Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Sepakat Untuk Berpisah



Lokasi baru akan keberadaan artefak milik ayahnya sudah kembali didapatkan. Tentunya Freya sangat senang karena lagi-lagi dia bisa mendapatkan artefak yang tercuri. Semakin cepat dia mengumpulkan artefak yang hilang, semakin cepat tugasnya selesai.


Artefak yang dia rebut dari pelelangan dikeluarkan, Freya melihat benda itu sejenak. Semua itu adalah peninggalan yang paling bersejarah. Dia ingin ayahnya diingat oleh seluruh dunia sebagai orang yang menemukan semua artefak itu oleh sebab itulah dia harus mendapatkan semua milik ayahnya yang dicuri.


Ruang rahasia dibuka, artefak yang ada di tangan diletakkan bersama dengan artefak lainnya. Freya tampak puas, perlahan tapi pasti dia bisa mendapatkan barang-barang berharga itu dan sebentar lagi dia akan mendapatkan yang lainnya. Setelah mendapatkannya, Freya keluar dari ruangan rahasia tapi dia terkejut ketika mendapati Norman berada di dalam kamarnya.


"Ck, untuk apa kau di sini?" tanya Freya dengan nada tidak senang.


"Tentu saja membantu dirimu menemukan keberadaan artefak yang kau cari!" Norman melangkah mendekati Freya yang sedang menutup pintu ruangan rahasia dan menguncinya lagi dengan kode rumit yang tidak akan mudah dipecahkan.


"Sudah tidak perlu!" ucap Freya.


"Apa kau sudah mendapatkannya?" Norman memeluknya dari belakang dan mencium leher Freya.


"Tentu saja sudah tapi singkirkan bibir mesummu dariku!" Freya berusaha mendorong wajah Norman.


"Kau juga menyukainya, jadi jangan sok jual mahal!"


"Hei, waktunya serius," ucap Freya namun dia sudah bersandar dengan nyaman di dada Norman.


"Jadi, di mana lokasi selanjutnya yang harus kita kunjungi?" tanya Norman.


"Kau sepertinya lebih bersemangat dari pada aku, Norman."


"Tentu saja, aku sudah tidak sabar melakukan petualangan baru lagi denganmu!"


"Baiklah, artefak itu ada di Los Angles. Tidak terlalu jauh sehingga tidak perlu menelan banyak biaya."


"Kapan kita akan pergi? Apa kita akan mencuri di museum, atau mencurinya lagi di tempat pelelangan?" tanya Norman.


"Tidak, bukan di kedua tempat itu. Artefak milik ayahku baru saja dibeli oleh seorang pengusaha yang gemar mengoleksi barang antik," ucap Freya.


"Apa kau tidak mendapatkan informasi dari mana pengusaha itu membeli artefak milik ayahmu?" tanya Norman.


"Apa maksud perkataanmu, Norman?" Freya melangkah pergi mendekati komputernya yang masih menyala.


"Maksudku, bukankah lebih baik kita mencari tahu sumbernya secara langsung agar kita tidak membuang banyak waktu? Berapa banyak lagi artefak yang harus kau temukan? Jika kita mencarinya satu persatu, kita akan menghabiskan banyak waktu hanya untuk mendapatkan artefak milik ayahmu. Lebih cepat kita menemukan sumbernya, dengan begitu kita bisa menemukan keberadaan ayahmu. Kita berpacu dengan waktu, Freya. Oleh sebab itu kita harus bertindak dengan cepat."


"Kau benar, tapi bagaimana kita mencari sumbernya? Apa kita harus menangkap pengusaha itu lalu menginterogasinya?"


"Hal itu bisa kita lakukan tapi kita harus tahu siapa pengusaha yang membeli artefak itu dan sesungguhnya kita harus mencurigai banyak hal serta mewaspadai banyak hal, Freya."


"Maksudmu?" Freya duduk di sisi ranjang, tatapan mata tidak berpaling dari Norman.


"Jadi maksudmu, keberadaan artefak di Los Angles hanya tipuan belaka?" tanya Freya.


"Tidak pasti, bisa saja itu hanya tipuan dan bisa saja itu hanya jebakan. Kita harus mengambil banyak kesimpulan atas apa yang kita lakukan. Pertama, kita bukan mengambil benda itu dari orang bodoh. Semua pemilik artefak pasti sudah mendengar berita akan aksi kita dan aku yakin mereka pasti mulai waspada. Mereka tidak mungkin mengumbar barang berharga mereka begitu saja jika tidak ada sebuah tujuan. Bisa saja itu jebakan untuk memancing kita terlepas artefak itu ada atau tidak!"


"Baiklah, yang kau katakan sangat benar tapi aku tetap harus pergi untuk memastikannya apakah benda itu ada atau tidak!"


"Tidak, Freya. Bukankah itu sangat berbahaya?" Norman melangkah mendekat dan duduk di sisi Freya.


"Berbahaya atau tidak, aku harus pergi memeriksanya. Lagi pula sejak awal aku tahu apa yang aku lakukan sangatlah berbahaya jadi aku akan pergi memeriksanya. Meski itu adalah jebakan, bisa saja jebakan itu membawa pada ayahku dan mungkin saja jebakan itu membawa aku pada batu yang aku cari."


"Jika begitu, kita pergi bersama tapi kita harus berhati-hati dan bergerak bersama agar tidak ada satu pun yang tertangkap di antara kita!"


"Baiklah, kita buat rencana nanti. Aku juga harus mencari tahu siapa sebenarnya pemilik artefak itu."


"Ayo kita cari bersama!" ucap Norman tapi tangannya sudah berada di wajah Freya dan tatapan matanya tidak lepas dari wajah wanita itu.


"Kenapa kau memandangi aku seperti itu? Jangan katakan jika kau sudah jatuh cinta padaku!" ucap Freya.


"Jangan terlalu percaya diri!" Norman menyentil dahi Freya dengan cepat sebanyak dua kali.


"Jangan menyentuh dahiku!" Freya memegangi dahinya dan tampak cemberut.


"Baiklah, kemari. Aku ingin memelukmu sebentar!" Norman menarik Freya mendekat dan memeluknya. Freya tersenyum tipis saat tangan Norman tak henti mengusap kepalanya dengan perlahan.


"Apa kau pernah memikirkan hal ini sebelumnya, Freya?" tanya Norman.


"Memikirkan apa?" Freya menatap Norman sejenak namun dia kembali menyandarkan kepalanya.


"Mari kita berbaring sambil berbicara!" Norman mengajak Freya untuk berbaring. Mereka saling berhadapan dan saling menatap. Freya tak berpaling apalagi tangan Norman sedang mengusap wajahnya dengan perlahan.


"Aku memikirkan hal ini, Freya. Apa yang akan terjadi pada kita setelah kau menemukan ayahmu? Apa kita tidak akan menjadi rekan lagi?" tanya Norman.


"Seharusnya kau sudah tahu jawabannya, Norman. Kita partner sejak awal, kita tidak boleh melibatkan perasaan meski kita sudah tidur bersama dan terlihat mesra tapi kita tidak boleh melibatkan perasaan. Aku sudah berjanji akan membersihkan namamu setelah selesai maka aku akan melakukannya dan setelah semua selesai, kita akan berpisah. Aku rasa kau tidak mau terlibat terlalu lama dengan kriminal seperti aku ini."


"Kau benar," ucap Norman walau sesungguhnya dia tidak suka dengan apa yang Freya ucapkan. Ternyata bagi Freya dia benar-benar partnernya saja. Beruntungnya dia bertanya sehingga dia tahu apa yang harus dia lakukan setelah semua selesai.


"Kenapa kau bertanya demikian padahal kau sudah tahu jawabannya? Jangan katakan kau sudah memiliki sedikit perasaan padaku!"


"Ck, sudah aku katakan jangan terlalu percaya diri karena aku tidak mungkin jatuh cinta padamu jadi pada saatnya sudah tiba nanti, kita akan berpisah seperti yang kita inginkan sejak awal!" setelah berkata demikian, Norman mencium bibir Freya karena dia tidak mau mendengar apa yang Freya katakan.


Freya tidak menolak meski Norman berkata tidak akan jatuh cinta padanya. Memang itu yang seharusnya terjadi tapi kenapa perasaannya terasa menyesakkan dada? Mereka berdua diam saling berpelukan, namun mereka berdua sama-sama memendam perasaan yang tak menentu. Begitu memang lebih baik, meski terasa berat tapi sekarang mereka sudah tahu jika mereka akan berpisah dan melalui pembicaraan mereka, secara tidak langsung mereka sudah sepakat untuk berpisah.