Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Batu Yang Sudah Ditemukan



Pengunjung museum masih banyak padahal waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Norman dan Freya pun masih berada di dalam begitu juga dengan anak buah Black Scorpion yang masih saja terus mengawasi mereka. Mereka masih tidak mengerti kenapa Freya belum juga mendapatkan batu itu, tapi mereka tidak akan pergi dari tempat itu.


Freya dan Norman melihat-lihat tapi yang mereka lihat adalah para security yang berjaga-jaga di setiap sudut. Merekalah yang harus diwaspadai karena sebentar lagi mereka akan beraksi. Freya mendekati sebuah artefak bersejarah, dia pun berdiri di sana cukup lama. Tidak lama lagi artefak yang ayahnya temukan pasti akan berada di museum dan nama ayahnya akan dikenal oleh banyak orang sebagai penemunya. Dia sangat ingin usaha dan kerja keras ayahnya membuahkan hasil.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, Norman menghampiri Freya dan meraih pinggangnya serta membawanya ke sisi di mana tidak ada siapa pun yang bisa mendengar apa yang akan mereka bicarakan.


"Sebentar lagi museum akan ditutup, apa kau sudah memiliki rencana?" tanya Norman.


"Tentu saja, kita tunggu semua bubar!"


Norman memandangi Freya dengan tatapan heran karena dia belum mengerti dengan apa yang hendak Freya lakukan. Freya kembali melihat sekitar, target sudah ditemukan jadi tinggal menunggu waktunya saja. Freya bahkan mengajak Norman untuk menuju sebuah ruangan khusus untuk petugas yang bekerja di museum itu.


"Mau apa?" tanya Norman.


"Ssttttss! Freya meletakkan jari ke bibirnya. Tinggal sedikit lagi, sepuluh menit dan dia sudah tidak sabar. Beberapa anak buah Victor saling pandang, mereka juga menunjuk jam yang ada di pergelangan tangan yang menandakan jika sebentar lagi museum sudah akan ditutup.


Freya dan Norman justru melangkah mundur mendekati ruangan yang hendak mereka masuki, para anak buah Victor hendak mengikuti namun waktu kunjungan museum sudah habis. Pengumuman agar para pengunjung meninggalkan museum terdengar, beberapa security mengarahkan para pengunjung agar keluar dengan tertib tanpa menyentuh apa pun. Pada saat itulah kesempatan Freya dan Norman, mereka berdua bergegas masuk ke dalam ruangan yang diperuntukkan untuk cleaning service.


Anak buah Victor melangkah mendekati ruangan itu dengan cepat, jangan-jangan Freya sudah menemukan batu itu dan hendak pergi melalui jalan lain. Mereka bergegas dan ketika mereka sudah hampir tiba, dua orang security mencegah mereka.


Mau tidak mau mereka keluar dari museum, sepertinya rencana berubah. Para pengunjung mulai meninggalkan museum, pintu tempat itu ditutup dengan rapat. Para security memeriksa keadaan, tempat itu akan dibersihkan oleh cleaning service yang bertugas dan untuk itulah Freya mengajak Norman masuk ke dalam ruangan petugas kebersihan.


Dua orang cleaning service sudah pingsan oleh ulah mereka. Untuk berjaga-jaga, Freya meminta bantuan Norman untuk menyembunyikan kedua cleaning service itu ke dalam lemari agar saat mereka sadar, suara teriakan mereka tidak akan begitu terdengar. Seragam yang mereka gunakan pun dilepaskan karena mereka akan menyamar menjadi petugas kebersihan agar tidak dicurigai oleh para penjaga.


"Apa kau serius?" tanya Norman. Sekarang tidak saja menjadi pencuri tapi dia pun harus menjadi cleaning service dan semua itu ulah satu orang wanita.


"Jika kau tidak mau ketahuan segera kenakan!" Freya sedang memakai pakaian cleaning service saat itu.


"Ck, bersama denganmu aku jadi harus menjalani banyak profesi!" mau tidak mau dia pun harus menggunakannya.


"Cepat, Norman. Sebelum kedua petugas itu sadar!"


"Sedang aku lakukan!" Norman mengendus pakaian yang sudah dia pakai, sial. Dia jadi mual gara-gara baunya. Freya hanya menggeleng, sungguh merepotkan. Dua buah topi mereka kenakan agar wajah mereka tidak terlalu dikenali.


"Gunakan ini untuk membersihkan lantai!" perintah Freya seraya memberikan sebuah pel lantai pada Norman.


"Hei, apa maksudnya ini?" tanya Norman.


"Ambil, dan berpura-puralah membersihkan lantai agar tidak dicurigai dan bawa itu!" Freya menunjuk ember berisi air.


"Sial!" Norman mengumpat. Gagang pel yang diberikan oleh Freya diambil, dia tampak kesal sedangkan Freya tertawa. Kapan lagi bisa menjadikan raja itu menjadi cleaning service? Dia tidak akan melupakan hal iniĀ  dan akan selalu dia ingat.


"Ada apa dengan template ini?" tanya Norman.


"Tolong lihat situasi, Norman. Segera katakan padaku jika ada penjaga yang datang!" pinta Freya.


"Hei, bagaimana dengan cctv?"


"Bisakah kau melumpuhkannya?" Freya mengambil sebuah alat dari balik seragam cleaning service yang dia kenakan.


"Serahkan padaku dan bergegaslah!" Norman melangkah pergi, dia akan melumpuhkan cctv dan melihat keadaan.


Freya melihat template emas itu dengan serius dan setelah itu dia melihat ke arah dua patung Osiris. Malam gelap, itu kata kunci yang harus dia pecahkan. Freya melihat ke arah jendela besar yang tidak jauh darinya. Dia segera berlari ke arah jendela itu. Dari sana dia melihat patung dewa Osiris lalu melihat template emas yang ada di dinding.


Sulit untuk ditebak namun cahaya dari lampu sorot dari sebuah gedung yang berada tidak jauh dari museum menyinari template emas sehingga cahaya dari lampu sorot itu terpantul. Freya mengintip keluar, lampu sorot itu berputar tiga ratus enam puluh derajat. Apa ada maksudnya? Sebaiknya dia menunggu lampu sorot itu kembali menyinari template emas karena dia curiga dia akan mendapatkan sesuatu.


Norman berpaling, melihat ke arah Freya yang hanya berdiri di depan jendela. Norman sangat ingin bertanya tapi Freya terlihat serius apalagi lampu sorot sudah hendak melewatinya. Freya begitu fokus, jangan sampai kesempatannya hilang dan membuang waktu. Lampu sorot itu kembali masuk melalui jendela dan menyinari template emas. Pada saat itulah yang ditunggu oleh Freya karena cahaya lampu sorot yang cukup terang itu memantul dari template emas dan menyinari tempat lain.


Kini Freya berlari ke arah pantulan cahaya itu dan sebuah lukisan kuno menjadi objek yang mendapatkan pantulan sinar lampu dari template emas. Freya berdiri di bawah lukisan itu cukup lama, apa lagi sekarang?


"Freya, apa belum?" tanya Norman.


"Kemari, bantu aku!" pinta Freya.


Norman mendekatinya dengan cepat, Freya meminta Norman memegangi ujung lukisan yang lain dan dia pun memegangi yang lain. Meski tidak mengerti, Norman membantu Freya menurunkan lukisan kuno itu. Ternyata di balik lukisan itu terdapat batu bata yang disusun dengan rapi. Freya melihatnya dengan teliti sampai akhirnya dia mendapati sebuah batu bata yang sedikit tidak rata.


Dia yakin batu itu ada di sana oleh sebab itu Freya mendorong batu bata itu. Batu bata bergerak, berputar dan ternyata ada ruang kecil di dalamnya. Freya melihat lubang itu dan menyinarinya dengan senter dari ponsel. Dari dalam lubang itu dia menemukan sebuah kantong kain yang sudah usang.


Freya dan Norman saling pandang setelah kantong kain berada di tangan. Sebuah benda berat berada di dalam kantong kain yang sudah usang itu. Freya membukanya dengan cepat, dia sangat senang karena sebuah batu hitam legam berada di dalam kantong dan batu itu tidak seperti batu biasanya.


"Sudah dapat, ayo pergi!" ajak Norman.


"Kembalikan lukisan ini terlebih dahulu dan bawa batu ini!" Freya memberikannya pada Norman.


"Apa kau yakin?" tanya Norman.


"Yakin, aku percaya padamu!" ucap Freya.


"Baiklah, ayo bergegas!" Norman menyimpan batu yang diberikan oleh Freya, mereka pun segera mengembalikan lukisan pada tempatnya. Mereka melakukan semua dengan cepat tanpa merusak apa pun. Dua orang security mendadak melintas saat mereka sudah menyimpan kembali lukisan.


Security itu hanya melihat mereka sebentar lalu mereka pergi. Hampir saja ketahuan, Freya bernapas lega. Batu sudah didapatkan, sekarang waktunya mencari pintu keluar untuk pergi dari museum dan tanpa mereka tahu jika mereka sudah ditunggu oleh anak buah Victor di luar sana.