
Suara letusan senjata api terdengar memecah keheningan malam di sebuah hutan. Para polisi berpencar untuk menangkap target yang mereka kejar tentunya yang mereka kejar adalah Freya karena dia sudah menjadi buronan saat ini.
Freya yang memanipulasi kematiannya saat jatuh ke sungai agar Norman tidak mencarinya lagi memutuskan kembali ke New York karena dia berniat pergi yang jauh untuk menyembunyikan diri dari Norman. Alat pelacak sengaja dia lepaskan lalu dia buang ke tengah sungai agar Norman mengira dia tidak selamat lagi akibat arus sungai yang sangat deras.
Freya memang terseret arus tapi sebatang ranting kayu yang tumbang ke sisi sungai menyelamatkan dirinya. Dia merasa sudah tidak perlu berada di sana lagi karena ayahnya sudah tiada, Cristina pun sudah selamat dan yang paling penting, batu berbahaya sudah berada di tangan yang tepat karena dia mempercayai Norman.
Freya menjauh dari Norman juga bukan tanpa alasan, Norman adalah seorang raja dan dia adalah seorang pencuri bahkan dia adalah buronan. Mereka berdua bagaikan air dan minyak yang tidak mungkin bersatu. Lagi pula sejak awal, mereka tidak melibatkan perasaan dan dia pun tahu tidak ada perasaan cinta di antara mereka meski sudah ada sesuatu yang paling berharga di dalam dirinya.
Itu sebabnya Freya diam, tidak mengatakan kehamilannya yang seharusnya tidak boleh terjadi tapi entah karena apa, dia tidak melakukan pencegahan sama sekali. Freya tidak mengkonsumsi pil kontrasepsi, dia pun tidak melakukan upaya pencegahan yang lainnya karena dia memang menginginkannya. Saat itu dia belum tahu jika Norman adalah seorang raja, saat itu yang Freya tahu jika Norman adalah buronan dan sekarang, dia sedang mengandung anak seorang raja dan dia tidak mau Norman mengambil anak yang akan dia lahirkan oleh sebab itu menyembunyikan kehamilannya dan memanipulasi kematiannya adalah keputusan yang paling tepat karena dengan begitu, Norman tidak akan pernah mencari dirinya.
Freya yang memutuskan kembali Ke New York secara diam-diam tidak menduga jika dia sudah ditunggu oleh para polisi yang mencarinya selama ini oleh sebab itu dia hanya bisa lari agar tidak tertangkap. Memang sejak awal dia berniat menyerahkan diri pada pihak berwajib tapi kini, setelah dia memiliki sesuatu yang berharga di dalam dirinya, Freya memutuskan untuk tidak tertangkap. Dia harus bisa melarikan diri dari para polisi yang terus mengejarnya.
Freya berlari menyelusuri hutan yang lebat, entah sudah berapa lama dia berlari, dia tidak peduli. Suara letusan senjata api kembali terdengar, serta teriakan para polisi yang mengejarnya pun terdengar.
"Kejar, jangan sampai buronan lolos!" teriakan itu terdengar di susul dengan letusan senjata api. Hutan sudah terkepung, dua helikopter terbang di atas untuk menyinari Freya menggunakan lampu sorot agar para polisi yang ada di bawah dapat melihat keberadaan buronan.
Freya terus berlari melewati pepohonan besar sambil memegangi bagian bawah perutnya yang terasa nyeri. Dia harap janinnya baik-baik saja karena dia harus terus melarikan diri dari para polisi yang tidak melepaskan dirinya. Entah bagaimana caranya dia bisa lolos yang pasti dia harus berusaha dan jika memang dia harus berakhir di penjara, dia hanya bisa pasrah.
"Bertahanlah, Sweetheart, bertahanlah!" pinta Freya pada janinnya, dia mulai mencari tempat untuk bersembunyi. Dia tidak mengharapkan apa pun selain bisa keluar dari hutan itu lalu melarikan diri yang jauh dan mengubah identitas dirinya agar tidak ditemukan oleh siapa pun apalagi pihak berwajib.
Dia mencuri banyak barang, meski benda yang dia curi adalah barang-barang milik ayahnya tapi apa yang dia lakukan tetap saja sebuah tindakan jahat di mata hukum dan sekarang dia harus menerima akibatnya karena tidak saja mencuri, dia pun dinyatakan sebagai pembunuh yang telah membunuh banyak orang saat dia sedang beraksi.
Meski begitu dia tidak menyesali apa yang telah dia lakukan karena sampai akhir, sebelum ayahnya mati terbunuh, dia tidak membuat ayahnya kecewa sama sekali. Dia tahu Cristina tahu apa yang harus dia lakukan pada barang-barang milik ayahnya dan mungkin saja Norman akan membantu Cristina namun entah kenapa dia berharap Norman dapat menjaga Cristina dengan baik.
"Freya Walner, menyerahlah. Serahkan dirimu baik-baik maka hukuman yang akan kau dapatkan akan sedikit ringan!" pinta salah seorang polisi yang sedang mengejarnya.
Freya bersembunyi di sebuah lubang yang dia temukan sambil memegangi perutnya, dia butuh istirahat, sebentar saja agar rasa sakit di perutnya berkurang.
"Keluarlah, Freya Walner!"
Freya menunduk dan melihat ke bagian perutnya, senyuman tipis menghiasi wajahnya. Dia bukan tidak mau, tapi penjara bukan tempat yang bagus untuk wanita hamil seperti dirinya. Pertemuannya dengan Norman benar-benar merubah rencananya tapi dia tidak menyesal sama sekali.
Freya menangis namun tidak bersuara. Jangan sampai para polisi itu mengetahui keberadaannya dan dia pun harus waspada karena lubang yang dia masuki bisa saja sarang seekor beruang. Para polisi yang bertugas berpencar mencari keberadaan dirinya. Mereka justru kehilangan jejak padahal mereka tak melepaskan pandangan mereka dari buronan. Sungguh buronan yang licin.
"Berpencar, cari di bagian sana!" para polisi itu tidak jauh dari Freya.
Freya menutup mulut dengan rapat, semoga tidak ada yang tahu keberadaannya. Karena gua yang begitu gelap, Freya hanya bisa terus beringsut masuk ke dalam gua yang basah dan lembab. Bau tak sedap tercium, seperti bau bangkai binatang. Sebaiknya dia berhati-hati karena dia yakin ada beruang di gua itu.
"Ada gua di sini!" teriak salah seorang polisi yang menemukan keberadaan gua di mana Freya bersembunyi.
Freya terkejut, mulut kembali ditutup dengan rapat. Degup jantung dapat dia dengar, dia sangat berharap sebuah keajaiban dapat menyelamatkan dirinya. Lampu sorot dari dua helikopter yang ada di atas menyinari lubang gua tersebut. Beberapa polisi sudah berdiri di depan gua dengan senjata api juga senter untuk menerangi gua tersebut.
Freya semakin ketakutan, jantungnya berdegup semakin kencang apalagi sinar senter dari polisi sudah menerangi gua. Beberapa dari polisi itu masuk ke dalam, mereka bergerak dengan hati-hati untuk mencari buronan. Freya semakin memundurkan tubuhnya sampai dia tidak memiliki ruang gerak lagi. Dalam hati hanya bisa berdoa, dia butuh sebuah keajaiban dan benar saja, keajaiban untuknya datang karena beruang yang tinggal di dalam gua itu sangat marah karena para polisi itu mengganggu tidurnya.
Polisi yang ada di dalam gua berlari keluar untuk menghindari beruang yang sedang marah, yang ada di luar pun berlari menjauh. Lampu sorot menyinari beruang hitam yang berukuran cukup besar, beruang itu begitu marah karena sudah di ganggu.
"Mundur, target tidak ada di dalam!" perintah itu diberikan karena mereka menebak jika Freya tidak ada di dalam gua itu.
Para petugas memilih mundur, beruang yang sedang marah pun kembali masuk ke dalam sarangnya. Freya bernapas lega, dia benar-benar masih diberikan keberuntungan. Senyuman tipis menghiasi wajahnya, tangan Freya sedang mengusap perutnya. Dia pasti bisa lolos karena para polisi itu sudah pergi untuk mencarinya di tempat lain.
Freya tidak keluar dari gua tersebut sampai pagi, dia bahkan tertidur di atas tanah yang basah akibat lelah. Sinar matahari tidak bisa masuk ke dalam gua itu oleh sebab itu Freya merangkak dengan hati-hati untuk keluar dari gua. Semuanya aman, beruang besar hitam penghuni gua pun sudah pergi untuk mencari makan dan para polisi tidak ada lagi di tempat itu.
Tangan Freya kembali berada di perutnya, kini dia tersenyum lebar karena dia sudah melewati malam yang melelahkan dalam keadaan baik-baik saja.
"Come on, Baby. Sekarang kita akan pergi yang jauh, di mana tidak ada yang mengenali kita," ucapnya.
Sudah diputuskan oleh sebab itu dia melangkah pergi. Freya memutuskan pergi dan tidak mencari Norman karena dia adalah buronan dan Norman adalah raja. Dia orang yang cukup tahu diri karena sejak awal dia dan Norman hanya bersenang-senang saja.
End
Eh, iya gak ya...🤭