
Al duduk sendirian di bangku kosong, walau tempat ini terasa sepi sebab hanya ada dirinya seorang, tetapi disana terdapat beberapa kursi panjang juga kursi dan meja bulatnya untuk para karyawan yang ingin beristirahat atau hanya sekedar mencari udara segar.
Sebab jika pada malam hari ini, di setiap sudut terdapat lampu yang menerangi tempat tersebut, sehingga membuat suasananya menjadi nyaman dan juga indah apabila melihat kesekelilingnya yang bisa melihat gedung-gedung yang tak kalah tinggi di samping-sampingnya.
"Apa di dalam begitu tidak nyaman? hingga kau memilih kesini?" celetuk seseorang yang membuat Al seketika berdiri gugup.
Sebab ia sangat mengenali suara tersebut, yang tidak lain adalah suara Ayahnya sendiri." Tidak perlu gugup seperti itu, aku adalah Ayahmu, bukan atasanmu, duduklah!" seru Aang kembali, ia tidak ingin putranya bersikap demikian padanya.
" Apa di kampusmu kau juga merasa tidak nyaman? aku bukan gurumu, kau belum pernah tidak masuk kelas." celetuk Aang lagi, yang membuat Al mengkerutkan dahinya sejenak.
Al pun kembali duduk sambil berpikir, " Maafkan aku." cicitnya. " Aku pasti memalukanmu bukan?" tanya Al yang baru mengingat jika ia tadi sedang berbicara dengan seorang Kakek tua, dan mungkin Ayahnya mendengarnya.
" Tidak." jawab Aang bahkan ia memberikan senyuman. " Sekarang semua orang di sekitarmu, rekanmu, saingan atau bahkan musuhmu. dan situasi seperti ini, semakin bertambah buruk seiringnya berjalannya waktu. Apa kau bisa beradaptasi dengan lingkungan seperti ini kelak? sampai akhirnya, kau bahkan tak akan pernah punya waktu untuk sekedar merasa lelah." terangnya, agar Al bisa mengerti.
" Tetapi kau bisa bertahan?" sela Al dengan datar.
" Kau dan Awang berbeda? entah jika itu Erick, dia sedikit berbeda. dan karena ini semua yang aku miliki, tidak ada yang lainnya. Sejak aku kecil, aku sudah mewarisi bisnis keuarga, jadi hari-hariku adalah untuk belajar. alasan aku tidak ingin kau balapan bukan hanya aku tidak mengerti, bagaimana perasaanmu, alasan yang paling utama adalah aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, Ayahmu yang begitu ceroboh meninggal di usia muda, Ayahmu bukan meninggal karena di ajang balap, melainkan karena balapan." terang Aang panjang lebar.
Al nampak terkejut, mungkin ia baru mengetahui hal ini, sebab yang ia tahu sejak lama Ayahnya meninggal di area balapan. bukan karena ikut serta balapan.
" Balapan?" kedua netranya bahlan membola saking terkejutnya.
" Ya, tetapi kau dan Ayahmu berbeda, kalian memang punya darah yang sama, aku benar-benar tidak mengerti, apa manfaatnya hidup mempertaruhkan nyawanya." celetuk Aang yang tidak habis pikir olehnya.
" Bukan taruhan nyawa, hanya ingin jadi yang tercepat. melakukan semua yang aku bisa, untuk memacu kecepatan, aku rasa Awang tidak menyesalinya. Tidak mendapatkan apa-apa, tidaklah masalah, selama ia bebas. Hidup seperti yang di impikannya. aku pikir itu juga menyenangkan." sahutnya menjelaskan, bahkan lidahnya terasa kelu disaat akan memanggil Ayah kandungnya sendiri.
" Kau bilang tidak masalah tidak memperoleh hasil, tapi itu tidaklah benar. Perusahaan adalah integrasi yang banyak orang. jika Perusahaan adalah kepuasan hati seseorang, sama sekali tidak benar. Sebagai pemimpin sebuah perusahaan, kau harus melindungi perusahaanmu, melindungi semua pegawainya, aku rasa kau tak punya tanggung jawab itu sebagai seorang pemimpin." terang Aang dengan raut wajah begitu tenang tidak ada rasa amarah ataupun kekesalan di setiap kalimatnya.
" Jika begitu? apa yang kau maksud?" tanya Al tidak paham.
" Apa yang kumaksud adalah, kau bukan seorang pemimpin, kau tidak bisa menerima tanggung jawab, aku tidak bisa melepaskan apapun untukmu dan kau bisa berbuat apapun yang kau mau." jelas Aang kembali.
Awalnya Al sedikit tersinggung dengan ucapan Ayahnya yang seolah-olah tidak percaya bahwa ia bisa bekerja dengan baik di perusahaan miliknya. tetapi ia perlu menanyakan yang lebih jelas lagi.
" Jadi, maksudmu aku di pecat?" tanyanya dengan wajah serius.
" Ya." jawab Aang sambil menganggukkan kepalanya mantap. keputusannya sudah bulat kali ini, mungkin Al memang belum waktunya untuk memimpin perusahaan. mungkin suatu saat nanti, putranya itu pasti bisa sama halnya seperti Erick Kakaknya yang bisa membangun perusahaannya sendiri walau bersama para sahabatnya.
Terbukti kini perusahaan yang di bangun Erick bersama dua sahabatnya itu melambung tinggi, bahkan nama perusahaan mereka sudah mulai di kenal di hampir seluruh dunia, berkat kecersadan mereka. mungkin Al juga bisa belajar dari Kakaknya nanti. Aang yakin Al pun pasti bisa.
Mendengar jawaban dari Ayahnya seharusnya Al marah atau setidaknya ia harus protes, sebagai karyawan yang di pecat secara tiba-tiba, sebab tidak ada masalah apapun sebelumnya.
Namun berbeda dengan Al yang justru senang dan tertawa bahagia setelah di pecat dari perusahaan, bahkan Ayahnya sendirilah yang memecatnya yang merupakan sang Presdir.
" Huoow, senangnya, akhirnya aku bebas!" teriaknya begitu bersemangat bahkan ia ingin sekali melompat-lompat dan melakukan jungkir balik karena terlalu senangnya. tetapi ia sadar ia ada dimana juga sedang bersana siapa.
" Aku sangat senang sekali." Al masih saja tertawa senang, bahkan ia tidak melihat raut wajah sang Ayah yang ternyata ikut tersenyum walaupun samar.
Al berbalik dan menatap Ayahnya, ia tahu yang di maksud 'kalian' adalah ia dan Ayahnya. lalu ia pun menghendikkan bahu.
" Entahlah, aku juga tidak tahu. mungkin karena kami sama-sama bodoh." sahutnya yang kemudian kembali tersenyum.
Akhirnya Al pamit pulang terlebih dahulu dan acara peresmian dirinya yang akan menjadi pemimpin perusahaan pun gagal, sehingga Aang mengumumkan pada semuanya jika putranya itu masih belum waktunya untuk menjadi seorang Presdir. dan saat ini putranya itu harus kembali meneruskan kuliahnya terlebih dahulu. sebelum nantinya benar-benar siap untuk menjadi pemimpin.
...----------------...
Al menolak pulang menaiki mobilnya, walau mobil itu sudah siap, ia justru memilih berjalan kaki sambil sesekali berlari kesana-kemari, bahkan tawanya sedari tadi tidak sirna dari wajah tampannya itu, membuat semua orang yang memandang heran sudah seperti orang yang tidak waras saja.
Dasi bahkan jas mahalnya ia lempar ke sembarang arah, mungkin itu tidak lagi berharga untuknya disaat ia akan kembali merasakan kebebasan yang ia inginkan.
" Al." teriak seseorang dari belakang, hingga membuatnya membalikkan badan sekaligus mengernyit seketika melihat kekasihnya itu berlari ke arahnya.
" Kenapa kau kencang sekali larinya." keluh Yura sembari mengatur napasnya yang tersenggal-senggal, yang kimi sudah berada di hadapan sang kekasih.
" Hei, apa yang kau lakukan disini?" tanya Al masih dengan tatapan heran.
" Apa lagi, tentu saja menyusulmu."
" Oh aku tahu, kau dan Ayah pasti bekerja sama bukan?" tudingnya yang mungkin tepat sasaran, sebab Aang memutuskan itu setelah mendengar permohonan dari Yura minggu lalu.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..