
Sebuah kekacauan telah terjadi ketika Norman dan Freya pergi ke Los Angles. Kekacauan yang tidak di sangka oleh Freya dan itu adalah sebuah aksi dari musuh untuk melakukan balas dendam atas apa yang telah Norman dan Freya lalukan juga sebagai sebuah peringatan yang akan didapatkan oleh Freya nantinya.
Karena sudah bersenang-senang selama di Los Angles dan karena apa yang dia cari tidak ada di sana, Freya memutuskan untuk kembali. Saatnya serius mencari keberadaan ayahnya juga batu yang harus dia temukan. Waktu bermain dengan Norman sudah selesai dan sekarang, dia harus mengabaikan pria itu dan fokus dengan misi awalnya. Memang sangat menyenangkan dapat bersama dengannya tapi dia tidak boleh melupakan ayahnya yany mungkin sedang menunggu dirinya saat ini.
Tanpa menaruh curiga sama sekali, Freya melangkah menuju rumahnya setelah mereka tiba. Beberapa pernak pernik yang dia beli akan dia berikan pada Cristina. Meski bukan barang mewah dan mahal, tapi dia ingin memberikan pada pelayan yang sudah dia anggap seperti saudaranya itu.
"Cristina, aku pulang!" teriak Freya namun dia dikejutkan oleh keadaan rumah yang sudah hancur berantahan.
"Cristina!" Freya berteriak memanggil Cristina dan berlari masuk ke dalam rumah yang hancur akibat terjangan timah panas. Keadaan itu tidak jauh berbeda dengan keadaan di mana ayahnya menghilang.
"Ada apa, kenapa kau berteriak?" tanya Norman yang sudah berdiri di depan pintu. Norman juga terkejut mendapati rumah Freya yang hancur berantakan.
"Apa yang terjadi?" Norman melangkah masuk, melewati puing bangunan yang berserakan.
"Cristina!" Freya masih berteriak memanggil, mencari keberadaan Cristina yang sedari tadi tidak terlihat. Apa yang telah terjadi dan di mana Cristina saat ini?
"Tidak mungkin, hal ini tidak mungkin terjadi lagi!" Freya jatuh terduduk. Lagi-Lagi, dia mengulangi kesalahan yang sama. Setelah ayahnya, kini Cristina dan semua itu akibat kelalaian yang dia lakukan.
"Apa yang terjadi, Freya?" Norman melangkah mendekati Freya yang terduduk di atas lantai.
"Mereka menangkap Cristina, mereka juga menangkap Cristina!" ucap Freya sambil menangis. Dia tidak menduga keberadaan Cristina bisa diketahui oleh musuh. Dia harap Cristina baik-baik saja dan sedang bersembunyi di suatu tempat meski itu mustahil.
"Apa pelakunya sama dengan orang yang menculik ayahmu?" tanya Norman.
"Sudah pasti sama!" Freya beranjak lalu berlari menuju kamarnya. Yang dia lihat adalah ruang rahasia, ternyata aman dan tidak ada yang menemukan ruang rahasia itu. Norman pun membantu Freya mengecek semua ruangan yang ada di dalam kamar dan semua hancur kecuali ruangan rahasia milik Freya tapi dia menemukan sebuah kamera yang ditinggalkan oleh musuh dan sepertinya mereka bisa melihat apa yang terjadi di rumah itu saat mereka tidak ada.
"Freya, aku menemukan sebuah kamera yang masih utuh!" teriak Norman sambil mencari Freya yang berada di kamar Cristina.
Freya termenung, dia merasa bersalah karena meninggalkan Cristina seorang diri dan telah membuat Cristina berada di dalam masalah. Seandainya dia meminta Cristina untuk tidak mengikuti dirinya, Cristina pasti baik-baik saja tanpa perlu mengalami bahaya seperti itu.
"Maaf, Cristina. Semua gara-gara aku!" Gumam Freya. Dia benar-benar merasa sangat bersalah.
"Freya," Norman menghampiri Freya yang sedang duduk di sisi ranjang lalu duduk bersama dengannya.
"Semua salahku, Norman. Seharusnya aku memintanya pergi agar tidak terjadi hal buruk seperti ini!" ucap Freya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, kita tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Tidak, seharusnya kita langsung kembali setelah kita tahu artefak itu tidak ada di sana. Mungkin dengan demikian, Cristina tidak akan ditangkap oleh musuh," benar, dia terlalu banyak bermain dengan Norman. Dia terlalu mementingkan diri sendiri dan menikmati waktunya dengan Norman tanpa memikirkan keadaan Cristina.
"Semua salahku, Norman!" Freya menunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Hei, jangan sedih seperti itu," Norman merangkul bahu Freya dan mengusapnya.
Freya memandangi Norman, lalu dia mengangguk. Apa yang Norman katakan sangat benar, mereka harus segera melihat apa yang terjadi pada Cristina. Orang yang menangkap Cristina sudah pasti orang yang menangkap ayahnya.
Mereka keluar dari kamar, Norman mengambil perangkat laptop di dalam mobil lalu kembali lagi. Rekaman yang ada di kamera diputar, kamera itu memang ditinggalkan oleh musuh yang menangkap Cristina. Mereka memang tidak melihat bagaimana rumah itu dihancurkan karena rekaman itu sudah memperlihatkan Cristina yang sudah tertangkap dan terikat tidak berdaya di kursi.
"Cristina," Freya benar-benar merasa bersalah melihat pelayannya yang ketakutan dengan senjata api di dahinya. Beberapa orang pria yang terlihat menakutkan pun berada di belakang Cristina dan mereka semua membawa pedang tajam di tangan.
Seorang pria yang diduga sebagai pemimpin kelompok itu, melangkah mendekati Cristina lalu memainkan pisau di wajah Cristina.
"Jika kau menginginkan wanita ini hidup, datanglah pada kami dan kami beri kau waktu satu minggu!" ucap pria itu.
"Jangan lakukan, biarkan saja aku mati!" teriak Cristina.
"Diam kau!" Pisau di hujamkan ke lengan Cristina sehingga membuat Cristina berteriak karena kesakitan.
"Satu minggu, datang dengan batu itu jika tidak, wanita ini akan mati begitu juga dengan ayahmu!" ucap pria itu lagi.
"Jangan pedulikan aku, jangan pedulikan aku!" teriakan Cristina masih terdengar.
"Kami tunggu, Freya Walner dan kau hanya boleh mengantarkan benda itu seorang diri saja karena kami tidak akan ragu untuk membunuh mereka!" setelah perkataan itu, rekaman mati.
Freya jatuh terduduk, ternyata Cristina benar-benar ditangkap oleh kelompok yang sama dengan kelompok yang menangkap ayahnya tapi siapa?
"Siapa sebenarnya mereka?" Freya mengusap dahi, dia terlihat kacau akibat serangan mendadak yang tak terduga.
"Sudah pasti Black Scorpion, bukan?"
"Bagaimana kau bisa tahu?" Freya menatap ke arah Norman.
"Tentu saja, mereka marah karena misi mereka untuk menangkap dirimu gagal dan juga markas yang aku hancurkan!"
"Apa yang kau lakukan pada mereka?" tanya Freya.
"Kau sudah mendengarnya, bukan? Menghancurkan markasnya tapi aku rasa Black Scorpion tidak seorang diri. Pasti ada kekuatan lain di belakang kelompok ini!"
"Sial!" Freya mengusap dahi. Semakin sulit saja, tidak hanya menghadapi kelompok Black Dragon tapi dia juga harus menghadapi kelompok yang lain yang dia tidak tahu seberapa hebat kelompok tersebut tapi yang jadi masalah bukan itu saja, dia benar-benar harus menemukan batu yang ayahnya sembunyikan dalam waktu kurang dari satu minggu jika dia menginginkan Cristina dan ayahnya dalam keadaan hidup.
"Kau tidak perlu khawatir, Freya. Serahkan semuanya padaku. Kau mau mempercayai aku, bukan?"
Freya memandangi Norman sejenak lalu dia mengangguk. Selain pria itu, dia tidak memiliki sekutu lagi apalagi dia tahu jika dia tidak bisa seorang diri dalam menghadapi musuh yang cukup banyak. Sekarang hanya Norman yang bisa dia andalkan karena dia tahu pria itu memiliki kekuasaan dan dia akan membalas kebaikan Norman suatu saat nanti jika mereka sudah selesai melawan musuh.