
Freya sedang bersiap -siap karena sebentar lagi dia dan Norman akan pergi berjalan-jalan. Sudah lama tidak pernah menikmati waktunya di luar sampai dia sendiri lupa kapan terakhir kali dia melakukannya tapi yang pasti setelah dia menjadi arkeolog dan setelah dia menjadi pencuri, dia sudah tidak pernah bersenang-senang lagi.
Rambut panjangnya diikat, Freya menggunakan pakaian simple dan cukup minim. Celana pendek dan tanktop menjadi pilihan agar dia bisa bergerak dengan mudah dan nyaman.
Norman mendekatinya, berdiri di sisi Freya dan melihat penampilannya dari atas sampai ke bawah. Freya tampak gusar dan melirik Norman dengan ujung matanya karena pria itu sedang berjalan memutarinya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Freya dengan sinis.
"Melihat penampilanmu, apa lagi?"
"Emangnya ada yang salah dengan penampilanku?"
"Ya, salah. Bagian atas dan bawah terlalu rata!" goda Norman.
"Sialan, apa kau bilang?" Freya tampak tidak senang.
"Tidak perlu khawatir, aku akan merabanya setiap malam!" Norman masih menggodanya, entah kenapa dia sangat senang membuat Freya kesal.
"Jangan harap ada malam berikutnya," Freya sudah mengambil sesuatu dan melemparkan ke arah Norman. Pria itu berlari menuju pintu. Freya semakin kesal, dia pun berlari menuju pintu setelah meraih tasnya yang ada di atas ranjang.
"Tunggu, jangan lari!" Freya mengejar Norman setelah menutup pintu. Mereka berdua seperti anak kecil namun mereka berhenti saat ada orang.
"Ke mana saja, kenapa begitu lama?" tanya Norman seraya merangkul pinggang Freya. Dia bersikap seperti itu karena ada orang di samping mereka yang sama-sama menunggu lift.
Freya tersenyum namun tangannya yang bekerja karena tangan Freya sudah berada di pinggang Norman dan mencubitnya. Norman berusaha tersenyum dan berusaha menarik tangan Freya agar cubitannya terlepas. Freya terlihat puas, namun tangannya masih melingkar di pinggang Norman dan bersikap seolah-olah mereka adalah kekasih.
"Kita akan pergi ke mana dulu?" tanya Norman.
"Entahlah, aku lihat peta terlebih dahulu!"
"Tidak perlu, kita tidak akan tersesat meski tidak memakai peta!" ucap Norman.
"Apa kau yakin?" tanya Freya.
"Serahkan padaku!" Norman menggenggam tangan Freya yang melingkar di pinggangnya serta menarik tangan Freya agar Freya semakin memeluknya erat.
"Awas jika sampai tersesat!" ancam Freya.
"Tidak akan, tidak perlu khawatir!"
"Baiklah, aku percaya padamu tapi aku rasa kita harus pergi makan terlebih dahulu. Aku sudah lapar."
"Seperti keinginanmu!" ucap Norman. Mereka keluar dari lift, lalu menyetop sebuah taksi. Kali ini mereka tidak menyewa mobil, cukup waktu itu saja. Akibat mobil yang rusak parah membuat Freya harus mengeluarkan uang banyak untuk mengganti rugi. Oleh sebab itu mereka akan menaiki angkutan umum untuk menghemat pengeluaran.
Norman akan membawa Freya ke restoran di mana dia sering datang dulu ketika masih menuntut ilmu dan dia juga selalu datang ke restoran itu bersama dengan sahabat baiknya yang saat ini sudah menjadi suami adiknya.
Restoran itu tidak begitu jauh dari London Bridge, tempatnya juga terbuka dan dekat dermaga. Mereka akan menikmati pemandangan laut sambil menikmati hidangan laut yang segar.
"Kau tidak alergi makanan laut, bukan?" tanya Norman.
"Tentu saja tidak, aku suka makanan laut!"
"Bagus, aku akan membawamu ke tempat yang cukup menyenangkan."
"Sepertinya kau tidak asing dengan kota ini, Norman."
"Siapa bilang? Ini kali pertama aku datang ke kota ini!" sangkal Norman.
"Benarkah? Tapi kau terlihat mengetahui beberapa tempat. Lagi pula kau bisa bertemu dengan para penagih hutang itu, sudah pasti kau pernah datang ke kota ini dan jangan katakan kau pernah tinggal di kota ini!"
"Baiklah, aku mengaku. Aku memang pernah tinggal di kota ini!"
Norman mengusap lengan dan menggerutu dalam hati, entah kenapa mendadak dia jadi khawatir akan bertemu dengan adiknya. Semoga saja tidak mengingat Abraham juga suka makan di resoran tersebut.
Taksi yang mereka tumpangi pun sudah berhenti karena mereka sudah tiba ditujuan. Cuaca yang cukup panas tapi angin laut yang berhembus cukup sejuk.
"Ayo," ajak Norman seraya merangkul pinggang Freya kembali.
"Yakin mau makan di tempat ini?" tanya Freya. Dilihat bagaimanapun restoran itu cukup berkelas dan dia rasa hargannya cukup mahal.
"Kali ini aku yang traktir."
"Wah, apa kau punya uang?" tanya Freya karena dia tidak yakin Norman memiliki uang
"Tentu saja ada!" jika dia tidak sedang menyamar maka sudah dia tunjukkan kekuasaannya pada Freya saat ini.
Mereka disambut dengan ramah dan diantar ke sebuah meja yang ada di teras di mana mereka bisa melihat lautan dan juga kapa-kapal yang bertengger di dermaga.
"Pesanlah sesuka hatimu, Freya," Norman memberikan buku menu pada Freya. Karena Freya sudah menghabiskan banyak uang untuk mengganti mobil yang rusak, kini gilirannya yang mengeluarkan uang.
"Terima kasih tapi aku tidak mau serakah!" Freya memesan makanan kesukaannya. Meski Norman berkata dia bisa memesan sesuka hati tapi dia tidak mau melakukannya.
"Tempat yang bagus, apa kau sering datang ke tempat ini?"
"Hanya sekali, aku pernah datang," dusta Norman.
"Apa pekerjaanmu sebelumnya?" Freya memandangi Norman dengan tatapan ingin tahu.
"Aku seorang supir dan pria yang kita lihat di hotel, dulu dia adalah bosku," lagi-lagi dia berdusta. Freya hanya mengangguk, pantas saja Norman memiliki banyak hutang, ternyata dia hanya seorang supir. Norman sangat lega, dia harap Freya tidak bertanya lagi agar kebohongannya tidak semakin banyak.
"Jadi kau meminjam uangnya dan kabur?"
"Anggap saja demikian!" Norman benar-benar berharap tidak bertemu dengan Abraham karena sampai hal itu terjadi, maka semua kebohongannya akan terongkar tapi sayang, dua tamu yangg baru datang tidak dilihat olehnya.
Makanan yang mereka pesan pun datang, Freya terlihat lapar karena dia memang sudah lapar. Ternyata makanan di sana cukup enak, Freya bahkan memuji sesekali.
"Bagaimana dengan makanannya, apa kau suka?" tanya Norman. Dia masih tidak sadar jika orang yang dia takutkan duduk tidak jauh darinya dan ketika mendengar suaranya, Vanila melihat ke arahnya dan mengernyitkan dahi.
"Norman?" Vanila sengaja memanggil karena dia yakin pria yang sedang duduk membelakanginya pasti kakaknya.
"Mana mungkin ada Norman di sini!" Abraham pun berpaling. Norman terkejut, sendok yang ada di tangan sampai terjatuh dari tangan. Celaka, padahal dia tidak ingin bertemu dengan mereka berdua tapi mereka benar-benar ada di restoran itu.
Freya melihat ke arah Vanila dan Abraham yang sudah beranjak dari tempat duduk mereka. Vanila juga melihat ke arahnya, siapa wanita yang sedang bersama dengan kakaknya itu?
"Norman," Freya memanggil dengan pelan, bukankah pria yang sedang bersama dengan wanita itu adalah mantan bos Norman yang meminjamkan uang pada Norman?
"Lari, Freya!" perintah Norman.
"Apa? Udangku belum aku makan!" Freya tampak tidak rela meninggalkan makanan kesukaannya.
"Jangan dipikirkan, pokoknya lari!" Norman meraih tangan Freya lalu menariknya pergi.
"Tidak! Udangku belum aku makan, lalu tiram kesukaannya belum juga aku sentuh!" teriak Freya tidak terima.
"Lari saja, jangan cerewe!" teriak Norman yang sudah menariknya untuk pergi. Freya berteriak kesal, tapi mau tidak mau dia harus lari apalagi mereka dikejar.
"Tunggu!" teriak Vanila yang secara spontan mengejar mereka berdua karena dia tidak mengerti kenapa kakaknya lari saat bertemu dengannya dan dia pun ingin tahu siapa wanita yang sedang bersama dengan kakaknya?
Abraham ditinggal seorang diri, dia dicegat oleh pegawai restoran dan mau tidak mau, Abraham harus membayar makanan Norman yang memang belum dia bayar. Bagus, entah apa yang terjadi dengan kakak iparnya tapi akan dia kirimkan tagihannya ke istana.