Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Pertemuan Sesaat



Freya yang ditarik secara tiba-tiba ke balik sebuah pohon besar hendak berteriak namun mulutnya sudah ditutup dengan rapat dari belakang. Freya hanya bisa menangis, yang dia pikirkan saat ini hanyalah putranya. Entah siapa yang ada di belakangnya tapi dia harap orang baik agar dia bisa menitipkan Nicholas.


Suara para polisi yang masih mengejarnya terdengar, penembak jitu yang baru saja menembaknya pun mencari keberadaannya. Mereka mengikuti jejak darah yang menetas di dedaunan. Buronan yang mereka cari selama dua tahun tidak akan mereka lepaskan apalagi mereka mendapatkan bantuan dari kepolisian negara San Malino.


"Jangan teriak, ini aku!" Freya terkejut saat mendengar suara Norman. Bagaimana mungkin? Padahal dia mengira harapannya sudah hancur tapi ini sangat kebetulan.


Norman yang langsung berangkat ke San Malino mendapat informasi jika Freya tinggal di dekat hutan. Norman yang ingin menemui Freya justru tidak bisa menemuinya secara terbuka karena ada yang mengepung rumah Freya.  Norman hanya bisa mengintai dari jauh, dia akan membantu Freya untuk lolos karena status Freya yang masih menjadi buronan tapi siapa yang menduga, Freya terlihat melarikan diri sambil menggendong  bayi. Norman yang bersembunyi dengan anak buahnya mau tidak mau berlari dari pohon ke pohon dari jarak yang cukup jauh agar tidak di lihat oleh si penembak jitu dan begitu ada kesempatan, dia bisa menarik Freya dan sekarang, dia akan membawa Freya kembali ke istana.


"Janji tidak berteriak?" tanya Norman sebelum melepaskan tangan yang menutupi mulut Freya.


Freya mengangguk dengan terburu-buru, dia tidak memiliki banyak waktu karena para polisi itu pasti akan segera menemukan keberadaannya apalagi darahnya semakin menetes banyak dan membasahi rerumputan. Norman melepaskan tangannya, dia tidak menyangka akan menemukan keberadaan Freya dalam keadaan seperti itu bersama dengan bayi yang sudah pasti itu adalah anak mereka.


"Aku merindukan dirimu, Freya. Kenapa kau melarikan diri dariku?" Norman memeluknya dengan erat, untuk melepaskan kerinduan yang dia pendam selama ini.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk melepaskan kerinduan, Norman!" ucap Freya.


"Sekarang kembali denganku!"


"Tidak, aku tidak bisa!" tolak Freya. Freya berbalik, tatapan mata Norman jatuh pada bayi yang ada di dalam gendongan Freya.


"Kenapa? Apa kau sengaja menyembunyikan diri karena kau ingin menyembunyikan putra kita dariku?"


"Tadinya aku ingin hidup dengan tenang dan membesarkan anak kita, Norman. Aku rasa kau tahu status kita berbeda dan aku tidak bisa bersama denganmu!"


"Jadi kau sudah tahu siapa aku?" tidak heran, pantas saja Freya lari darinya.


"Aku sudah tahu, aku tentu sudah tahu!" jawab Freya namun dia melihat ke balik pohon karena dia takut para petugas itu sudah dekat.


"Jadi kau melarikan diri dariku karena kau merasa tidak pantas berada di sisiku? Apa tidak ada sedikit pun perasaan untukku di hatimu?" tanya Norman.


"Norman, tolong jangan bahas yang tidak penting. Aku sungguh tidak memiliki banyak waktu!"


"Tidak, jawab aku baik-baik Freya. Apa kebersamaan kita selama ini tidak menyisakan sedikit saja perasaan di hatimu untukku? Apa tidak ada cinta di hatimu untukku?" dia sangat ingin tahu apakah ada cinta di hati Freya untuknya sehingga dia tahu apakah Freya pantas dia perjuangkan atau tidak.


"Apa jawaban itu sangat penting, Norman? Apa jawaban dari buronan ini bisa kau percaya? Apa kau mau percaya jawaban dari orang yang sudah lari darimu dan memanipulasi kematiannya?" Freya melontarkan banyak pertanyaan karena dia ingin tahu apakah Norman akan mempercayai jawabannya atau tidak.


"Tentu aku percaya, aku mempercayaimu jadi jawab aku dengan benar. Apa kau mencintai aku?"


"Aku mencintaimu, Norman. Aku mencintaimu oleh sebab itu aku tidak mengkonsumsi obat karena aku menginginkan benihmu dalam diriku. Aku tahu kita akan berpisah dan aku tahu kita tidak mungkin bersama oleh itu aku ingin mengandung anakmu agar aku ingat jika aku pernah mencintai seorang pria seperti dirimu!" jawab Freya. Memang dia memutuskan untuk tidak membeli  obat atau mencegah karena dia sudah merasa jatuh cinta pada Norman. Pria seperti Norman hanya ada dalam mimpinya dan tidak akan menjadi miliknya olah sebab itu dia menginginkan sesuatu tinggal di dalam dirinya agar cintanya pada Norman tidak pernah dia lupakan.


"Aku senang mendengarnya, sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan jadi ikut aku kembali ke istana!" Norman menarik tangan Freya namun Freya menariknya hingga terlepas.


"Tidak!" ucap Freya sambil menggeleng.


"Kenapa? Apa kau tidak mau menikah denganku dan membesarkan putra kita bersama?" sungguh dia tidak mengerti dengan penolakan Freya.


"Bukan seperti itu, Norman. Kau adalah seorang raja, jangan melawan peraturan yang ada sehingga kau dibenci oleh rakyatmu sendiri!" ucap Freya.


"Aku tahu, Freya. Kendrick sedeng membersihkan namamu!"


"Oleh sebab itu tunggulah sampai waktu itu tiba!"


"Apa maksud perkataanmu?"


"Sudah aku katakan, Norman. Aku lari darimu karena aku tidaklah pantas untukmu yang adalah seorang raja. Bagaimana bisa seorang raja menikahi seorang buronan? Tolong pikirkan posisiku yang akan mendapat cibiran dari rakyatmu dan kau juga akan dibenci oleh mereka karena kau menikahi seorang buronan seperti aku. Sejak awal kita tidak bisa bersama, kau tahu itu!"


"Jangan bersikap kekanak-kanakan, Norman. Kau adalah seorang raja, jika kau membawa aku kembali berarti kau melindungi seorang buronan yang sedang dikejar oleh pemerintah. Jangan sampai kau bermasalah dengan negara lain sehingga sebuah permusuhan tercipta. Kau memang memiliki kekuasaan tapi kau harus memikirkan keadaan rakyatmu. Sebaiknya jangan lakukan apa pun yang bisa merugikan dirimu!"


"Jadi apa yang harus aku lakukan, Freya? Aku tidak akan membiarkan kau di luar seperti ini? Kendrick sedang membersihkan namamu jadi kembalilah denganku!" Norman tampak putus asa. Yang dikatakan oleh Freya sangatlah benar, jika dia membawa Freya berarti dia melindungi buronan dan jika sampai pemerintah Amerika tahu, maka dia akan membawa dampak buruk bagi istana.


"Aku tidak menginginkan apa pun, Norman. Yang aku inginkan satu saja, jaga putra kita baik-baik!" Freya melepaskan kain yang mengikat Nicholas yang sedari tadi sedang tidur.


"Aku ingin Nicholas mendapatkan kehidupan yang layak, dapat bertemu denganmu di sini adalah sebuah keberuntungannya karena dia bisa bertemu dengan ayahnya secara langsung," Freya memberikan Nicholas pada Norman, sekarang putranya berada di tangan yang tepat.


"Freya, jangan katakan kau mau pergi!" Norman menggendong putranya yang terbangun dan terkejut melihat dirinya.


"Untuk saat ini hanya ini yang terbaik untuk kita, Norman. Para polisi itu akan terus mengejar aku jadi aku hanya bisa terus lari dan bersembunyi dari mereka tapi sekarang aku tidak akan mencelakai Nicholas lagi karena dia sudah berada di tanganmu jadi jagalah dia baik-baik."


"Ikut aku, Freya. Aku akan memberikan tempat untukmu bersembunyi!"


"Tidak, kau akan terlibat karena menyembunyikan aku!" kain yang dia gunakan untuk menggendong Nicholas digunakan untuk mengikat bahunya agar lukanya tidak terlalu banyak mengeluarkan darah.


"Aku tidak keberatan sama sekali bahkan aku rela meninggalkan istana jika memang itu yang diperlukan."


"Aku yang keberatan, jadi jangan melakukan hal yang bodoh!" Freya mendekati putranya lalu mencium pipinya.


"Jadilah anak yang baik, Sayang. Mommy akan menemui dirimu suatu saat nanti," Freya kembali mencium pipi putranya, air mata mengalir karena ini kali pertama dia harus berpisah dengan putranya. Freya bahkan memeluk putranya dengan erat, tangisannya pun pecah. Meski dia tidak mau berpisah tapi dia harus melakukan hal itu demi keselamatan putranya. Norman pun memeluknya, mereka baru saja bertemu tapi mereka sudah harus berpisah lagi karena keadaan.


"Jaga dirimu baik-baik, aku akan memerintah Kendrick membersihkan namamu dengan cepat dan pada saat itu, aku akan mencarimu!" ucap Norman.


"Tolong jaga Nicholas dengan baik, tolong jaga dia baik-baik!" pinta Freya.


"Mo....mmy!" Nicholas yang baru bisa bicara memanggilnya.


"Yes, Honey," Freya mencium pipi putranya tanpa henti.


"Jejak darahnya menuju ke arah sana!" terdengar suara teriakan polisi yang mengejarnya.


"Sial, cepat bawa Nicholas pergi!" pinta Freya. Dia mulai panik, jangan sampai ada yang melihat Norman membawa Nicholas.


"Tunggulah aku, aku pasti akan segera membersihkan namamu sehingga kau bisa bebas seperti dulu lagi!" ucap Norman.


"Aku tunggu, Norman!" Freya melihat putranya namun dia kembali memeluk Nicholas beserta Norman.


"I love you,  i love you!" ucapnya di sela tangisannya. Dia tidak mau berpisah, benar-benar tidak mau.


"Jaga dirimu baik-baik!" Norman memeluknya erat, "Aku mencintaimu, Freya. Jadi kau harus kembali padaku!" pinta Norman yang berusaha untuk tidak menitikkan air mata.


Freya mengangguk, dengan berat hati Freya harus melepaskan pelukannya. Freya melangkah mundur sambil mengusap air mata.


"Aku sudah harus pergi!" ucapnya. Freya berbalik, para petugas itu sudah semakin dekat.


"Freya," Norman sangat ingin mencegahnya tapi dia tidak bisa.


"Bawa Nicholas pergi, sekarang!" ucap Freya.


"Mo...mmy.... Mo..mmy!" putranya kembali memanggil. Air mata Freya kembali tumpah. Senjata api diangkat, Freya tidak mau berpaling karena dia tahu dia tidak akan sanggup jika dia melihat ke arah putranya. Dengan air mata berderai, Freya berlari pergi ke arah lain agar para polisi itu tidak menemukan Norman dan putranya yang mulai menangis.


Norman bersembunyi di balik pohon dan menangis dalam diam. Sial, dia sungguh tidak berguna karena dia tidak bisa melindungi wanita yang dia cintai. Air mata dihapus, Norman segera pergi membawa putranya yang menangis sedangkan Freya menembak untuk mengalihkan perhatian para petugas itu agar mereka tidak mendengar tangisan putranya lalu mengejar Norman. Norman hanya bisa berharap, Freya bisa melarikan diri sampai waktunya dia bisa membawa Freya ke istana sehingga mereka bisa bersama kembali.