
Seorang pria tua ditahan sedari tadi untuk tidak masuk ke dalam pelelangan karena dia sedang dicurigai dan dia adalah Fedrick yang asli. Akibat identitasnya yang digunakan oleh Norman, pria itu pun dicurigai oleh sebab itu Fedrick asli ditahan hingga pelelangan selesai dan hal itu membuat pria itu sangatlah murka.
Freya dan Norman yang sedang menyamar bergegas menuju ruang transaksi. Begitu banyak benda yang dilelang dan terjual, tentunya mereka harus berhati-hati karena bisa saja mereka salah masuk ruangan. Mereka melangkah mengendap, mencari target yang telah memenangkan pelelangan.
Freya mengintip dari balik dinding, untuk melihat sekitar namun dia kembali bersembunyi karena tiga orang pria berkepala botak hendak melewati mereka. Ketiga pria itu adalah pria yang dia curiga tadi, ketiga pria itu melewati mereka dan melangkah menuju ke sebuah ruangan. Mereka terlihat seperti anak buah mafia dan mereka berbicara menggunakan bahasa Hongkong.
"Bagaimana, Freya?" tanya Norman.
"Stss... panggil aku Sonia, Tuan Fedrick."
"Baiklah, tapi kenapa kita tidak bergerak sama sekali. Apa telah terjadi sesuatu?"
"Tidak, sekarang juga kita bisa bergerak!" Freya menarik tangan Norman, dia yakin artefak milik ayahnya pasti berada di ruangan di mana ketiga pria asia itu masuk ke dalamnya. Dia semakin curiga jika mereka memiliki hubungan dengan hilangnya sang ayah.
Mereka melangkah semakin mendekati ruangan tapi tiba-tiba saja, Norman menarik tangan Freya sehingga mereka masuk ke dalam sebuah ruangan sempit yang diperuntukkan untukĀ menyimpan alat pembersih. Mulut Freya sudah ditutup, Norman pun meletakkan jarinya ke bibir.
"Jangan sampai mereka melihat kita begitu cepat sehingga ketahuan," ucap Norman.
Freya mengangguk, dia terlalu bersemangat dan kurang berhati-hati. Fedrick yang asli sudah memberikan kartu undangan untuk mengikuti pelelangan itu sehingga membuat para penjaga mulai curiga dengan Fedrick juga Sonia yang masuk ke dalam. Mereka merasa ada yang aneh oleh sebab itu mereka mulai mencari keberadaan penyusup yang kemungkinan masih berada di dalam tempat itu karena tidak ada yang melihat mereka berdua keluar dari gedung.
Freya dan Norman masih bersembunyi, mereka menunggu waktu yang tepat apalagi pembeli yang mendapatkan artefak itu belum juga terlihat. Mereka pun menunggu dalam diam dan ketika terdengar suara langkah kaki, Freya mengintip dari celah pintu. Itulah yang mereka tunggu, akhirnya pembeli itu lewat. Agar tidak ada yang tahu mereka masih bersembunyi tapi ketika suara langkah kaki sudah terdengar menjauh, mereka pun mengintip ke ruangan mana pembeli itu akan masuk.
"Apa yang akan kau lakukan, Freya? Apa kau akan menerjang masuk?" tanya Norman.
"Tentu saja, kita tidak boleh membuang waktu untuk mendapatkannya karena bisa saja Fedrick yang asli sudah datang sehingga kita ketahuan dan ketiga pria asia itu, aku sungguh mewaspadai mereka!"
"Apa mereka yang kau curigai?"
"Yeah, aku yakin mereka ada hubungannya dengan menghilangnya ayahku tapi asal kau tahu, mereka terlihat sangatlah berbahaya!"
"Jika begitu, ayo kita cari tahu apakah mereka benar-benar orang-orang yang telah menculik ayahmu atau bukan dan kita lihat seberapa berbahayanya mereka."
"Ready for action?" tanya Freya.
"Jangan banyak bergaya!" ucap Norman seraya memberikan sebuah sentilan di dahi.
"Aw, dasar kejam!" Freya memegangi dahinya dan melotot dengan tatapan tidak senang.
"Sudah! Keluar sekarang!" perintah Norman.
Freya mendengus tapi pada akhirnya dia keluar dari persembunyian. Mereka melangkah cepat menuju ruangan di mana barang incaran mereka tapi mereka berhenti sejenak saat berada di depan pintu. Freya mengambil pistolnya, begitu juga dengan Norman.
"Kita langsung serang tanpa membuang waktu!" ucap Norman.
"Satu anggukan kepala berarti kita bisa langsung menyerang!"
Mereka berdua saling pandang, mereka pun saling mengangguk dan setelah itu pintu ditendang dengan keras hingga terbuka!"
"Wah... Wah, ada apa ini?" tanya pria tua yang hendak membeli artefak milik ayah Freya.
"Benda itu kami sita!" ucap Freya yang sudah melangkah maju untuk mengambil artefak yang ada di atas meja.
"Berhenti di sana, Nona!" para anak buah pria tua itu mengangkat senjata.
"Apa alasan yang kau miliki sehingga kau ingin menyita benda yang sudah aku menangkan di pelelangan ini?" tanya pria tua itu.
"Itu barang ilegal jadi aku harus mendapatkannya!" kini Freya berlagak seperti petugas kepolisian.
Suasana hening namun gelak tawa memenuhi ruangan karena mereka menertawakan Freya. Freya melangkah mundur beberapa langkah, ambil artefak yang ada di atas meja oleh sebab itu selagi pembeli dan penjual itu sedang tertawa, Freya memberikan sebuah anggukan dan pada saat itu juga Freya dan Norman langsung menembak.
Tembakan yang mereka berikan membuat terkejut, Norman dan Freya terus menembak yang membuat orang-orang di dalam sana mencari tempat untuk bersembunyi. Itu kesempatan bagi Freya, dia berguling ke depan untuk mendekati artefak dan setelah itu dia menembak agar musuh tidak memiliki kesempatan untuk melawan.
Ketiga pria yang dicurigai oleh Freya pun mengambil senjata api dan menembaki Freya juga Norman. Kini Norman yang melangkah mundur untuk menghindari tembakan.
"Cepat, Sonia!" teriak Norman.
Freya meraih artefak milik ayahnya, sebuah tas yang secara kebetulan berada di bawah kaki meja pun diambil agar dia bisa membawa artefak itu dengan mudah. Ketiga pria itu terus menembak bersama dengan pengawal si pria tua sehingga membuat Norman kewalahan melindungi Freya yang sedang sibuk dengan artefak itu.
"Cepat!" teriak Norman lagi.
Suara derap langkah kaki orang yang berlari ke arah mereka terdengar, tentunya mereka adalah anak buah yang dikerahkan oleh pemilik lelang untuk menangkap Freya dan Norman. Itu bukan hal yang bagus, Norman kembali berteriak memanggil Freya yang saat itu sudah selesai dan menembak sambil melangkah mundur.
"Jangan sampai mereka lepas dan dapatkan artefak itu!" teriak si pria tua.
Anak buah yang mendapatkan perintah langsung memberondongi Freya dan Norman dengan senjata api. Norman segera menarik Freya yang masih berusaha melawan orang-orang yang ada di dalam hingga mereka keluar dari ruangan.
"Lari!" perintahnya namun dia terus menembak dan pada saat yang bersamaan, sekumpulan orang bersenjata api sudah berada di ujung ruangan.
"Itu dia, tangkap Fedrick palsu itu!" teriak salah seorang yang ada di antara kumpulan orang tersebut.
"Sial!" umpat Freya dan Norman tapi mereka tidak memiliki waktu untuk termenung atau pun berhenti bergerak.
Freya dan Norman segera berlari pergi, mereka pun dikejar. Tidak saja sekumpulan orang itu yang mengejar Freya tapi mereka juga dikejar oleh orang-orang yang berada di dalam ruangan.
"Aku menginginkan artefak itu apa pun caranya!" teriakan si pria tua terdengar.
"Tangkap mereka dan bunuh!" kali ini ada yang berteriak dalam bahasa Hong kong.
"Terus lari, Norman," Freya mengambil sesuatu dari balik gaun lalu membuka sebuah penutupnya.
"Apa itu?" tanya Norman.
Freya tersenyum dan melemparkan benda itu ke belakang. Dia justru menarik tangan Norman untuk terus lari bahkan dia mengajak Norman untuk bersembunyi. Orang-Orang yang mengejar mereka pun menyadari akan benda yang Freya lemparkan dan beberapa detik kemudian, ledakan terjadi di belakang sana. Norman terkejut dan mengintip, lalu dia melihat ke arah Freya yang tersenyum puas. Benar-Benar wanita yang cukup gila dan dia harus mendapatkan benda unik yang baru saja Freya lemparkan