
Freya membersihkan kekacauan yang terjadi sambil menangis. Ini kali pertama dia seperti itu, menunjukkan sisi lemah yang tisak pernah dia tunjukkan. Tentunya Freya menangis akibat merasa bersalah pada Cristina. Seharusnya dia meminta Cristina pergi saat ayahnya diculik tapi dia justru membiarkan Cristina bersama dengannya padahal dia tahu bahaya.
Setiap pecahan kaca dan pecahan benda lain diambil dan dilemparkan ke dalam tong sampah. Freya mengusa air matanya perlahan, dia membutuhkan hal itu. Dia perlu menumpahkan semua yang terasa menyesakkan dadanya. Sekuat-kuat dirinya, dia tetap saja wanita yang memiliki sisi lemah seperti wanita lainnya.
Norman bersandar di dinding, melihatnya dari kejauhan. Selama dia mengenal Freya, dia tidak pernah melihat Freya serapuh itu.
Dia mengira Freya tidak akan pernah seperti itu, seperti pada wanita umumnya apalagi sikapnya yang asal-asalan dan suka memerintah tapi sekarang, yang dia lihat saat ini hanya seorang wanita rapuh dan lemah saja yang membutuhkan dukungan.
Norman melangkah mendekatinya, Freya masih memunguti pecahan kaca yang ada di atas lantai. Freya bahkan tidak mempedulikan Norman yang berjongkok di sisinya dan membantunya memunguti pecahan kaca lalu memasukkannya ke dalam tong sampah.
"Aku tidak pernah melihatmu seperti ini," ucap Norman.
"Pergilah, kau bisa menertawakan keadaan yang memalukan!" ucap Freya.
"Bukan seperti itu, Freya. Kemarilah, tidak perlu dibersihkan lagi!"
"Jangan pedulikan aku Norman, kau bisa pergi jadi pergilah!" Freya masih mengambil pecahan kaca tanpa mau melihat ke arah Norman. Dia tidak mau memperlihatkan keadaannya yang memalukan.
"Hei, sudah aku katakan tidak perlu dibersihkan!" Norman meraih tangan Freya dan mengambil pecahan kaca yang ada di tangannnya.
"Sudah aku katakan, tinggalkan aku!" Freya berpaling dan tampak kesal. Norman tersenyum setelah melihat keadaannya yanh kacau. Kedua mata Freya membengkak dan memerah. Wajahnya bahkan memerah akibat menangis. Freya berusaha menahan air mata, dia kembali berpaling karena malu.
"Aku tampak memalukan, jangan lihat!" ucapnya.
"Tidak, bagiku kau tidak terlihat memalukan. Kau membutuhkannya jadi menangislah. Mungkin dengan begitu keadaanmu akan membaik."
"Apa kau mau meminjamkan bahumu untukku?" tanya Freya.
"Tentu saja, dengan senang hati!" Norman menarik Tangan Freya hingga berdiri dan setelah itu, Norman menggendongnya. Freya tidak menolak, dia justru kembali menangis sambil memeluk leher Norman dengan erat.
Norman membawa Freya ke ruang tamu sambil mengusap punggungnya. Setidaknya di sana sudah dibersihkan sehingga sofa bisa digunakan. Norman duduk di sofa sedangkan Freya berada di atas pangkuannya dan masih menangis.
"Semua akan baik-baik saja, Freya. Kita pasti akan mencari keberadaan mereka dan menyelamatkan mereka," hibur Norman.
"Semua salahku, Norman. Seharusnya aku memintanya untuk pergi dan tidak bersama denganku lagi tapi aku justru mencelakai dirinya dan mengulangi kesalahan yang sama."
"Jangan menyalahkan dirimu, Freya. Aku rasa kau sudah berusaha jadi jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu."
"Tapi semua memang salahku," ucap Freya.
"Ssttss, sudah aku katakan jangan menyalahkan diri sendiri!" Norman mengusap punggung Freya tanpa henti. Sepertinya Freya begitu menyayangi Cristina oleh sebab itu dia menyalahkan dirinya sendiri.
Freya menghapus air matanya, usapan tangan Norman membuat perasaannya lebih baik meski pun perasaan bersalah masih dia rasakan. Tidak saja mengusap punggungnya, Norman juga mencium wajahnya sesekali. Hal itu sudah cukup membuat keadaan Freya membaik sehingga tangisannya terhenti.
"Apa sudah baik-baik saja?" tanya Norman.
"Sudah lebih baik, terima kasih," Freya menghapus air matanya yang tersisa.
"Bagus, aku senang jika kau sudah baik-baik saja tapi kita harus pergi dari sini. Jangan tinggal di sini lagi."
"Aku harus pergi ke mana, Norman? Aku tidak bisa kembali ke rumah utama karena di sana juga berbahaya!" ucap Freya.
"Tidak perlu khawatir, kita cari rumah yang aman untuk ditinggali sambil mencari keberadaan musuh."
"Aku tidak bisa merepotkan dirimu lebih dari pada ini, Norman. Aku tidak mau berhutang budi padamu begitu banyak."
"Baiklah, karena kau berkata demikian jadi aku tidak akan merasa memiliki hutang budi padamu!" Freya menegakkan duduknya sambil menghapus air matanya. Norman tersenyum, tangannya sudah berada di wajah Freya dan mengusapnya dengan perlahan.
"Benar, sudah baik-baik saja?" tanyanya memastikan.
"Yeah, terima kasih," Freya turun dari atas pangkuannya dan duduk di sisi Norman. Dia memang tidak bisa tinggal di sana lagi karena musuh sudah mengetahui tempat tinggalnya. Jangan sampai mereka diserang saat lengah oleh sebab itu mengungsi lebih baik untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
Freya mengusap wajahnya, kejadian yang tidak terduga yang dia alami membuatnya harus berpacu dengan waktu. Bagaimana dia bisa menemukan keberadaan batu itu dalam waktu satu minggu? Dia tidak mungkin berkeliling dunia hanya dalam waktu satu minggu saja.
"Bagaimana ini?" tanyanya sambil mengusap dahi.
"Apanya yang bagaimana?" tanya Norman tidak mengerti.
"Bagaimana caranya menemukan keberadaan batu itu di replika mumi ke delapan?" Freya beranjak, dia harus memikirkan caranya. Dia tampak berpikir dengan keras sampai akhirnya dia teringat dengan sahabatnya sesama arkeolog. Mungkin saja Gabriel bisa membantunya menemukan keberadaan replika mumi yang dia cari.
"Yah, dia pasti bisa membantu," ucap Freya, dia segera melangkah pergi.
"Mau pergi ke mana?" tanya Norman. Freya tidak menjawab, dia justru mengambil ponselnya untuk menghubungi Gabriel. Selama ini dia selalu menyembunyikan nomor ponsel dari Gabriel oleh sebab itu Gabriel hanya bisa mengirimkannya surat.
"Gabriel, ini aku," ucap Freya saat Gabriel sudah menjawab.
"Freya, akhirnya kau menghubungi aku. Ada apa?" Gabriel terdengar senang.
"Sesungguhnya aku?" Ucapan Freya terhenti karena Norman sudah merebut ponselnya dan mengakhiri panggilan yang Freya lakukan pada Gabriel.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Freya tidak senang.
"Itu pertanyaanku, Freya. Apa yang kau lakukan?" Norman balik bertanya.
"Aku sedang meminta bantuan sahabatku, dia juga arkeolog. Mungkin dia bisa membantu aku menemukan replika mumi kedelapan yang kita cari!"
"Sebaiknya tidak, Freya. Sebaiknya tidak mempercayai siapa pun di saat keadaan sedang seperti ini!"
"Aku tahu tapi dia sahabatku sesama arkeolog. Dia pasti bisa membantu."
"Sebaiknya tidak. Aku sarankan lebih baik tidak mempercayai siapa pun!"
"Tapi tidak ada salahnya mencoba. Lagi pula dia selalu mengirim surat dan meminta aku melakukan penggalian lagi oleh sebab itu, aku rasa tidak ada salahnya bertanya padanya."
"Dengarkan perkataan, Freya. Jangan mempercayai siapa pun di saat keadaan seperti ini karena siapa saja bisa jadi musuh."
Freya diam, pandangannya tidak lepas dari Norman. Suara ponselnya berbunyi karena Gabriel menghubunginya. Freya masih belum menjawab, dia sedang memikirkan perkataan Norman.
"Aku sita ponselmu!" Ponselnya diambil oleh Norman, dia sudah menyebar anak buahnya jadi Freya tidak perlu bantuan orang lain apalagi dia tidak suka ada pria lain bersama dengan Freya apalagi arkeolog yang dikenal oleh Freya itu, belum tentu tahu apa pun.
"Tunggu, Norman. Aku harus mencari bantuan jadi kembalikan ponselku!" pinta Freya.
"Bantuan sudah ada di depan matamu jadi jangan cari yang lain. Sekarang bereskan barang-barangmu, kita pindah!" ucap Norman.
"Kembalikan dulu ponselku!" pinta Freya.
"Nanti aku kembalikan, sekarang segera bereskan barang-barangmu!" Norman menyimpan ponsel Freya ke dalam saku, dia tidak mau Freya berbicara dengan pria lain apa lagi di depan matanya jadi ponsel Freya akan dia tahan untuk sementara waktu.