Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Kencan Pertama



Mereka tidak langsung kembali ke New York karena Freya berniat mengunjungi beberapa museum yang ada di sana untuk mencari petunjuk tapi akan dia lakukan besok. Setelah mengetahui identitas Norman, Freya berpikir dengan keras karena dia ingin tahu apa yang harus dia lakukan. Apakah dia harus bersikap seperti biasanya? Ataukah dia harus mengusir Norman pergi agar pria itu kembali ke istananya.


Malam itu, rasanya dia ingin menyendiri untuk mencari angin segar sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan. Freya berdiri di balkon kamar, dia sedang berpikir. Norman masih tidur di atas ranjang, mereka berdua tertidur akibat lelah. Freya pun baru terbangun dan keadaan di luar sudah gelap.


Freya menghela napas, lebih baik memiliki rekan seorang mantan kriminal dari pada seseorang yang memiliki kedudukan tinggi seperti Norman. Identitas yang tidak terduga itu justru membuatnya bingung dengan apa yang harus dia lakukan.


Norman terbangun dan meraba ranjang, untuk mencari keberadaan Freya. Wanita yang dia cari tidak ada lagi di sisinya. Norman beranjak dari tempat tidur, kakinya melangkah dengan perlahan menuju balkon karena pintunya yang terbuka. Dia yakin Freya berada di sana oleh sebab itu Norman langsung menuju balkon. Senyuman menghiasi wajahnya, saat melihat Freya sedang duduk di pagar pembatas. Padahal kamar mereka berada di lantai tiga puluh lima tapi Freya tidak takut sama sekali.


Rasanya jadi ingin menakuti Freya, Norman melangkah sepelan mungkin untuk mendekati Freya. Freya benar-benar tidak tahu kehadirannya oleh sebab itu, Norman mendorong tubuh Freya untuk mengejutkan dirinya. Freya berteriak dengan keras sambil mencoba mencari pegangan. Dia akan jatuh, dia yakin namun dia mendapatkan pegangan yaitu tangan Norman.


"Sial!" Freya mengumpat sambil mengatur napas. Jantungnya berdegup kencang dan wajahnya tampak pucat. Norman tertawa melihat ekspresi wajahnya yang ketakutan, sedangkan Freya kesal setengah mati.


"Apa kau sudah gila? Apa kau ingin membunuhku?" teriak Freya marah.


"Maaf, aku hanya ingin mengejutkan dirimu saja. Lagi pula kau sudah tahu berbahaya tapi kenapa kau duduk di sini? Bagaimana jika ada angin kencang lalu kau tergelincir? Kau bisa mati konyol di bawah sana!" ucap Norman.


"Apa pedulimu?" Freya melompat ke bawah dan melangkah menuju sisi balkon lainnya.


"Kenapa bertanya demikian? Tentu saja aku peduli!" Norman mengikuti langkahnya dan memeluknya dari belakang.


"Seberapa besar rasa pedulimu padaku, Norman?" Freya bersandar di dadanya, sebaiknya bersikap biasa saja dari pada membuat Norman curiga dengan sikapnya.


"Cukup besar," jawab Norman.


"Sebesar apa, coba katakan?" Freya berbalik, dan menatap Norman dengan lekat.


"Yeah, besar tapi aku tidak tahu sebesar apa. Kenapa kau jadi bertanya demikian?" tanya Norman, dia merasa ada yang berbeda dari Freya.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin tahu saja!" Freya kembali berbalik dan bersandar di dada Norman. Sebisa mungkin, dia akan menikmati kebersamaan mereka sebelum mereka berpisah pada akhirnya.


"Apa yang akan kita lakukan malam ini, Freya?" Norman membenamkan wajahnya ke leher Freya dan menghirup aroma tubuhnya yang manis.


"Entahlah, apa kau tidak mau mengajak aku berkencan, Norman? Aku tahu kau mampu, jadi ajaklah aku berkencan di tempat romantis di mana hanya ada kau dan aku," pinta Freya. Ini akan menjadi permintaan pertama dan terakhirnya pada Norman karena dia tidak akan meminta hal itu lagi.


"Baiklah, kita akan berkencan tapi aku akan mengajakmu tidak jauh, cukup di hotel ini saja agar tidak ada yang mengganggu malam kita berdua!" ucap Norman setuju. Mereka memang harus memiliki waktu berduaan seperti itu apalagi ini akan menjadi kencan pertama yang mereka lakukan.


"Tidak masalah, tidak perlu jauh yang penting tidak ada yang mengganggu waktu kita berdua. Aku akan segera bersiap-siap," Freya berbalik, dia tampak bersemangat.


"Berdandanlah secantik mungkin!" Norman mengangkat dagu Freya dan memberikan kecupan lembut di bibirnya, "Kau akan mendapatkan apa pun yang kau inginkan malam ini," ucapnya lagi.


"Senang mendengarnya, Norman. Aku akan mandi terlebih dahulu!" Freya melangkah pergi karena dia ingin bersiap-siap untuk berkencan bersama dengan pria yang mungkin saja akan menjadi pria satu-satunya yang pernah bersama dengannya.


Norman pun masuk ke dalam kamar, ponsel yang ada di atas meja diambil karena dia ingin menghubungi pihak hotel dan meminta mereka untuk mengosongkan restoran yang ada di atas atap gedung hotel. Dari sana mereka bisa mendapatkan pemandangan yang luar biasa dan juga suasana romantis apalagi tidak akan ada yang mengganggu kebersamaan mereka, mau ada musuh sekalipun.


Norman berbicara dengan resepsionis hotel cukup lama sampai akhirnya dia mendapatkan apa yang dia mau. Tidak perlu menggunakan gaun mewah, tidak perlu memberikan seikat bunga untuk terlihat romantis yang penting kebersamaan mereka berdua tanpa ada yang mengganggu apalagi sudah dua kali acara makan mereka tidak berjalan dengan lancar.


"Aku sudah siapa, apa sudah cukup berpenampilan seperti ini?" tanya Freya.


"Tentu, tapi lukamu harus diobati terlebih dahulu," Norman mengambil obat oles yang ada di atas meja, Freya mengangkat bajunya sedikit agar Norman bisa mengoleskan obat dengan mudah.


"Terima kasih, Norman. Aku akan mengingat kebaikanmu ini sampai kapan pun."


Norman pergi mandi sebentar, sedangkan Freya merias wajahnya dengan make up yang selalu berada di dalam tasnya. Meski seadanya tapi penampilannya cukup memuaskan. Norman pun sudah selesai, mereka bergegas pergi menuju restoran yang berada di atas gedung.


Seperti yang Norman inginkan, tempat itu sudah kosong. Tidak ada tamu lain selain mereka berdua. Freya tahu Norman pasti bisa melakukannya dan ini adalah malam mereka yang tidak akan pernah dia lupakan.


"Bagaimana, Freya? Apa kau menyukai tempat ini?" tanya Norman.


"Tentu saja, di sini sangat bagus. Pemandangannya juga sangat indah. Meski tidak jauh, kau benar-benar tidak mengecewakan," ucap Freya. Tempat romantis yang sangat bagus apalagi langit malam tampak indah, bulan bersinar terang dan bintang-bintang gemerlapan di atas langit di tambah pemandangan kota yang menakjubkan, kencan pertama mereka akan menjadi kencan yang tidak akan pernah dia lupakan.


"Malam ini kau ratunya, Freya. Kau boleh meminta apa saja yang kau inginkan!"


"Terima kasih, sebotol anggur dengan sepotong steak dengan kualitas terbaik aku rasa untuk menjadi pembuka kencan pertama kita."


"Seperti keinginanmu, Freya," Norman mengulurkan tangan, mengajak Freya menuju kursi yang sudah disediakan untuk mereka di mana sebuah lilin sudah menyala di atasnya.


"Sayangnya tidak ada bunga yang bisa aku berikan untukmu," ucap Norman.


"Tidak masalah, seperti ini saja sudah cukup," Freya tersenyum ketika Norman menarik kursi untuknya dan setelah Freya duduk, Norman pun duduk di kursinya.


Mereka berdua saling pandang, senyuman menghiasi wajah Freya. Meski sesaat saja namun kebahagiaan yang diberikan Norman benar-benar tidak akan dia lupakan. Makanan pun dipesan, Norman sudah menyiapkan kejutan untuk Freya tanpa Freya tahu.  Sebotol anggur juga steak yang Freya inginkan sudah terhidang, tidak saja makanan itu, mereka juga memesan menu lain sampai mereka berdua selesai menikmati makanan yang ada di tempat itu.


"Apa sudah selesai? Apa ada yang kau inginkan lagi?" tanya Norman.


"Tidak, ini sudah cukup. Setidaknya aku tidak perlu lari saat kita belum menyentuh makanannya!"


"Sepertinya kau jadi trauma?"


"Tidak, aku hanya ingin makan dengan tenang saja. Terima kasih sudah mengabulkan keinginanku," ucap Freya.


"Kemarilah, ada sesuatu yang hendak aku tunjukkan padamu," Norman sudah beranjak dan mengulurkan tangan.


"Apa ada yang lain?" tanya Freya.


"Tentu saja, aku sudah menyiapkan kejutan untukmu."


"Aku jadi tidak sabar!" Freya menyambut uluran tangan Norman, lalu mengikuti langkahnya menuju sisi restoran di mana mereka bisa melihat pemandangan kota dengan jelas.


"Apa kau mau menunjukkan hal ini padaku?" tanya Freya.


"Tidak, lihatlah ke atas sana," Norman menunjuk ke atas, dia sudah meminta pihak hotel menyiapkan kembang api untuknya. Freya mendongak, dia masih tidak mengerti tapi ketika melihat kembang api meledak dengan indah di atas sana, Freya terkejut dan tampak takjub.


"Wow, apa kau yang menyiapkannya?" tanya Freya.


"Tentu saja, untukmu!"


"Terima kasih, Norman," Freya memeluk leher Norman dan mencium bibirnya, "Terima kasih sudah mengabulkan permintaanku dan memberikan kebahagian ini untukku," ucapnya lagi.


"Tidak perlu berterima kasih, Freya. Kita sama-sama menikmatinya."


"Kau benar, setelah ini aku ingin mandi keringat denganmu di atas ranjang!" setelah berkata demikian, Freya kembali mencium bibir Norman. Kedua tangan Norman sudah melingkar di tubuh Freya, memeluknya erat. Mereka berdua berciuman dengan mesra di bawah ledakan kembang api yang indah. Seperti kembang api itu, perasaan bahagia yang dirasakan oleh Freya meledak di dalam hatinya dan dia tidak akan melupakannya.