Beautiful Thief And The King

Beautiful Thief And The King
Ucapan Terima Kasih



Seorang dokter sedang memeriksa keadaan Freya saat Norman pergi. Sesungguhnya Norman ingin tahu apa yang terjadi dengan Freya namun Freya memintanya untuk membelikan makanan karena dia sudah begitu lapar. Mereka menghabiskan banyak waktu di Museum sehingga membuat mereka belum makan malam. Norman yang tidak curiga tentu saja pergi membelikan makanan yang diinginkan oleh Freya apalagi mereka memang belum makan malam.


Norman pun menemui Kendrick untuk memberikan perintah. Dia mengutus Kendrick untuk pergi ke Hong Kong untuk mengintai organisasi Black Scorpion, dia pun meminta Kendrick untuk mencari keberadaan ayah Freya beserta Cristina yang sudah pasti berada di tangan Black Scorpion.


Musuh pasti sudah tahu jika batu yang mereka inginkan sudah Freya dapatkan dari kelima anak buahnya yang mungkin saja saat ini sudah kembali ke Hong Kong oleh sebab itu, Norman ingin Kendrick pergi ke Hong Kong untuk memata-matai musuh karena dia yakin musuh yang harus mereka hadapi tidak hanya Black Scorpion melainkan ada musuh yang lainnya yang mungkin saja lebih berbahaya lagi. Bagaimanapun musuh sudah bertindak ditambah ada yang membocorkan keberadaan mereka di Italia dan hanya satu orang saja yang dia curigai dan orang itu adalah Gabriel. Dia akan cari tahu nanti dan membicarakan hal ini dengan Freya.


Norman berbicara dengan Kendrick cukup lama, anak buahnya itu langsung pergi setelah Norman meninggalkan dirinya untuk kembali ke kamar. Tentunya Kendrick akan langsung berangkat ke Hong Kong sesuai dengan perintah Norman. Anak buah yang bersama dengannya pun ikut dengannya karena dia harus menyebar orang untuk memata-matai Black Scorpion.


Norman yang sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan Freya kembali ke kamar dengan cepat. Dia harap Freya baik-baik saja dan ketika dia kembali, dia mendapati Freya sedang berbaring di atas ranjang dan dokter yang tadinya memeriksa keadaan Freya sudah pergi. Sayang


"Bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Norman yang sudah berdiri di sisi ranjang. Dia bertanya setelah melihat jika Freya tidak sedang tidur. Makanan yang dia bawa di letakkan di atas meja dan dikeluarkan.


"Aku baik-baik saja. Kau membelikan makanan untukku, bukan?" tanya Freya karena dia sudah sangat lapar.


"Tentu saja, duduklah. Aku akan menyuapimu makan!"


"Terima kasih, Norman," Freya bangun dengan perlahan sambil memegangi perutnya. Meski sudah tidak begitu nyeri tapi dia tetap harus berhati-hati.


"Bagaimana, apa yang terjadi? Apa kata dokter itu setelah memeriksa keadaanmu?" Norman naik ke atas ranjang dan mendekatinya.


"Hanya gejala usus buntu saja," jawab Freya.


"Apa kau yakin?" Norman seperti tidak percaya.


"Tentu saja, perutku nyeri akibat gejala usus buntu. Tidak perlu khawatir, setelah minum obat keadaanku akan membaik nantinya."


"Baiklah, sebaiknya makan dulu. Jangan sampai lambungmu juga bermasalah!"


"Apa kau sudah makan?" tanya Freya pula.


"Tentu saja sudah, khawatirkanlah dirimu sendiri dan jangan khawatirkan aku!" Norman duduk di sisi ranjang dan mengambil makanan. Freya pun beringsut karena dia ingin duduk di sisi ranjang bersama dengan Norman agar makanan tidak tumpah dan mengenai kasur.


"Jika keadaanmu sudah membaik, kau ingin kembali atau tetap berada di sini?" tanya Norman. Makanan sudah disendok dan sedang ditiup karena panas.


"Entahlah, aku rasa aku harus pergi ke Hong Kong."


"Apa? Untuk apa kau pergi ke sana? Apa kau ingin mengantar nyawa pada musuh?"


"Sudah saatnya, Norman. Aku tidak bisa menunda lagi. Aku sudah mendapatkan batunya, aku yakin musuh pasti akan melakukan siasat oleh sebab itu aku tidak boleh menunda terlalu lama karena ayahku dan Cristina ada di tangan musuh," sesungguhnya dia ingin semua itu berakhir karena sebuah alasan yang membuatnya tidak bisa membuang waktu terlalu lama.


"Aku tahu apa yang kau khawatirkan tapi kita tidak boleh bertindak gegabah. Kita harus memiliki rencana yang matang, Freya. Aku sudah mengutus Kendrick ke Hong Kong untuk mengawasi organisasi Black Scorpion. Aku yakin musuh kita tidak hanya kelompok itu saja oleh sebab itu kita harus mencari tahu terlebih dahulu. Jika kau bertindak gegabah, kau akan kehilangan semuanya. Kau tidak saja akan kehilangan batu itu tapi kau pun akan kehilangan ayahmu juga Cristina bahkan kau pun akan celaka dan aku, tidak ingin kehilangan dirimu!"


Freya terkejut mendengar perkataan Norman. Tatapan mata melihat ke arah pria itu namun Freya tidak bertanya sama sekali. Norman memandanginya dengan ekspresi heran, kenapa Freya tidak menunjukkan reaksi apa pun dan bertanya apa maksud dari perkataannya? Seharusnya Freya bertanya namun Freya diam saja. Freya bahkan berpaling dengan tatapan kosong, seperti ada yang sedang dia pikirkan.


"Ada apa denganmu?" Norman menyentuh dahi Freya. Reaksi Freya sungguh membingungkan dan diluar perkiraan sehingga membuat Norman tidak bisa melanjutkan perkataannya tapi dia yakin, Freya pasti mengerti dengan maksud dari ucapannya tanpa perlu dia jelaskan.


"Baiklah, sekarang makan!" Norman memberikan makanan yang sudah dia tiup pada Freya. Freya menyambut suapan pertama, dia tidak akan membantah perhatian yang pria itu berikan. Norman menyuapi makanan itu sampai habis, air hangat pun diberikan dan setelah itu Freya bersandar di ranjang.


"Apa kedua kakimu masih sakit?" tanya Norman.


"Tentu saja tapi semua baik-baik saja setelah aku beristirahat."


"Yeah, tapi biarkan aku memijatnya agar kakimu membaik," Norman sudah berada di posisi, siap memijitkan kakinya.


"Kau begitu baik, Norman. Apa tidak akan ada yang marah kau dekat denganku?" tanya Freya. Dia hanya ingin melihat reaksi Norman saja dengan pertanyaan yang dia berikan.


Norman melihatnya sejenak dengan tatapan heran lalu dia kembali memijat kaki Freya.


"Tidak ada!" jawabnya.


"Benarkah? Aku adalah seorang pencuri, aku rasa tidak akan ada yang menyukai seorang pencuri seperti aku dan tidak akan ada yang mau menerima aku!"


"Kenapa kau berkata demikian?" tanya Norman curiga.


"Apa kau sudah punya pacar, Norman?" Freya mengalihkan pembicaraan.


"Tidak ada, apa kau mau jadi pacarku?" Norman bertanya sambil memandanginya.


Freya terkejut, namun lagi-lagi dia diam dan tidak menjawab. Norman semakin heran dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Freya. Dia jadi curiga jika Freya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa tidak menjawab? Tidak mungkin otakmu telat berpikir lagi, bukan?" tanya Norman.


"Tentu saja tidak, aku bahkan tidak memikirkan apa pun saat ini!" jawab Freya.


"Ck, jangan katakan sebentar lagi otakmu sudah tidak ada sehingga kau tidak bisa berpikir!" ucap Norman. Entah apa yang terjadi tapi dia semakin curiga jika Freya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Terima kasih, Norman," Freya menunduk, namun dia kembali melihat ke arah Norman, "Terima kasih sudah membantu aku sejauh ini. Berkat kau, aku bisa menemukan keberadaan batu yang disembunyikan oleh ayahku dan aku bisa melewati musuh yang berbahaya. Meski aku tidak tahu siapa kau dan aku tidak mengenal dirimu selain namamu saja tapi kau mau membantu aku dan melibatkan diri sampai sejauh ini.  Aku benar-benar berterima kasih, aku pasti akan menepati janjiku padamu!"


"Hei, kenapa berbicara seperti itu? Kenapa kau berbicara seolah-olah akan pergi meninggalkan aku?" Norman mendekatinya, satu tangan sudah berada di pipi Freya dan mengusapnya dengan perlahan.


"Tidak, aku hanya berterima kasih saja. Terima kasih," Freya memajukan tubuhnya lalu mendaratkan sebuah ciuman di pipi Norman.


"Baiklah, sekarang berbaringlah. Aku akan memelukmu. Kau pasti lelah, bukan?"


"Aku memang lelah, apa kau tidak?" tanya Freya.


"Tidak, sekarang berbaringlah!"


Freya berbaring, mengikuti perintah Norman. Pria itu sudah berbaring di sisinya dan memasukkan lengannya ke bawah leher Freya. Satu tangannya berada di pipi Freya dan mengusapnya dengan perlahan. Kedua mata Freya sudah terpejam, dia ingin menikmati kebersamaan mereka karena dia takut, waktu mereka yang seperti itu tidak akan pernah ada lagi karena meskipun mereka memiliki perasaan satu sama lain tapi belum tentu mereka bisa bersama karena perbedaan status mereka berdua.