Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Kenapa kita harus berpisah?



" Pagi Yura, kau sudah bangun? bagaimana tidurmu?" sapa Prita yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, dan melihat sahabatnya yang baru terjaga.


" Pagi, maaf sudah datang dan mengganggumu" balas Yura sambil beringsut duduk, masih di atas ranjang besar milik sahabatnya itu.


Prita pun menghampiri dan duduk di sebelah Yura, " Jangan meminta maaf untuk hal seperti itu, apa kau masuk kuliah hari ini?" tanyanya sambil menatap wajah Yura yang maaih terlihat sembab.


" Ya, aku akan pulang dulu ganti pakaian." jawabnya sambil tersenyum.


" Kau bisa pakai pakaianku, tidak perlu harus pulang sementara rumahmu sedikit juh dari sini, belum nanti kau berangkat lagi ke kampus." usul Prita sambil beranjak bangun dan berjalan ke arah lemari pakaian.


" Apa kau baik-baik saja." tanya Prita dengan hati-hati sambil menyodorkan pakaian ganti untuk Yura.


" Ya aku baik, terima kasih Prita."


Yura pun berjalan ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum mereka berangkat ke kampus bersama.


...----------------...


Tiga hari kemudian.


Sudah tiga hari ini, Al tidak masuk kuliah, sementara Yura seperti biasa masih mengikuti kelas, walau perasaan tetap terus memikirkan pria itu.


Hari ini masih sama seperti sebelumnya, sebelumnya sama seperti hari ini. hal itu terjadi, setelahnya selesai. jadi setiap hari selalu berulang seperti ini, seolah-olah tidak ada yang terjadi.


Mungkin suatu hari nanti, aku akan belajar melupakan, mungkin hari itu akan segera datang, tapi apa aku bisa melupakanmu, sementara kau akan kembali kuliah dan kita akan bertemu di dalam kelas yang sama setiap harinya dan kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.


Yura Bermonolog di dalam hati.


Yura kelihatannya mengikuti mata pelajaran di dalam kelas, namun pikirannya berkeliaran entah kemana-mana.


Tak lama kemudian sang Dosen berucap sambil menyilangkan kedua tangannya ke atas perutnya. dan menatap ke pintu belakang, karena seseorang baru saja masuk di saat waktu pelajaran yang ia berikan sedang berlangsung satu jam yang lalu.


" Alrick, jangan bilang kau lupa pukul berapa kelas di mulai?" desisnya menatap sedikit kesal terhadap anak didiknya yang terlewat nakal tersebut.


Membuat semua siswa di dalam kelas seketika menoleh ke belakang dan melihat wajah datar Al, termasuk dengan Yura.


Al berjalan mendekat ke bangku dimana Yura berada dan segera menarik pergelangan wanita itu.


Membuat Yura dan semuanya pun kebingungan termasuk sang Dosen, " Ayo" ucap Al sambil menarik Yura untuk mengikutinya.


" Alrick apa yang kau lakukan? Al aku sedang mengajar.!" seloroh sang Dosen menatap tajam ke arah Al.


Membuat langkah Al langsung terhenti sejenak, " Maaf Dosen Wang, tapi ini jauh lebih penting. anda memarahiku nanti saja, ayo." ajaknya mengajak Yura keluar dari dalam kelas.


" Alrick, akan kau bawa kemana Yura?" teriak sang Dosen kembali, namun Al tak menggubrisnya dan menghilang di balik pintu belakang kelas.


Membuat Prita dan Davin hanya bisa saling pandang sambil menghendikkan bahu mereka bersamaan.


Namun mereka berharap masalah yang tengah mereka hadapi segera teratasi dan hubungan keduanya membaik kembali.


Akhirnya kelas usai, Prita dan Davin keluar bersama akan menuju ke kelas lain.


" Apa mereka berdua akan baik-baik saha?" tanya Prita menatap sekilas ke arah kekasihnya.


" Jika kau tidak memperburuk keadaan, mereka akan baik-baik saja." sahut Davin sengaja menyindir.


Prita pun langsung menoleh menatap sinis ke samping sambil mengkerucutkan bibirnya, membuat Davin tergelak dan tersenyum.


...----------------...


Al melajukan motor sport nya dengan kecepatan di atas rata-rata, Yura hanya diam saja sambil berpegangan kuat di pinggang Al.


Tidak tahu dirinya akan di bawa kemana oleh pria itu, namun ia sedikit lega ternyata Al masih mau bertemu dan juga mau mendekatinya lagi.


Walaupun ia masih sedikit curiga dengan tindakan Al yang tiba-tiba seperti ini, namun ia tidak ingin protes, ataupun bertanya, yang penting Al-nya masih mau berbicara lagi dengannya dan semoga hubungan mereka masih bisa di perbaiki lagi walaupun harapan itu sangat kecil mengingat dirinya yang sudah kotor dan memiliki trauma yang begitu besar.


Motor Al terparkir di dekat pepohonan yang rindang di pinggir pantai, dan di depannya ada dua sejoli yang tengah duduk.


Mereka berdua duduk saling bersisian dan masih saling terdiam sudah hampir lima belas menit berlalu, tidak ada yang memulai berbicara lebih dulu.


" Berpisah di tempat semacam ini? memilukan sekali." celetuk Yura dengan perasaan yang sudah pasrah.


" Kenapa?" tanya Al menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke samping.


" Karena aku harus naik bus beberapa kali saat kembali nanti." balasnya menunduk menopang kepalanya di atas kedua lipatan lututnya itu.


" Maksudku adalah, kenapa kita harus berpisah?" Yura menoleh sekilas kemudian kembali ke semula.


" Karena aku merasa tidak nyaman berkencan, karena aku tidak normal, karena kau sekarang tidak akan memandangku sama sekali." jawabnya lirih sambil mengeratkan kedua tangannya yang berada di kedua kakinya.


" Kebetulan sekali, aku pun juga tidak normal." sahut Al, membuat Yura langsung menoleh ke samping dengan tatapan tak terbaca.


" Aku tidak pernah memperkosa wanita, mereka sendiri yang datang padaku dan menyodorkan tubuhnya sendiri, jadi jujurlah padaku, apa aku benar-benar tidak tahu apa yang kau rasakan?"


Al menatap begitu serius kepada Yura, bahkan baru kali ini ia amat sangat serius dengan seorang wanita, dengan Yu Jie dulu tidak seperti ini, ia tidak merasakan roller coaster sama sekali.


" Tapi aku tidak ingin memintamu untuk cepat melupakannya, karena aku pun tahu, melupakan masa lalu tidaklah mudah." ujarnya kembali, sementara Yura terdiam terus mendengarkannya.


" Bicara tentang melupakan, semuanya omong kosong, tapi apa yang ingin aku beritahu padamu, apapun yang kau lakukan, apapun yang akan terjadi padamu, di hatiku kau selalu sama, kau tak pernah berubah." Yura pun memandang Al dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca.


Tubuh Al bergeser dan menghadap ke tubuh Yura, tangannya meraih kedua telapak tangan Yura lalu menggenggamnya dengan begitu erat.


" Kita berdua memulainya dalam tragedi, dan setelah itu kita bertemu, kita akhirnya menemukan kelemahan kita, kita harus sama-sama berpegangan erat, sehingga kita menemukan keberanian untuk meninggalkan masa lalu kita, jadi kenapa kita harus berpisah?" terang Al panjang lebar.


Yura semakin terisak namun ia juga tersenyum menatap Al, membuat Al juga membalas tersenyum.


Al mendekatkan wajahnya semakin dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan, dan detik berikutnya bibir keduanya sudah menempel dengan sempurna.


Al mencium dan ******* bibir mungil berwarna merah jambu tersebut, Yura pun langsung membalas ciuman tersebut.


Al menahan tengkuk Yura untuk memperdalam ciumannya, namun tidak lama Al pun melepas ciumannya kembali. dan menarik tubuh Yura ke dalam pelukannya, wanita itu pun menempelkan wajahnya di dada bidang kekasihnya.


Al memeluknya dengan erat, ia juga sama menangis dalam diam, Yura justru memanfaatkan keadaan ia sengaja menarik kaos Al memakainya untuk mengelap ingusnya itu, membuat Al tergelak namun ia sama sekali tidak mempermasalahkannya ataupun merasa jijik, keduanya pun sama-sama tersenyum kembali.


" Kau adalah pria pertama yang tidak aku takuti." celetuk Yura dengan suara serak khas orang yang sedang menangis.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..