
Wizzy bersiap, tangannya yang memegang pisau itu sudah ia angkat tinggi-tinggi namun tiba-tiba saja ada yang menendang pisau itu dan jatuh ke lantai.
Al bertindak dengan sangat cepat, ia merampas pisau lipat itu dari gengganan Wizzy dengan amarah yang siap meledak.
" Bukankah kau sudah kuingatkan sebelumnya." Al terus memukul Wizzy tanpa berbelas kasih.
Al terus saja memukuli seluruh wajah dan juga perut Wizzy, tanpa jeda sama sekali.
Dia memang sudah sangat kesal dan muak terhadap pria jadi-jadian tersebut, kesabarannnya telah habis dan hari ini adalah puncak kemarahannya.
" Al jangan, berhenti Al."
Yura terus saja berteriak, melarang Al untuk tidak berbuat yang nekat yang nantinya akan merugikan dirinya sendiri.
" Sangat memalukan dulu aku pernah menganggapmu seperti malaikat keadilan, namun sekarang.!" seru Wizzy saat Al sudah memukulinya.
Hingga seluruh wajahnya lebam memerah bahkan dari mulutnya keluar darah segar.
" Aku hidup di dunia ini bukan untuk menyenangkanmu, melainkan mencari keadilan bukan karena dirimu juga aku dulu membelamu, bahkan jika itu ornag lain pun aku akan melakukan hal yang sama." jelas Al.
Al mencengkram kerah pakaian Wizzy sambil menempelkan tubuhnya yang kurus itu ke pembatas besi.
Bersiap untuk melemparkannya ke bawah sana, namun teriakan dari Yura terus saja terdengar hingga membuat otaknya perlahan tersadar dari sikap menyimpangnya itu.
" Al sudah cukup jangan membunuhnya, aku mohon." pinta Yura sambil menarik lengan Al.
Mengajaknya pergi meninggalkan tempat itu, namun ekspresi Wizzy justru tertawa senang.
" Kau dengarkan aku, lain kali kau tidak akan ku lepaskan, jika kau masih berani menganggu Yura lagi, kubunuh kau! dasar baj****n tengik." sarkas Al menatap tajam ke arah Wizzy.
Saat Al berbalik badan sambil memeluk Yura membawanya pergi, baru saja mereka melangkah sekitar dua langkah, tiba-tiba Wizzy sudah naik di pembatas besi tersebut.
" Wizzy.!" teriak Yura begitu ia melihat itu.
" Kau tahu mengapa kau sangat membenciku? karena saat kau menjauhiku, itu berarti kau juga menjauhi dirimu sendiri." Seru Wizzy tertawa senang.
Wizzy bersiap untuk terjun ke bawah, membuat Al dengan cepat berbalik badan dan berlari untuk menahan tubuh Wizzy yang sudah bergelantungan di pembatas besi itu.
Tak lama ia melepaskan pegangannya namun dengan cepat Al langsung memegang erat jemari panjang kurus Wizzy, berusaha menariknya ke atas.
Namun Wizzy terlihat tersenyum ke arah keduanya sambil melepaskan jeratan telapak tangan Al.
Tubuh Wizzy meluncur ke bawah dengan sangat cepat hingga saat menyentuh tanah membuat bunyi yang cukup keras.
" Aaaaaaakkhhh." Al langsung segera memeluk tubuh Yura yang terasa gemetar begitu sangat shock nya.
Ini memang untuk yang pertama kalinya bagi Yura menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kejadian yang sungguh sangat mengenaskan ini.
Apalagi di bawah sana tubuh Wizzy sudah tidak terbentuk lagi, kepalanya terbelah dan anggota tubuhnya terlepas dari tempatnya berlumuran darah segar.
Membuat para warga yang yang berada di sekitarnya berteriak histeris saat melihatnya, bahkan banyak yang mual dan muntah menatapnya.
Suara sirine Ambulans dan juga sirine Polisi terdengar bersahutan di jalan raya. Al dan Yura berjalan ke lantai bawah dengan berjalan gontai siap di mintai keterangan
...----------------...
Malam pun semakin larut saat Yura dan Al baru saja pulang dari kantor polisi, keduanya begitu sangat merasa lelah.
" Aku bahkan belum membunuhnya, dia justru memilih membunuh dirinya sendiri dasar pecundang, banci." gerutunya sambil merenahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya.
Al memang mengajak Yura pulang ke tempat tinggalnya di bandingkan ia melihat wanitanya sendirian berada di rumah sakit.
Tidak mungkin jika dirinya ikut ke sana, apa yang akan Ibu Yura katakan, jika ia ikut menunggunya di rumah sakit.
" Kau jangan keluar dengan orang asing jika kau tidak benar-benar mengenalnya dengan baik, apa kau mengerti.!" titahnya.
Yura melirik Al sejenak sambil duduk di bibir ranjang, sambil menganggukkan kepalanya pelan.
" Aku sudah ingin membunuhnya dari kemarin-kemarin itu." ujar Al kembali.
" Aku tahu kau hanya mencoba untuk melindungiku saja." sahut Yura menatap dalam ke arah Al.
Al langsung berungsut duduk membalas tatapan Yura, " Kau tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranku ini, jadi kau menyimpulkan seperti itu."
Yura langsung memeluk Al begitu erat, " Sungguh aku begitu ingin membunuhnya dengan menusuknya menggunakan pisau miliknya tadi hingga ia mati."
" Sudah cukup Al, kau jangan berkata seperti itu terus menerus." pinta Yura yang ternyata sudah kembali terisak.
Tadi saat mereka berada di kantor polisi, mereka mengira Alrick-lah yang mendorong Wizzy hingga ia terjun bebas ke bawah.
Membuat Yura menangis berusaha membela Al sebisanya, namun mereka terselamatkan begitu Fendy datang dan memberi keterangan yang sesungguhnya kepada polisi lainnya.
" Apakah aku sudah gila seperti Wizzy?" gumam Al, membuat Yura mengurai pelukannya dan menatap Al kembali.
" Sssttt, jangan berkata seperti itu, kau tidak gila, kau masih waras."
Al langsung mengangkat wajahnya yang semula menunduk dan menatap ke arah Yura sambil mengusap air mata yang membasahi kedua pipi cantik itu.
" Terima kasih kau masih mau berada di sampingku hingga saat ini." seru Al dengan tulus.
Membuat Yura langsung mengangguk sambil tersenyum ke arah Al.
Al semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Yura hingga tak ada jarak di antara keduanya.
Al mencium lembut bibir mungil itu sangat intens lalu menggigit bibir bawahnya membuat Yura membuka bibirnya.
Lid*h Al langsung masuk dan mengapsen deratan gigi, dan terus mengeksplor hingga ke rongga mulutnya.
Membuat Yura langsung melepaskan ciuman Al dan terbatuk-batuk, Al justru tersenyum melihatnya, tanpa ada perasaan bersalah.
Sedikit ada kemajuan, begitulah pikirnya. sebab baru kali ini ia bisa menjelajah ke dakam mulut Yura.
Karena gadis itu selalu menolak bahkan selalu merusak moment yang sangat mengasyikkan tersebut.
" Maaf, sepertinya aku harus segera pulang." ujarnya mengusap bibirnya yang basah akibat perbuatan Al sambil beranjak berdiri dengan cepat.
Al terlihat menghembuskan napas kasarnya dan Yura melihat itu, namun ia nampak acuh tidak memperdulikannya.
Akhirnya Al pun mengantarkan Yura kembali pulang ke rumahnya, memang makam sudah sangat larut, tidak mungkin jika Al membiarkan Yura pulsng sendirian.
Apalagi setelah kejadian siang tadi, Al cukup mengerti mungkin Yura masih sedikit ada rasa shock yang berusaha ia tutupi sejak tadi.
Di dalam perjalanan pulang terasa hening tidak ada yang mau memulai berbicara terlebih dahulu.
Hingga motor sport Al sudah sampai di depan pelantaran rumah Yura, Yura turun langsung turun sambil menyerahkan helm pink nya kepada Al.
" Terima kasih untuk hari ini dan hati-hati di jalan." seru Yura pelan sambil menunduk.
Al pun hanya tersenyum dan melajukan kembali motornya dengan kecepatan sedang.
Yura masuk ke dalam rumahnya, dan baru tersadar jika sang Ibu masih berada di rumah sakit, ia pun kembali keluar rumah.
Beruntung ada satu taksi yang lewat tanpa berpikir panjang ia segera masuk begitu taksi itu berhenti di depannya.
" Ke MA hospital paman." pintanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..