
Lelah, Freya sangat lelah setelah kembali ke hotel. Dia berbaring di sofa dan tidak mau melakukan apa pun karena kedua kakinya sakit akibat berlari. Setelah melarikan diri dari renternir yang mengejar Norman, mereka pun harus lari dari kejaran penjaga museum. Beruntungnya tidak ada polisi yang mengejar karena memang yang dilakukan oleh Freya tidaklah begitu fatal.
Freya tertidur akibat lelah, Norman juga lelah dan tertidur seperti Freya. Mereka berdua butuh istirahat, setelah hari yang melelahkan tapi tidur mereka tidaklah lama akibat suara perut yang berbunyi. Bagaimanapun mereka belum makan siang akibat kepergok oleh Vanila dan Abraham ditambah mereka mengeluarkan banyak tenaga untuk berlari.
Suara perut Freya terdengar nyaring, Freya terbangun dan memegangi perutnya. Jujur saja dia malas untuk bangun tapi dia harus mengisi perutnya terlebih dahulu.
"Norman, lapar!" Freya menggoyang kaki Norman yang tidak jauh darinya.
"Pergi masak sendiri!" ucap Norman, dia pun malas beranjak.
"Masak di mana? Cepat bangun dan belikan aku makanan!" pinta Freya yang masih menggoyang kaki Norman.
"Aku sedang lelah, pergilah beli sendiri!"
"Pergi belikan!" kini kaki Freya menendangi Norman agar pria itu membelikan makanan untuknya.
"Jangan menendang aku seperti itu, singkirkan kakimu!"
"Jika begitu cepat belikan!" pinta Freya.
"Dasar kau tukang memerintah!" mau tidak mau, Norman pun beranjak karena dia juga lapar.
"Tidak ada udang, tidak ada tiram karena aku akan memesan pizza agar cepat!" ucap Norman.
"Apa saja, aku sudah sangat lapar!"
"Baiklah, kau benar-benar tukang memerintah!" Norman mengambil ponselnya untuk memesan pizza. Freya kembali tidur, dia tidak peduli Norman mau pesan pizza apa karena dia akan makan apa pun apalagi dia sudah sangat lapar. Tidak butuh lama, Norman sudah selesai memesan dua loyang pizza untuk mereka.
Norman merangkak naik ke atas tubuh Freya. Tangannya sudah berada di dahi Freya lalu sebuah kecupan mendarat di dahi Freya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Norman.
"Jangan ganggu, Norman. Aku lelah!"
"Pergilah mandi terlebih dahulu lalu makan dan setelah itu aku akan memijitkan kakimu!"
"Tidak perlu, bukankah kau juga lelah? Sebaiknya kita tidur saja," Freya membuka kedua matanya yang berat. Norman tersenyum, wajah lelah Freya kembali diusap dengan pelan.
"Tidak apa-apa, akan aku pijitkan. Jika tidak memiliki tenaga maka aku akan menggendongmu ke kamar mandi!"
"Ya sudah, gendong!" pinta Freya yang sudah mengulurkan kedua tangannya.
"Ck, padahal aku hanya bercanda saja!"
"Tidak ada kata bercanda, cepat gendong!" pinta Freya.
"Baiklah, baik!" Norman menggendongnya, menuju kamar mandi. Mereka berdua berendam bersama, Freya bahkan kembali tertidur di dada Norman. Meski Norman memainkan air dengan membasahi bahu Freya tapi freya tidak terganggu sama sekali.
Mereka berada di kamar mandi selama setengah jam. Meski tidak begitu lama tapi itu sudah cukup bagi mereka. Pizza pun sudah diantar saat mereka berdua sudah memakai pakaian. Freya makan dengan lahap akibat lapar luar biasa yang dia rasakan. Dalam hitungan menit saja tiga potong pizza sudah dia habiskan. Akhirnya tenaganya terisi kembali sehingga dia merasa lebih baik dari pada sebelumnya.
"Apa sekarang sudah bisa lari lagi?" goda Norman.
"Tidak, aku tidak mau lagi. Selama beberapa hari aku tidak mau lari dari apa pun lagi!"
"Lalu, apa yang mau kau lakukan? Apa kau ingin di hotel saja?"
"Tidak, aku ingin memeriksa gambar-gambar yang aku dapatkan. Jika aku sudah mendapatkan petunjuk maka aku akan mengunjungi museum lainnya!"
"Baiklah, kemari!" Norman meminta Freya untuk berbaring di atas ranjang karena dia akan memijat kaki Freya.
Freya menurut saja, dia sudah berada di ranjang dan Norman sibuk memijatkan kakinya yang terasa pegal. Tatapan mata Freya tidak berpaling dari Norman, pria itu sedang serius tapi pada akhirnya dia menyadari tatapan mata Freya yang tidak juga berpaling.
"Kenapa memandangi aku seperti itu? Apa aku begitu tampan sehingga kau tidak bisa berpaling? Jangan katakan kau mulai jadi hati padaku?"
"Sembarangan, siapa yang sudah jatuh hati padamu?" Freya berpaling dengan ekspresi wajah kesal.
"Apa benar? Apa tidak ada sedikit pun perasaan untukku dalam hatimu?" Norman merangkak mendekat, dia hanya ingin menggoda Freya saja.
"Tidak ada, jangan asal bicara. Kita hanya rekan, rekan!" Freya mempertegas perkataannya agar Norman tidak salah mengartikan.
"Yeah, rekan dalam semua hal!" Norman memberikan kecupan di bibir Freya.
"Mau apa kau?" tanya Freya.
"Tentu saja, kau tahu!" Norman kembali mencium bibir Freya dan membaringkannya dengan perlahan.
Kedua tangan Freya sudah melingkar di tubuh Norman, mereka berdua sibuk berciuman dengan penuh naf*su. Tangan Norman sudah bergerak bebas, melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Freya satu persatu. Freya pun sibuk melepaskan pakaian yang Norman kenakan, otot-otot dada Norman menjadi sasaran empuk bagi tangannya saat Norman tak juga henti mencium bibirnya. Dia juga ingin menyentuhnya, menyentuh otot tubuh pria itu.
"Norman," Freya memanggil Norman saat pria itu sibuk menyentuh bagian tubuhnya.
"Yes, call my name, Freya," Norman tak henti mencium wajah juga tubuh Freya.
Rasa lelah sudah tidak mereka rasakan lagi, mereka berdua justru tenggelam dalam hasrat yang menggulung-gulung. Apa yang pernah mereka lakukan, mereka ulangi lagi malam itu setelah mereka berlelah ria dengan berlari sana sini tapi kini mereka bisa menikmati malam mereka yang bergairah.
Tatapan mata Freya tak lepas dari wajah tampan Norman saat pria itu bergerak di atasnya. Pria itu berkeringat, menggerakkan tubuhnya dan mengeluarkan kekuatan yang dia miliki. Freya mengangkat tangan, untuk mengusap wajah Norman. Norman tersenyum, tangan Freya di genggam lalu sebuah ciuman mendarat di atas telapak tangannya
Suara erangan, ranjang yang berderit dan suara tepukan tubuh mereka memenuhi kamar di saat Norman menggerakkan tubuhnya dengan cepat dan mendorong miliknya untuk semakin ke dalam. Mereka sudah berubah posisi, Norman berada di belakang Freya saat itu.
Di sela rasa nikmat yang Norman berikan, sebuah pikiran gila Freya dapatkan. Bagaimana jika dia mengandung anak Norman? Bukankah dengan demikian dia tidak memutuskan keturunan ayahnya jika dia melakukannya? Mungkin sebelum dia mendekam di penjara dia sudah mendapatkan seorang anak yang cerdas yang akan meneruskan dirinya menjadi arkeolog tapi apa Norman mau mendapatkan bibit dari pencuri seperti dirinya? Sepertinya itu hanya ide gila yang terbersit akibat percintaan panas mereka. Lagi pula dia tahu jika mereka tidak saja partner dalam melakukan kejahatan tapi mereka partner di atas ranjang dan apa yang mereka lakukan saat ini tidak melibatkan perasaan sama sekali. Mereka sama-sama menikmati cinta sesaat yang akan berakhir saat misinya telah berakhir pula.
Norman mengusap dahi Freya yang berkeringat serta merapikan rambutnya yang berantakan. Freya berbaring dan mengatur napas karena mereka sudah selesai. Norman pun berbaring di sisinya, mereka berdua saling pandang tanpa berbicara karena mereka ingin istirahat sebentar.
"Apa kau tidak memakai pengaman?" tanya Freya karena dia merasa Norman tidak menggunakan pengaman.
"Tidak, tapi kita bisa mencegahnya menggunakan pil," jawab Norman. Dia memang enggan menggunakan karet karena rasanya berbeda.
Freya mengangguk, dia pun enggan mengatakan ide gilanya karena sudah jelas setelah ini mereka akan menjadi orang asing. Norman mengajak Freya untuk membersihkan tubuh sebentar dan setelah itu mereka berdua terlelap akibat kantuk dan lelah luar biasa setelah menjelani hari yang sangat melelahkan.