Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Memasak untukmu



Pagi ini Al merasa seluruh tubuhnya menghangat, ia terus saja mengeliat gelisah, keringat dingin membanjiri dahinya.


Sementara Yura merasa janggal kenapa Al dari kemarin tidak masuk kuliah setelah peristiwa yang mereka alami terakhir kali, bahkan pesannya belum ada di baca, di hubungi juga tidak di angkat.


"Al tidak masuk lagi?" tanya Prita.


Yura pun hanya menggeleng sambil menatap bangku yang biasa Al tempati itu.


Yura pun berinisiatif datang ke tempat tinggal Al, sepulang kuliah nanti untuk melihat keadaan kekasihnya itu.


Dan sore ini Yura sudah sampai di tempat Al. ia membuka pintu yang ternyata tidak terkunci sambil memanggil Al, tapi tak ada jawaban dari dalam.


Membuatnya langsung masuk ke dalam kamar. "Astaga Al kau kenapa?" tanyanya panik begitu melihat Al masih tertidur di atas ranjang single nya itu.


Tangannya menggoyangkan tubuh Al, membuat Al membuka netranya," Kenapa kau bisa disini?" tanyanya lirih sambil menarik selimut ke atas.


"Dari kemarin kau tidak datang ke kampus aku khawatir terjadi sesuatu padamu, makanya aku kesini." jawab Yura, tangannya terulur untuk menyentuh kening Al.


"Aku sedang malas."


"Astaga kau demam Al." pekik Yura bersamaan dengan Al.


" Kepalaku sakit."


"Dimana termometernya? atau kau punya obat flu?" tanyanya lagi.


"Aku tidak punya semua itu, tenang saja aku tidak apa-apa, tidur sebentar juga akan sembuh." Al membalikkan tubuhnya menjadi membelakangi Yura.


"Tidak boleh, apa di sekitar sini ada rumah sakit? atau klinik? aku bawa ke dokter ya?" tawar Yura memaksa.


" Jangan bercanda, aku paling benci ke dokter, masih menyuruhku ke dokter, aku benar-benar tidak apa-apa, aku akan sembih kalau istirahat semalam, lebih baik kau pulang saja." gerutu Al tanpa menatap Yura.


Tapi Yura bersikeras tidak mau pergi. " Tapi kau sakit tidak ada yang menjagamu, itu tidak boleh. aku panggil Yu Jie ya? menyuruhnya datang kesini?" usul Yura kemudian, ia memang sangat mengkhawatirkan keadaan Al saat ini.


Hingga ia mengusulkan Yu Jie datang agar Al mau ke dokter, sampai ia tidak memikirkan perasaannya sendiri asal pria ini sembuh.


Ucapan Yura membuat Al langsung menoleh cepat padanya, " Kenapa kau malah menyuruh Yu Jie datang? kalau melihatnya panasku akan semakin tinggi!!" Al menggerutu kembali.


Walaupun perkataan Al terdengar sedikit lucu, tapi Yura sama sekali tidak tersenyum malah ia semakin khawatir saja.


"Dia tidak bisa merawat orang?" tanyanya polos.


" Aku tidak apa-apa aku bisa menahannya, cepat pulang istirahat. aku sungguh tidak apa-apa." Al tidak mau membahas wanita itu lagi.


Membuat Yura hanya bisa pasrah dan berjalan keluar ke teras rumah.


" Hallo Ibu malam ini aku boleh menginap di luar?"


Tanyanya begitu panggilan telepon itu sudah tersambung.


" Mau menginap di rumah siapa?"


Tanya sang Ibu di seberang sana, sedikit curiga.


"Prita, dia menyuruhku menginap di rumahnya." dustanya.


" Sungguh?"


" Benar Ibu,"


" Ya sudah jaga dirimu baik-baik. hanya satu hari saja." jawab sang Ibu akhirnya.


"Baik aku tahu, besok aku akan pulang begitu selesai kuliah." Yura tersenyum senang sambil menutup teleponnya.


Walaupun ia merasa bersalah telah membohongi Ibunya, tapi bagaimana pun ia sangat khawatir dengan kondisi Al saat ini.


Lalu Yura teringat belum menelpon Prita, tlia takut Ibunya akan menepon temannya itu.


" Hallo Prita, jika nanti Ibuku menelponmu bilang aku menginap di rumahmu ya, aku sedang di rumah Al sekarang, dia demam aku sangat mengkhawatirkannya." pinta Yura.


" Iya baiklah, aku bisa mengerti."


Yura pun merasa lega dan ia melihat Al sebentar di dalam, yang ternyata sudah tertidur kembali.


Al, manusia tidak bisa hidup sendirian di dunia ini, aku tahu. tapi kesepianmu terlihat sangat dalam.


Yura pun keluar rumah untuk membeli beberapa persediaan makanan dan sayuran untuk bisa di masak.


Sepulangnya di tempat Al, Yura menatap Al yang masih saja pulas tertidur, ia tidak tega membangunkannya.


Pagi harinya begitu Yura mulai terjaga, ia terkejut melihat dirinya sudah berada di atas ranjang, tertidur pulas sampai tidak sadar.


Kemudian ia beringsut turun dari ranjang dan melihat Al sedang berkutat di dapur sendirian.


"Al." panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hei kau sudah bangun?" Al mengambil beberapa sayuran yang ada di dalam lemari es.


"Kau bisa bangun?" tanya Yura dengan tatapan begitu menggemaskan bagi Al.


" Bukankah sudah kubilang? aku akan sembuh kalau di pakai tidur." jawabnya sambil memilah-milah sayuran.


"Yang menggendongku ke atas ranjang...kau?" cicit Yura sangat imut sekali.


Membuat Al terkekeh, " Kalau tidak? kalau kau duduk di bawah situ sambil tidur, aku rasa kau juga akan sakit." membuat raut wajah Yura langsung berubah pias.


Al pun tertawa," Aku akan menjelaskannya dulu padamu, aku hanya menggendongmu ke ranjang saja, aku tak melakukan hal yang lainnya sungguh, karena aku masih tidak berani ke tahap yang lebih jauh padamu." terang Al yang masih saja tertawa geli.


"Tapi sebenarnya aku hanya memeluk sedikit di pinggangmu saja, tapi kau juga tidak menolaknya, tidurmu malah terlihat semakin nyenyak." lanjutnya membuat Yura menunduk malu.


Yura pun ikut tersenyum." Sungguh kau sudah tidak apa-apa?"


" Hanya demam tidak akan bisa menjatuhkanku, jangan bahas itu lagi. sekarang coba lihat ini, ngomomg-ngmong untuk apa peralatan-peralatan ini?" tunjuknya sambil memegang benda-benda tersebut.


"Aku takut kau lapar tengah malam, jadi aku membeli ini semua, aku masak sendiri untukmu, tapi di sini tidak ada apa-apa, pokoknya ini semua benda yang bermanfaat untukmu ke depannya." terangnya menjelaskan.


"Seharusnya kau tidak perlu membeli barang-berang seperti ini, karena aku biasanya pergi ke kedai untuk membeli makananku sendiri." sahut Al menatap tak berguna benda-benda itu.


"Sudahlah, aku belanja banyak, mau makan apa biar aku yang masak." tawar Yura terdengar begitu menggiurkan.


" Benarkah kau bisa memasak?" tanya Al tidak percaya.


" Kalau begitu aku mau makan steak!" ujarnya kembali.


Namun Yura menggeleng, "Aku tidak bisa membuatnya."


"Hambuger juga boleh?"


"Itu juga tidak bisa."


"Emm,,Udang goreng, saos cumi, nasi goreng seefood."


Namun Yura terus saja menggelengkan kelalanya, "Lalu kau bisa masak apa?" tanya Al sedikit geram.


"Membuat omelete." jawab Yura akhirnya sambil menyengir.


"Bilang dari tadi." mereka pun tertawa bersama.


Akhirnya Yura memasak omelet, sementara Al duduk di depan meja kecil dekat dapur.


"Wah, manis sekali." seru Al tersenyum begitu Yura meletakkan satu piring berisi omelet dan juga sosis goreng yang di bentuk sedemikian rupa.


"Coba cicipi." Yura pun meletakkan satu piring lagi untuk dirinya sendiri.


"Lumayan enak, aku terlihat anak kecil saja makan seperti ini." ujar Al terus memakan habis makanannya.


"Habis makan nanti kau bisa keluar sebentar." pinta Yura tampak malu-malu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..