
Norman dan Freya berlari menuju mobil yang terparkir cukup jauh setelah mereka berhasil mendarat dengan mulus saat melompati pagar yang tinggi. Para penjaga yang ada di dalam sudah berlari menuju pintu pagar, mereka tidak menyangka ada pencuri yang menerobos masuk dan mereka yakin, ada sesuatu yang telah dicuri oleh para pencuri itu oleh sebab itu mereka harus mengejar dan mendapatkan kembali apa pun benda yang telah tercuri.
Freya tidak membuang waktu, barang-barang yang dia bawa diletakkan dengan hati-hati dan setelah itu dia masuk ke dalam mobil. Mesin mobil dinyalakan, Norman sudah duduk di sisinya. Para penjaga sudah keluar dari pagar, mereka berlari ke arah mobil yang sudah mulai dijalankan oleh Freya.
Para penjaga rumah sang kolektor berdiri di tengah jalan untuk menghujani mobil Freya dengan timah panas. Freya tidak mundur, mobil bahkan dibawa dengan kecepatan tinggi. Meski mobil itu tidak anti peluru tapi dia semakin memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Suara dentingan peluru yang menghantam badan mobil terdengar, Freya berusaha menghindari peluru-peluru itu dengan membawa mobilnya asal-asalan. Norman berpegangan kuat, sungguh wanita yang nekad tapi dia memuji keberanian dan kehebatan yang Freya miliki. Malam ini, dia benar-benar belajar banyak hal dan dia mendapatkan pengalaman yang mendebarkan.
"Cari mati rupanya!" ucap Freya.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Norman.
"Menabrak mereka, apa lagi?"
"Kau sungguh gila, Freya!"
"Aku tidak suka menjadi penjahat tanggung. Jika ingin jadi penjahat, jadilah penjahat yang sesungguhnya!"
"Aku suka gayamu!" ucap Norman. perempuan memang harus seperti itu, tangguh dan tidak cengeng. Yang paling penting, tidak setengah-setengah.
"Pegang yang erat!" ucap Freya. Layaknya seorang pembalap, mobil dibawa dengan kecepatan tinggi, para penjaga masih saja menghujani mereka dengan timah panas bahkan salah satu dari mereka sudah berdiri di tengah-tengah dengan bazoka di tangan.
Norman berpegangan erat, baru kali ini dia berada di dalam mobil yang dibawa dengan super kencang itu. Sepertinya Freya tidak saja memiliki bakat menjadi pencuri profesional tapi dia juga berbakat menjadi pembalap profesional.
Bazoka yang ada di tangan penjaga sudah di tembakan, peluru itu melesat lurus ke arah mobil Freya yang memang sedang melaju dari arah yang berlawanan. Freya seperti ingin mengadukan mobilnya dengan peluru itu tapi setelah jarak mobil dan peluru bazoka sudah tinggal beberapa meter saja, Freya memutar setir mobil ke kanan untuk melakukan drift. Tatapan mata Norman dan Freya tak berkedip menatap peluru bazoka yang melintas di depan mata mereka dan dalam satu tarikan napas saja, peluru itu melesat cepat melewati mobil mereka dan menghantam sesuatu yang ada di sisi jalan. Masih dalam posisi mobil yang berjalan miring, Freya memutar setir mobil penuh ke kanan sehingga mobil itu berputar di jalan dan menyapu para penjaga yang masih berdiri di tengah jalan. Para penjaga itu pun tersapu dan terpental akibat ditabrak mobil.
"Wow.. Wow!" Norman berteriak, sungguh aksi gila yang membuatnya terkejut.
Freya benar-benar berubah seperti orang lain, sang arkeolog yang selalu berada di gurun kini berubah menjadi pembalap karena setelah menabrak para penjaga itu, Freya membawa mobilnya pergi dari tempat itu.
"Wow, kau benar-benar hebat!" puji Norman.
"Aku tidak hebat, jangan memuji!" Freya berpaling, dia baru menyadari jika baju yang dipakai oleh Norman basah bahkan ada bercak darah di jok mobil.
"Astaga, apa kau terluka?" tanya Freya.
"Hanya luka tembak saja, tidak perlu khawatir!"
"Jangan meremehkan luka tembak karena kau akan mati akibat kehabisan darah!" Freya menghentikan mobil setelah mereka cukup jauh karena dia merasa sudah cukup aman. Para pengawal itu tidak mungkin mengejar setelah kekacauan yang telah mereka lakukan.
Freya melompat keluar dari mobil lalu mengambil kotak obat dari jok belakang. Walau dia tidak suka dengan Norman tapi berkat pria itu, misinya malam ini dapat berjalan dengan lancar dan dia harus berterima kasih.
"Keluarlah, aku akan mengobati lukamu!" ucap Freya.
"Sudah aku katakan tidak apa-apa."
"Ayolah, kau terluka gara-gara aku. Walau aku sudah membunuh banyak orang semenjak aku berubah profesi tapi aku akan merasa sangat bersalah jika kau mati."
"Baiklah, aku juga tidak mau cepat mati!" Norman melepaskan pakaiannya tanpa ragu, Freya berpaling tanpa sadar. Jujur saja dia masih teringat dengan belalai yang tanpa sengaja dia lihat.
"Mau mengobati atau tidak?" tanya Norman karena Freya diam saja padahal dia sudah menunggu sedari tadi.
"Mungkin akan sedikit sakit," Freya membersihkan darah terlebih dahulu dan sekitar luka dengan alkohol.
"Sepertinya kau sudah terbiasa dengan hal seperti ini, Freya?" Norman tidak terlihat kesakitan sama sekali, untuk luka seperti itu sudah sering dia dapatkan akibat latihan berat yang harus dia jalani.
"Semenjak aku jadi pencuri, aku sudah mendapatkan banyak tembakan dan aku selalu mengeluarkan pulurunya seorang diri tapi terkadang Cristin akan membantu."
"Oh, yeah? Bagaimana dengan luka di lenganmu waktu itu?" Norman berbalik, lalu meraih lengan Freya untuk melihat luka di lengannya yang sudah diobati. Sepertinya yang dikatakan oleh wanita itu bukan isapan jempol semata.
Norman kembali berbalik, agar Freya bisa mengobati luka di bahunya. Mereka berdua diam untuk sesaat, Freya pun sibuk mempersiapkan beberapa alat yang bisa dia gunakan untuk mengeluarkan peluru yang belum terlihat.
"Cukup dalam, lebih baik kau pergi ke rumah sakit saja," ucap Freya.
"Tidak, lakukan saja!" perintah Norman.
"Baiklah," pisau dicuci dengan alkohol karena dia harus membuat sebuah luka terlebih dahulu jika ingin mengeluarkan peluru yang ada di bahu Norman.
"Terima kasih untuk bantuanmu malam ini," ucap Norman.
"Tidak.... perlu berterima kasih, Freya," jawab Norman sambil menahan rasa sakit saat pisau yang ada di tangan Freya sudah membuat sebuah luka. Darah segar mengalir, Freya benar-benar sudah ahli melakukan hal itu karena dia melakukannya dengan begitu cepat.
"Kau berkata kau memiliki kekuasaan, bukankah itu berarti kau bisa membersihkan namamu sendiri tanpa perlu terlibat seperti ini?" tanya Freya lagi.
"Memang benar, aku bahkan bisa melakukan apa pun dan aku bisa menjebloskan kau ke dalam penjara seperti yang aku katakan!"
"Jika begitu, kenapa tidak kau lakukan?" kini dia sedang berusaha menjepit peluru yang sudah terlihat dan menariknya keluar dari bahu Norman.
"Aku datang untuk berlibur, Freya. Aku ingin liburanku menyenangkan oleh sebab itu aku butuh tantangan dan terlibat denganmu adalah pilihan paling tepat yang aku ambil karena kau bisa memberikan pengalaman yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya!"
Freya diam, dia justru lebih fokus dengan apa yang sedang dia lakukan karena setelah peluru itu sudah dia dapatkan, dia harus menjahit luka di punggung Norman untuk menutupi lukanya. Ternyata itu alasan yang dimiliki oleh Norman sehingga mau terlibat dalam masalah yang sedang dia alami.
"Tapi kau tahu jika sangat berbahaya jika kau terus terlibat denganku, bukan?" tanya Freya.
"Tentu saja, aku tahu dan aku tidak takut dengan bahaya!"
"Baiklah, tahan sebentar!" pinta Freya karena dia akan mulai menjahit.
Norman berusaha menahan rasa sakit, jangan sampai dia terlihat memalukan di hadapan Freya. Hanya luka ringan seperti itu, rasa sakitnya pun tidak lama.
"Setelah malam ini kau akan terlibat semakin jauh denganku, Norman. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku akan membersihkan namamu nanti setelah semuanya selesai!" ucap Freya.
"Pikirkanlah dirimu sendiri, aku rasa kita sudah harus pergi dari tempat ini!"
"Kau benar, sedikit lagi sudah selesai!" jahitan terakhir sudah dilakukan, Freya menggunakan sebuah gunting kecil untuk menggunting benang, "Seharusnya kau ke rumah sakit agar tidak meninggalkan bekas jelek nantinya!" ucapnya lagi.
"Tidak masalah, luka ini akan jadi kenangan-kenangan."
"Sudah selesai!" Freya sudah menempelkan sesuatu di luka yang sudah selesai dia jahit.
"Terima kasih," baju kembali di kenakan, Freya pun bergegas menyimpan kotak obat dan setelah itu dia kembali masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat itu. Malam yang cukup melelahkan dan tentunya malam yang sangat menyenangkan dan penuh tantangan bagi Norman meski sebuah luka dia dapatkan.