Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Aksi Di Jalanan



Mobil mereka dikejar oleh tiga pria yang tak menyerah untuk mendapatkan artefak itu kembali. Mereka yang mendapat tugas untuk menjual benda berharga itu di London tidak mungkin kembali ke Hong Kong dengan tangan kosong tanpa hasil apalagi artefak itu terjual dengan harga fantastis.


Freya semakin yakin jika mereka bertiga ada hubungannya dengan penculikan ayahnya dan dia pun yakin, ketiga pria itu berasal dari organisasi yang berbahaya tapi bukan berarti dia harus takut. Dia tidak akan takut karena malam ini dia ingin menangkap salah satu dari mereka untuk diinterogasi.


Mobil yang dibawa oleh Norman melaju dengan kecepatan tinggi, Freya meletakkan tas ke belakang di tempat yang aman. Jangan sampai artefak milik ayahnya rusak jika tidak usaha mereka akan sia-sia.


"Pasang sabuk pengamanmu dengan baik, Freya!" perintah Norman.


"Aku menginginkan salah satu dari mereka jadi kita harus menangkapnya, Norman!"


"Apa kau masih berpikir mereka ada hubungannya dengan ayahmu yang menghilang?"


"Aku sangat yakin oleh sebab itu, aku menginginkan salah satu dari mereka untuk diinterogasi."


"Baiklah, sudah lama aku sangat ingin melakukan hal ini!" Norman begitu bersemangat, Freya berpaling dan menatapnya dengan tatapan heran.


"Kau tidak pernah ke kota ini jadi jangan sampai tersesat!" teriak Freya.


"Tidak perlu khawatir, mendadak aku mendapatkan kekuatan super!" ucap Norman bercanda.


"Jangan terlalu banyak bergaya!" kini Freya membalikkan perkataan Norman.


"Lihat saja, jangan sampai kau terkagum!" Norman terlihat begitu percaya diri.


"Awas jika sampai tertangkap!" Freya berpegangan, kali ini dia akan mempercayai Norman.


Norman yang sedang memiliki semangat maksimal, tentu saja begitu bersemangat. Mobil dibawa dengan kecepatan yang cukup tinggi, mendadak Norman merasa seperti seorang pembalap. Dia benar-benar menikmati liburan yang dia lakukan.


Ketiga pria itu mengejar karena tidak peduli dengan apa pun, mereka harus mendapatkan artefak itu. Mobil mereka pun melaju dengan kecepatan tinggi, melewati mobil yang memadati jalanan. Norman tidak mengurangi kecepatan mobilnya barang sedikit pun, dia akan memancing orang yang mengejar mereka ke tempat yang sepi lalu menangkap mereka.


"Apa kau yakin dengan apa yang kau lakukan, Norman?" teriak Freya.


"Sebaiknya siapkan sebuah hadiah untukku!" teriak Norman pula.


Mobil dibawa meninggalkan jalanan yang ramai, tentunya mereka terus diikuti. Kedua mobil saling mengejar di jalanan yang semakin sepi saja. Freya tidak tahu Norman akan membawanya ke mana tapi dia merasa pria itu sangat mengenali jalanan yang mereka lewati.


"Sepertinya kau udah hapal dengan jalan ini, Noman?" tanya Freya curiga.


"Aku hanya asal jalan saja!" dusta Norman.


Freya menatapnya dengan tatapan tidak percaya, dia sungguh tidak mempercayainya tapi itu bukan waktu yang tepat untuk mereka berbincang karena pada saat itu juga, Brakkkk!! Mobil yang dibawa oleh Norman ditabrak dari belakang. Tidak saja satu kali tapi beberapa kali sampai membuat mobil mereka berputar dan hilang keseimbangan.


"Sial, mereka benar-benar menantang aku!"


"Bawa mobil dengan benar, aku yang akan menembak mereka!" sabuk pengaman dilepaskan. Freya mengeluarkan tubuhnya sebagian dari jendela mobil dan menghadap ke belakang. Dua senjata api sudah berada di tangannya. Norman membawa mobilnya semakin cepat dan ketika sudah berjarak cukup jauh, Freya menembaki mobil musuh yang mengejar mereka.


Tembakan yang diberikan oleh Freya menghantam badan mobil musuh karena musuhi menghindarinya. Freya berusaha membidik roda mobil tapi ternyata dia pun mendapatkan balasan karena dua orang dari pria yang mengejar mereka juga menghujani mobil mereka dengan timah panas.  Tidak saja menghujani mobil mereka, mereka pun berusaha menembaki Freya yang sedang mengeluarkan tubuhnya dari samping.


"Sial!" Freya kembali masuk dan duduk. Selongsong peluru yang kosong dikeluarkan dan setelah itu senjata api diisi dengan selongsong yang penuh dengan peluru.


"Sebaiknya pasang sabuk pengaman dengan benar, aku punya ide untuk untuk mengelabui mereka," ucap Norman.


"Seperti perkataanmu!" Freya kembali memasang sabuk pengaman, dia akan kembali mempercayai pria itu.


Norman membawa mobilnya dengan asal karena setiap kali mobilnya hendak ditabrak, Norman menghindari mobil musuh dan dia terus melakukan hal yang sama sampai musuh yang mengejar mengumpat kesal. Norman benar-benar membawa mereka bermain di jalanan, mempermainkan mereka sampai ketiga pria itu sangat kesal. Menyenangkan, sangat menyenangkan.


Freya semakin curiga dan ingin tahu, siapa sebenarnya Norman? Apa dia mantan pembalap yang memiliki hutang? Pria itu cukup gila beraksi di jalanan dan sampai sekarang dia tidak terlihat takut sama sekali. Norman sudah memiliki rencana sendiri, setelah mempermainkan orang-orang yang mengejarnya kini dia membawa mobilnya dengan kecepatan yang tinggi sehingga mobilnya melesat pergi.


Mobil ketiga pria itu mulai berjalan lambat, mereka melakukan hal itu untuk mencari keberadaan mobil target yang mendadak menghilang. Mereka yakin jika mobil yang mereka kejar berada di sekitar tempat itu dan tidak mungkin bisa mendadak menghilang tapi ke mana mereka? Jangan katakan target mereka sudah menghilang begitu saja.


"Ke mana mereka?" salah satu dari pria itu tampak panik dan marah.


"Bukankah kita melihat mereka berada di jalan ini tadi?" tanya yang lain.


"Cari, sepertinya mereka ingin mengelabui kita!"


Dua teropong yang bisa melihat di dalam gelap pun digunakan, mereka yakin jika musuh yang mereka kejar pasti sedang mengelabui jadi mereka harus waspada. Dua orang melihat sisi jalan yang berbeda, dengan teropong yang mereka gunakan, mereka bisa melihat musuh yang sedang bersembunyi dengan teropong itu.


Norman memang menyembunyikan mobilnya di sisi jalan yang sangat gelap, dia akan keluar saat waktu yang tepat. Mobil musuh sudah cukup dekat, Norman sudah siap begitu juga dengan Freya yang saat itu sedang membidik musuh dengan sebuah senjata peledak.


Freya begitu fokus, mereka tidak boleh gagal apalagi dia menginginkan salah seorang dari pria itu dalam keadaan hidup. Mobil musuh sudah begitu dekat dan sebelum keberadaan mereka disadari oleh musuh, Norman menyalakan mesin mobil yang sudah menghadap ke arah mobil musuh dan menyalakan lampu mobil sehingga menyinari mobil musuh.


Musuh yang mencari sedari tadi terkejut, dua dari mereka mulai mengambil senjata api untuk menembaki musuh yang ada di sisi jalan tapi pada saat itu, sebuah tembakan dari senjata api peledak yang di tembakan oleh Freya melesat dengan cepat ke arah mobil musuh.


"Awas?" teriakan itu terdengar dari salah satu ketiga pria itu. Setir mobil diputar dengan cepat untuk menghindari peluru yang melesat dengan cepat dan mereka berhasil menghindarinya tapi tidak untuk dua peluru yang di tembakan kemudian dan dua peluru itu sudah menghantam badan mobil mereka.


Ketika pria itu saling pandang, dan tanpa membuang waktu dua dari mereka berteriak dan melompat keluar dari mobil namun tapi naas bagi yang membawa mobil, karena dia tidak sempat keluar dari mobil katika dua peluru ledak yang menghantam mobil meledak. Akibat dua peluru ledak itu, mobil langsung hancur berkeping-keping dan mobil itu menghantam pohon yang ada di sisi jalan dalam keadaan terbakar.


Dua pria yang lain berada di atas aspal jalan. Mereka harus mendapatkan beberapa luka di tubuh karena mereka berguling di atas aspal jalan dan itu adalah waktu bagi Norman. Mobil sudah kembali di jalankan, melesat dengan kecepatan tinggi ke arah salah seorang pria yang sudah berusaha untuk berdiri. Freya membutuhkan satu orang maka mereka tidak membutuhkan yang dua itu.


Pria yang sudah beranjak dan terlihat pincang terkejut, teriakannya terdengar karena mobil Norman sudah dekat dan tanpa bisa menghindar, mobil menghantam tubuhnya sehingga membuatnya terpental ke jalanan. Pria itu langsung mati di tempat, menyusul rekannya yang lain akibat mati meledak.


Tersisa satu saja, Freya segera menghampiri pria yang tersisa dengan senjata api yang ditodongkan. Pria itu mengalami patah kaki, oleh sebab itu dia hanya bisa menarik kakinya ke aspal jalan.


"Apa yang kau inginkan?" tanya pria itu dalam bahasa Hong Kong.


"Katakan padaku, apa kau kelompok yang telah menculik Nathan Walner?" tanya Freya.


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan?" teriak pria itu.


"Jawab dengan benar!" teriak Freya dengan penuh emosi.


"Aku tidak tahu!" pria itu pun berteriak karena dia memang tidak tahu apa yang di bicarakan oleh Freya. Yang bisa berbicara bahasa Inggris adalah rekannya dan rekannya sudah mati akibat ledakan.


Norman menghentikan mobilnya tidak jauh dari posisi Freya, lampu mobil menyinari Freya agar dia bisa melihat rupa pria yang sedang dia interogasi dengan mudah. Pria yang datang dari Hong Kong itu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Freya katakan dam mau tidak mau Norman yang berbicara dengannya karena dia memang pandai beberapa bahasa.


"Wanita itu, mencari seorang arkeolog yang diculik bernama Nathan Walner. Artefak yang kalian jual adalah miliknya jadi katakan di mana pria itu berada?" tanya Norman dalam bahasa Hong Kong. Freya kembali terkejut, sungguh luar biasa. Tidak saja bisa berbahasa Vietnam tapi Norman pun bisa berbicara dalam bahasa hong kong. Pria itu benar-benar membuatnya semakin pensaran.


"Aku tidak tahu, dia hanya wanita gila yang mengambil artefak milik bos kami. Aku akan memperkosanya jika dia jatuh ke tanganku dan aku akan membunuhnya dengan keji!" ucap pria itu sambil melotot ke arah Freya dan dengan ekspresi tidak menyenangkan.


"Apa yang dia katakan?" tanya Freya.


"Tidak ada, jangan dipikirkan!" ucap Norman.


"Cepat interogasi sebelum ada yang datang!" perintah Freya.


"Cepat katakan, di mana Nathan Walner!" tanya Norman.


"Go to hell!" ucap pria itu dan tanpa Norman dan Freya duga, pria itu menembak kepalanya sendiri dengan pistol yang diam-diam dia ambil. Freya hendak mencegah tapi sudah terlambat karena pria itu sudah tergeletak di atas aspal dengan keadaan tak bernyawa.


Freya mengumpat, hilang sudah petunjuk yang dia miliki. Freya memeriksa pria itu, identitas dan yang lainnya tapi hanya sebuah tanda yang dia temukan di dada pria itu. Kemungkinan itu adalah tanda pengenal, dan semoga saja tanda itu bisa menjadi petunjuk baginya nanti.


Karena ketiga pria itu sudah mati jadi Norman mengajak Freya meninggalkan tempat itu sebelum ada yang lewat dan melihat mereka. Malam yang menyenangkan meski mereka tidak mendapatkan jawaban di mana ayah Freya berada tapi itu adalah permulaan karena petunjuk yang Freya dapatkan akan membawanya pada kelompok yang telah menangkap ayahnya dan kelompok yang menginginkan batu berharga yang disembunyikan oleh ayahnya.