seperti itu?" Norman melangkah memutari Freya untuk melihat ke arah Freya dan terkejut melihat luka di pungggungnya yang cukup besar.
"Sebaiknya kita segera pergi untuk mengobati lukamu!" ucap Norman.
"Jangan dipikirkan, hanya luka ringan. Aku ingin menginterogasi wanita itu!" Freya berlari untuk kembali di mana Chen berada. Wanita itu sedang merangkak pergi, suara tembakan dan tawa Norman membuatnya menyadari jika kedua rekannya mendapat serangan mendadak. Dia tidak boleh mati di tempat oleh sebab itu Chen menarik tubuhnya yang sakit luar biasa untuk pergi dari tempat itu.
"Ke mana dia?" teriak Freya.
"Apa dia lari?" tanya Norman pula.
"Tidak mungkin, ayo berpencar untuk mencarinya!" Freya berlari untuk mencari Chen, Norman juga melakukannya. Mereka berdua berpencar untuk mencari Chen yang sedang menarik tubuhnya dengan susah payah. Chen sudah berada di luar, dia harus mencari seseorang yang bisa membantunya, dia harus pergi agar dia tidak ditangkap.
Seharusnya dia yang menangkap Freya, seharusnya Freya yang lari darinya tapi situasi benar-benar terbalik karena dia yang lari dari wanita itu. Norman dan Freya tidak menemukan keberadaan Chen, mereka berlari keluar untuk mencari. Karena bangunan tak terpakai itu di kelilingi oleh rerumputan, mereka berdua berpencar sampai akhirnya rumput yang bergerak dikejauhan membuat mereka berdua curiga.
Freya meminta sepucuk pistol pada Norman, dia bergerak perlahan untuk mendekati rumput yang terus bergerak karena Chen sedang menarik tubuhnya di atas rumput itu. Menyadari ada yang datang, Chen berhenti dan berpaling. Jangan katakan posisinya sudah diketahui musuh, sebiaknya dia bergegas. Chen kembali menarik tubuhnya namun suara letusan senjata api dan rasa panas di kakinya akibat timah panas membuat Chen berteriak.
"Mau lari ke mana kau?" tanya Freya yang baru saja menembaki kakinya.
"Sial, lain kali aku tidak akan kalah denganmu!" teriak Chen kesal.
"Lain kali? Tidak ada kata lain kali. Sekarang katakan padaku, di mana ayahku?" tanya Freya.
"Aku tidak tahu!" jawab Chen sambil berteriak.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Jawab jika tidak aku akan menembakmu!" ancam Freya.
"Tembak saja, aku tidak takut mati!" teriak Chen.
"Kau menguji kesabaran!" Freya kembali menembaki kakinya beberapa kali, Chen berteriak nyaring. Norman berlari menghampiri untuk menghentikan apa yang Freya lakukan.
"Berhenti, Freya. Jangan membunuhnya di sini!" Norman menahan pistol yang hendak menembaki Chen.
"Punya rencana?" tanya Freya.
"Serahkan dia padaku!" Norman mendekati Chen dan memukulnya hingga pingsan.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Freya heran karena Norman sedang mengangkat tubuh Chen dan membawanya kembali ke dalam bangunan kosong.
"Akan ada yang mengambilnya nanti, tidak perlu khawatir!"
Freya mengangguk, mereka melangkah pergi menuju bangunan kosong. Setelah menyembunyikan Chen yang sedang pingsan, Norman mengirim pesan pada Kendrick dan setelah itu Norman mengajak Freya pergi sebelum polisi mencurigai mereka karena dia sudah menghapus jejak keberadaan mereka berdua kecuali mobil yang sedang mereka gunakan dan mobil itu harus disingkirkan agar tidak ditemukan.