
Freya sedang tidur saat Norman melakukan sesuatu di laptop Freya. Gambar replika mumi dikirimkan ke ponselnya. Norman tidak ingin Freya tahu oleh sebab itu dia melakukannya dengan hati-hati. Gambar mumi itu sudah berpindah ke ponsel, Norman mematikan laptop dan menyimpannya kembali. Beruntungnya Freya tidak membuat sandi sehingga dia tidak kesulitan membukanya. Sebelum mengambil laptop Freya tentunya Norman sudah memeriksa ponsel milik Freya terlebih dahulu tapi sayang dia harus membukanya dengan sebuah sandi.
Laptop sudah kembali ke tempatnya, Norman keluar dari kamar dan berdiri di balkon kamar. Norman berada di sana untuk menghubungi orang kepercayaannya karena dia ingin memberikan perintah tentunya dia tidak mau Freya mendengar apa yang dia bicarakan dengan anak buahnya.
"Bagaimana, Kendrick. Apa kau sudah menghabisi mereka semua?" tanya Norman.
"Tentu saja, Sir. Aku sudah menghancurkan Dark Dragon tanpa sisa," jawab Kendrick yang adalah orang kepercayaan Norman.
"Bagus, aku harap kau tidak meninggalkan jejak juga bukti. Aku juga berharap kau tidak meninggalkan satu orang pun dari mereka!"
"Tentu tidak, Sir. Semua sudah diselesaikan sesuai dengan perintahmu."
"Bagus, sekarang aku ingin memintamu untuk melakukan hal yang lain!" ucap Norman.
"Apa yang harus aku lakukan, Sir?" tanya Norman.
"Aku ingin kau mencari keberadaan replika sebuah mumi. Cari tahu di museum mana saja replika mumi itu berada lalu katakan padaku!"
"Mumi?" Kendrick yang selalu mendapatkan perintah mengernyitkan dahi karena ini kali pertama dia mendapatkan perintah yang begitu aneh. Selain menghabisi musuh terkadang dia juga mencari barang yang Norman inginkan tapi barang yang diinginkan oleh Norman kali ini sangatlah aneh dan diluar perkiraan.
"Untuk apa kau meminta aku mencari replika sebuah mumi, Sir?" tanya Kendrick.
"Lakukan saja, aku akan mengirimkan gambarnya padamu jadi lakukan perintah yang aku berikan. Ingat, tidak ada yang boleh tahu akan hal ini!" ucap Norman.
"Baik, Sir. Akan aku lakukan!" ucap Kendrick.
"Bagus, aku akan mengirimkan gambarnya sekarang!" Norman mengakhiri pembicaraan mereka lalu mengirimkan gambar replika mumi yang dia ambil dari laptop. Tidak saja mengirimkan gambar, Norman pun menuliskan perintah agar Kendrick menemukan keberadaan replika yang tersebar di seluruh dunia itu.
Norman masuk ke dalam kamar, senyuman menghiasi wajahnya saat melihat Freya yang masih juga tidur. Setelah menyimpan ponsel, Norman berlari ke ranjang lalu melompat ke atas tubuh Freya sehingga membuat Freya berteriak akibat terkejut dan karena berat tubuh Norman.
"Dasar pria gila, apa kau ingin membunuh aku?!" teriak Freya.
"Tidak, buktinya kau tidak mati!"
"Menyebalkan, menyingkir dari atas tubuhku!" usir Freya sambil mendorong tubuh Norman.
"Kau yakin? Aku tahu sesungguhnya kau lebih senang aku peluk tapi kau tidak mau mengakuinya."
"Aku tidak!" ucapan Freya terhenti karena Norman mencium bibirnya dan menyingkir dari atas tubuhnya.
"Hari ini, ke mana kita akan pergi?" tanya Norman.
"Tidak pergi ke mana-mana. Aku masih mengantuk dan ingin tidur!"
"Tidak mau pergi ke museum?"
"Tidak, aku mau tidur lagi sebentar lalu mencari tahu keberadaan replika mumi yang aku cari."
"Aku mau pergi minum kopi, apa tidak mau ikut?" tanya Norman lagi.
"Tidak mau, pergi sana!" usir Freya.
"Apa kau yakin?"
"Tidak mau," Norman beranjak turun dari atas ranjang, "Jika kau ingin maka belilah sendiri!" ucap Norman yang sudah melangkah pergi.
"Aku mau roti melon dan kopi hitam!" teriak Freya.
"Tidak ada, beli sendiri!" jawab Norman yang sudah keluar dari kamar.
"Dasar pelit!" Freya mengambil bantal dan memeluknya karena dia ingin kembali tidur tapi suara ponsel yang ditinggalkan oleh Norman mengganggu tidurnya.
Freya mengumpat, dia berusaha menutupi telinganya tapi suara ponsel Norman benar-benar mengganggu sehingga membuat Freya tidak bisa tidur lagi.
"Sebal, tidak orangnya saja yang mengganggu tapi ponselnya juga mengganggu!" gerutu Freya yang mau tidak mau beranjak dari ranjang untuk mengambil ponsel yang ditinggalkan oleh Norman. Freya mengambil benda itu setelah berada di tangan, nama Vanila tertera. Freya tidak berani menjawab sehingga dia meletakkan kembali ponsel Norman.
Freya pergi ke kamar mandi, mencuci wajahnya tapi lagi-lagi ponsel Norman berbunyi dan yang menghubunginya adalah orang yang sama. Freya tidak mau peduli namun nama Vanila membuatnya sangat penasaran sehingga membuat Freya memutuskan untuk menjawab panggilan dari Vanila. Freya diam, tidak berbicara karena dia ingin tahu.
"Ya ampun, kenapa baru jawab sekarang. Apa kau sedang marah denganku?" tanya Vanila yang mengira kakaknya sedang marah.
Freya jadi salah tingkah, tidak tahu harus menjawab apa. Dia kira wanita yang bernama Vanila itu akan menanyakan keberadaan Norman atau semacamnya tapi dia justru langsung memarahi Norman.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Vanila heran.
"Oh, hm. Maaf, Norman sedang pergi." ucap Freya.
"Siapa kau?" Vanila terdengar tidak senang tapi dia hanya pura-pura saja karena dia tidak menyangka ponsel kakaknya ada pada seorang wanita.
"A-Aku sahabatnya," jawab Freya.
"Sahabatnya, siapa?" tanya Vanila yang sangat ingin tahu.
"Aku Freya, maaf jika menjawab panggilan darimu. Norman sedang pergi, aku akan mengatakan padanya jika kau mencarinya saat dia kembali," ucap Freya.
Vanila tersenyum, sudah dia duga kakaknya memiliki hubungan dengan Freya. Meski kakaknya menyangkal, tapi dia sangat yakin apaladi dia sangat yakin kakaknya bersama dengan Freya saar ini.
"Baiklah, tolong katakan pada Norman jika aku mencarinya," pinta Vanila.
"Akan aku sampaikan!"
"Terima kasih," Vanila mengakhiri percakapan mereka. Meski dia sangat ingin tahu tapi dia tahu jika dia tidak boleh sembarangan bicara apalagi kakaknya sedang menyamar menjadi rakyat biasa. Bisa saja Freya tidak tahu identitas asli kakaknya oleh sebab itu dia tidak boleh asal bicara.
Freya meletakkan ponsel Norman lalu kembali ke atas ranjang. Dia ingin tidur tapi kedua matanya tidak bisa terpejam akibat rasa ingin tahu dan rasa penasaran yang muncul di hati. Siapa Vanila dan ada hubungan apa wanita itu dengan Norman?
Freya berusaha memejamkan mata tapi rasa penasaran memenuhi hatinya sehingga membuatnya tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Sial, ada apa dengannya? Dia dan Norman hanya rekan jadi untuk apa dia mempedulikan hal itu? Mau siapa pun wanita bernama Vanila itu seharusnya dia tidak mempedulikannya dan perasaan yang sedang dia rasakan saat ini seharusnya tidak ada.
Akibat rasa ingin tahu itu, Freya jadi uring-uringan sendiri. Freya mengganti bajunya, sebaiknya dia pergi dari pada pusing memikirkan ada hubungan apa antara Norman dan wanita bernama Vanila itu apalagi dia tidak mungkin bertanya. Freya sudah selesai mengganti bajunya saat Norman kembali dengan roti yang Freya inginkan juga segelas kopi.
"Mau ke mana? Bukankah kau berkata tidak mau pergi? Lagi pula aku sudah membelikan apa yang kau inginkan," ucap Norman.
"Tidak perlu, makan sendiri!" jawab Freya sinis.
"Hei, kenapa kau terlihat marah?" Norman benar-benar heran dengan sikap Freya.
"Tidak, jangan mencari aku. Aku mau pergi!" Freya mendengus dan melangkah menuju pintu. Norman sangat heran, Freya jelas-jelas sedang marah. Apa yang sebenarnya terjadi? Freya membanting pintu dengan keras. Sungguh wanita yang sulit dimengerti apalagi yang memiliki gengsi tinggi seperti Freya tapi dia jadi penasaran. Apa yang membuat Freya marah seperti itu?