
Sebelum Freya dan Norman meninggalkan kota London, anak buah Black Scorpion pun tiba di London. Mereka bertugas mencari pelaku yang telah membawa lari artefak milik mereka dan juga bertugas mencari tahu siapa yang telah membunuh ketiga anak buah mereka.
Pelakunya dikabarkan sama, informasi itu tentu didapat dari pemilik pelelangan. Pemimpin Black Scorpion yang bernama Victor begitu murka sehingga memutuskan untuk mencari keberadaan orang yang telah membunuh anak buah serta mencuri artefak miliknya.
Tidak tanggung-tanggung, tujuh orang dengan kemampuas khusus diutus oleh Victor sang pemimpin. Anak buahnya pun diperintahkan untuk membawa pelaku secara hidup-hidup karena dia ingin memenggal kepala pelakunya menggunakan kedua tangannya.
Rumah pelelangan menjadi tujuan awal, pemilik tempat itu pun ditangkap untuk diinterogasi karena kelalaian tempat itu membuat adanya penyusup apalagi pelaku menggunakan identitas orang lain untuk mengikuti lelang yang sesungguhnya tidak bisa dimasuki oleh sembarangan orang.
"Aku tidak tahu!" teriakan itu terdengar dari seorang pria tua yang sudah terikat di kursi tentunya pria itu adalah pemilik tempat lelang.
"Berikan kami seluruh rekaman cctv saat kejadian itu terjadi!" pinta seorang pria yang sedang memegangi pisau yang berada di bawah leher pria itu tersebut.
"A-Aku tidak yakin," jawabnya karena dia tidak tahu apakah rekaman dari kejadian beberapa hari yang lalu masih ada atau tidak.
"Berikan!" bentakan itu terdengar serta pisau yang sudah menggores leher.
"A-Akan aku berikan!" teriak pria tua itu. Anak buah yang ikut tertangkap pun mendapatkan perintah untuk menunjukkan rekaman cctv dari sebuah perangkat komputer. Dua orang berkaca mata tebal dengan pakaian serba putih menghampiri anak buah sang pemilik tempat lelang untuk ikut membantu. Mereka berdua adalah ahli IT yang diutus oleh Victor untuk mencari pelakunya.
Suasana sunyi, hanya terdengar suara tombol key board komputer yang dimainkan. Seorang wanita yang juga adalah anak buah Victor sedang menggesek kukunya dengan sebuah pisau kecil. Dia adalah ahli strategi dan pembunuh berdarah dingin yang ditugaskan oleh Victor untuk langsung menghabisi musuh setelah mereka tahu siapa pelakunya.
Kedua ahli IT sedang sibuk, wajah pelaku yang adalah laki-laki dan perempuan sudah mereka dapatkan. Memang mereka berdua menyamar tapi untuk itulah mereka diutus untuk datang. Dengan kepintaran dan keahlian yang mereka miliki, mereka mulai melakukan sesuatu dengan wajah Freya dan Norman.
Cukup setengah jam saja, wajah asli Freya dan Norman sudah mereka dapatkan. Gambar itupun di unduh ke perangkat elektronik mereka karena mereka akan mengirimkan wajah kedua pelaku dan juga mencari keberadaan kedua pelaku itu.
"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkannya?" tanya sang wanita dengan bahasa Hong Kong.
"Tentu, tugas kami selesai!" gambar wajah Norman dan Freya diberikan, wanita itu melihat kedua target yang harus dia bunuh.
"Siapa mereka?" tanyanya.
"Yang wanita itu Freya Walner sedangkan yang pria, tidak ada informasi!"
"Kenapa? Apa dia orang penting ataukah orang berbahaya yang tidak bisa kalian temukan identitasnya?" tanya wanita itu.
"Tidak tahu tapi berhati-hatilah karena kita tahu siapa pria itu jadi sebaiknya kalian lebih berhati-hati pada yang pria!"
"Tidak perlu khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Sekarang berikan alamat mereka padaku, aku akan mendapatkan yang wanita terlebih dahulu!"
Kedua ahli It kembali sibuk mencari tempat tinggal Freya. Ternyata tidak mudah karena alamat yang tertera hanya alamat lama saja karena Freya tidak mengumbar alamat barunya lagi apalagi sejak kejadian itu dia semakin berhati-hati bahkan dia tidak membuat laporan atas menghilangnya barang-barang milik ayahnya serta penculikan ayahnya karena dia merasa semua itu akan sia-sia saja.
"Hanya ini saja yang kami dapatkan!" alamat rumah lama milik Freya pun diberikan.
"Tidak jadi soal, aku akan mencarinya!"
"Serahkan padaku!" wanita bermarga Chen itu mengambil ponsel karena dia akan menghubungi bosnya dan memberi laporan.
"Apa yang kau temukan?" suara si bos sudah terdengar.
"Kami sudah mendapatkannya, Freya Walner dengan seorang pria yang tak dikenal.
"Walner? Kebetulan sekali, sekarang rencana berubah!" ucap Victor.
"Apa yang kau inginkan, Sir?"
"Ikuti dia, aku yakin dia bisa memberikan petunjuk yang aku inginkan tapi sebaiknya kalian semua kembali, kita ubah rencana yang ada!" perintah Victor. Sangat kebetulan, dia akan membuat jebakan untuk memancing Freya. Wanita itu pasti tahu sesuatu, sebaiknya dia mengatakan kabar ini pada beberapa rekannya. Dia tidak menduga orang yang mencuri artefak miliknya berhubungan dengan arkeolog itu dan sekarang, mereka bisa memanfaatkan situasi.
"Kita diperintahkan untuk kembali!" ucap Chen pada yang lain menggunakan bahasa Hong Kong yang sangat kental sehingga pemilik rumah pelelangan tidak mengerti begitu juga anak buahnya.
Kedua ahli IT itu mengambil rekaman cctv lalu menghapus rekaman yang ada di perangkat komputer milik pemilik rumah lelang. Mereka pun pergi tanpa berkata apa-apa karena apa yang mereka inginkan sudah mereka dapatkan. Mereka akan kembali ke Hong Kong, untuk mendengarkan rencana baru bos mereka lalu mereka akan bergerak.
Pelaku yang mereka cari tentunya tidak tahu karena mereka masih berada di pesawat yang akan membawa mereka kembali ke New York. Freya yang masih sok jual mahal dengan ego tingginya tidak mau melihat ke arah Norman. Dia pura-pura tidur dan tidak mau menjawab setiap kali Norman mengajaknya bicara.
Norman jadi kesal, masih saja salah. Apa laki-laki selalu salah dan wanita selalu benar?
Kesal karena Freya tidak mau bicara dengannya dan berpura-pura tidur, Norman memilih beranjak dan duduk di kursi kosong di sisi lain yang berjarak dua bangku dari tempat duduk mereka. Freya melirik dengan ujung mata saat Norman pergi, dia mendengus sebentar lalu kembali memejamkan kedua matanya karena Freya berniat tidur namun ketenangannya tidak lama akibat tawa dua wanita yang cukup mengganggu.
Freya menggerutu di dalam hati, dia berusaha untuk tidur tapi tawa dua wanita itu benar-benar mengganggu. Freya berpaling, kekesalan hatinya semakin bertambah karena yang sedang tertawa dengan kedua wanita itu adalah Norman. Menyebalkan, sepertinya pria itu sengaja.
Norman berpaling, melihat ke arah Freya sejenak lalu dia kembali berpaling untuk berbicara dengan kedua gadis itu. Freya menggenggam kedua tangannya dengan erat, entah apa yang dia rasakan yang pasti dia sangat kesal melihat Norman bersama dengan kedua wanita itu. Norman benar-benar sengaja ingin membuatnya marah.
Freya berpaling, tidak mau melihat namun tawa dari kedua wanita itu benar-benar membuat amarahnya berkobar. Sebuah benda Freya ambil dari dalam tas, dia melihat ke arah Norman sejenak lalu tanpa membuang waktu, Freya melemparkan benda itu ke arah Norman. Dia harap mengenai kepala Norman tapi sayangnya justru mengenai salah satu kepala wanita yang sedang berbicara dengannya.
"Aw, siapa yang melempar?" pekik korban yang tidak bersalah seraya mengambil sebuah benda yang cukup berat dari bagian belakangnya.
Norman mengambil benda itu lalu melihat ke arah Freya yang sedang pura-pura tidur. Dia tahu siapa pelakunya tapi biarkan saja, dia memang sengaja.
"Siapa yang melempar aku?"
"Tidak perlu dipikirkan, sampai di mana kita tadi?" tanya Norman. Mereka kembali berbincang, sedangkan Freya menghela napas. Apa yang dia lakukan? Dia benar-benar bersikap kekanak-kanakan. Tidak seharusnya dia bersikap seperti itu karena dia sudah mempermalukan dirinya sendiri.
Kini Freya benar-benar tidur, apalagi perjalanan masih cukup lama. Dia tidak mau peduli lagi, Norman melihatnya dan merasa sudah cukup oleh sebab itu, Norman kembali duduk di samping Freya yang benar-benar sudah tidur. Freya bahkan tidak tahu saat Norman mencium pipinya dengan lembut. Norman bahkan menggenggam tangan Freya dan memberikan kecupan di atas telapak tangannya.
Mereka berdua sama-sama memiliki ego yang tinggi namun tidak ada yang mau saling mengakui karena sesungguhnya mereka berdua sama-sama nyaman saat bersama bahkan mereka berdua pun saling tidak menyukai jika ada lawan jenis yang mendekat.