
Pesawat sudah mendarat, Freya semakin kesal dengan Norman karena dia sengaja memanasi dirinya dengan dua wanita yang berada di dalam pesawat itu. Kekesalan Freya semakin memuncak karena kedua wanita itu kembali menghampiri Norman sebelum mereka keluar dari pesawat.
Ekspresi wajah Freya sudah sangat tidak bersahabat saat melihat itu apalagi kedua wanita itu menghalanginya untuk keluar dari tempat duduknya. Norman juga tidak bisa mencegah karena dia yang memulai sejak awal. Mau tidak mau dia menerima nomor ponsel yang diberikan oleh kedua wanita itu meski dia merasa seperti ada malaikat pencabut nyawa di belakangnya karena saat itu Freya sedang menatapnya tajam.
"Jangan lupa untuk menghubungi kami, Norman. Kita bisa pergi berpesta besok," ucap salah satu dari wanita itu.
"Um, ya," jawab Norman. Dia jadi enggan berpaling karena dia yakin Freya pasti ingin menelannya hidup-hidup.
"Menyingkir dari jalanku!" bentak Freya kesal.
"Apa masalahmu?" seorang wanita itu tidak terima.
"Apa kau buta? Pesawatnya sudah kosong, jika ingin berpacaran jangan di depan mataku dan jangan menghalangi jalanku!" ucap Freya sinis. Norman segera menyingkir agar Freya bisa lewat. Padahal pesawat masih penuh bahkan penumpang sedang mengantri untuk keluar. Freya mendengus dan melangkah pergi, hatinya benar-benar panas membara.
"Cih, wanita yang tidak menyenangkan. Apa dia kenalanmu?" tanya salah satu wanita itu pada Norman yang sedang mengambil barangnya yang ada di atas kabin.
"Hm, dia pacarku!" jawab Norman asal. Dia menjawab demikian agar kedua wanita itu tidak mengganggunya lagi.
"Apa?" kedua wanita terkejut dan tampak kesal. Norman sudah pergi mengejar Freya yang sudah berada di depan. Dia bahkan menerobos orang-orang yang sedang berbaris dengan rapi.
"Hei, jangan menerobos!" teriak seorang penumpang.
"Sorry," Norman meminta maaf tapi dia kembali menerobos.
Freya sudah turun dari pesawat, dia berlari pergi karena dia tahu Norman mengejar dirinya. Norman kebingungan mencari keberadaan Freya setelah diluar. Dia pun mencari Freya di dalam bandara tapi Freya tidak ada. Aneh, begitu cepat larinya sehingga tidak meninggalkan jejak tapi yeah, memang dia yang salah terlebih dahulu.
Norman melangkah menuju pintu keluar, dia lupa mengabari adiknya jika dia sudah pergi dari London. Ini kesempatan karena dia tidak mau Freya mendengar percakapannya dengan sang adik sehingga Freya mencari tahu identitasnya. Meski identitasnya tidak akan ditemukan oleh siapa pun tapi jika Freya sudah mendengar percakapannya dengan Vanila, dia yakin Freya pasti akan curiga.
"Kak Norman, kenapa baru menghubungi aku?" tanya Vanila.
"Ada apa? Apa kau mencari aku?" tanya Norman heran.
"Aku menghubungimu tadi pagi, tapi kekasihmu yang menjawab. Apa dia tidak mengatakannya padamu jika aku mencarimu?"
"Freya?" Norman justru balik bertanya.
"Ck, kenapa jadi tulalit seperti itu? Apa ada yang lain selain Freya?"
"Serius, kau menghubungi aku?"
"Jika bukan Freya lalu siapa lagi kekasihmu?" Vanila jadi kesal dengan sikap kakaknya.
"Wait, jadi kau menghubungi aku?" tanya Norman memastikan.
"Memang tidak!" sekarang dia jadi tahu kenapa Freya bersikap tidak menyenangkan bahkan berkata dia sudah memiliki kekasih. Tunggu, langkah Norman terhenti. Jangan katakan gara-gara adiknya Freya jadi cemburu. Ini sangat masuk akal, pantas saja Freya marah dan ingin memanasinya dengan pria di pantai itu, Dia juga tidak mengeri saat Freya menyebut kekasih dan sekarang terjawab sudah kenapa Freya bersikap menyebalkan saat dia kembali ke hotel.
Baiklah, akhirnya terjawab apa yang sedang terjadi tapi kenapa Freya harus cemburu pada Vanila? Apakah?
"Kenapa kau diam saja?" pertanyaan Vanila membuat pikiran Norman buyar.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Mungkin Freya lupa, katakan ada apa kau mencari aku?"
"Aku ingin memberikan sesuatu untukmu, datanglah ke rumah."
"Sorry, Vanila. Aku sudah tidak berada di London."
"Apa? Kenapa begitu cepat pergi?" tanya Vanila.
"Aku memang tidak lama di kota itu. Katakan apa yang ingin kau berikan?"
"Bukan hal penting, jika kau sudah pergi ya sudah. Aku dan suamiku mau pulang ke Swedia, kapan kau akan kembali?"
"Nanti, setelah liburanku selesai. Jika kau pulang, jangan mengatakan apa pun pada Mommy dan Daddy!"
"Tidak perlu khawatir tapi jika kau tidak kembali dengannya, maka aku akan mengatakan pada mereka akan keberadaan Freya!" ancam Vanila.
"Tidak perlu mengancam, aku pergi dulu!" Norman mengakhiri percakapan mereka, dan kembali melangkah. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dia yakin Freya pasti sudah kembali oleh sebab itu dia pun memutuskan untuk segera kembali ke rumah Freya.
Freya yang sudah berada di sebuah taksi tampak termenung. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa dia bersikap menyebalkan beberapa hari belakangan. Dia seperti sedang cemburu saat melihat Norman bersama dengan kedua wanita itu. Sesungguhnya dia sudah merasakan perasaan itu semenjak wanita yang bernama Vanila itu menghubungi Norman. Aneh, apa dia sedang cemburu? Tapi untuk apa?
Freya memikirkan apa yang sedang terjadi padanya begitu keras tapi dia tidak mau mengakui jika dia sudah jatuh cinta. Dia tidak percaya cinta akan tumbuh dengan begitu cepatnya apalagi dia dan Norman adalah orang asing. Seharusnya dia tidak menyerahkan dirinya pada Norman. Mungkin dengan begitu perasaan yang dia rasakan saat ini tidak akan dia rasakan. Bisa saja perasaan yang dia rasakan karena Norman adalah pria pertama yang tidur dengannya.
"What's wrong with you, Freya?" Freya bertanya pada diri sendiri sambil mengusap wajahnya. Dia benar-benar tidak tahu, harinya jadi kacau gara-gara kehadiran Norman, pria misterius yang tidak dia ketahui asal usulnya. Pria itu muncul secara tiba-tiba menghancurkan harinya.
Plaakkk!! Freya menepuk kedua pipi. Tidak, dia tidak boleh terlibat perasaan pada pria mana pun. Sejak awal dia dan Norman hanya terlibat cinta satu malam saja oleh sebab itu dia harus berusaha menahan diri meski sudah ada cinta di hatinya dan meski dia merasa cemburu. Dia harus bisa menahan semua perasaan yang bergejolak di hati dan fokus pada misi mencari keberadaan ayahnya apalagi setelah selesai, dia akan menyerahkan diri.
Taksi yang dia tumpangi sudah berhenti karena dia sudah sampai. Freya keluar dari mobil dan melangkah menuju rumah dan pada saat yang bersamaan, Norman pun tiba. Freya melihat ke arah Norman yang sudah melangkah cepat menghampirinya. Dia berusaha untuk bersikap biasa saja, Freya bahkan tersenyum meski dengan susah payah. Norman jadi heran dengan sikap Freya yang tidak seperti biasanya.
"Maaf aku meninggalkan dirimu," ucap Freya. Tentunya Norman jadi semakin heran karena sikap Freya.
"Ada apa denganmu? Apa kau tidak marah denganku?" tanya Norman. Bukankah Freya akan bersikap sinis seperti yang biasa dia lakukan tapi kenapa sikapnya mendadak berubah?
"Untuk apa aku marah? Aku yang salah sudah meninggalkan dirimu, maaf," Freya kembali melangkah menuju pintu rumahnya meninggalkan Norman yang masih saja belum juga mengerti dengan perubahan sikap Freya yang mendadak berubah.
"Kau mau masuk atau tidak?" Freya berteriak dan menunggunya di depan pintu. Norman semakin heran, aneh. Freya tidak pernah sebaik itu dan menunjukkan sikap seperti itu. Norman melangkah mendekati Freya, wanita itu tidak mengatakan apa pun dan masuk ke dalam kamarnya. Norman ditinggal dengan banyak pikiran. Sial, sekarang dia jadi merasa jika dia lebih menyukai sikap Freya yang seperti biasanya karena sikap yang dia tunjukkan saat ini benar-benar seperti menyimpan banyak rahasia.