
Alrick langsung duduk di bangkunya yang bersebelahan dengan Yura," Kau kembali karena di ubah Han Yura?" seru Davin membuat Yura yang mendengar itu menundukkan kepalanya.
Tapi tidak dengan Al ia malah ingin menggoda Yura dan juga sahabatnya itu." Kalau tidak? kau kira gara-gara kau." sarkas Al.
"Kau benar-benar tidak mempunyai hati nurani. saat kau tidak masuk, aku pergi ke tempat kerjamu untuk melihatmu, tapi kau bicara seperti itu padaku." terang Davin sedikit kesal.
Al hanya menyengir saja, memang benar Davin sesekali berkunjung ke tempatnya bekerja, ia hanya ingin menggodanya saja.
"Sudah? sebagai teman aku sangat tidak solider, kalau tidak begini saja, aku kembalikan ini dulu padamu." kata Al sambil mengambil sebuah majalah dewasa dari dalam tasnya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi membuat Davin semakin geram dengan tingkah sahabatnya itu.
Davin langsung merebut kasar majalah itu dari Al."Alrick, apa ada lagi?" teriak salah satu temannya, membuat Davin semakin kesal saja.
Sementara Al tersenyum senang," Teman-teman sekalian, ini yang paling baru." kata Al sambil mengeluarkan sebuah majalah lainnya dari dalam tas.
Membuat teman-temannya bergaduh saling berebut. yang jelas para pria ya, bukan para gadisnya.
Jam makan siang.
"Benarkah? kau hanya berc*uman dengannya? kau salah makan obat, apa syarafmu ada yang putus." Davin semakin mengejek Al, saat Al menceritakan sejauh mana hubungannya dengan Yura saat ini.
Mereka berdua berjalan menuju kantin sekolah," Aku tidak punya waktu bercanda dengan kalian, aku terus berpikhir, apa aku mundur saja, karena berci*man dengan Yura juga bisa_
"Bisa teringat padaku?" potong Davin cepat, membuat Al berhenti melangkah di ikuti Davin juga.
Al melirik tajam pada Davin karena ucapan konyol yang baru saja keluar dari mulutnya." Bisa membuatnya tegang." imbuh Al sambil menatap bagian tubuh bawahnya.
Davin pun mengikuti arah pandangan Al," Aah s*alan kau." Davin pun terkekeh sambil mengikuti langkah Al berjalan.
"Kau bercinta juga bisa tegang? " lanjut Davin kembali mengejek Al. membuat raut wajah Al langsung berubah pias. "Waah, alat kel**in yang bisa berjalan, suatu hari juga bisa tahu tentang tata krama."
"Dasar, aku adalah alat kelam*n yang bisa berjalan dan punya perasaan " seru Al sambil tersenyum senang tapi sedetik kemudian senyum itu hilang dari wajahnya dan langkahnya pun terhenti.
Saat menyadari ada seseorang yang sudah berdiri di hadapannya saat ini." Mau curhat?" seloroh Davin melirik Al sambil tersenyum.
"Apa kau selalu begitu solider?" tanya Felix datar, membuat Davin ikut menatap Felix dengan sedikit kesal.
"Tidak, ayo aku sudah sangat lapar." seru Al pada Davin tanpa menghiraukan keberadaan Felix, dan berjalan melewati Felix.
Tapi Felix malah merangkul pundak Al dengan begitu friendly membuat Al menatung diam begitu juga Davin yang menatap keduanya terheran dan waspada.
"Aku paling salut dengan orang yang tidak takut padaku, dan kau pintar berkelahi, jadi_kita jadi sahabat?" celutuk Felix sambil tersenyum menatap Al.
Membuat Al terkejut juga Davin, kemudian ia ikut tersenyum," Jadi teman? baik." jawab Al. lalu mereka berpelukan ala pria sambil tersenyum senang.
"Apa lehermu baik-baik saja?" tanya Al dengan solider.
"Leher? oh tidak apa-apa." jawab Felix sambil tersenyum juga.
"Baguslah kalau tidak apa-apa."
"Mulai sekarang kita adalah sahabat.!" jelas Felix kembali.
"Oh ya, sahabat, benar." mereka pun berjabat tangan dan berpelukan kembali. membuat Davin ikut tersenyum melihat keduanya.
"Oh ya namaku Felix. siapa namamu?" tanya Felix yang tidak begitu tahu nama teman Al.
"Namaku Davin Liu, panggil saja Davin."
"Baiklah, mulai sekarang kita semua sahabat." kata Felix sambil merangkul bahu Davin.
"Ayoo kita makan bersama saja" ajak Al pada keduanya yang sudah akan melanjutkan langkahnya.
"Sorry lain kali saja, aku ada kelas sebentar lagi. baiklah lain kali kita bertemu kembali" tolak Felix halus.
"Baiklah." Felix pun melanjutkan langkahnya di ikuti Davin di sampingnya.
"Bagaimana caranya kau mengalahkannya?" tanya Davin setelah sepeninggalan Felix ke dalam kelasnya.
"Kau lihat? Sifat dan tingkah lakunya sungguh berbeda, waktu berkelahi denganku saja sangat keren di mataku, siapa tahu sekarang dia seperti ini." terang Al sambil melanjutkan langkahnya menuju kantin berjalan bersama dengan Davin.
Di dalam kelas saat sang dosen tengah menulis materi pelajaran, Alrick malah tertidur pulas di bangkunya, membuat Yura ingin membangunkannya, hanya mengusao sedikit lengan Al.
Membuat langsung terjaga dan spontan berbicara keras," Tujuan terakhirku adalah menjadi juara pembalas GP internasional." suara lantang Al sambil kedua matanya masih terpejam.
Sang Dosen pun membalikkan badannya menatap Al," Mau baca dulu bukunya baru pergi merebut juara? kalau mimpi terus bisa-bisa tidak lulus." sahut Dosen Tio datar karena sudah tidak heran lagi melihat Al kembali tertidur di dalam kelas.
Ucapan Dosen Tio membuat Al langsung membuka kedua matanya sambil mengedarkan sekitarnya lalu meringis tanpa malu pada sang Dosen.
Membuat seisi kelas seketika riuh tertawa terbahak menatap Al. Al pun kembali duduk dan mengikuti kelas yang hampir usai itu.
"Pinjamkan aku catatan tadi?" seru Al pada Davin mereka baru saja keluar dari kelas.
"Kenapa tiba-tiba begitu rajin?" tanya Davin sambil merogoh isi tasnya.
"Untuk mencegah ngantuk. kadang-kadang belajar juga bagus." jawab Al.
"Itu bukan kantuk, tapi tertidur nyenyak." celetuk Davin membuat Al terkekeh.
"Aku tidak sengaja, kau tahu tengah malam aku harus pergi bekerja, lalu minggunya aku harus pergi balap, aku lelah sekali." jelas Al membuat Davin bisa mengerti.
"Al kau_ belum selesai Davin berucap tiba-tiba saja Felix datang dan langsung merangkul bahu Al.
"Eh, aku bawa barang bagus untukmu." serunya pada Al sambil menyodorkan sebotol minuman untuk Al.
"Apa ini?"
"Minum dulu."
Al pun menerima botol itu." Anak ini berani bawa bir kemari." gumamnya, Al tidak langsung meminumnya ia mencium baunya dulu.
"Minum sedikit." kata Felix kembali.
Alrick pun akhirnya menyesap minuman itu sambil menatap Felix tersenyum senang. Davin pun ikut tersenyum melihat mereka berdua sudah semakin akrab.
"Hei kau minum bir di kampus?" seru Yura saat menghampiri Al yang tengah duduk sambil membaca buku milik Davin yang ia pinjam tadi.
"Sssttt,, kecilkan suaramu." bisik Al sambil melihat keadaan di sekitarnya." Kenapa Bu Vivi memanggilmu? dia tidak menyuruhmu untuk menjauhiku 'kan?"
"Bukan, bukan itu. minggu depan akan di adakan pameran lukisan di sebuah musium kesenian terbesar di kota ini, dia memintaku mengikuti lomba lukis." sahut Yura sambil duduk di samping Al.
"Pameran?"
"Iya, sudah aku katakan kalau aku akan mengikuti pameran itu, dengan memintamu untuk menjadi modelku bukan?" sahut Yura menatap sayang Al.
"Tapi minggu depan aku akan pergi ke LA, jadi kau tidak bisa ikut denganku?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..
"