
Artefak milik ayah Freya yang dicuri sengaja dibawa ke Los Angles oleh seorang pengusaha yang ada di sana. Sebenarnya bukan seorang pengusaha, tepatnya seorang anak buah yang menyamar sebagai pengusaha yang membeli artefak itu tentunya itu atas perintah Victor, pemimpin organisasi Black Scorpion.
Mereka benar-benar merubah rencana, mereka akan memancing Freya dan menangkapnya. Setelah anak buah yang dia utus kembali dari hong kong, Victor memanggil kedua rekan yang juga dari dua organisasi besar yang ada di Hong Kong. Mereka pun memiliki kekuatan besar tentunya mereka adalah rekan yang bekerja sama dengannya.
Sesungguhnya yang mengambil seluruh artefak milik ayah Freya adalah Black Scorpion. Victor menjual artefak itu untuk mendapatkan uang, dan masih banyak artefak milik ayah Freya di markas Black Scorpion. Victor pula yang mengobrak abrik rumah Freya dan menangkap ayah Freya. Tapi ayah Freya tidak ada bersama dengannya karena ayah Freya bersama dengan salah satu rekannya.
Setelah mereka mendapatkan kabar jika ayah Freya menemukan batu yang begitu berharga, mereka segera bergerak untuk mendapatkan batu itu tapi sayang, mereka tidak mendapatkan apa pun. Mereka bahkan tidak bisa menemukan lokasi keberadaan batu yang mereka inginkan oleh sebab itu ketika Victor mendengar nama Freya Walner, dia merasa itu adalah kesempatan emas untuknya untuk mengetahui keberadaan batu yang dia inginkan. Dia yakin Freya tahu keberadaan batu itu karena dia adalah putri dari Nathan Walner.
Sebuah siasat pun dilakukan, oleh sebab itu berita mengenai artefak yang sudah dibeli oleh seorang pengusaha di Los Angles di sebar untuk memancing Freya. Victor yakin, Freya Walner pasti datang untuk mengambil artefak itu dan mereka sudah membuat perangkap untuk menangkap Freya.
Freya yang sudah mengetahui keberadaan artefak milik ayahnya tentu saja bersiap-siap untuk berangkat ke Los Angles. Terlepas ada jebakan atau tidak, dia harus memastikan keberadaan artefak milik ayahnya bahkan dia sangat ingin membuat siasat agar dia langsung pada sumbernya saja.
Freya menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Sebuah tas sudah berada di atas ranjang. Dia harap kali ini dia benar-benar mengetahui siapa dalang yang telah menculik ayahnya. Mungkin sebuah siasat dia butuhkan untuk mendekati musuh yang sebenarnya.
Sepertinya ide itu tidaklah buruk, Freya melangkah menuju komputer dan menyalakan benda itu. Dia ingin tahu seberapa hebat organisasi Black Scorpion yang harus dia hadapi jika dia memang berniat masuk ke dalam mafrkas musuh. Bisa saja dia menemukan keberadaan ayahnya tapi itu sangatlah berisiko. Bagaimana jika dia tidak bisa keluar dari markas musuh secara hidup-hidup?
Freya mengurungkan niatnya, sebaiknya dia memikirkan rencana untuk menyusup ke dalam markas musuh dengan baik. Jangan sampai dia justru salah langkah.
"Freya, jam berapa kita akan pergi?" tanya Norman sambil mengetuk pintu kamar yang dikunci oleh Freya.
"Sebentar lagi, segeralah bersiap-siap!" teriak Freya.
"Baiklah, panggil aku jika sudah selesai!" Norman melangkah pergi, dia ingin menghubungi Kendrick dan mencari tahu sudah sejauh mana Kendrick melakukan tugasnya. Norman masuk ke dalam kamar, dia tidak mau Freya mendengar apa yang akan dia bicarakan dengan Kendrick.
"Bagaimana, Kendrick? Sudah sejauh mana kau menemukan keberadaan replika mumi itu?" tanya Norman.
"Aku sudah menyebarkan orang, Sir. mereka baru menemukan keberadaan replika mumi nomor dua dan lima," jawab Kendrick.
"Bagus, terus cari keberadaan mumi ke delapan dan laporkan segera padaku!" perintah Norman.
"Baik, Sir!" setelah Kendrick menjawab, Norman mengakhiri percakapan mereka dan menyimpan ponselnya di dalam saku. Pria itu berdiri di depan jendela dan terlihat berpikir. Semakin mereka dekat dengan keberadaan ayah Freya, semakin cepat mereka berpisah tapi janji tetaplah janji. Dia akan membantu Freya sampai selesai dan dia harap mereka selesai sebelum masa liburannya selesai.
Freya yang sudah selesai masuk ke dalam kamar Norman secara diam-diam. Dia ingin mengejutkan Norman dan mengatakan pada Norman jika dia sudah selesai tapi ketika melihat Norman yang sedang berdiri termenung di depan jendela membuat Freya mengurungkan niatnya. Freya melangkah mengendap lalu memeluk Norman dari belakang.
Norman sedikit terkejut namun senyuman menghiasi wajahnya karena dia tahu siapa yang sedang memeluknya. Kedua tangan Freya melingkar erat di tubuhnya, Freya bahkan bersandar di punggungnya sambil memejamkan mata. Punggung lebar itu tidak bisa dia miliki tapi bisa dia nikmati untuk saat ini.
"Kenapa memeluk aku begitu erat, apa kau menyukai tubuhku ini?" tangan Norman sudah berada di lengan Freya.
"Tubuh ini akan jadi milikmu selama aku berada di sini dan selama kita tetap menjadi rekan," ucap Norman.
"Senang mendengarnya, Norman," kedua tangan Freya bergerak, mengusap otot tubuh Norman dari atas sampai ke bawah.
"Jangan memulai, Freya. Aku tidak tanggung akibatnya!"
"Aku hanya meraba otot tubuhmu saja jadi jangan terlalu berlebihan apalagi kau sudah meraba tubuhku dari atas sampai ke bawah!"
"Tapi kau menyukainya, bukan?" Norman berbalik, kedua tangan melingkar di pinggang Freya dan mereka berdua saling pandang.
"Apa kau tidak keberatan berpisah denganku nanti, Freya?" tanya Norman.
"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, Norman. Jika kita memiliki jodoh, aku rasa kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti. Mungkin kita akan bertemu dalam keadaan yang berbeda dan mungkin saja kita bertemu setelah kau memiliki keluargan tapi kau tidak perlu khawatir karena aku tidak akan mengatakan hubungan sesaat kita pada siapa pun."
"Bagaimana denganmu, Freya. Apa kau tidak mau menikah? Kau tidak mungkin selalu menjadi pencuri, bukan?" kini Norman yang bertanya karena dia sangat ingin tahu apa yang akan Freya lakukan setelah mereka berpisah.
"Tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi!" Freya menyingkirkan kedua Norman yang melingkar di tubuhnya, lalu berdiri di depan jendela "Aku tidak mungkin bisa menikah karena aku akan menyerahkan diri pada polisi dan jika aku memiliki kesempatan, aku akan kembali melakukan pengalian di Kairo atau di mana pun yang bisa aku datangi!" ucap Freya.
"Apa kau benar-benar akan menyerahkan diri pada polisi, Freya?"
"Tentu saja, aku harus mempertanggungjawabkan apa yang telah aku lakukan. Mungkin aku bisa meminta bantuan Daddy untuk membantu meringankan hukumanku agar aku memiliki kesempatan untuk kembali melakukan penggalian," Freya kembali melangkah dan berdiri di hadapan Norman. Senyum manis menghiasi wajahnya dan tatapan matanya tertuju pada wajah tampan Norman
"Kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan menempati janjiku untuk menbersihkan namamu, Norman. Sudah waktunya kita pergi, bersiaplah ke petualangan selanjutnya!" Freya melangkah pergi setelah mengatakan hal itu.
Norman memperhatikan kepergiannya, ternyata Freya sudah memiliki rencana yang cukup matang untuk dirinya setelah mereka berpisah nanti. Freya pun tidak memasukkan dirinya di dalam rencana yang dia buat dan rasanya sangat mengecewakan tapi apa yang dia harapkan?
"Norman, let's go!" teriak Freya karena mereka sudah harus pergi.
Norman segera mengambil barang-barang miliknya, sebaiknya dia fokus pada misi selanjutnya dan tidak mengacaukannya. Freya sudah menunggu, sebuah kunci mobil dilemparkan oleh Freya ke arahnya karena Norman yang akan menyetir.
"What are you waiting for?" tanya Freya karena Norman diam saja setelah mendapatkan kunci itu.
"No!" jawab Norman, pria itu pun melangkah menuju pintu.
Freya pamit pada Cristina, dia dan Norman akan langsung pergi ke Los Angles untuk menyelidiki artefak yang ada di sana. Tentunya mereka sudah ditunggu dengan sebuah kejutan.