
Kedatangan mereka ke Italia tentu sudah diketahui oleh musuh yang memang menginginkan batu itu. Mereka berniat mencuri batu itu setelah Freya mendapatkannya. Seorang musuh dalam selimut yang telah membocorkan keberangkatan mereka ke Italia pada musuh yang tentunya adalah sekutu.
Anak buah Black Scorpion sudah berada di National History Museum meski museum itu belum dibuka karena masih pagi. Mereka sudah berpencar di lokasi karena mereka akan mengintai kedatangan Freya. Mereka pun sudah menyadap cctv yang ada di museum barang-barang bersejarah itu.
Norman dan Freya masih berada di hotel. Keadaan Freya sudah membaik, moodnya juga sudah membaik tapi satu hal yang membuatnya kesal, dia terbangun karena tangan Norman yang sudah berada di dalam celananya. Norman hanya ingin memeriksa dan mencari jawaban atas pertanyaan yang mengganggu tapi ternyata Freya tidak berbohong karena dia memang sedang datang bulan. Itu karena pembalut yang dia gunakan.
Freya tampak tidak senang, dia berusaha untuk menahan emosi dan tidak marah namun tatapan matanya sudah cukup menunjukkan jika dia sedang marah pada Norman. Pria itu hanya tersenyum, seperti tidak melakukan kesalahan tapi yang dia lakukan memang tidak salah karena sejak awal Freya memang mengatakan akan memberikan bukti padanya.
"Apa sudah puas?" tanya Freya. Dia tahu Norman memerlukan bukti tapi dia tidak menyangka Norman akan mencari buktinya secara diam-diam.
"Kau tidak mau menunjukkan buktinya jadi aku terpaksa mencarinya sendiri jadi jangan salahkan aku!" ucap Norman.
"Apa kau sudah puas setelah tahu?" tanya Freya.
"Tentu, jangan marah," Norman mendekatinya dan duduk di sisinya, "Aku hanya takut kau sedang hamil saja, oleh sebab itu aku memeriksanya untuk mencari tahu," ucap Norman lagi. Tangannya sudah berada di wajah Freya dan mengusapnya dengan perlahan.
"Aku tidak bodoh, aku tahu kita tidak memiliki hubungan spesial jadi aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kau tidak perlu khawatir karena aku tidak sedang hamil!"
"Baiklah, bagaimana dengan keadaan perutmu sekarang? Apa sudah membaik?"
"Tentu saja, aku hanya butuh istirahat saja."
"Baiklah, sekarang pergilah mandi. Kita pergi makan terlebih dahulu sebelum kita pergi ke museum."
Freya mengangguk, tangan Norman masih berada di wajahnya dan mengusapnya dengan perlahan. Freya sudah kembali seperti semula lagi, tidak bersikap menyebalkan bahkan Freya tidak menolak ciuman darinya. Ternyata Freya bersikap menyebalkan benar-benar akibat datang bulan. Seandainya Freya tidak sedang datang bulan, sudah dia gendong Freya ke dalam kamar mandi lalu mereka bisa menghabiskan waktu berdua di sana.
"Aku lebih suka dengan sikapmu yang seperti ini, Freya," Norman memeluk Freya setelah mencium bibirnya, tangannya pun tak henti membelai rambut Freya.
"Kau harus belajar lebih banyak untuk mengenal wanita, Norman."
"Benarkah?"
"Yeah, aku rasa kau tidak memiliki pengalaman akan hal itu dan kau tidak peka sama sekali, Norman. Sebaiknya kau lebih banyak belajar mengenal wanita agar kau bisa memperlakukan istrimu dengan baik nantinya."
"Baiklah, terima kasih atas nasehatmu. Bersama denganmu, aku belajar banyak hal. Aku sangat beruntung dapat bertemu denganmu," Norman memeluknya erat, sepertinya setelah semua selesai dia harus membawa Freya kembali ke istana.
"Aku juga sangat beruntung dapat bertemu denganmu!" Freya juga melakukan hal yang sama, memeluk Norman dengan erat.
"Hei, kenapa kita jadi seperti hendak berpisah?" tanya Norman.
"Kita memang akan berpisah, bukan?" tanya Freya pula.
"Bagaimana jika kau ikut denganku setelah kita menemukan ayahmu. Kau mau bukan?" Norman melepaskan pelukannya dan memandangi ekspresi Freya. Dia harap Freya bersedia ikut dengannya.
"Ke mana?" tanya Freya pura-pura tidak tahu.
"Ke tempatku. Aku tidak bisa mengatakannya sekarang tapi ikutlah denganku dan aku akan memberikan sebuah kejutan untukmu."
"Tentu saja. Tapi kau berjanji, bukan?"
"Yeah, giliran aku yang mengganggu hidupmu setelah ini sampai kau muak!" ucap Freya.
"Aku tidak keberatan!" Norman kembali memeluknya, entah kenapa dia merasa sangat senang. Seperti ada kembang api meledak dalam hatinya.
"Aku harap kau tidak bosan denganku!" Freya memejamkan kedua mata, menikmati pelukan Norman. Seperti yang dia putuskan, dia akan menikmati kebersamaan mereka yang entah akan berakhir indah atau tidak.
"Aku tidak akan bosan denganmu, Freya. Tidak akan pernah bosan!" Norman sudah mengangkat dagu Freya dan kembali mencium bibirnya. Sekarang dia jadi tidak sabar membantu Freya menemukan ayahnya karena dia sudah tidak sabar membawa Freya kembali ke istana lalu dia akan menyaksikan ekspresi bodoh Freya.
"Aku rasa aku sudah harus mandi. Kita harus pergi saat museum sedang ramai agar tidak ada yang curiga dengan apa yang akan kita lakukan."
"Kau benar, sekarang pergilah mandi."
Freya beranjak, Norman memegangi satu tangannya dan melepaskannya dengan perlahan. Norman bahkan tidak melepaskan pandangannya dari Freya yang melangkah menuju kamar mandi. Dia pasti akan membawa Freya kembali ke istana, terlepas dia pencuri atau apa pun. Tidak akan ada yang bisa mencegah dirinya.
Freya berdiri di balik pintu kamar mandi, dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Satu tangannya berada di perutnya, dia bahkan memandanginya. Sudahlah, tidak perlu banyak berpikir karena mereka harus bergegas pergi ke museum.
Freya mandi dengan cepat, dia tidak ingin membuang waktu karena masih ada teka teki yang harus dia pecahkan untuk mendapatkan batu itu. Ayahnya tidak mungkin meletakkan batu itu begitu saja, pasti ayahnya menyimpannya di tempat yang sulit ditemukan oleh siapa pun.
Setelah dia selesai, giliran Norman yang pergi mandi. Freya mengganti pakaiannya dengan cepat agar Norman tidak melihat. Hubungan mereka memang sudah kembali seperti semula tapi untuk hal-hal yang lain dia tidak ingin melakukannya.
Freya sudah rapi saat Norman keluar dari kamar mandi. Senyuman menghiasi wajah Norman, dia harap Freya tidak lagi menunjukkan sikap menyebalkan tapi seperti yang Freya katakan, dia harus banyak belajar untuk memahami seorang wanita.
"Kau ingin makan apa?" tanya Norman.
"Aku ingin makanan pedas," jawab Freya.
"Kau yakin?" tanya Norman lagi karena dia tidak pernah melihat Freya makan makanan pedas.
"Yes, makanan dari India sepertinya enak."
"Jika begitu kita akan makan makanan India tapi aku pakai baju terlebih dahulu!"
Freya masuk ke dalam kamar mandi saat Norman memakai pakaiannya, dia tidak mau melihat tubuh pria itu lagi oleh sebab itu dia menghindar. Norman tidak curiga apalagi Freya sedang mendandani penampilannya saat itu dan setelah selesai mereka pun pergi.
Mencari makanan yang Freya inginkan adalah hal pertama yang mereka lakukan saat keluar dari hotel. Freya benar-benar sudah tidak menunjukkan sikap menyebalkan lagi. Itu karena emosinya sudah kembali stabil. Tadinya mereka datang dengan pertengkaran tapi kini mereka sudah terlihat mesra seperti pasangan yang lainnya.
Restoran India yang berada tidak jauh dari hotel menjadi pilihan. Freya yang tidak pernah menikmati makanan India mendadak menyukainya. Dia bahkan memuji makanan itu, aneh. Sepertinya seleranya mulai berubah.
"Apa masih kurang?" tanya Norman saat mereka sudah selesai makan.
"Aku sudah kenyang!" Freya mengusap perutnya.
"Jika begitu, ayo kita pergi!" Norman mengulurkan tangan, Freya pun menyambutnya tanpa ragu. Mereka menyetop sebuah taksi yang akan membawa mereka ke museum dan mereka tidak tahu jika mereka sudah ditunggu oleh musuh yang sedari tadi sudah berada di museum.