
Freya berjalan menyelusuri trotoar sambil menggerutu. Entah kenapa dia sangat kesal dan semua itu akibat pikirannya sendiri. Tidak seharusnya dia mempedulikan hubungan Norman dengan wanita mana pun karena mereka tidak memiliki hubungan spesial.
Dia pun tidak menyesal telah tidur dengan Norman karena dia juga menikmatinya. Lagi pula sejak awal dia tahu jika apa yang mereka lakukan hanya cinta satu malam saja. Dia pun tahu mereka berdua akan berpisah suatu hari nanti jadi tidak seharusnya dia kesal hanya karena dia tahu ada wanita lain yang memiliki hubungan dengan Norman.
Tidak benar, seharusnya dia tidak boleh merasa kesal seperti itu. Sebaiknya dia membuang perasaan itu jauh-jauh dan tidak mempedulikan apa pun. Mulai sekarang dia harus fokus dengan apa yang sedang dia lakukan saat ini dan tidak melupakan misi yang sedang dia lakukan.
"Sial!" umpat Freya seraya menendang sebuah kaleng minuman kosong yang ada di jalan. Kehadiran Norman berada di luar rencana, sebaiknya dia mewaspadai keberadaan Norman agar pria itu tidak memporak porandakan perasaannya apalagi sejak awal dia tidak boleh dekat dengan pria mana pun.
Freya melangkah tanpa tujuan arah, meski dia sudah mengambil keputusan tapi pikirannya masih saja kacau. Sepertinya dia butuh air untuk mendinginkan kepalanya agar tidak kacau lagi. Freya sudah berjalan cukup jauh sehingga tanpa dia sadari jika dia sudah berada di sebuah pantai. Freya menghentikan langkah, baiklah. Sepertinya bukan ide buruk bermain di pantai. Mungkin saja dia menemukan seseorang yang dapat menjernihkan pikirannya yang kacau.
Norman menunggunya kembali dengan perasaan tidak menentu. Kopi yang dia beli sudah dingin tapi Freya tidak juga kembali. Dia pikir Freya tidak akan lama namun nyatanya, Freya sudah pergi selama berjam-jam dan dia pun sudah bosan menunggu apalagi sikap Freya yang tiba-tiba tidak bersahabat membuatnya begitu penasaran.
Akhirnya Norman memutuskan untuk mencari keberadaan Freya, dia sungguh ingin tahu ke mana Freya pergi dan kenapa dia marah dengannya padahal dia hanya bercanda jika dia tidak mau membelikan kopi tapi apa benar Freya marah hanya karena hal itu? Dia rasa tidak mungkin. Norman tidak melihat ponselnya sehingga dia tidak tahu jika Freya kesal dengannya gara-gara Vanila.
Freya duduk di sisi pantai dan memandangi orang-orang yang berenang. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini, tentunya hal itu membuatnya kepalanya pusing sehingga membuatnya menghela napas berat berkali-kali.
"Sendirian saja, Nona?" terdengar seorang pria berada di belakangnya.
Freya berpaling, seorang pria tampan menggunakan celana renang sambil membawa papan selancar berdiri di belakangnya.
"Apa aku boleh bergabung?" tanya pria itu.
"Oh, tentu. Ini bukan pantai milikku jadi tidak ada yang melarang," ucap Freya.
Pria itu tersenyum dan duduk di sisi Freya. Freya pun tersenyum, tidak buruk. Dia memang ingin mencari suasana baru dari pada otaknya panas terlalu lama memikirkan Norman. Setidaknya dia masih memiliki pesona untuk menarik perhatian seorang pria tampan.
"Apa kau hanya sendirian?" tanya pria itu basa basi.
"Begitulah, aku memang seorang diri saja. Kenapa kau tidak berselancar?" tanya Freya pula.
"Wanita cantik ini lebih menggoda dari pada berselancar," goda pria itu.
"Mulut manis seorang pria sungguh menakutkan!" ucap Freya.
"Wah, apa kekasihmu bermulut manis?"
"Tidak, aku tidak memiliki kekasih."
"Sangat kebetulan, bagaimana jika ikut denganku? Akan ada pesta nanti malam di rumah sahabatku dan aku belum memiliki pasangan," ajak pria itu.
"Terdengar menyenangkan, tampan. Kebetulan aku tidak melakukan apa pun," jawab Freya setuju karena dia merasa lebih baik bersenang-senang dari pada di hotel bersama dengan Norman.
"Senang mendengarnya, boleh tahu siapa namamu?" tanya pria itu.
"Tentu saja, namaku?" ucapan Freya terhenti karena ada yang mengangkat tubuhnya secara tiba-tiba dari belakang. Freya berteriak, sedangkan pria asing yang berbicara dengannya menatap seorang pria yang sedang mengangkat Freya dengan tatapan tidak senang.
"Kurang ajar, siapa yang mengangkat aku!" teriak Freya tidak terima.
"Aku!" Freya terkejut mendengar suara Norman.
"Siapa kau?" pria asing itu bertanya seraya beranjak.
"Seharusnya itu pertanyaanku. Siapa kau?" tanya Norman pula dengan sinis. Tatapan matanya pun tidak lepas dari pria asing itu dan dia terlihat sangat tidak senang.
"Turunkan aku, menyebalkan!" pria Freya sambil memukul lengan Norman.
"Aku cari di mana-mana ternyata kau di sini bersenang-senang dengan seorang pria!" Norman menurunkan Freya tapi dia tidak melepaskan lengan Freya.
"Apa pedulimu, cepat lepaskan!" pinta Freya.
"Siapa pria itu?" tanya pria asing yang tidak terima wanita incarannya di ganggu.
"Dia pasien yang lari dari rumah sakit jiwa!" ucap Norman.
"Apa?" pekik Freya, dia sungguh tidak menyangka Norman akan berkata demikian.
"Apa benar?" tanya pria asing itu seperti tidak percaya.
"Tidak, jangan dengarkan!" pinta Freya. Dia berusaha melepaskan tangan Norman tapi genggaman tangan pria itu begitu kuat.
"Untuk apa aku berbohong? Wanita ini memiliki sindrom pada pria tampan jadi berhati-hatilah. Dia akan memakanmu jika ada kesempatan jadi sebaiknya jaga nyawamu baik-baik!" ucap Norman asal.
"Sembarangan, aku tidak gila dan aku bukan psikopat!" Freya tampak tidak terima namun pria asing itu sudah melangkah mundur dan mengambil papan selancarnya.
"Maaf, aku tidak tahu," ucap pria asing itu.
"Yeah, pergilah sebelum kau menjadi korban!" ucap Norman.
"Tunggu, bukankah kau ingin mengajak aku ke pesta?" teriak Freya.
"Maaf, sebaiknya kau segera membawanya kembali ke rumah sakit jiwa!"
"What?" mulut Freya menganga, sedangkan Norman berusaha menahan tawanya.
Freya berbalik dan menatap Norman dengan tajam, ekspresi wajahnya pun tampak tidak senang karena Norman menghancurkan kesenangannya dan kini, dia dianggap sebagai pasien rumah sakit jiwa yang sedang melarikan diri.
"Bagus, untuk apa kau mengganggu aku?" tanya Freya.
"Aku menunggumu kembali, kopi yang aku beli bahkan sudah dingin tapi kau justru berada di sini untuk menggoda lelaki!"
"Itu bukan urusanmu, urus saja rumah sakit jiwamu!" cibir Freya.
"Wah, ternyata kau mengakui jika kau pasien yang sedang lari!"
"Enak saja, jangan sembarangan!" Freya berbalik dan melangkah pergi.
"Padahal pria itu ingin mengajak aku berpesta tapi kau justru mengacaukannya!" gerutu Freya. Hilang sudah kesenangan dan lagi-lagi dia akan menghabiskan waktunya di hotel bersama dengan Norman.
"Apa kau tidak puas denganku sehingga kau mencari yang lain, Freya?"
"Aku memang tidak puas karena punyamu kecil!" ucap Freya asal.
"Apa kau bilang?" Norman menarik tangan Freya hingga langkah Freya berbalik ke arahnya. Norman terlihat tidak senang dengan perkataan yang baru saja Freya ucapkan.
"Jangan menarik aku seperti ini!" teriak Freya tidak terima.
"Katakan padaku, apa kau benar-benar tidak puas dengan permainanku , Freya?"
"Tidak, dasar kau pria lima senti!" jawab Freya sinis.
"Kau bilang apa?" Norman benar-benar kesal dengan perkataan Freya.
"Dasar lima senti!" ucap Freya lagi.
"Beraninya kau, Freya. Akan aku buat kau tidak bisa berjalan gara-gara lima sentiku ini!" Norman kembali menarik Freya lalu memanggul tubuhnya ke atas bahu.
"Turunkan, apa yang mau kau lakukan?!"
"Membuktikan kehebatan lima sentiku ini!" ucap Norman.
"Aku tidak mau!" Freya memukul punggung Norman tapi pria itu sudah membawanya pergi dan dia akan membawa Freya kembali ke hotel. Akan dia buat Freya puas dan akan dia buat Freya tidak bisa jalan esok pagi agar dia tahu bagaimana kehebatan lima senti miliknya itu.