Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Coretan Sebelum Pergi



Seminggu berlalu setelah Al sudah tidak lagi bekerja di perusahaan Ayahnya, kini ia sudah kembali ke kampus bersama Yura kekasihnya itu.


Hari ini mereka tidak ada kelas, jadi hanya bersantai di rumah, sedangkan Ayahnya sudah pergi ke kantor sedari tadi, tinggallah mereka berdua.


" Al aku ingin ke kamar Erick, bolehkah?" tanya Yura menatap Al yang sedang berbarinh di atas kedua pahanya.


Mereka saat ini tengah bersantai di sofa ruang tengah, setelah selesai sarapan pagi tadi, mereka sendiri bingung ingin melakukan apa disini.


" Ada apa? kau betah di kamarnya?" Yura hanya tersenyum di tanya seperti itu. " Baiklah pergilah." ujar Al sambil beranjak duduk.


" Kau mau ikut?" tawarnya, berharap Al mau ikut dengannya.


Tetapi Al justru menggeleng, " Pergilah, aku juga akan ke kamar Ibuku sebentar." Al pun ikut bangkit, mereka berdua berjalan menuju lift untuk naik ke lantai atas.


Sesampainya di atas, mereka berpisah arah. Al menuju dimana kamar Ibunya berada, sedangkan Yura menuju ke kamar Erick yang ada di seberang kamar Al.


Ceklek..


Yura melangkah masuk, dan melihat kembali lukisan-lukisan yang pernah ia lihat sebelumnya bersama Al waktu itu. entah mengapa ia ingin melihatnya lagi.


Ia menatap kesekelilingnya, dan melihat-lihat kembali semua lukisan yang menempel di dinding kamar. lalu tatapannya tertuju pada salah satu lukisan yang seperti abstrak.


" Sepertinya ini bukan lukisan biasa, terlebih aku merasakan ada sesuatu di dalam sini." gumamnya menatap lukisan yang menempel di dinding dan merabanya pelan.


" Benar, dan ini seperti kertas. atau bahkan ini kertas yang sengaja di tempelkan di dalam sini." Yura kembali bermonolog pada dirinya sendiri.


Dengan cepat Yura mengambil cutter yang ada di atas meja belajar Erick, lalu merobek cat depannya, yang langsung terkoyak secara perlahan dan terlihat memang ada sebuah kertas disana.


Yura segera mengoyak kembali lukisan itu, dan segera menarik kertas yang ia yakini seperti sebuah surat yang sengaja di sembunyikan.


" *Aku tidak tahu siapa kau? Tapi itu artinya kau telah menemukan surat ini.


Aku berharap kau adalah Alrick, atau seseorang yang dekat dengannya.


Hari ini aku memutuskan untuk pergi dari rumah ini, pergi dari Ayah yang membesarkanku, Pergi dari negara ini.


Mungkin semua orang tidak akan mengerti alasan kepergianku, tak ada seorang pun yang tahu.


Kemarin Al memberitahu status kami yang ternyata kami ini bukanlah putra kandung dari Ayah, melainkan putra kandung adik Ayah yang tega selingkuh dengan Ibu kami.


Al mungkin akan menyalahkan dirinya sendiri, berpikir apa yang dia katakan dan apa yang dia lakukan adalah yang membuatku ngedrop. Tetapi aku sama sekali tidak sakit hati padanya, sebab aku sudah mengetahui hal itu.


Ya aku sudah mengetahui perselingkuhan Ibu sejak lama, saat kami masih di NY.


Aku sudah tahu, dan itu yang membuatku sangat trauma kala itu, tetapi dengan situasi yang sekarang, itu bukan masalah lagi bagiku.


Memang kenapa jika kami bukanlah anak kandung Ayah kami, pertanyaan itu bahkan sudah tidak penting lagi bagiku, masalah yang penting adalah didiriku, karena suatu hari, aku menyadari ada monster yang bersarang di dalam diriku.


Tak peduli seberapa keras aku menekannya, dia terus saja bergejolak di dalam sana.


Apa kau ingat Al saat kita di NY?


Saat kau menodongkan sebuah pistol ke dalam mulut Jack, dan akan membunuhnya? Aku sama sekali tidak marah, aku justru senang dan berseru ' pergi sana ke neraka sial4n', entah kau dengar atau tidak.


Mungkin semuanya bermula saat itu, aku sadar akan adanya kekejaman di dalam diriku.


Pada waktu itu, aku tidak tahu kenapa perasaanku mulai bergejolak, rasanya seperti menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Menunggu saat kau celaka, seperti menunggu kesenangan, sangat bersemangat menunggu itu.


Orang-orang selalu berbicara tentang, martabat, gengsi dan sejenis itulah, tetapi bagiku manusia hanya tumpukan daging berjalan, sama sekali tidak ada keistimewaan. Memamerkan gengsi mereka, selain diriku sendiri, aku hanya mengakui keberadaan Alrick.


Saat aku bersama Al, yang aku lakukan hanya menangis, semakin aku lemah, Al akan menjadi kuat.


Melihat Al, aku menjadi lebih dan lebih jahat lagi, sebaliknya Al justru melindungiku. Perlahan aku menyadari, Al mulai meninggalkanku, kami sudah bersama-sama sejak masih di dalam perut Ibu.


Dimana ada Al, disana ada aku yang biasa. Bagaimana aku menjadi anak yang patuh, bagaimana aku menutup sisi gelapku, aku takut pada diriku sendiri, aku tidak sekuat Al, yang mempunyai keberanian untuk menghadapi dirinya sendiri, jadi sebelum aku menghancurkan diriku sendiri, aku memilih untuk pergi, menjauh dari Al.


Kita layaknya Matahari dan bulan, mereka sepenuhnya berbeda.


Kalau saja aku sekuat dirimu, tapi setidaknya kita masih bisa bertemu walau jarak memisahkan.


Biarkan monster ini pergi dari hidupmu, agar tidak lagi meracuni dan menguasai dirimu Al*.


Yura menutup kembali kertas itu, yang ternyata Erick yang menulisnya sebelum ia pergi dulu, pasti Al belum tahu masalah ini. Yura pun segera bangkit dan akan kembali keluar akan menemui Al yang tengah berada di kamar Ibunya.


Ceklek.!


" Al kau masih didalam?" tidak ada sahutan dari sana.


Yura pun kembali menutup pintu kamar Ibu Al, lalu berjalan ke arah kamar mereka, siapa tahu Al sudah kembali ke kamar.


Ceklek.!


Seperti dugaannya, Al sudah berbaring di atas ranjang, sambil menikmati acara di layar lebar yang sedang di putar disana." Cepat sekali kau kembali.' tanya Al saat melihat wanitanya masuk ke dalam kamar.


" Kau tahu apa yang aku temukan." seru Yura yang begitu bersemangat sambil menyodorkan kertas berisi tulisan Erick yang ia baca tadi.


" Apa ini?" tanya Al mengernyitkan dahinya menatap kertas yang di sodorkan oleh Yura.


" Bacalah." dengan ragu Al mengambil kertas itu dan mulai melihat isi dalamnya, sedikit penasaran.


Al langsung membaca tulisan demi tulisan yang Erick tulis di keryas itu, seketika raut wajahnya tampak berubah. dan Yura tahu itu, ia lantas menggenggam erat sebelah tangan Al yang menganggur.


" Jadi ini yang ia takutkan dan memilih pergi." lirih Al dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Yura menarik tubuh kekar itu memeluknya erat, seketika tangisan Al pecah namun suaranya ia tahan.


*Bahkan jika kau tak tahu seberapa jauh di depanku, melangkahlah. Melangkah terus dan tinggalkan semua bebanmu.


Yakinlah, pasti akan ada cahaya dalam hidup kita.


Bahkan jika kau menemui rintangan di depanmu, hadapilah aku akan selalu ada di sampingmu.


Bayanganmu serasa nyata, memang mudah mengingat daripada melupakan.


Sebuah akhir yang sulit diganti, begitu sulit untuk menghadapinya, tapi aku yakin kau bisa*.


Doa Yura dalam hati yang terdalam, masih dengan memeluk Al erat. seolah waktu berhenti sejenak dan keduanya saling meresapi satu sama lain.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..