Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Semua Akan Baik-Baik Saja



Setelah keluar dari kamar Freya, Norman pergi ke kamar yang dia tempati karena dia ingin menghubungi seseorang anak buah yang dia percaya selama ini. Tentunya ada yang hendak dia perintahkan, meski dia enggan menggunakan kekuasaan tapi dia harus melakukannya agar dia dan Freya tidak terus lari dari kejaran Dark Dragon.


Freya tidak boleh tahu akan hal ini karena sampai Freya tahu maka Freya akan semakin mencurigai dirinya. Selama masa liburannya, tidak ada yang boleh tahu jika dia adalah seorang raja.


"Ada perintah apa, Sir?" tanya seorang pria dan dia adalah orang kepercayaan Norman.


"Aku ingin kau menyelidiki organisasi Dark Dragon untukku!" perintah Norman.


"Apa yang kau inginkan, Sir?"


"Selidiki, pantau dan setelah itu hancurkan tanpa sisa!" perintah Norman.


"Akan segera aku lakukan!"


"Bagus tapi kau harus ingat, jangan sampai ada yang tahu jadi jangan meninggalkan jejak apalagi bukti dan hancurkan tanpa menyisakan satu orang pun!" perintah Norman. Akhirnya dia menggunakan kekuasaan yang dia miliki dan dengan begini Dark Dragon tidak akan mengejar mereka sehingga mereka bisa fokus mencari keberadaan ayah Freya. Langsung ke inti lebih baik tapi dia juga harus tahu berapa banyak lagi artefak yang harus dikumpulkan oleh Freya dan sepertinya sudah saatnya mengembalikan artefak yang dia ambil dari wanita itu.


Setelah berbicara dengan anak buahnya, Norman mengambil artefak milik Freya yang dia sembunyikan. Dia akan memberikan artefak itu pada Freya tentunya dengan syarat. Bagaimanapun dia tidak boleh melakukan hal yang bisa merugikan dirinya sendiri apalagi urusan mereka belum selesai.


Freya sedang sibuk dengan perangkat laptopnya, tentu yang dia cari adalah keberadaan artefak milik ayahnya karena dia harus kembali mengumpulkan artefak itu. Dia percaya, semakin dia menemukan keberadaan artefak itu, semakin dia dekat dengan keberadaan ayahnya. Tidak saja laptop yang menyala tapi sebuah komputer juga menyala dan Freya sendiri sibuk mencoret-coret sesuatu sambil bergumam.


"Dewa Osiris menampakkan dirinya untuk mengambil nyawa raja Tutankhamun di malam yang gelap!" ucapannya itu di dengar oleh Norman meski pelan.


Freya mengusap wajah, dia tahu ayahnya pasti memberikan teka teki yang tidak mudah di pecahkan. Dia benar-benar butuh banyak pengalaman akan sejarah. Freya beranjak tanpa mempedulikan Norman. Sebuah buku sejarah dia ambil lalu dia kembali duduk untuk membaca sejarah raja Tutankhamun. Mungkin dari sana dia bisa mendapatkan petunjuk akan teka teki yang ditinggalkan oleh ayahnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Norman.


"Pergilah, jangan mengganggu aku!" jawab Freya karena dia begitu fokus akan sejarah yang sedang dia baca.


"Benar tidak mau diganggu?" Norman mengeluarkan benda yang dia bawa tapi Freya belum melihatnya.


"Iya, sana. Cari kegiatan sendiri dan jangan ganggu aku yang sedang berkonsentrasi!" usir Freya.


"Baiklah, jika begitu aku tidak jadi mengembalikan benda ini padamu!" Norman melemparkan artefak yang ada di tangan.


Freya berpaling, kedua mata melotot saat melihat Norman melangkah pergi sambil melempar-lemparkan artefak milik ayahnya.


"Apa yang harus aku lakukan dengan benda ini? Memelihara ikan di dalamnya, dibakar untuk menguji keasliannya atau?" Dia pura-pura berpikir, "Sepertinya aku akan mendapatkan banyak uang dengan menjual benda ini," ucapnya lagi.


"Jangan!" teriak Freya yang sudah beranjak dan berlari ke arah Norman.


"Kembalikan padaku!" pinta Freya yang ingin merebut artefak milik ayahnya tapi Norman sudah mengangkatnya begitu tinggi.


"Bukankah kau memerintahkan aku untuk mencari kegiatan sendiri? Oleh sebab itu aku akan mencari kegiatan sendiri dengan bermain menggunakan benda ini!"


"Tidak.. Tidak, jangan lakukan!" cegah Freya.


"Jadi?" Norman tersenyum penuh arti.


"Tuan Norman yang terhormat, tampan dan juga baik hati. Bisakah kau mengembalikan artefak milikku itu?" pinta Freya membujuk.


"Ayolah, apa yang kau inginkan agar kau mau mengembalikan benda itu padaku. Katakan!" ucap Freya.


"Kau yakin?" inilah yang dia tunggu, dia ingin terlibat lebih jauh dengan apa yang sedang Freya lakukan.


"Tentu saja, katakan padaku apa yang kau inginkan?"


"Baiklah, aku ingin kau mengatakan apa yang sedang kau lakukan dan apa yang sedang kau cari. Kita rekan, bukan? Jika kita rekan maka katakan semua yang sedang kau lakukan. Apa yang menyebabkan ayahmu menghilang, berapa banyak lagi artefak yang harus kau dapatkan. Semua, katakan padaku jika kau menganggap aku rekan dan jika kau menginginkan artefak itu!"


Freya diam, dia tampak enggan. Norman meraih pinggangnya, dan menariknya mendekat sehingga tubuh mereka berdua merapat. Freya melotot dengan ekspresi tidak senang, jujur dia tidak senang di ancam seperti itu.


"Katakan, Freya. Tanganku tidak terlalu kuat memegangi artefak ini dan tanganku juga semakin licin. Aku tidak tanggung akibatnya jika benda ini jatuh ke atas lantai!"


"Baiklah, baik. Dasar kau pria licik, memangnya tanganmu tangan salamander yang bisa mengeluarkan lendir!" ucap Freya yang berusaha mendorong tubuh Norman.


"Yeah, tergantung situasi. Jika dalam keadaan seperti ini tanganku memang lebih licin!"


"Alasan kau saja!" Freya memukul dada Norman dan melangkah mundur.


"Jadi? Mau memberi tahu aku atau tidak?"


"Berikan artefaknya padaku!" pinta Freya.


"Aku berikan tapi jangan menipu!"


"Berisik, cepat berikan!" pinta Freya.


Norman sedikit ragu memberikannya tapi pada akhirnya dia memberikannya juga. Freya sangat senang, akhirnya dia mendapatkan benda yang dia ambil dengan susah payah dari museum Bishop. Tanpa mempedulikan Norman, Freya melangkah pergi menuju kamarnya untuk menyimpan artefak itu.


Norman mengikuti langkah Freya, dia ingin tahu di mana Freya meletakkan benda itu. Sebuah pintu rahasia terbuka dari balik lemari, Freya melangkah masuk begitu juga dengan Norman. Norman bahkan terpana melihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Semua berisi artefak yang tentunya berharga fantastis.


"Wow, apa semua ini milik ayahmu?"


"Yeah, tapi baru ini saja yang bisa aku temukan karena masih banyak yang belum aku dapatkan."


"Sepertinya kau benar-benar ingin mendapatkan semua barang milik ayahmu yang hilang," Norman melihat benda yang ada satu persatu. Dia tidak mengerti dengan sejarah apalagi artefak-artefak kuno seperti itu.


"Tentu saja, ayahku melakukan penelitian di sepanjang hidupnya dan berhasil mengumpulkan benda-benda ini. Dia melakukan penelitian, untuk mencari tahu sejarah dari benda yang dia temukan tapi orang-orang yang tidak bertanggung jawab begitu berani menyebarkannya sesuka hati dan mengambil keuntungan dari hasil jerih payah yang ayahku lakukan selama ini!" kedua tangan Freya sudah mencengkeram erat, dia jadi teringat ketika dia harus mendapati ayahnya yang menghilang entah ke mana.


Norman melangkah mendekati Freya dan memeluknya dari belakang sehingga membuat Freya terkejut. Norman melakukan hal itu untuk menghibur Freya karena dia bisa merasakan apa yang sedang Freya rasakan saat ini. Dia tahu Freya tidak rela hasil jerih payah ayahnya justru dinikmati oleh orang lain dan dia bisa melihat kesedihan yang Freya rasakan dari ekspresi wajahnya.


"Semua akan baik-baik saja, kita berdua akan menemukan keberadaan artefak milik ayahmu yang tercuri dan kita berdua akan menemukan keberadaan ayahmu."


"Kenapa kau begitu baik, Norman? Aku sudah mempersulit dirimu bahkan kau jadi buronan gara-gara aku tapi kenapa kau masih saja bersikap baik dan mau membantu aku?" Freya sungguh tidak mengerti kenapa Norman mau melakukannya.  Seharusnya Norman sudah melaporkannya pada polisi bahkan Norman berkesempatan menjebloskannya ke dalam penjara saat dia ditangkap tapi pria itu justru mengirimkan seorang pengacara untuk membantunya.


"Terkadang kita memang harus melakukan hal gila agar hidup lebih menyenangkan jadi anggap saja aku sedang melakukan hal gila untuk mencari kesenangan di dalam hidupku!" jawab Norman tapi memang itu yang sedang dia lakukan.


"Terima kasih, Norman," ucap Freya. Senyuman menghiasi wajahnya. Norman masih memeluknya dari belakang, kedua tangan Freya bahkan berada di lengan pria itu. Untuk pertama kali setelah ayahnya menghilang, Freya merasa ada yang peduli padanya selain Cristina walau pun dia dan Norman masih tidak begitu saling mengenal namun lengan yang sedang memeluknya saat ini terasa menenangkan.