
Keadaan Norman semakin aneh, dia benar-benar tidak bisa dekat dengan wanita mata pun. Alergi yang dia alami semakin parah, tidak ada obat yang bisa menyembuhkan dirinya meskipun sudah banyak dokter yang digunakan. Kabar itu tentu saja sudah di dengar oleh Vanila, mendengar keadaan kakaknya yang mendadak aneh membuat Vanila memutuskan untuk kembali ke istana bersama dengan suaminya.
Vanila curiga dengan apa yang sedang dialami oleh kakaknya. Sejak awal dia memang sudah curiga, keadaan Freya yang waktu itu kakaknya katakan serta keadaan kakaknya yang mendadak mengalami alergi apalagi setelah mendengar apa yang pernah dialami oleh suaminya dulu ketika mereka berpisah membuat Vanila mengambil sebuah kesimpulan.
Tentunya Vanila semakin penasaran dan ingin berbicara secara langsung pada kakaknya namun pintu kamar Norman tertutup rapat dan tidak boleh dimasuki oleh sembarangan orang. Ibu mereka berdua tampak khawatir, pernikahan Norman dan Betrix sudah dibatalkan karena mereka tidak tahu sampai kapan keadaan Norman akan seperti itu.
"Bagaimana dengan keadaan kak Norman?" tanya Vanila pada ibunya.
"Entahlah, aku tidak bisa berbicara dengannya secara leluasa karena aku tidak bisa mendekatinya," jawab ibunya.
"Lalu bagaimana dengan Daddy?"
"Hng, mereka berdua sama-sama keras jadi hanya ada pertengkaran saja setiap ayahmu berbicara dengannya!"
"Ck, sepertinya tidak ada pilihan!" Vanila melihat ke arah suaminya yang sedang menggendong putri mereka berdua.
"Hei, kenapa kau melihat aku seperti itu?" tanya Abraham. Firasat buruk, sepertinya ada maksud tertentu dia diajak untuk datang.
"Ayolah, hanya kau saja yang bisa berbicara dengannya."
"Kenapa tidak gunakan telepon saja, kau tidak perlu dekat-dekat dengannya dan kau pun bisa berbicara dengannya."
"Aku tahu, tapi aku ingin melihat keadaannya!"
"Ck, menyebalkan. Aku akan melihatnya sebentar tapi setelah ini kau harus berbicara dengannya melalui telepon. Tidak mungkin dia akan alergi padamu!" ucap Abraham.
"Jangan banyak protes, pergi lihat keadaannya dan ajak dia bicara sebentar!" perintah Vanila.
"Cerewet!" Abraham memberikan Ana pada istrinya, mau tidak mau dia harus pergi melihat keadaan Norman.
"Ingat, bicaralah dengan kepala dingin!" ucap Vanila.
"Aku tahu!" Abraham melangkah menuju kamar Norman, sepertinya kakak iparnya mengalami hal yang lebih parah dari pada yang dia alami dulu. Itu jika benar kecurigaan istrinya benar. Abraham mengetuk pintu kamar Norman, suara kakak iparnya terdengar dari dalam yang memintanya untuk masuk.
Abraham menggeleng melihat keadaan Norman yang kacau, ini kali pertama dia melihat keadaan Norman seperti itu meski dia tidak tahu seperti apa keadaan Norman saat kehilangan Emely tapi dia yakin Norman tidak akan terlihat kacau seperti itu. Janggut di wajahnya sudah tumbuh begitu panjang karena tidak dicukur lagi.
"Kau rupanya, kapan kau datang?" tanya Norman. Meski dia mengurung diri di dalam kamar tapi dia tetap melakukan pekerjaannya.
"Aku tidak menduga akan melihat keadaanmu yang seperti ini!" Abraham melangkah mendekat, sedangkan Vanila mencoba mengintip dari balik pintu.
"Ada apa denganku?" tanya Norman pura-pura tidak mengerti.
"Lihat dirimu? Ada apa denganmu, hah? Bukankah kau bersenang-senang di luar sana tapi kenapa setelah kembali kau jadi terlihat kacau seperti ini?" tanya Abraham.
"Langsung saja!" ucap Vanila yang sudah tidak sabar.
"Berisik, kenapa tidak kau saja!" ucap suaminya.
"Tunggu, aku coba masuk!" Vanila masuk ke dalam, Norman sudah ketakutan melihatnya.
"Berhenti di sana, Vanila. Jangan terlalu dekat!" perintah Norman.
"Baiklah, tapi kau tidak apa-apa aku berada di sini, bukan?"
"Tidak, tapi jangan lebih dekat lagi."
"Apa maksud perkataanmu?" Norman melihat ke arah adiknya dengan tatapan tidak mengerti.
"Kak, cobalah untuk mengingat apa yang sedang terjadi beberapa hari belakangan sebelum kau kembali!"
"Tidak ada yang spesial," ucap Norman.
"Please, yang ingin aku tahu adalah keadaan Freya. Apa kau lupa dengan apa yang kau tanyakan padaku waktu itu?"
Norman memandangi adiknya dengan serius, kini dia mencoba mengingat apa yang sedang terjadi beberapa hari belakangan. Selain emosi yang kurang stabil, Freya juga mengeluh usus buntu lalu ada hubungan apa dengan apa yang sedang dia alami saat ini?
"Apa hubungannya dengan penyakit anehku ini?" tanya Norman.
"Jawab saja!" teriak Vanila kesal.
"Selain emosi yang kurang stabil, dia juga mengalami usus buntu sehingga harus mengkonsumsi banyak obat!"
"Usus buntu, apa kau yakin?" Vanila jadi semakin curiga.
"Freya yang mengatakan hal itu padaku, apakah ada yang aneh?"
"Apa kau percaya dia benar-benar mengalami usus buntu?"
"Apa maksud perkataanmu? Coba katakan yang jelas!" pinta Norman yang semakin tidak mengerti.
"Kalian pria sama saja, hanya tahu enaknya saja tapi tidak memikirkan akibatnya!" ucap Vanila kesal.
"Hei, jangan bawa-bawa aku. Aku tidak mau terlihat!" ucap Abraham.
"Apa sih maksud perkataanmu?" Norman benar-benar tidak mengerti dengan maksud dari perkataan adiknya.
"Aku benari bertaruh jika Freya sedang hamil tanpa kau tahu dan yang sedang kau alami saat ini adalah Couvade Syndrome!" ucap Vanila.
"Apa itu?" tanya Norman dan Abraham, meski dia pernah mengalami tapi dia tidak tahu apa namanya.
"Yang sudah punya anak jangan pura-pura tidak tahu. Couvade Syndrome biasanya dialami oleh seorang pria saat pasangannya sedang hamil muda!"
"Oh, seperti aku ingin selalu tidur dengan ibuku?" tanya Abraham.
"Apa? Menjijikkan dasar anak-anak!" cibir Norman.
"Hei, jangan asal bicara. Yang dialami oleh setiap orang berbeda-beda!"
"Stop berdebat, kalian berdua sama saja!" ucap Vanila.
Norman dan Abraham justru saling pandang, Vanila menggeleng. Padahal ada yang lebih penting tapi kakaknya benar-benar tidak peka.
"Kak, aku rasa Freya menyembunyikan kehamilannya padamu. Apa kau tidak memikirkan hal ini sebelumnya? Kau yang selalu bersama dengannya jadi pikirkanlah apakah yang aku katakan benar atau tidak dan segera ambil tindakan sebelum kau menyesali semuanya," ucap Vanila. Setelah mengatakan hal itu, Vanila keluar dari kamar kakaknya.
Norman melangkah mendekati jendela untuk berpikir, sedangkan Abraham seperti orang bodoh. Jadi, apa gunanya dia berada di dalam kamar itu? Sial, dia benar-benar terlihat begitu bodoh karena ulah kedua kakak adik itu. Abraham pergi tanpa berkata apa-apa, lain kali dia tidak mau lagi. Lebih baik dia duduk diam di rumah dari pada seperti orang bodoh.
Norman berpikir dengan keras, apakah yang dikatakan oleh adiknya adalah benar? Cukup lama dia merenung sampai akhirnya dia sadar jika Freya sengaja bersembunyi untuk menghindari dirinya karena memang sedang hamil. Tapi kenapa Freya melakukan hal itu? Semuanya, semua akan terjawab setelah dia menemukan Freya oleh sebab itu, Norman memerintahkan Kendrick untuk menyebar orang untuk mencari keberadaan Freya. Dia yakin Kendrick pasti dapat menemukannya namun keberadaan Freya saat ini tidak akan mudah dia temukan karena Freya memang sedang melarikan diri tapi bukan darinya saja.