
" Baik, kami mengerti." jawab mereka serentak.
" Nanti kalau ada yang mengantarkan bunga tanda terima kasihnya disini." tunjuk sang panitia kembali.
Dan di jawab anggukan oleh keduanya, " Kau sedang libur?" tanya Yura pada temannya yang bernama Lyla yang menemaninya malam ini.
" Iya, aku jarang baru bisa libur, makanya begitu libur aku langsung bisa bantu miss Vivi untuk menemanimu disini." jawab Lyla.
" Maaf merepotkanmu." cicit Yura dengan raut wajah bersalahnya.
" Hay, kenapa kau minta maaf, aku memang ingin ikut pameran ini dan aku sudah bilang pada miss Vivi jauh-jauh hari, lagi lupa aku tidak ada kerjaan" jawab Lyla sambil tersenyum
Membuat Yura pun ikut tersenyum, " Kau tidak kencan dengan Alrick?" tanya Lyla kemudian.
Yura menggeleng, " Tidak aku sudah memberitahunya kalau aku sedang sibuk untuk dua hari kedepan, lagi pula dirinya juga harus bekerja." jawab Yura menatap pada temannya tersebut.
Mereka pun mengobrol-ngobrol sambil menunggu para pengunjung yang datang untuk melihat lukisan mereka.
" Kau tidak perlu mencemaskan biaya kuliah, mana boleh melepaskan bakatmu, berarti kau sangat bersalah pada mendiang Ayahmu, Ibu akan berusaha untuk mencari biaya kuliahmu, kau rajin kuliah saja"
Yura nampak melamun sejenak, ia teringat kembali pada ucapan Ibunya saat ia baru saja lulus sekolah menengah atas.
Lalu ia di kejutkan oleh temannya yang tiba-tiba menyenggolnya membuatnya kembali keadaan sekarang. " Selamat datang, silahkan tanda tangan." ujar mereka serempak.
Setelah tanda tangan orang tersebut berjalan ke arah lukisan milik Yura, membuat Yura seketika bangkit dan berjalan menghampirinya.
" Permisi Tuan, ada yang bisa aku bantu?" cicitnya pelan.
" Nona, berapa harga lukisan ini?" tanya pria tersebut tanpa mengalihkan pandangannya.
Masih terus menatap lukisan itu yang terdapat wajah Al di dalamnya, tanpa menoleh kepada Yura.
" Maaf lukisan ini tidak di jual?" jawab Yura dengan hati-hati.
" Tidak di jual? berapa pun harga penawarannya tetap tidak di jual?" masih menatap lukisan tersebut.
" Hmm, iya."
" Apa aku bisa bertemu dengan pelukisnya?" tanya pria itu lagi masih tanpa menoleh kepada Yura.
" Kebetulan yang melukis lukisan ini, adalah aku orangnya." jawab Yura sambil tersenyum.
Mendengar itu orang tersebut langsung menoleh cepat menatap Yura dengan lekat, " Kau pelukisnya?" tanyanya dengan tidak percaya.
Yura pun mengangguk masih dengan tersenyum." Pemuda dilukisan ini pasti teman sekampusmu 'kan?" tanya pria itu kembali.
" Benar, karena itulah aku sudah berjanji padanya, asal dia mau jadi modelku, aku akan memberikan lukisan ini untuknya, jadi tidak di jual, maaf." terangnya menjelaskan.
" Ternyata begitu? sayang sekali. aku lihat lukisan ini di brosur makanya aku masuk," sahut pria dewasa yang sudah berumur.
Yura hanya tersenyum menanggapinya, " Lukisan ini sangat bagus, rasanya sangat mewah. diantara kemewahan membuat orang merasa sakit hati." raut wajah Yura langsung berubah pias tidak mengerti ucapan orang tersebut.
" Sebenarnya yang membuat orang terharu bukan keindahan dan kelembutan, walaupun kenyataannya keindahan dan kelembutan bisa membuat orang terharu. tapi tidak akan bertahan lama." seru pria itu lagi.
" Sebaliknya kesedihan dan kemarahan bisa terus tertinggal di dalam hati. walaupun lukanya sudah sembuh, dia juga tidak bisa melupakan semua penderitaannya." ucapnya dengan menghayati.
Seolah itu adalah kenyataan yang pria itu hadapi saat ini, dan Yura bisa merasakannya.
" Walaupun banyak yang pernah merasakan penderitaan ini, tapi yang bisa mencurahkannya hanya beberapa orang saja, mudah-mudahan kelak kau bisa menciptakan lebih banyak karya yang bagus lainnya." seru pria tersebut menyemangati Yura sebelum ia pergi.
Sementara Yura hanya tersenyum saja sambil terus menatap punggung pria tua itu yang semakin menghilang dari penglihatannya.
...----------------...
Di lain tempat sepulang dari bekerja di bengkel milik temannya Al langsung kembali keluar setelah membersihkan dirinya untuk bertemu dengan para teman-temannya.
" Mana mungkin di ijinin Yura pergi ke tempat seperti ini oleh Ibunya?" timpal Prita sambil menyesap minuman alkoholnya.
Suara bising di dalam membuat semuanya berbicara setengah berteriak, sambil menikmati alunan musik dari DJ.
" Ya kau memang benar, ngomong-ngomong dimana Felix? dia belum datang?" tanya Al mengambil gelas kecil yang baru saja di tuangkan minuman oleh Davin.
" Itu, dia juga baru datang."jawab Davin sambil menujuk ke arah pintu masuk.
Felix berjalan masuk seorang diri, sambil menepuk punggung teman-temannya bergantian." Woi sorry aku terlambat."
Felix duduk di samping Al, sambil menerima satu gelas minuman yang di sodorkan oleh Davin." Thanks, "
" Kau tak mengajak wanitamu?" tanya Al menatap Felix yang terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaan darinya
" Walaupun kau tidak pernah bercerita pada kami, tapi kami tahu, sebab aku yang melihatnya sendiri saat aku terakhir kali keluar dari tempat ini waktu itu." ujar Al kembali.
" Maksudmu apa Al? waktu itu kau belum pulang?" tebak Felix.
" Ya karena aku baru kembali dari toilet waktu itu, dan aku melihat dia yang turun dari lantai atas, dan terlihat marah-marah sambil mengumpatimu walaupun pelan tapi aku masih mendengarnya." jawab Al tersenyum geli.
Felix nampak terdiam dan terkejut kembali, wanita itu tidak ada habisnya selalu saja mengganggu hidupnya yang sudah berantakan ini menjadi lebih parah lagi.
" Kenapa kau terdiam? kau tidak ingin berbagi cerita dengan kami? sepertinya ini adalah kisah cinta yang rumit." celetuk Davin membuat Al terkekeh sambil mengamati raut wajah Felix yang berubah.
" Kenapa kau tak mengajak Yura?" tanya Felix kemudian.
" Jangan mengalihkan pembicaraan, dasar kau ini, pintar sekali menghindar." sarkas Al sambil meninju d**a Felix pelan.
Membuat semuanya terkekeh, mereka tak sadar bahwa wanita yang mereka bicarakan tadi sedang menari di atas sana sambil memainkan alat Dj nya.
Mereka mengobrol dari mulai kelulusan mereka merambah ke bidang pekerjaan dan yang lainnya juga apalagi kalau tidak jauh-jauh dari bau-bau ranjang tempat tidur.
Beruntung Prita adalah wanita yang biasa saja menanggapi obrolan para pria, kalau Yura sudah di pastikan bahwa ia pasti sudah sangat malu dan menutup kedua telinganya itu mendengar pembicaraan hal yang mengarah kesana.
" Yang benar saja, kau belum pernah melakukan hal begituan dengan Yura? dimana Al yang terkenal playboy itu, dan sering bergonta-ganti teman kencan?" sarkas Felix sambil geleng-geleng tak percaya.
" Ya aku percaya, pasti Yura yang tidak mau kau mangsa?" celetuk Davin ysng langsung mendapat tonyoran di bahunya.
" Kau pikir aku binatang buas? yang suka memakan mangsanya?" sahut Al kemudian.
" Kalau tidak? jelas-jelas kau mempunyai banyak mantan teman kencan lalu apa?" timpal Felix menambah suasana menjadi sedikit panas.
" Kau itu sama saja dengannya.!" celetuk Davin, yang membuat mereka semua kembali tertawa terbahak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..