Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Kita Adalah Rekan



Kabar kegagalan anak buah yang diutus untuk menangkap Freya dan Norman sudah didengar oleh pemimpin Dark Dragon. Pria tua yang dipenuhi oleh tato itu sesungguhnya sudah memilih pensiun namun dia harus kembali ke organisasi karena putranya harus mati di pasar gelap.


Pria bernama Trung Hoang itu sangat murka, padahal dia sudah mendapatkan kabar jika para anak buahnya sudah mendapatkan orang yang membunuh putranya tapi kenapa dia justru harus mendengarkan sebuah kegagalan pada akhirnya?


"Apa yang kalian lakukan di sana?" teriaknya pada sang seorang anak buah yang tidak mati dan baru sadar. Anak buahnya itu pun langsung memberi laporan.


"Kami sudah mendapatkan yang wanita tapi yang pria justru menolongnya dan mempermainkan kami sehingga beberapa dari kami. Sekarang yang baru sadar hanya aku dan aku rasa yang lain mati atau sekarat!"


"Kalian bodoh, seharusnya kalian lebih waspada tapi yang kalian lakukan justru bermain-main saja. Aku tidak mau mendengar apa pun, yang aku inginkan hanya keberhasilan jadi jangan kembali sebelum kalian mendapatkan kedua orang yang telah membunuh putraku. Aku akan mengutus beberapa orang lagi untuk membantu kalian dan kali ini, tidak boleh ada kata gagal!"


"Baik, kali ini kami tidak akan gagal."


"Aku harap tidak!" Truong Hoang mengakhiri pembicaraan dengan amarah tertahan. Hanya menghadapi dua orang saja, anak buahnya benar-benar tidak becus. Biasanya satu kali gagal maka keberhasilan tidak akan mudah didapatkan lagi. Anak buahnya sungguh bodoh melewatkan kesempatan karena musuh yang sudah gagal ditangkap, tidak akan mudah tertangkap untuk kedua kali.


Yang diperkirakan oleh Truong Hoang memang sangatlah benar, musuh yang sudah hampir tertangkap namun gagal tidak akan mudah tertangkap lagi. Norman yang sedang membawa mobil musuh untuk membawa Freya pulang sudah mengambil sebuah keputusan. Dia sudah memutuskan untuk menggunakan sedikit kekuasaannya padahal sejujurnya selama dia menyamar menjadi rakyat biasa dia tidak mau menggunakan kekuasaannya sama sekali tapi sekarang, dia harus melakukannya demi keselamatan dirinya dan Freya.


Norman membawa Freya pulang dan begitu tiba, Norman menggendong Freya yang masih pingsan masuk ke dalam rumah.


"Cristina!" Norman memanggil pelayan Freya karena Cristina yang harus membuka pakaian Freya yang basah.


"Cristina!" dia kembali memanggil tapi tidak ada jawaban sama sekali.


Freya dibawa masuk ke dalam kamar, ke mana Cristina? Dia keluar untuk mencari tapi Cristina tidak ada. Sepertinya mau tidak mau dia yang harus melakukannya karena berbahaya bagi Freya jika dia mengenakan bajunya yang basah terlalu lama. Tanpa ragu, Norman mulai melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Freya. Dari bagian atas sehingga menyisakan pakaian dalam saja.


Ini yang paling sulit yang harus dia lakukan. Norman menelan ludah dengan susah payah, semoga saja Freya tidak sadar saat dia membuka bagian paling pribadi. Ini bukan pertama kali dia melihat tubuh wanita tapi entah kenapa tangannya justru gemetar.


"Bodoh, lepaskan lalu pergi!" ucapnya pada diri sendiri.


Seperti tidak pernah melihat tubuh wanita saja, Norman berpaling dan menutup mata. Dia berdoa dalam hati semoga Freya tidak sadar tapi sayangnya, Freya membuka kedua mata dengan perlahan. Kepalanya sedikit sakit karena obat bius. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi tapi tangan yang meraba bagian tubuhnya membuatnya tidak nyaman.


Norman hendak membuka kait bra yang ada di bagian belakang. Jangan sampai kedua dada Freya yang kempes jadi membesar akibat terlalu lama terbungkus dengan penutup dadanya yang basah karena dia khawatir air bisa membuatnya membengkak.


Pengait sudah terbuka, Norman menariknya hingga terlepas. Freya terkejut, kini kesadarannya benar-benar sudah kembali apalagi tangan Norman sudah turun ke bawah dan menarik pakaian terakhir yang dia kenakan ke bawah. Kedua mata Freya melotot, pria mesum kurang ajar.


"Kurang ajar kau!" teriak Freya. Norman membuka mata dan berpaling namun pada saat itu, kepalan tinju Freya sudah menghantam wajahnya.


"Pria mesum kurang ajar, apa yang hendak kau lakukan padaku?" teriak Freya. Kini kedua kakinya menendang sehingga membuat Norman jatuh ke bawah.


"Berhenti menendangku!" teriak Norman tidak terima.


"Kenapa kau membuka bajuku? Mesum!" teriak Freya tidak terima.


"Aku membantumu agar bagian tertentu dari tubuhmu tidak membengkak akibat baju yang basah!"


"Sembarangan bicara tapi tunggu!" Freya duduk di atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Aku menceburkan diri ke dalam laut setelah mereka menembak aku dengan senjata bius, apa kau datang menolong aku?" tanya Freya.


"Sial, situasi semakin tidak aman saja. Sekarang kita tidak bisa bergerak sembarangan lagi dan tidak bisa bebas bepergian karena tidak saja diincar oleh polisi tapi kita juga dikejar oleh Dark Dragon," mereka memang harus berhati-hati karena dia yakin organisasi Dark Dragon tidak mungkin diam saja setelah kejadian tadi pagi.


"Tidak perlu khawatir," Norman duduk di sisi ranjang, sedangkan Freya beringsut mundur.


"Apa maksudmu tidak perlu khawatir? Apa kau tidak tahu? Kita tidak saja buronan polisi tapi kita juga buronan organisasi Dark Dragon!" ucap Freya.


"Aku tahu, aku sudah terlibat denganmu jadi aku sudah tahu. Mulai sekarang jangan keluar rumah sembarangan, sudah tidak aman. Masalah Dark Dragon harus segera kita selesaikan jika tidak kita akan sulit bergerak."


"Punya ide bagus?" tanya Freya.


"Mau mempercayai aku atau tidak?"


"Tentu saja aku mau, kita adalah rekan jadi kita harus saling percaya satu sama lain, bukan?"


"CK, mulutmu manis jika ada maunya!"


"Percayalah, jika aku celaka maka kau juga akan celaka!"


"Tidak perlu mengancam, jika kau percaya padaku maka aku tidak akan mengecewakan dirimu!"


"Baiklah, baik. Aku akan percaya denganmu dan terima kasih sudah menolong aku," ucap Freya, Jika tidak ada Norman, mungkin dia sudah berada di Vietnam dan dia tahu tidak akan berakhir baik.


"Sudahlah, aku sudah berjanji akan membantu jadi aku akan membantu tapi kau harus tahu jika orang-orang itu tidak akan berhenti. Mereka akan semakin murka oleh sebab itu kita harus membuat perhitungan yang matang jika memang tidak mau tertangkap lagi."


"Aku tahu maksudmu, terima kasih," ucap Freya, senyum manis terukir di wajah dan ini kali pertama dia menunjukkan senyuman semanis itu.


"Hm, segera pakai bajumu. Jangan sampai area yang kempes itu jadi bengkak gara-gara air."


"Kau benar," ucap Freya mengiyakan namun dia sadar akan kebodohannya mengakui jika miliknya kempes, "Kurang ajar, punyaku tidak kempes!" teriaknya tidak terima.


"Kau sudah mengakuinya, Freya," Norman beranjak, dan melangkah menuju pintu.


"Aku tidak mengakui!" Freya kembali berteriak tapi dia mengintip dadanya dari balik selimut. Beruntungnya masih kempes.


"Akui saja, jika kau mau aku bisa membantumu membesarkannya," goda Norman.


"Ca-Caranya?" tanya Freya.


"Sumpal kain yang banyak!"


"Sialan kau!" teriak Freya seraya melempar bantal. Norman keluar dari kamar sambil terkekeh, pengalaman yang sangat bagus tapi mereka tidak boleh terlalu lama bermain dengan organisasi Dark Dragon karena dia merasa, musuh yang sesungguhnya yang harus mereka hadapi bukanlah organisasi itu dan apa yang dia tebak sangatlah benar karena musuh yang sesungguhnya adalah orang yang menculik ayah Freya.


Mereka adalah kelompok yang sangat berbahaya dan yang sedang mencari batu berharga yang disembunyikan oleh ayah Freya bahkan sampai sekarang, Freya pun masih belum bisa memecahkan teka teki yang ayahnya berikan untuk menemukan keberadaan batu berharga tersebut.