Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Untuk Yang Terakhir Kali



Norman mendapat kabar dari Kendrick jika tugas yang dia berikan telah berhasil dilakukan oleh anak buahnya yang ada di Hong Kong. Kendrick juga memberikan rekamannya pada Norman, sebagai bukti jika tugas berjalan sesuai dengan perintah Norman.


Norman tampak puas, itu ganjaran yang pantas didapatkan oleh orang-orang yang telah melukai Freya. Luka yang ada di punggung Freya harus mendapatkan balasan dan balasan yang didapat oleh wanita yang menyerang Freya itu, cukup memuaskan.


Saat itu Freya dan Norman sedang pergi bersama untuk menikmati waktu mereka berdua. Setelah kencan romantis yang mereka lewati serta malam panas yang bergairah, Freya tetap bersikap biasa saja tanpa menunjukkan sikap mencurigakan agar Norman tidak tahu. Hari ini mereka berdua pergi jalan-jalan. Selain pergi ke museum, mereka juga akan pergi menikmati waktu mereka di tempat wisata yang ada di kota itu.


Freya melihat ke arah Norman karena pria itu sedang serius dengan ponselnya, Mendadak dia jadi tidak senang karena Norman lebih mementingkan ponselnya dari pada dirinya. Langkah Freya terhenti, Norman masih berjalan namun langkahnya terhenti mendadak karena tangan Freya tertarik karenanya.


"Ada apa?" tanya Norman heran apalagi wajah Freya sudah terlihat cemberut.


"Hari ini kau bilang ingin menyenangkan aku tapi apa yang kau lakukan? Kau bersenang-senang dengan ponselmu saja!" Jawab Freya kesal.


"Sorry, aku sedang berbicara serius dengan seseorang."


"Apa kau berbicara dengan renternir yang mengejar kita waktu itu?" tanya Freya.


"Hm, ya. Apa kau bisa menunggu? Aku pergi berbicara sebentar dan aku akan kembali dengan es cream," ucap Norman.


"Baiklah, aku tunggu," Freya mengiyakan karena dia tidak mau mencegah Norman.


Norman melangkah pergi, meninggalkan Freya seorang diri. Freya juga melangkah pergi tapi dia melihat-lihat pernak pernik yang dijual di sebuah toko untuk mengisi waktu. Norman pergi karena dia ingin menghubungi Vanila yang baru saja mengirimkan sebuah pesan untuknya.


"Ada apa?" tanya Norman pada adiknya.


"Di mana kau sekarang?" tanya Vanila.


"Aku di Amerika. Apa ada yang penting?"


"Kau benar-benar tidak tahu apa yang terjadi di istana setelah pergi berlibur?" tanya adiknya.


"Tentu saja, selama aku berlibur maka aku tidak ada hubungannya dengan semua permasalahan di Istana. Aku benar-benar ingin menjadi orang biasa selama waktu yang aku miliki karena setelah aku kembali, aku akan mengerjakan pekerjaanku sebagai raja dengan benar."


"Baiklah, tapi aku rasa kau harus tahu jika kau sudah didesak untuk menikah. Sebaiknya kau segera memutuskan siapa yang akan menjadi istrimu nanti."


"Ck, mereka semua terlalu berisik dan terlalu banyak mengatur.  Aku tahu apa yang harus aku lakukan jadi mereka tidak perlu ikut campur!" ucap Norman. Pasti para menteri yang mendesaknya untuk menikah.


"Jika kau tahu maka bawalah pulang calon istri yang akan menjadi ratumu saat kau kembali untuk membungkam mereka semua!" ucap Vanila.


"Baiklah, aku tahu!" Norman menghela napas. Sepertinya dia sudah tidak bisa menunda untuk hal ini.


"Bagus jika begitu, nikmatilah waktumu sebelum kau tidak bisa sebebas saat ini," ucap adiknya.


"Aku tahu, tidak perlu kau ajari. Aku pergi dulu jadi jangan mengganggu!" Norman mengakhiri percakapannya dengan adiknya lalu melangkah kembali di mana Freya sedang menunggunya.


Freya masih melihat pernak pernik, dia pun mengambil beberapa untuk dia beli. Freya sedang melihat sebuah kalung yang dibuat dengan tangan, hasil karya dari penduduk lokal. Benda seperti itu cukup bagus, lagi pula dia tidak mampu membeli yang asli.


"Apa kau menyukainya?" tanya Norman yang sudah berdiri di sampingnya.


"Ini cukup bagus," ucap Freya.


"Ambillah, akan aku belikan!"


"Kau serius?" Freya melirik ke arah Norman sejenak.


"Tentu saja," Norman mengambil kalung dengan harga puluhan dolar itu dan berdiri di hadapan Freya.


Freya memandangi Norman dengan lekat saat pria itu memakaikan kalung yang baru saja dia ambil. Tatapan mata Freya jatuh pada kalung yang sudah melingkar di lehernya.


"Bagus, cocok untukmu," ucapnya.


"Terima kasih, apa benar kau akan membayarkannya?" tanya Freya.


"Bagus, tolong bayarkan yang lainnya!" pinta Freya.


"Apa? Apa maksudmu yang lainnya?" tanya Norman tidak mengerti.


"Ayolah raja mesum, aku mengambil beberapa barang lain dan belum membayar!" Freya sudah melangkah menuju kasir.


"Aku hanya membelikan yang itu saja, Freya," Norman pun mengikuti langkahnya.


"Dia yang akan bayar semuanya," ucap Freya pada sang kasir.


"Hei, jangan curang!" Norman melihat apa yang Freya beli yang ternyata beberapa aksesoris saja.


"Baiklah, aku yang bayar!" uang dikeluarkan untuk membayar semua barang itu.


"Thanks, ini akan jadi kenang-kenangan!" ucap Freya.


Norman melirik ke arahnya, hanya barang-barang murah seperti itu saja apa sudah bisa membuat Freya senang? Sepertinya dia harus membelikan sesuatu yang lebih berharga yang bisa dijadikan kenang-kenangan bagi Freya tentunya sesuatu yang akan disimpan oleh Freya.


"Jika sudah selesai, ayo kita pergi!" ajak Norman.


"Tentu, ke mana kita akan pergi?"


"Seperti yang kau inginkan, museum dan beberapa tempat yang bagus."


"Tunggu apa lagi?" Freya menggandeng tangan Norman dan mengajaknya pergi, "Tapi mana es cream yang kau janjikan?" tanyanya karena Norman tidak membawakan es cream yang dia janjikan.


"Kita beli bersama!" mereka pergi bersama untuk membeli es cream yang Freya inginkan dan setelah itu mereka menikmatinya sambil menyelusuri trotoar.


"Boleh aku tahu sesuatu, Norman?" tanya Freya.


"Apa yang ingin kau tahu?"


"Hm, apa yang kau lakukan pada wanita itu? Kau berkata akan ada yang mengurusnya apakah sudah?" tanya Freya basa basi padahal dia sudah tahu jika Norman bisa melakukan apa saja.


"Kau tidak perlu memikirkannya karena semua sudah ditangani!"


"Baiklah, kau partner yang bisa diandalkan!" es cream sudah habis oleh sebab itu Freya melompat naik ke atas bahu Norman.


"Hei, mau apa kau?" Norman hampir terjatuh gara-gara Freya melalukannya secara tiba-tiba.


"Gendong aku!" pinta Freya.


"Ck, kau berat!" ucap Norman namun kedua tangan sudah berada di belakang untuk menahan tubuh Freya.


"Setelah ini kau tidak akan menggendong aku lagi, percayalah," Freya memeluknya erat, setelah ini dia tidak akan melakukan hal itu lagi dan ini untuk yang terakhir kali.


"Bagus, jangan sampai tulang punggungku keropos karena harus menggendongmu terus menerus!"


Freya tersenyum, ini yang terakhir dan setelah ini tidak lagi. Hari ini selain ke museum dia ingin menikmati waktunya dengan Norman selayaknya sepasang kekasih. Norman menggendong Freya cukup jauh sampai akhirnya mereka menemukan tempat rental sepeda.


"Apa kau mau bersepeda?" tanya Norman.


"Boleh juga, aku sudah lama tidak bersepeda."


"Jika begitu ayo. Kita bersepeda di sepanjang jalan itu."


Freya mengangguk setuju, bukan ide buruk. Mereka bisa menghabiskan waktu mereka dengan bersepeda bahkan mereka bisa ke museum terdekat menggunakan benda itu. Norman menurunkan Freya dari gendongan, mereka menyewa dua sepeda dan setelah itu mereka bersepeda untuk berkeliling dan pergi ke beberapa tempat yang bagus.


Cukup menyenangkan bagi sang raja yang tidak pernah melakukan hal itu karena setelah ini, dia yakin dia tidak akan pernah bisa melakukannya lagi. Mungkin bisa, tapi dia tidak akan sebebas ini tanpa adanya pengawal atau apa pun. Ini akan menjadi pengalaman pertama yang tidak akan terlupakan dan bagi Freya, kebersamaannya dengan Norman yang seperti itu mungkin akan menjadi pengalaman untuk yang terakhir kali sebelum mereka benar-benar berpisah.